
___
Hingga ada satu orang kesatria maju melangkah dengan pedang dua tangan.
Mendirikan kuda-kuda dengan menarik senjata ke atas dan ke luar. Pedang itu mengarah ke wajah atau tenggorokan lawannya.
Bilahnya tidak vertikal maupun horizontal tetapi sedikit diagonal. Gagang dipegang tepat di kepalanya setinggi pelipis.
Duel pun dimulai, Tuan Pier masih mendirikan kuda-kuda yang sama sepanjang duel berlangsung, berdiam menunggu lawannya bergerak. Kesatria itu melangkah perlahan dengan mempertahankan kuda-kudanya.
Ketika bilah kesatria sudah bisa menjangkau Tuan Pier, kesatria itu mendorong Tuan Pier dengan bilahnya. Tuan Pier menanggapi serangan itu dengan menghindar lalu menerjang dan menebas, kesatria itu tidak kalah cepat, segera mundur selangkah dan menangkis serangan Tuan Pier.
Keduanya mundur menstabilkan tubuhnya, lalu kesatria itu perlahan bergerak lagi dengan kuda-kuda yang sama, menyerang menyamping kekanan. Tuan Pier menangkis dengan pedangnya, kemudian keduanya saling beradu pedang, hingga kesatria itu terdesak dan kelelahan.
Kesatria itu mati-matian berusaha keluar dari jangkauan Tuan Pier. Ketika dia menangkis serangan Tuan Pier, dia melepaskan pedangnya dan menerjang Tuan Pier dengan kedua tangannya.
Posisi Tuan Pier dalam bahaya, terperangkap oleh beban tubuh kesatria itu ditanah sedangkan kedua tangannya dipegang erat, Tuan Pier mengangkat kedua kakinya yang lentur itu dan mencekik leher kesatria itu dengan kakinya, ketika ada celah dia keluar dari posisi tidak menguntungkan.
Melihat pedang yang tergeletak disampingnya dia dengan cepat mengambil pedang itu dan mengarahkan bilahnya kepada kesatria itu.
Meski Tuan Pier memenangkan duel, kesatria itu membuat Tuan Pier gelagapan. Tuan Pier menstabilkan napasnya, lalu berkata, "Siapa namamu Tuan?"
"Askari, namaku Askari," ucapnya dengan gelagapan.
"Kau memiliki teknik bertarung yang unik, bukanlah cara bertarung yang mulia, tetapi cara bertarung untuk bertahan hidup. Aku tidak keberatan dengan caramu, karena perang yang sesungguhnya membunuh atau dibunuh. Apakah kau pernah mempelajari taktik perang?"
"Ya dulu aku memiliki seorang pengajar pribadi, aku mempelajari banyak hal seperti ilmu berpedang dan taktik perang."
Tuan Pier membersihkan badannya dan melanjutkan perkataannya, "Baiklah Tuan Askari, aku sebagai kepala keamanan kota, akan memberikanmu tanggung jawab untuk memimpin sebuah unit pemberantas berisi 70 orang dari milisi, 20 pasukan infantri berat dan 10 kavaleri dibawah perintahmu"
Kesatria bernama Askari itu, memberikan hormat, dan menyatakan, "Aku Askari, siap menerima tugas mulia ini!"
___
Tuan Pier melirikku dari tempat dia berduel, kemudian dia mendekatiku menduduk kursi mewahnya sembari berkata, "Maafkan aku Arezha karena telah menunggu, kupikir kau sudah pergi"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuan Pier, bagaimana mungkin aku melewatkan duel mengagumkan seperti itu sehingga membuatku terbeku disini." Selama mereka tidak saling membunuh, pertarungan seperti ini ternyata menarik untuk dilihat.
Tuan Pier tersenyum. "Haha terimakasih atas pujianmu Arezha, omong-omong apakah kau tidak bekerja saat ini?"
"Iya aku sedang berlibur setidaknya selama seminggu ini." Ada apa dia bertanya seperti itu kepadaku?
Tuan Pier tampak senang dengan jawabanku. "Bagus kalau begitu Arezha, kau pasti teman kepercayaan nya Adry bawahanku sehingga dia mempercayakanmu untuk memberikan surat ini."
Ya, bisa kubilang aku dan Adry adalah sahabat. "Begitulah, Tuan Pier."
Tiba-tiba dia berkata,"Akan kutunjuk dirimu sebagai pengurus logistik untuk Tuan Askari, berdasarkan pengalamanmu bekerja dikedai."
Tidak mungkin, aku tidak ingin terjun ke pertempuran berdarah! "Tunggu, apa hubungannya dengan bekerja dikedai? mohon maaf Tuan Pier tapi aku menolak."
Tuan Pier hanya diam melihatku.
Aku berkata dengan sedikit meninggikan suara, "Aku bukanlah seorang petarung Tuan Pier, aku bahkan merasa ngeri jika melihat darah, orang sepertiku akan menjadi benalu di pertarungan lagipula kuyakin ada banyak orang selain aku!"
Tuan Pier dengan tenang berkata, "Biasanya kepala steward yang mengurus semua hal ini, tetapi dia sedang menemani Tuan Adipram, jadi saat ini aku hanya melihatmu. Aku tidak ingin memperpanjang kesana kemari menyuruh seseorang untukku mencari seseorang lagi. Kurasa kau bisa menyuplai banyak perbekalan dari kedaimu. Kami yang akan membelinya, kita sama-sama diuntungkan bukan? " Dengan alasan itu dia menyuruhku?
Aku merasa cemas, perkataan Tuan Pier kemudian menenangkanku. "Seorang logistik tidak akan terjun dalam peperangan. Tugasmu hanya mengatur persediaan dan mengirimnya, suruhlah Adry beserta bawahannya untuk ikut denganmu." Tapi tetap saja aku tidak ingin melihat mereka saling membunuh.
Tuan Pier menjawab, "Mari kita bicarakan itu semua besok hari, sebelum itu Tuan Askari, perkenalkan Arezha, dia yang akan mengurus semua logistikmu. Arezha datanglah pada pertemuan dan catat apa yang Tuan Askari butuhkan berikan padanya mengerti?"
Tuan Askari menghadap kepadaku dan memberi hormat, aneh rasanya seorang bangsawan memberikan hormat pada rakyat jelata sepertiku, aku pun membungkuk memberinya hormat kembali.
"Oh iya, sampaikan pesan ini pada Adry, aku ingin dia hadir juga dalam pertemuan besok," ucap Tuan Pier.
___
Aku memberitahu Adry yang sedang memulihkan diri dirumahnya tentang apa yang terjadi saat aku menemui atasannya.
"Begitulah kira-kira, kau harus mendampingiku nanti bersama dengan bawahanmu dan Tuan Pier menginginkan kau hadir di rapatnya besok hari."
Dikondisinya yang belum pulih Adry tidak mengeluh. "Baiklah, aku akan menghadiri rapatnya besok. Saat ini aku harus memberitahu keluarga dari bawahanku yang tewas dalam pertarungan tadi." Dia berdiri dan membuka lemarinya.
__ADS_1
"Apakah kau butuh bantuan?" ucapku.
Adry mengeluarkan kantung saku besar yang sepertinya berisi koin-koin. "Tidak usah aku bisa sendiri, kau beristirahatlah Reza, besok akan menjadi hari yang sibuk." Hari-harinya penuh dengan kesibukkanan yang berbahaya.
___
Aku pergi ke kedai untuk melihat-lihat, Pak Dery sedang bekerja. Akupun masuk menyapa dia, Pak Dery berkata, "Kenapa? kau rindu dengan pekerjaanmu?"
"Haha, begitulah." Rasanya sekarang aku ingin bekerja daripada pergi ke medan perang
"Lalu apa yang kau tunggu? Pakailah seragammu dan bekerjalah," ucap Pak Dery yang sedang menuangkan bir pada gelas pelanggannya.
"Sejujurnya aku sedang tidak enak badan hari ini." Aku hanya ingin segera tidur dirumah melupakan kejadian siang tadi,
"Dan orang yang bernama Pier mengutusku sebagai logistik untuk beberapa hari kedepan, sepertinya."
"Pier siapa? kepala keamanan kota itu?"
"Iya, dialah orangnya."
"Apa yang dia inginkan darimu? mengapa orang sepertimu bisa bertemu dengannya?"
Apakah aku harus berkata jujur disituasi ini? Apa yang harus kukatakan padanya? Jika ku katakan dia akan mengetahuinya kalau Adry terlibat.
"Adry lah yang mengenalkannya padaku, lalu kami memperkenalkan diri. Dia akan membeli banyak hal besok hari dan aku disuruh untuk mengirim semua yang dia beli ke istana."
Kurasa kebenaran dalam kebohongan adalah pilihan tepat saat ini.
Dia tampak curiga padaku. "Begitukah? Pastikan kau kembali bekerja dikedai ini!" ucapnya dengan tegas.
Kakek Izwar datang dari dapur membawa sepiring steik sapi panggang yang ditaburi garam diatasnya, memberikan piring itu pada Pak Dery lalu Pak Dery mengantarkan pesanan.
Kakek Izwar menyapaku, "Nak Arezha, kau terlihat kelelahan." Ya tentu saja, siang tadi aku hampir saja terbunuh.
Sial hal itu masih saja terngiang-ngiang di dalam kepala. "Begitulah Kek, aku mengalami hal buruk tadi, aku akan segera beristirahat, sampai nanti Kek!"
__ADS_1
Aku berpamitan juga dengan Pak Dery yang sedang mengantarkan pesanan pelanggan. "Besok aku akan kembali!"
___