Penawar Luka

Penawar Luka
Luka


__ADS_3

"Sudah berapa kali saya melarang kamu menggunakan kain ini. Kenapa tidak mendengarkan saya hah?" Kain lebar itu ditarik kasar dari kepala perempuan muda yang menatapnya berkaca.


Wanita berambut indah bergelombang rupanya tidak puas di sana. Setelah kerudung itu ia lepas paksa, tangannya meraih rambut perempuan muda tersebut, menariknya kuat hingga beberapa helai terlepas dari kulit kepala. Tidak mempedulikan desisan sakit yang keluar dari mulut mungil perempuan itu. "Kalau kamu masih ingin saya anggap anak, buang semua pakaian murahan ini." Ia melepaskan rambut dari genggamannya, menyentak kasar hingga korban tersungkur, terisak di lantai. Teriris sudah hati perempuan muda itu mendapat perlakuan tersebut dari Mamanya sendiri, sembari menahan sesak di dada ia beranikan diri menatap wanita yang melahirkannya itu. "Sampai kapan pun aku tidak akan membuang pakaian ini. Aku akan memakai pakaian seperti ini sampai aku mati. Tidak ada satu pun yang bisa melarangku karna ini kewajibanku. Maaf, Ma. Aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Seberapa keras Mama melarang, aku akan tetap pada pendirianku."


Plakk


"Anak kurang ajar. Kenapa kamu keras kepala hah?" Kuku bercat merah menunjuk Dilla yang memegang pipi. Ia menyeret Dilla hingga masuk ke kamar mandi, mengurungnya di sana. Ia mengunci putrinya hingga esok hari, tanpa diberi makan dan minum. Kejadian sama yang berulang dari sepuluh tahun lalu. Pagi harinya wanita yang Dilla sebut Mama itu menggores tangan kanan putrinya dengan pisau belati. Dilla yang pucat tak berdaya hanya mampu menangis tanpa suara. Membiarkan luka itu menyatu dengan bekas luka lainnya. "Ini hukuman buat kamu karna melawan saya!"


Setelah mengatakan itu ia keluar dengan pisau penuh darah. Dilla menyeret tubuh yang lemah hingga keluar dari tempat dingin itu. Dengan sisa tenaga yang ia punya, tangan gemetarnya meraba laci nakas, mencari kotak P3K.

__ADS_1


Hati-hati ia obati luka yang hampir sama dengan sebelumnya. "Ya Allah tolong akhiri semua ini." Lelehan air mata mengalir deras. "Jika aku bisa memilih. Aku tidak ingin terlahir dari rahimnya."


***


"Gimana keadaan lo? Udah baikan?"


Saat Dilla terjaga, suara itu yang pertama kali ia tangkap di indera pendengarannya. Ia memindai sekeliling serta sosok yang menatapnya khawatir.


"Rumah sakit," jawab sosok manis itu singkat. Ia mengambil air di nakas lalu memberikan pada Dilla yang tanpa ragu menerima. Ia meneguk air dalam gelas hingga tandas. Setelah mengembalikan gelas pada posisi semula, ia berdiri. "Sebaiknya akupergi dari pada merepotkan orang lain.

__ADS_1


Pria itu menghalanginya. "Biarkan gue rawat lo hingga sembuh!"


"Terima kasih. Tapi kurasa tak perlu, karna aku merasa baik-baik saja."


"Berhentilah berpura-pura. Gue tau lo nggak lagi baik-baik aja. Tolong izin gue rawat lo."


"Nggak bisa! Kamu bukan mahram saya." Dilla mencoba menerobos penghalang di hadapannya, mencari celah agar lolos.


"Gue bisa nikahin lo," balas pria itu seenak jidat. Dilla mendelik mendengarnya. "Gila kamu! Kamu kira pernikahan itu mainan?" Dilla tidak habis pikir dengan orang di hadapannya ini. Kenapa dengan mudahnya ia berbicara seperti itu.

__ADS_1


Senyum terbit di wajah manis tersebut. "Gue sangat-sangat waras mengatakannya. Gue kasih lo waktu 3 detik untuk jawab, kalo lo diam berarti jawabannya iya. Hari ini juga kita nikah!"


__ADS_2