
Kota Jakarta Utara siang itu sangat berpolusi. Seorang gadis berkerudung pashmina biru duduk di sebuah halte dekat kampusnya menuntut ilmu. Tangan kurusnya merogoh tas ransel mencari sesuatu di sana. Setelah didapat, benda yang ternyata adalah sebuah masker medis itu ia pakai untuk menutupi setengah wajah, hidung dan mulut.
Gadis bernama lengkap Fadilla Kanzia itu tampak bosan. Terlihat jelas dengan caranya menarik napas beberapa kali. "Lama ..." keluhnya, saat kendaraan umum yang di tunggunya belum tampak di penglihatan. Sesekali ia menyeka keringat di dahi sambil fokus memperhatikan kendaraan yang lewat.
"Mau bareng?" Seorang pemuda dengan model rambut *pompadour* memberhentikan motor sport miliknya di depan gadis itu.
"Gak usah! Makasih!" tolak Dilla. Bukannya pergi pemuda itu malah turun dari motornya. Ia ikut duduk di samping gadis itu setelah melepas helm full face-nya.
Saat Dilla bergeser ia jadi berkata, "Takut banget deket-deket sama gue." Mulutnya bedecak kesal sambil ikut bergeser hingga gadis itu melayangkan protes.
"Aryo!" Gadis itu berdiri dengan mata mendelik.
__ADS_1
"Kenapa sih? Lo alergi banget deket-deket gue? Gak normal banget jadi cewek. Orang paling tampan seantero kampus aja diabaikan," ucapnya yang tak habis pikir dengan gadis berkerudung tersebut.
Dilla tidak membalasnya. Ia memilih pergi berjalan kaki meninggalkan teman satu kampusnya itu.
"Eh! Mau kemana, lo?" Cepat-cepat Aryo mendorong motornya mengikuti gadis yang selalu menarik perhatiannya itu.
"Ngapain kamu ngikutin?" tanya Dilla tak suka.
"Terserah gue lah! Gue yang punya kaki!" balas pemuda itu tak acuh.
Aryo menarik tangan Dilla. Buru-buru menyuruhnya naik motor saat mobil itu menepi. Membawa gadis itu kabur bersamanya, sedangkan Dilla yang syok tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti. Mengabaikan rasa marah, sebab pemuda itu telah berani menyentuh tangannya.
Beberapa menit setelahnya, motor sport hitam Aryo berhenti di sebuah bangunan berpagar tinggi. Ia melirik gadis yang baru turun dari motornya. "Ini benaran rumah lo?" tanyanya tak percaya. Sambil mengalihkan padangan ke rumah besar di depan sana.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk seraya bertanya," Kenapa?"
"Gue gak nyangka kalo lo sekaya ini!" balasnya menatap kagum bangunan besar bercat abu gelap itu. "Tapi kenapa ke kampus naik kendaraan umum?" tanyanya penasaran.
"Emang aku gak boleh naik kendaraan umum?" Dilla malah bertanya balik. Ia tau semua orang akan menanyakan hal sama, jika mereka tau ia berasal dari keluarga berada.
"Enggak gitu juga, sih." Aryo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa. "Yaudah gue pulang dulu ya!" Merasa tak enak pemuda itu bergegas pergi, bahkan sebelum Dilla mengucap terima kasih.
Dilla menghela napas berat setelah memasuki pagar yang dibuka satpam rumah. Kakinya melangkah lesu. Semua orang akan menatap kagum bagunan yang didesain sedemikian indah ini, tetapi tidak baginya. Rumah ini adalah ketakutannya. Tidak pulang ke rumah ini merupakan hal yang selalu ia inginkan. Tapi ia harus apa? Jika hidupnya masih bergantung pada orang tua.
Setelah ia lulus kuliah nanti ia akan pergi dari rumah ini. Meninggalkan kenangan buruk dan memulai kehidupan baru. Sekarang ia harus bertahan, kemudian beberapa bulan lagi segera pergi menghilangkan semua kenangan.
__ADS_1