Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Penjaga Kota II


__ADS_3

___


Bawahannya sudah sampai dengan membawa 10 orang penjaga kota, mereka memberi salam pada Adry sebagai kaptennya, lalu berbaris. "Kapten, kami siap menjalankan perintah!"


Adry memberi perintahnya, "Bagilah menjadi 2 regu. Aku ingin satu regu untuk berpatroli di sekitar jalanan kota, dan regu yang satunya carilah persembunyian para perampok itu. Laporlah kepadaku jika kalian menemukan sesuatu."


"Baik, Kapten!" Mereka pun membagi menjadi 2 regu dan segera berpatroli sedangkan Adry berjaga di depan gerbang kota, aku duduk di sampingnya.


Hening berlangsung selama beberapa menit. Aku berdiri untuk membeli sesuatu. "Adry aku akan membeli roti, apakah kau mau?"


"Tolong bawakan aku beberapa saja, nanti akan ku ganti," ucap Adry


"Haha, tak perlu." Aku pun pergi membeli beberapa roti.


___


Aku kembali dengan roti-roti hangat dikedua tanganku, kuberikan pada Adry sebagian. "Ini ambilah, masih hangat." Adry mengambilnya dari tanganku. "Terima kasih Reza." Lalu dia membuka helm, menyimpan di samping kakinya kemudian memakan roti itu. "Wah roti ini lembut!" ucap Adry yang sedang menikmati roti itu.


Saat kami sedang menikmati rotinya, ada dua orang penjaga dari kejauhan berteriak dan berlari kearah kami. Salah satunya terluka dengan panah yang menusuk dibahunya sedangkan yang satunya bercucuran darah karena beberapa luka sayat yang menembus zirah kulitnya.


Adry yang melihat itu membuang roti ditangannya dan segera berlari menolong mereka. Sembari berlari, dia berteriak padaku, "Reza, bawakan aku obat dan perban di kantorku!" Aku segera membawa obat dan perban lalu menyusul mereka.


Saat mereka dirawat dan membalut lukanya, Adry berkata, "Jelaskan situasinya!"


Salah satu dari mereka berbicara, "Regu pencari di sergap oleh 6 orang! mereka bersembunyi dan memanahi kami dari kejauhan, Ernald yang terkena panah mati seketika, sedangkan Bari dan Dara sedang menyibukkan mereka sehingga aku bisa kabur untuk melaporkan hal ini, tolonglah mereka Kapten!"


Adry segera mengumpulkan para penjaga kota dan memanggil kembali regu patrol. Adry memerintah 15 penjaga di bawah kendalinya, Adry mendekatiku dan berkata, "Pulanglah Reza."


Mereka pun pergi untuk menyelamatkan 2 penjaga itu. Ketika mereka sudah tak terlihat dari pandanganku, aku melihat helm dia yang tergeletak ditanah, kupikir mereka belum pergi terlalu jauh sehingga aku membawa helm itu dan berlari untuk mengembalikan helmnya.


Di tengah hutan aku melihat mereka dari kejauhan, bawahannya melapor pada Adry. "Kapten, kita terlambat, Bari dan Dara tidak terselamatkan, para perampok itu melucuti seluruh zirah dari jasadnya."

__ADS_1


Adry berkata, "Sialan, kuburkan mereka, jangan berpencar! aku tidak ingin ada bawahanku yang mati lagi!"


Aku mencoba untuk mendekati mereka, tetapi kakiku tersangkut pada sesuatu dan terjatuh, helm yang kupegangi pun ikut terjatuh menggelinding ke arah mereka. Adry mendengar suara itu kemudian melihatku. "Reza, apa yang kau lakukan di sini, tempat ini berbahaya!"


Dia pun mendekatiku dan mengambil helm itu kemudian memakainya. Ketika hendak membantuku berdiri seseorang dari semak-semak menerjang dan mencoba menusuk kami. Adry refleks mendorongku jauh, aku terselamatkan karenanya, lalu Adry mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menangkis serangan orang itu. Bawahannya mencoba membantu Adry, nahasnya mereka diterjang oleh kelompok berjumlah sekitar 10 orang lebih.


Adry menebas lawannya, percikan darah dari pedangnya membuatku sangat ketakutan. Setidaknya ada 11 penjaga yang selamat dari terjangan dan melawan balik. Adry yang sedang bertarung berteriak, "Bentuklah formasi, mendekatlah kepadaku!"


Adry yang berada didepanku bersama penjaga lainnya berusaha menahan serangan mereka. Aku yang tak tahu harus apa dan terkejut melihat para penjaga mati didepanku. Aku mengambil beberapa batu besar lalu melempari kelompok perampok itu, salah satu dari mereka melemparkan pisau pada kakiku. "Argh!" pisau itu tertancap. Ketika aku hendak mencabut pisau yang menusuk kakiku, perampok itu mengejar. Diriku yang ketakutan berusaha lari dengan kaki yang kesakitan. Aku sangat tidak ingin mati! Tolong Aku!


Aku tertangkap olehnya. Dia mendorongku jatuh, mencoba menusukku dengan bilah di dadaku. Aku berusaha menahan serangannya dengan memegang tangannya. Menangis memohon. "Tolong!" teriakku.


Salah satu penjaga datang membantuku menerjangnya sehingga pedang penjaga menusuk leher perampok itu. Darah berceceran ketika pedang itu ditarik keluar dari lehernya. Aku muntah dan menangis ketakutan,  dengan lemas aku kabur dari tempat itu, meninggalkan yang lainnya. Dari kejauhan aku masih mendengar suara mereka samar-samar yang masih bertarung, sepertinya itu suara Adry. "Berkumpul, kita akan mundur perlahan!"


___


Setelah aku berhasil kabur, jauh dari pertarungan aku langsung berbaring lemas. Seharusnya aku tidak mengikuti mereka. Perasaan yang bercampur aduk membuatku mual, membuatku muntah lagi. Aku mendengar suara seseorang mendekat, ketika kulihat, suara itu berasal dari Adry bersama beberapa penjaga lainnya yang selamat.


Adry tampak sangat kesal sehingga mengumpat, "Sialan! aku tidak tahu kalau mereka kelompok yang besar!"


Adry melihat pada para bawahannya yang terluka. "Beristirahatlah dan obati luka kalian, setelah itu kita akan kembali ke kota."


Kemudian seorang bawahan Adry yang sedang menggendong seorang pria dengan tangan terikat yang pingsan, berkata, "Kapten, apa yang harus kita lakukan dengan orang ini?"


Sepertinya itu salah satu perampok yang menyerang kami.


Adry berkata, "Turunkan dia." Diturunkanlah pria itu, lalu Adry menendang perut pria itu dengan keras sehingga pria itu terbangun. "Bangun kau bangsat!" teriak Adry sembari menjambaknya, memaksa dia berdiri lalu memukulinya.


Setelah Adry merasa puas dia bertanya, "Di mana markas kalian!? berapa jumlah kalian!" Pria itu tak menjawab sehingga membuat Adry marah lalu dia memukulinya lagi. "Bangsat! Jawab aku sialan!"


Pria itu tak tahan lagi dengan pukulannya kemudian merengek, "Tolong berhenti, hentikan! aku akan berbicara!" Lalu Adry memberikan tendangannya sehingga pria itu terjatuh. Adry duduk dihadapannya. "Dari mana kalian mendapatkan senjata?"

__ADS_1


Pria itu tak sanggup menatap mata Adry dan menjawab ketakutan, "K-kami mendapatkannya dari m-merampok, semua perlengkapan itu hasil jarahan, kelompok kami semakin besar di bawah kekuasaan bos kami, markas kami terletak di timur dari hutan ini..."


Adry pun berdiri dan bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan pertahanan kalian?"


"Kami memiliki benteng yang terbuat dari papan kayu dan puluhan orang sekitar 80 orang termasuk diriku, aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Kumohon lepaskan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi!"


Adry mengeluarkan pedang dari sarungnya, sembari berkata, "Jadi sekarang mereka sedang bermain sebagai kerajaan dan kesatria ya, meskipun negara ini sedang berjuang melawan Kekaisaran?"


Pria yang melihat Adry mengangkat pedangnya, ketakutan dan memohon, "Apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu? Kumohon ampuni aku! aku memiliki keluarga! aku hanya berusaha untuk bertahan hidup! Tolong ampuni aku!"


"Aku tidak peduli dengan cerita ataupun latar belakangmu yang menyedihkan kau hanyalah bajingan jahat yang mencari pembenaran atas semua kejahatanmu. Pegangi tangan dia!" Para bawahannya pun memegangi tangan pria itu.


Pria itu menangis sehingga air matanya membasahi wajah. "Kumohon jangan! Kumohon! Aku Tidak akan Mengulanginya lagi, tidak! tidak! tidak!" Dia mencoba melawan tetapi tidak bisa.


Aku tak bisa melihatnya, lalu mengalihkan pandanganku.


"Setelah kalian membunuh 7 dari 20 bawahanku, merampok lalu membunuh banyak orang sekarang kau berkata begitu? jika kau tidak siap mati lantas mengapa kau melakukan hal itu?"


Lalu Adry menebas kedua tangan pria itu. "Jangan biarkan dia mati, aku ingin dia menderita," ucap Adry.


Bawahan Adry membalutnya dengan perban.


Adry mendekatkan wajahnya pada pria itu kemudian berbisik, "Kau akan hidup dengan kondisi cacat seumur hidupmu. Aku tidak peduli, sesalilah perbuatanmu"


Pria itu menangis meratapi kenyataan. Mungkin saat ini dia sedang menyesal atas semua perbuatan yang telah dia lakukan.


Setelah cukup beristirahat kami saling merangkul satu sama lain dan pulang kembali ke kota, meninggalkan Pria itu sendirian.


Aku hanya terpikir bahwa pertarungan ternyata sebrutal itu. Mana mungkin aku akan terjun dalam peperangan, aku tidak ingin mati.


___

__ADS_1


__ADS_2