
BMW seri 8 itu memecah kepadatan ibu kota di bawah terik matahari pukul dua belas lewat tiga puluh dua menit. Seseorang bersiul di balik kemudi. Senyum tercetak di bibirnya mengingat kemarin ia baru saja membeli mobil seharga 2,8 Milliar.
Pria yang memiliki senyum sangat manis itu melirik kanan kiri. Mencari restoran untuk makan siang. Perutnya memang sudah keroncongan, tetapi berkat mobil baru seharga 2,8 M-nya ini, hal itu tidak memecahkan mood-nya yang berada di zona tertinggi. Bahkan ia yakin sampai gempa bumi melanda pun, mood-nya tidak akan turun.
Namun sebuah benda melayang entah dari mana, memecahkan kaca mobil hingga tercerai berai. Mood yang berada di zona tertinggi, kini hilang tertelan bumi. Perutnya yang lapar kini terasa, amarahnya membara. Cepat-cepat ia tepikan BMW seri 8 itu, ingin melabrak si pelempar batu.
Indra tidak akan memaafkan sampai orang itu bertanggung jawab pada mobil yang dilempari batu dengan kejamnya. Ia memicingkan mata melihat seorang mahasiswa menarik lengan mahasiswi naik ke atas motor sportnya. Lalu motor itu melaju dengan kencang. Ia memukul setir mobil melampiaskan amarah, karna sang pelaku kabur sebelum ia meminta ganti rugi.
__ADS_1
Pria itu mengedarkan pandang ke sekitar. Sepertinya ini area kampus, pikirnya. Dua orang itu pasti berkuliah di sini. Ia mencoba mengingat ciri-ciri si pelempar batu. Seorang perempuan, memakai kerudung pashmina biru, memakai masker, tubuh boncel, dan lumayan kurus. Hanya itu yang ia ingat. Lagi pula wajah si pelempar batu itu tertutup masker, mana bisa ia mencari keberadaannya di kampus yang sangat luas ini?
*****
"Kenapa muka lo jadi kusut gitu?" tanya Fiko pada Indra heran. Ia mengingat bagaimana bahagianya wajah itu tadi. Tersenyum cerah pada orang-orang sekitar, bahkan pada bebek berjalan pun ia lempari senyum yang ada manis-manisnya itu.
Pria yang bernama Fiko itu merupakan salah seorang sahabat Indra sedari SMA yang sekarang bekerja di perusahaan Sanjaya group ini semenjak lulus kuliah. Perusahaan Sanjaya group sendiri adalah milik kakek Indra yang sudah beralih menjadi miliknya. Di bawah pimpinannya sekarang, perusahaan ini semakin maju.
"Lo mau dihargain berapa?" canda Fiko sambil tertawa sampai Tito menyikut lengannya. Tawa lelaki berkemeja lengan panjang itu terhenti. "Iya Pak bos, iya." Ia balas menyikut Tito disampingnya hingga umpatan keluar dari mulut pria itu. "Gue canda doang! Gitu aja ngambek kek cewek," dumelnya setelah Indra pergi.
__ADS_1
"Dipecat baru tau rasa lo." Tito meliriknya sinis.
"Gak takut," balas Fiko lalu berlalu memasuki lobbi. Yang ternyata diikuti oleh temannya tadi.
****
Indra menyandarkan punggung di kursi kebesarannya sambil menatap langit biru lewat jendela kaca gedung. Ia memutar kursi sejenak lalu mengambil ponsel di atas meja. Ia memesan grabfood saat ingat dirinya tidak jadi makan, karna kejadiaan naas tadi.
Setelah makanan sudah dipesan, ia mengembalikan ponsel ke atas meja di samping tumpukan map. Pria itu beralih menatap layar laptop di depannya. Menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertuda.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesannya datang diantar salah seorang OB ke ruangannya. Lekas ia isi perut yang sangat lapar. Gara-gara si pelempar batu itu ia jadi kelaparan hingga membuat makanan tak tersisa. Baru kali ini Indra se-apes ini.