Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Aku Seorang Kesatria? VII


__ADS_3

___


Dengan lemas aku berdiri menghampiri Adry. "A-Adry, terima kasih."


Rangkulan Adry membawa ku ke dalam rumah, di mana aku mendapatkan pengobatan meskipun tidak mengalami cedera serius. Kami berada di ruang utama, di mana aku berdiri mematung, merenungkan kata-kata Donovan.


Mengapa dia begitu iri padaku hanya karena aku menjadi seorang kesatria?


Apakah ini yang dimaksud Adry saat dia berbicara tentang harga diri seorang bangsawan?


Adry pergi ke dapur. "Ada apa?" tanyaku, tetapi dia tidak mendengarnya.


Dia kembali dengan teh hangat dan memberikanku segelas teh hangat.


Meraih gelas itu menggunakan kedua tanganku dan mulai menyeruput. "Terima kasih Adry."


"Ngomong-ngomong, siapa mereka?" Aku bertanya, penasaran.


"Donovan? Dia salah satu kesatria Tuan Adipram, bagaimana mungkin kau tidak


mengetahuinya?" Adry menjawab, terkejut.


"Tentu saja tidak, aku tidak terlalu memperhatikan orang lain."


Kemudian Adry menjelaskan, "Donovan berasal dari keluarga Resia. Ayahnya, Bien Resia merupakan seorang baron di wilayah Sernia, dan kalau tidak salah, dia memiliki kekuasaan di desa Ataren."


Adry meletakkan cangkirnya di atas meja, bangkit untuk membuka jendela, lalu duduk kembali.


"Aku sudah mengenal keluarganya sejak sebelum aku menjadi ksatria. Mereka adalah orang-orang yang baik, tetapi Donovan berbeda. Aku telah menyaksikan apa yang dia lakukan - dia menggertak, menghina, dan meremehkan orang lain. Saat itu aku hanya mencegahnya namun aku tidak menyangka dia akan terus melakukan hal yang sama."


Dia menyeruput teh hangatnya lagi. " Entah bagaimana dia bisa menjadi seorang kesatria... kurasa dia hanya sedang bermain-main dengan sumpahnya."


Ketika Adry menyelesaikan ceritanya, aku merasa bersyukur memiliki teman sepertinya, dan atas kehangatan teh yang seakan mengusir rasa dingin yang hinggap di hatiku.


___


Kerajaan Xiris


Kota Sernia

__ADS_1


16 September 1300


___


Sesi memanah telah selesai, tuan Pier menyarankan ku untuk berlatih lebih lama daripada kesatria lainnya.


Hasil akhirnya... cukup baik untukku, walaupun hanya beberapa kali tembakanku yang mengenai sasaran.


Aku berjalan disekitar lorong barak setelah selesai berlatih memanah berniat untuk kembali. Lagi-lagi aku melihat Donovan dan komplotannya yang lebih banyak dari pada sebelumnya memandangi dari ujung lorong.


Tak lama kemudian Adry menyusulku, melihat apa yang kulihat disampingku.


Adry terlihat geram karena tingkah mereka, pandangannya terus memandang ke arah Donovan yang berdiri di ujung lorong, seolah menantang Adry. Sementara itu, aku hanya berdiam menatap kosong ke arah mereka, merasakan gelisah dan khawatir dalam diriku.


Ketakutan ku bertambah seiring mereka berjalan menghampiri kami, memandang dengan tatapan tajam dan sinis. Seolah aku adalah mangsa dari dari seekor harimau yang haus akan darah.


"Hei tuan pahlawan dan tuan pecundang," ucap Donovan di belakang komplotannya. "Adry, kau sudah berurusan dengan orang yang salah. Setelah aku membawa banyak orang, kuyakin kau saat ini sedang ketakutan dalam hatimu dan menyesal 'Keenaaapaa aku berurusan deeengaaan Tuan Donovan yang heebaaatttt."


"Katakan itu dihadapanku, aku tidak dapat mendengarnya dari sini." Adry apa yang kau lakukan! kau memprovokasi mereka!? Aku harus mencari bantuan!


Kemudian Adry yang sedang menatap tajam mereka, berkata kepadaku. "Kau harus melawannya Arezha. Kau adalah seorang kesatria... kesatria macam apa yang tidak dapat membela dirinya sendiri," ucap Adry mengepalkan tangannya.


Apakah aku bisa melawan mereka? Aku bahkan belum pernah berkelahi!


"Sombong sekali perkataanmu Adry! Hajar mereka!" Mereka akan memukuli kami!


Aku merasa sangat kecil dihadapan mereka, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dari sini? Sementara Adry tetap berada di sisi ku.


Aku harus memberanikan diri, aku harus melawan ketakutanku ini.


Mereka segera menyerang kami, tetapi kenyataannya aku melihat Adry menumpas satu persatu dari mereka dengan tangan kosongnya.


Salah satu komplotan Donovan mengincar diriku, memukuli beberapa kali lalu aku berusaha membalasnya. Aku mengenainya! Aku memukulnya! akan tetapi seakan tidak terjadi apa-apa dia membalas dengan pukulan di dadaku.


Aku mempelajari hal lain di perkelahian ini... Jangan senang sebelum kau benar-benar menang.


Adry menendang dia dan membantuku berdiri... "Lawan!" teriak Adry.


Padahal kami melayani tuan yang sama, akan tetapi kenapa mereka menyerang kami hanya karena iri dan dengki.

__ADS_1


Kami saling menerima dan membalas pukulan, aku tidak menyadari rasa sakit karena adrenalin yang berpacu dalam tubuhku.


Hingga akhirnya tubuhku kelelahan, hanya melihat Adry melindungi diriku dari depan.


Memar di tubuhku mulai terlihat dan mulai terasa menyakitkan. Ini adalah batasanku... Aku harus menjadi kuat... lebih kuat daripada ini.


___


Baik Kami dan komplotan Donovan berada di ambang batasnya, Donovan mendecakkan lidahnya, berkata, "Sialan kau Adry! lain kali aku akan benar-benar menghabisimu!" Komplotan Donovan hanya tertawa sinis, merendahkan kami . Namun, pada akhirnya, dia berjalan pergi dan meninggalkan kami.


Namun Adry berteriak, "Tidak ada lain kali lagi, semuanya akan berakhir sekarang!" Sehingga Donovan menoleh kembali ke arah kami, melihat Adry berlari menyusul komplotan Donovan. Adry mengabaikan komplotannya dan mendorong mereka, hanya mengincar kepada Donovan hingga tiba dihadapan Donovan, Adry mencekiknya dengan satu tangan. "Sialan! Apa yang kau lakukan, lepaskan!" Donovan meronta-ronta.


Kemudian Adry mengangkat Donovan yang terlihat berat itu. Komplotannya tidak hanya diam berusaha untuk membantu Donovan dengan memukuli Adry, namun Adry tidak peduli dan tetap bergeming.


Setelah mengangkatnya, Adry membanting Donovan ke tanah dengan keras sehingga terdengar Donovan menjerit kesakitan membuat komplotannya terdiam berhenti memukuli, mereka mungkin merasa ngeri saat ini.


Donovan yang sudah lunglai berusaha untuk melepaskan cengkeraman Adry darinya. "Adry! Aku akan melaporkan perbuatan mu terhadap ku kepada keluargaku!" ucap Donovan yang meringis kesakitan tergeletak di tanah.


Adry melepaskan cengkeramannya dari kerah pakaian Donovan dan menjambak Donovan kemudian berkata, "Oh ya? Aku sangat penasaran, mari kita lihat mana yang lebih cepat, kepalan tanganku atau keluargamu." Dia meninju Donovan dengan keras di wajahnya secara bertubi-tubi.


Donovan terlihat memberikan perlawanan, melayangkan pukulan dengan lemas. Beberapa komplotan Donovan pergi meninggalkannya.


Aku pun merasa ngeri melihat Adry menjadi beringas seperti itu, menghampirinya secara perlahan.


Adry berkata dengan penuh amarah dan pukulannya terus berlanjut, sementara Donovan hanya bisa pasrah menerima serangan dari Adry. "Siapa juga yang peduli denganmu! Persetan dengan kedudukanmu! Persetan dengan keluargamu! Persetan denganmu! Kau adalah bajingan! Kau hanyalah anak dari seorang baron, tetapi kesombonganmu bagaikan penguasa langit dan bumi!"


Adry terus melayangkan tinjunya, walaupun Donovan tak sadarkan diri.


Aku memegang pundak Adry dari belakang. "Sudahlah Adry, dia sudah tidak sadarkan diri."


Adry melepaskan cengkramannya dari Donovan.


Beberapa komplotan Donovan yang tersisa hanya terdiam membeku melihat hal itu, merasakan terror yang diberikan Adry.


Mereka dipenuhi oleh luka dan memar yang tampak pada wajah. Mereka terdiam dan terlihat ragu.


"Apa yang kau lihat sialan! Ada apa dengan kesombonganmu sekarang sehingga aku mengira kalian adalah utusan Dewa!? Ayo lawan aku sampai akhir bajingan! " teriak Adry.


Jika aku berada diposisi mereka saat ini, mungkin aku akan merasakan ketakutan yang besar pada Adry.

__ADS_1


Aku merasa beruntung karena menjadi teman Adry dan bukan musuhnya.


___


__ADS_2