Penawar Luka

Penawar Luka
Berbeda


__ADS_3

"Jan senyum-senyum gitulah, Mbak! Gak pernah liat orang tampan kayak gini ya!"



Dengan Pedenya pria yang tersampir handuk di bahu kanannya itu melontarkan kalimat tersebut pada orang-orang dalam lift saat hendak ke basement gedung.



"Habis mandi ya, Mas?" Salah satu dari mereka malah bertanya sambil tertawa.



Indra mengangkat alis. "Kok tau?" Ia mengusap rambutnya yang ternyata sudah kering. "Wah jangan-jangan Mbaknya dukun lagi," candanya ikut tertawa.



"Gimana saya gak tau. Handuknya aja masih tersampir di bahu, Masnya." Kali ini semuanya tertawa.



Reflek Indra mengangkat tangan, memastikan. "Astagfirullah! Ngapain bawa anduk segala dah!" Ia menepuk kepalanya sendiri. Mengutuk kepikunannya.



*Mana males banget lagi ke lantai atas. Bawa pulang aja dah*. Ia mendumel dalam hati.


...----------------...


Ke esokan harinya, pulang dari bekerja Indra kembali lagi ke apartementnya. Sekedar melihat keadaan gadis yang ia bawa semalam. Saat pintu apartement ia buka, yang Indra tangkap adalah keadaan ruangan yang gelap.



*Kemana gadis itu*?



Indra tidak habis pikir. Kenapa bisa si boncel itu tidak menyalakan lampu dan membiarkan ruangan gelap begini? Benar-benar aneh.


__ADS_1


Setelah lampu ia nyalakan, pria tersebut terkejut melihat orang yang menghuni apartementnya meringkuk di bawah sofa. Tampak ketakutan.



"Astagfirullah! Lo kenapa?" Indra berjongkok. Gadis tersebut langsung beringsut ke arahnya. "A-aku takut!" ujarnya tanpa sadar memeluk pria yang berjongkok di depannya.



Indra terpaku. Bukan pertama kali memang ia di peluk perempuan seperti ini. Tapi yang ini kenapa berbeda? Kenapa juga dirinya segugup ini?



Ragu-ragu pria manis tersebut membalas pelukan dari gadis kurus itu. "Gak ada yang perlu lo takutin! Dengan gue lo aman!" *Set dah ngomong apaan gue barusan*?



Dan dorongan keras di dadanya membuat ia mengumpat. "Astagfirullah lo kenapa lagi dah?"



"Jangan peluk-peluk saya sembarangan, Kak!" semprot gadis tersebut marah.




Indra berdiri seraya berlalu ke dapur mengambil air. Ia butuh minum sekarang. *Kayaknya gue bawa orang gak waras ke apartement ini*. Ia mengela napas sebelum kembali lagi ke ruangan tadi setelah minum segelas air.



"Luka lo udah diobatin belum?" Untuk kesekian kalinya pria manis itu bertanya. Yang hanya mendapat balasan anggukan.



Indra memberikan paper bag yang ternyata tergelak di lantai pada gadis yang tertunduk itu. "Ini pakaian buat lo," ujarnya. Gadis tersebut masih menggunakan gamis dan pashmina yang semalam. Emang sudah seharusnya ia mengganti pakaiannya.



"Itu gamis Emak gue," ucapnya saat si boncel membuka paper bag tersebut. "Agak kebesaran sih buat lo. Nanti gue beliin yang seukuran lo."

__ADS_1



"Makasih."



Pria beralis mata tebal tersenyum tipis. "Sama-sama," balasnya. "Eh. Btw nama lo siapa? Gue lupa?"



"Dilla."



"Lo udah makan?"



Mendapat gelengan dari gadis bernama Dilla itu. Indra bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur lagi.



Entah seperti apa penampilan Indra saat ini. Pria berjas berapron? Orang-orang pasti akan menertawakannya. Ah biarlah. Ia tidak peduli.



Tangannya membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan untuk ia masak. Ia menanak nasi di magicom. Kemudian menggoreng ikan Nila dan tempe yang sudah dibersihkan. Mengulek sambel yang telah diberi bumbu.



Lima belas menit kemudian Indra membawa masakannya ke ruang depan. Menyodorkannya pada Dilla yang termenung di sofa. "Ini makan!"



Dengan ragu si boncel kurus itu menerima piring tersebut. "Makasih, Kak."



"Sebenernya yang bikin lo kayak gini siapa, sih?" Indra hendak duduk, namun urung karna gadis itu tersedak mendengar pertanyaannya. "Pelan-pelan dong makannya! Gak bakalan gue ambil kok!" ujarnya mengambil air ke dapur. Ia tidak tahu bahwa pertanyaannya adalah hal yang membuat Dilla teringat kembali dengan kejadian buruk yang menimpa gadis tersebut. Dan ketakutan itu hadir kembali. Dilla menaruh piringnya di meja dekat sofa. Kemudian meringkuk sambil menjerit ketakutan.

__ADS_1



"Gak! Gak!" Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Indra yang kembali dari dapur terkesiap.


__ADS_2