
Indra kebingungan sendiri melihat perempuan muda itu menjerit lagi. Ia mencoba menahan tangan perempuan tersebut yang memukuli kepalanya sendiri.
Beberapa saat setelahnya perempuan itu malah tak sadarkan diri. Secepatnya Indra bawa gadis tersebut ke rumah sakit terdekat.
"Pasien mengalami trauma yang cukup parah," ujar wanita berjas putih di seberang Indra.
"Apa dia bisa sembuh, Dok?"
"Insyaa Allah bisa. Jika Anda merawatnya dengan baik pasien akan kembali normal."
Indra hanya memberi anggukan singkat. Meski ia tahu sepertinya dokter itu salah paham padanya, ia tidak meluruskan.
"Jika pasien histeris lagi, tenangkan dengan cara memberi pelukan dan motivasi," lanjut sang dokter.
Wanita itu menuliskan resep obat dan memberikan pada pemuda di hadapannya.
****
"Gue sangat sangat waras mengatakannya. Gue kasih lo waktu 3 detik untuk jawab, kalo lo nggak jawab berarti jawabannya iya. Hari ini juga kita nikah!"
Dilla tampak menimbang. Ia ingin menolak mentah- mentah ajakan pria tersebut, tapi jika ia menerima kemungkinan besar ia bisa menggagalkan rencana papanya sekaligus keluar dari rumah keluarganya.
__ADS_1
"Baik kalo gitu aku terima," balas Dilla membuat pria di hadapanya tersedak ludah sendiri.
"Lo serius?"
Perempuan itu hanya membalas dengan anggukan tak bersemangat. Ia sebenarnya tak ada pilihan lain selain ini.
***
Bangunan berpagar tinggi dengan cat abu gelap, terpampang jelas di hadapan Indra sekarang. Setelah turun dari BMW seri 8 miliknya, pria manis itu tampak kebingungan.
"Orang tua lo kerja di sini?" tebaknya sambil menoleh pada sosok perempuan di sisi kiri.
"Ini rumah orang tuaku."
"Aku serius, Kak. Ini rumah orang tuaku."
"Eh, apa?" Pria berpipi tirus dengan rahang tegas itu terbengong. Berarti apa yang Indra pikirkan tentang perempuan ini, salah dong?
Tiba-tiba benda tinggi di hadapan mereka terbuka. Sosok pria bertubuh sedikit gempal muncul di baliknya. Awalnya muka pria itu terlihat garang, tetapi sesaat berubah melihat perempuan di sisi Indra.
"Ya Allah, Non. Kemana aja?"
__ADS_1
Seraut wajah khawatir terlihat. Sosok garang tadi mendekat.
"Papa udah pulang gak, Pak?"
"Udah, Non."
Dilla menyuruh Bapak yang ternyata satpam itu membuka pagar lebih lebar agar mobil Indra bisa masuk ke halaman.
Angin sejuk menyapa saat mereka turun dari mobil. Tepat di depan bangunan indah. Bau bunga yang tengah bermekaran tercium menusuk rongga hidung. Tak jauh dari sana ternyata ada taman bunga yang sangat terawat. Indra mengamati sekeliling masih tidak percaya dengan kenyataan yang sebenarnya.
Mobil-mobil dari yang biasa sampai yang berharga fantastis berjejer di sisi kiri.
Langkah kaki Indra mengikuti perempuan muda di hadapannya. Keheningan melanda saat mereka memasuki rumah besar tersebut. Namun itu hanya beberapa detik sebelum sosok berlipstik merah datang.
"Anak sialan, kemana aja kamu?"
Indra terkesiap mendengar makian yang ditujukan pada Dilla. Siapakah nenek sihir ini?"Udah berani main kabur-kaburan sekarang? Dasar anak tidak tahu diuntung!"
Dilla tidak menghiraukan nenek sihir tersebut. Tatapannya beralih pada pria setengah baya berbadan kekar di sisi wanita itu.
"Tolong batalin semua rencana Papa. Aku sudah punya calon suami!"
__ADS_1
Pria itu hanya menatap datar. Dilla meraih tangannya. "Tolong batalin, Pa." Suaranya terdengar memohon.
"Baiklah. Tapi, setelah saya menikahkan kamu dengan pria pilihanmu, saya tidak ingin melihat wajahmu lagi di rumah ini."