
___
Kerajaan Xiris
Hutan Utara Dari Sernia
4 Juli 1300
___
Aku sedang bersandar bersama Adry dibawah pepohonan, melihat milisi melakukan penyerangan. Sudah dua minggu berlalu, mereka secara terus menerus mengulang taktik yang sama, "Aku ingin pulang", ucapku, Adry menanggapi, "Kau bisa pulang sendiri tetapi itu akan berbahaya, mungkin saja ada beberapa perampok yang tertinggal diluar sana dan menunggu di hutan"
"Kenapa mereka memperlambat prosesnya, mereka bisa saja mendobrak gerbang yang terbuat dari kayu itu dan menerobos masuk dan menaklukan kastil dengan cepat"
"Reza, jika kau menjadi pemimpin unit, sepertinya akan ada banyak orang yang mati"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, akan banyak orang yang mati tertembak saat mereka mendobrak. Mengepung lalu memblokir jalan keluar masuk kastil dan menunggu adalah pilihan terbaik untuk meminimalisir korban jiwa. Mengurung musuh ditempat yang sama, mungkin mereka yang berada di dalam kastil sedang kelaparan atau kehausan saat ini, aku tidak tahu berapa banyak persediaan yang mereka miliki tetapi pada akhirnya persediaan mereka akan habis dan terpaksa menyerah"
Aku mendengar suara zirah berdentingan, melirik kekananku, suara dentingan itu berasal dari zirah Tuan Askari yang sedang menuju kemari, setelah sampai didepan kami dia berkata, "Mari kita makan malam dengan daging hari ini, sembelihlah beberapa ayam untuk meningkatkan semangat pasukan, mereka belum memakan daging selama seminggu ini. Aku serahkan semua itu kepada kalian"
"Baik Kapten!", ucapku dan Adry bersamaan.
___
Kami sedang menyiapkan makanan untuk sore hari ketika milisi mundur kembali ke kamp. Mereka semua kembali, ada 3 orang tewas tertembak oleh panah, dan beberapa lainnya cedera.
Selama dua minggu ini sudah ada 5 orang yang tewas, kami langsung menguburkannya di sekitar perkemahan.
___
Kerajaan Xiris
__ADS_1
Hutan Utara Dari Sernia
11 Juli 1300
___
Minggu ketiga, di pagi hari sebelum para milisi maju menyerang, ada seseorang di dalam benteng berteriak, "Hei, mari gencatan senjata. Bos kami memiliki tawaran yang bagus untuk kalian!"
Kami mendengar hal itu sehingga Tuan Askari menunda penyerangan. Tuan Askari mengambil perisai lalu menunggangi kuda bersama 3 kavaleri mendampinginya mendekati gerbang.
"Bukankah itu berbahaya?", tanyaku pada Adry, "Entah apa yang dia pikirkan, bangsawan memiliki harga diri yang tinggi"
Tuan Askari tidak jauh dari gerbang itu berkata, "Bagaimana kalau kalian serahkan pemimpin kalian kepada kami dan setidaknya nyawa kalian akan diampuni dan hidup bahagia dibalik jeruji besi"
Dari perkemahan aku melihat Tuan Askari berdiskusi, lalu muncul seorang pria dengan zirah besi seperti kesatria di atas benteng, "Akulah pemimpin disini, mari kita buat kesepakatan", anak buahnya membawakan 3 peti besar, kemudian pemimpin perampok itu menunjukkan satu persatu isi peti itu, "Kurang lebih 5400 koin perak, dan 100 koin emas, tarik kembali pasukanmu dan ini menjadi milikmu!"
Tuan Askari menghadap pasukannya, dia berteriak, "Kalian dengar itu!? harta sebanyak itu akan segera menjadi milik kita!"
Pasukan bersorak sorai mendengar hal itu.
Tuan Askari menghadap kepada pemimpin perampok itu kembali, memprovokasinya, "Apa yang kau maksud? harta itu akan kami rebut beserta kastilnya dan kalian akan mati", Tuan Askari pun berbalik kembali menuju kemah.
Ketika mereka kembali selangkah dua langkah, aku melihat para perampok itu menarik busurnya, pemimpin perampok itu memberi perintah, "Tembak!"
Mereka dihujani oleh banyak anak panah, 2 kavaleri terjatuh dari kudanya. Kuda yang Tuan Askari tunggangi tertembak oleh panah sehingga dia terjatuh terjepit oleh kuda. Tak lama dari tembakan pertama, tembakan kedua diluncurkan. Mereka yang tersisa berusaha melindungi Tuan Askari dengan perisai. Hingga tembakan ketiga diluncurkan perisai itu terlalu kecil untuk menutupi seluruh badan. Mereka melindungi Tuan Askari dengan tubuhnya, saat panah berjatuhan mereka tewas tertembak.
Adry bergegas menolong Tuan Askari yang terjepit oleh kuda yang mati, tetapi dia telah membahayakan dirinya sendiri maju menolong tanpa persiapan apapun.
Melihat sekelilingku kerumunan prajurit hanya melihat, tidak ada yang berusaha membantu. Ada seorang prajurit yang memegang perisai, tanpa pikir panjang dan spontan aku merebut perisai itu darinya kemudian berlari kearah mereka, aku berteriak kencang dengan perisai yang melindungi tubuhku.
Sampailah aku kepada mereka. Tembakan keempat diluncurkan, barulah diriku tersadar mengapa aku kemari.
Tetapi seluruh pasukan segera berdatangan menyusulku membantu kami membuat dinding perisai kemudian mundur perlahan, Adry dengan napas yang berat, "Terimakasih Reza kau menyelamatkan nyawa kami!", Melihat Tuan Askari di dalam dinding perisai membawa perisainya sendiri dan berlari menuju kemah.
__ADS_1
Ketika kami mundur perlahan, aku tersandung bebatuan sehingga tertinggal dari barisan sedangkan anak panah telah diluncurkan diwaktu yang bersamaan.
Yang kudengar saat itu adalah suara hujan panah dan suara derap kaki kuda yang melangkah. Jantungku berdegup kencang, keringat mengalir dari seluruh tubuhku dan tanganku bergetar hebat, aku akan mati!
Suara derap kaki kuda yang berderap mulai nyaring di telingaku, seseorang yang menunggangi kuda menggapai diriku dan menyeret kerah leherku sehingga aku tercekik.
Dia menyeret ku kembali ke kemah sedangkan aku terseret ditanah, kemudian setelah ditempat yang aman dia melepaskanku. aku terbatuk-batuk, menarik napas dalam-dalam.
Mata ku masih terasa berkabut karena tertutup genangan air mata yang mengalir. Sambil menyeka air mata, aku melihat Tuan Askari di hadapanku yang menuruni kuda, "Kapten Askari, terima kasih, Aku sangat berterima kasih!", aku segera berlutut untuk menghormatinya.
Merasa lega walaupun tanganku masih bergetar hebat. Aku hidup! aku hidup!
Dia menepuk pundakku, " Kau adalah orang yang berani, Arezha, aku mengagumimu!", meskipun aku menangis ketakutan setengah mati.
___
Kami melancarkan serangan kembali seperti hari-hari sebelumnya, Tuan Askari berkata di sampingku, "Mereka sudah kelaparan. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu"
Adry menanggapi, "Sepertinya begitu, mereka bahkan sampai menawari uang dalam jumlah yang besar"
Ketika kami sedang berbincang-bincang melihat pertempuran berjalan dengan lambat, muncul 3 deret barisan dengan bendera yang melambangkan keluarga bangsawan dari arah kami datang. Tuan Askari terkejut melihat itu, "Mengapa pasukan pribadi bangsawan Sandrea kemari!?", dia menunggangi kuda untuk melihat mereka.
Dia berhadapan menghentikan barisan mereka, keluarlah seseorang dari kereta kuda mewah. Ternyata dia adalah orang yang menghadiri pertemuan pada saat itu, seorang anggota bangsawan yang selalu terlihat mewah!
Tuan Askari menuruni kudanya, "Ada apakah sehingga Tuan Sandrea kemari?", Tuan Askari berkata begitu seperti menatap rendah lawan bicaranya, dia terlihat sangat besar dihadapan Sandrea.
"Kenapa kalian sangat lama memberantas mereka!?", Sandrea membentaknya, "Serahkan kepemimpinanmu padaku, biarkan aku yang mengurus dari sini. aku membawa 50 kesatria, akan ku eksekusi mereka semua hari ini!"
Tuan Askari terlihat sangat tersinggung dengan perkataan Sandrea sehingga ia meninggikan suaranya, "Apa maksudmu? apakah kau berencana untuk merebut prestasiku!?"
"Jaga nadamu, aku adalah Sandrea bangsawan terpandang, seorang baron dari kota Sernia yang diberikan langsung oleh Tuan Adipram!", wah dia memang sangat sombong.
"Terserah apa katamu, akulah yang memimpin unit ini", lalu Tuan Askari menunggangi kudanya dan pergi meninggalkan dia begitu saja, sementara wajah bangsawan itu terlihat marah.
__ADS_1
___