Penawar Luka

Penawar Luka
Lapar


__ADS_3

Setelah salat zuhur di Masjid kantor, Indra memutuskan pergi ke kantin untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Dengan langkah tegap yang sangat berwibawa pria berkulit sawo matang itu memasang wajah tidak berekspresi. Ia berdiri di depan lift dan menunggu sejenak sampai pintunya terbuka. Saat sampai di kantin dua sahabatnya ternyata sudah menunggu di sana. Mereka tampak heboh entah karena apa. Bahkan ocehan dua anak manusia itu terdengar sampai keluar kantin. Para staf yang merasa terganggu menatap sinis mereka, tetapi saat melihat Indra datang mereka mengalihkan pandang, pura-pura sibuk mengunyah makanan.


"Heran gue sama si Dino kok bisa berubah drastis gitu kalo lagi di sekolah. Sok-sok an jadi guru killer dengan tampang yang bikin orang-orang kesel. Sumpah gue pengen ngakak, tapi gue tahan sampai mau kentut dibuatnya." Fiko tertawa sambil menepuk meja. Tawanya beradu dengan tawa bass Tito hingga menghasilkan suara gemuruh. Berisik yang mendebarkan jiwa. Indra pun sempat kaget dibuatnya.


"Pantesan ada bau-bau gitu. Jangan-jangan lo keciprit dalam celana."


"Mana ada! Emang lo kira gue bayi!"


Sebuah sedotan sudah melayang ke wajah Tito.


"Iya iya lo laki-laki dewasa yang sedang menjomlo!"

__ADS_1


"Jomlo sampai halal," tambah Fiko bersemangat.


Mereka melirik Indra yang baru duduk kemudian bersorak, mengepalkan tangan di udara. "HIDUP TRIO JOMLO!"


"HIDUP TRIO JOMLO!"


Indra menatap dua orang itu. Bikin malu saja. Lagian mereka sembarangan saja mencap diri jomlo, padahal ia sudah menikah. Indra mengusap rambut hitam berkilau di kepalanya sambil mendengkus. "Gue jomlo?" Ia menatap mereka satu persatu. Fiko mengerjap dan Tito pun ikut mengerjap, tebengong. "Sorry, gue ganteng nggak mungkin jomlo!"


Indra merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel. Jemarinya sibuk di layar benda pipih itu seperkian detik. Kemudian memperlihatkan layar pada dua manusia yang kini menyantap makanan yang baru diantar.


Rahang Fiko jatuh hingga bakso yang belum sempat ia kunyah menggelinding di lantai menimbulkan korban seorang gadis yang berjalan anggun penuh percaya diri terperosok, kaget dengan sesuatu yang tiba-tiba jalan sendiri. Semua orang tertawa melihat kejadian itu kecuali si Korban dan tiga manusia lainnya.

__ADS_1


Sedangkan Tito menyemburkan nasi ke wajah korban usai gadis itu jatuh. Ia mencoba membuka mata lebar-lebar, menatap Indra dan layar ponsel bolak-balik, memastikan wajah yang ada dalam benda itu sama dengan sosok temannya. Di sana terlihat jelas seorang pria dengan jas kerja bersama seorang perempuan memakai pashmina putih berfoto dengan memamerkan cincin di jari seraya tersenyum tipis.


"Ini pasti editan!" ujar Tito yakin, mengelap mulutnya dengan tisu. "Lo pasti mau kibulin kita!" Fiko di sisinya mengangguk, membenarkan.


"Lo pikir gue sekurangkerjaan itu? Terserah kalian kalo nggak percaya," sahutnya. Gara-gara mereka Indra lupa dengan perutnya yang sudah berdangdut, meneriakkan lapar.


Dengan wajah kesal, tetapi tidak lupa baca bismillah pria manis itu melahap makanan yang sudah tiba. Ia menggigit kepiting dan melempar kulitnya sembarangan. Lagi-lagi gadis tadi yang jadi korban. Rambutnya yang indah bersarang serpihan kulit kepiting dan mungkin saja bersama air ludah.


Mukanya sudah merah padam, sedangkan tiga orang pelaku tidak sadar dengan perbuatannya. Detik selanjutnya gadis itu berteriak dan terdiam saat Indra menatapnya tajam. Oke, Indra mungkin ia tidak akan membalaskan dendam pada bosnya itu, tapi dua temannya-


Ia akan memberi pelajaran hingga mereka minta ampun berjuta kali.

__ADS_1


"Fiko, Tito! Awas lo," ancamnya lewat sorot mata.


__ADS_2