Penawar Luka

Penawar Luka
Air


__ADS_3

Setelah Dilla tenang, Indra meminta izin ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Sekarang mereka masih berada di rumah Mak Era, setelah terjadi perdebatan panjang antara anak dan ibu itu. Indra memilih mengalah dan memutuskan tinggal di rumah sang Ibu, berhubung juga wanita yang sangat ia sayangi itu akan tinggal sendiri di rumah jika ia memilih tinggal di apartemennya.


Saat Indra kembali ke kamar, ia mendapati gadis berkerudung bergo hitam tengah melamun. Bahkan kehadiran Indra pun tidak ia sadari.


Pria tinggi itu menegurnya sembari menyerahkan segelas air yang di bawa. Dilla menerima, meneguk satu tegukan dan menaruh gelas di nakas.


"Apa lo sering mimpi buruk kayak gini?" Sembari duduk di sisi tempat tidur, Indra bertanya.


Perempuan yang tampak tidak baik-baik saja itu, menatapnya. "Hampir tiap malam kayaknya." Saat Indra membalas tatapannya, ia malah mengalihkan pandangan ke arah objek lain, dinding kamar.


"Trauma apa yang lo alami selama ini hingga jadi mimpi buruk dalam tidur, lo?"

__ADS_1


Dilla tidak membalas, beberapa detik keheningan melanda, hingga helaan napas terdengar dari Indra.


"Gak apa, kalo lo belum mau cerita! Apa yang lo alami di masa lalu, semenakutkan apa itu! Jangan buat diri lo tetap berada di sana! Jangan biarkan ketakutan itu mengurung diri lo sendiri! Lo harus keluar dari rasa takut itu!"


Senyum manis serta tatapan lembut, Indra berusaha meyakinkan gadis itu. Sorot matanya kini beralih pada jam beker di nakas, sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Pria berwajah rupawan berinisiatif mengajak sang istri salat tahajud berjamaah. Dilla setuju, setelah Indra berlalu ke kamar mandi. Seulas senyum tipis tergambar di bibirnya yang mungil seraya menatap punggung lebar Indra, yang tampak kokoh itu.


Azan subuh terdengar indah bergema menjelang pagi. Harum embun berbaur dengan udara yang dingin. Sesosok berbaju koko putih, sarung motif kotak-kotak, peci serta sajadah biru tua tersampir di bahu berjalan tegas menuju Masjid dekat kediamannya.


Di sepenggal jalan ia bertemu dengan pak Rudi. Ia menyapa ramah sosok tua itu, berjalan beriringan. Saat kembali ke rumah Indra langsung ke dapur setelah baju koko dan sarung ia ganti dengan kaus abu dan celana training panjang berwarna senada. Rambut hitam berkilaunya masih sedikit basah sisa air wudhu. Kesan yang selalu mengagumkan di pagi hari.

__ADS_1


Pria manis itu membuka kulkas, berpikir sejenak makanan apa yang akan dibuat dengan bahan yang ada. Satu ekor ayam yang sudah di potong, wortel, tomat, tahu, bawang-bawangan, beberapa jenis sayuran, daun seledri, daun bawang, kentang, dan lain sebagainya.


Dengan keahlian memasak yang tak seberapa, Indra memutuskan membuat sup ayam ala orang tampan yang tersenyum cerah di pagi hari. Indra mengecek magicom terlebih dahulu sebelum memulai acara memasaknya. Ternyata benda itu hanya tinggal beberapa butir nasi sisa semalam. Akhirnya ia menanak nasi dan setelahnya celemek sudah melekat di badan dan pisau di tangan.


Masakan sudah terhidang di meja makan, Indra mengusap pelipis seiring hembusan napas. Ia ke kamar membangunkan Dilla yang sejak ia pulang dari Masjid tertidur di atas sajadah. Saat tidak sengaja kain mukena yang dipakai perempuan itu tersingkap. Indra melihat ada bekas luka di bagian lengan dan menanyakan perihal itu.


"Bukan apa-apa kok, Kak!" balas gadis itu pelan.


Pria bau bawang hanya menghela napas mendengar itu. Ia menyuruh Dilla sarapan di lantai bawah.


Mengetahui Indra yang memasak dan ia malah tidur tentu perempuan itu merasa tidak enak. Sambil menatap Indra ia menggumamkan maaf, pria bau bawang hanya mengangkat alis tidak mengerti.

__ADS_1


"Cepat sarapan!" ujarnya sebelum beranjak. Membawa rasa penasaran perihal bekas luka di lengan gadis itu.


__ADS_2