Penawar Luka

Penawar Luka
5


__ADS_3

Indra menghadang langkah dua orang di depannya, lalu menyeret salah satu dari mereka ke parkiran. Orang yang ia seret sempat memberontak kala ia mencekal lengannya. Namun kekuatan orang itu yang hanya sebesar tenaga bebek tidak mampu membuat Indra goyah untuk melepaskan cekalannya dari tangan kurus itu.



"Lo kan yang lempar mobil gue pake batu?" Orang yang ia cekal lengannya begeming saat Indra menujuk mobil BMW seri 8-nya.



"Ada apa ini, Bang?" Pemuda yang bersama orang ini tadi menyusul. Ia melirik tangan Indra menempel di lengan orang yang merupakan temannya lalu netra itu menyorot mobil putih di depannya. Netranya sempat membulat beberapa detik sebelum normal kembali. Ia menepis tangan pria manis itu hingga terlepas dari lengan temannya yang tampak tak nyaman. *Dasar tidak sopan! Gak menghargai banget cewek yang sudah hijab-an! Nyentuh sembarangan*!



Perempuan muda itu menghela napas lega. Ia mengusap lengannya yang memerah. Hampir saja pria ini menyentuh lukanya yang belum kering akibat ulah Mama.



"Lo harus ganti rugi!" Indra menatap tajam perempuan berkerudung pashmina itu dengan kening sedikit berkerut.



Dilla, gadis itu menatap Indra sekilas. Sejenak ia tertegun dengan pria di depannya. *Bukankah pria ini yang di angkot waktu itu*?



"Baik, Kak," jawabnya. Memang seharus ia bertanggung jawab atas kejadian itu dan bukannya malah kabur.

__ADS_1



Indra menyunggingkan senyum sinis. Apa? Baik katanya? Bayar angkot saja gadis ini tidak mampu. Pria manis itu yakin gadis ini juga tidak mampu mengganti rugi. Di mana ia akan mendapatkan uang?



Baiklah karna kebaikan hati Indra mengalahi para malaikat ia akan memberi jalan yang mudah untuk gadis ini. "Tapi gantinya gak pakai uang!"



"Emang bisa gak pake uang?"



Indra mengangguk. "Lo bisa membayar dengan jadi babu gue selama satu bulan," ujarnya.




Dilla menggelengkan kepalanya pada Aryo agar tidak berbicara apa pun soal dirinya. "Aku sibuk, Kak! Di semester akhir ini tidak waktu untuk hal lain," ucap gadis itu pada Indra. "Maaf! Apa tak bisa dengan cara lain?" tanyanya.



Indra tampak berpikir. "Oke. Gimana kalo setelah lulus kuliah lo bekerja di perusahaan gue dan gajian bulan pertama dipotong," tawarnya. Kali ini lebih masuk akal.

__ADS_1



Dilla menggangguk. "Oke, Kak!" Bekerja di perusahaan pria ini? Ia rasa tidak buruk. Lagi pula bukankah rencananya setelah ia lulus kuliah dirinya akan keluar dari rumah orang tuanya? Tawaran pria ini malah menguntungkan baginya, karna setelah lulus kuliah ia tidak perlu capek-capek mencari pekerjaan ke sana ke mari.



"Nama?"



"Nama apa?" tanya Dilla tak mengerti.



"Nama lo siapa?"



"Hah?"



Indra mendengkus lalu merogoh ponsel di saku. "Siapa nama lo dan berapa nomor handphone lo?" Ia menyodor ponsel pada Dilla yang terima dengan ragu-ragu. Segera ia ketikan angka-angka di ponsel Indra lalu disimpan dengan namanya 'Dilla.'


__ADS_1


"Setelah lo lulus! Gue hubungi!" Indra membaca nama gadis itu di kontaknya dengan datar. "Sampai ketemu lagi Dilla," ujarnya sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan parkiran.


__ADS_2