Penawar Luka

Penawar Luka
7


__ADS_3

Kata Ridho rencana baik itu harus disegerakan. Indra sekarang sudah berada di sekolah tempat Nisa mengajar setelah salat dzuhur. Niatnya ia akan mengajak gadis itu untuk makan siang bersama.



Netranya menatap kagum sekolah dasar yang sangat unik itu. Rapi, bersih, bangunan juga terlihat aneh. Sempat ia berpikir kenapa dulu ia tidak bersekolah di sini?



Bosan di dalam mobil ia memilih turun sambil menikmati pemandangan sekitar. Anak-anak berseragam putih-merah sudah pada keluar dari gerbang. Dengan kurang kerjaannya, Indra menghitung satu persatu dari mereka. Walau seperti ada yang terlewat ia tetap terus menghitung sampai habis termasuk guru-guru dan salah satunya Nisa.



"Ngapain?" tanya Nisa saat sudah berada di sisi Indra.



Dengan senyum termanisnya Indra membalas, "Mau ngajak kamu makan siang." Nisa bukan seorang gadis cantik seperti gadis yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Namun entah kenapa hatinya malah tertambat pada gadis itu. Bahagia saat di sisi Nisa seperti sekarang.



Indra menyukai Nisa sejak dulu. Tapi masih ragu apakah benar ia mencintai gadis berkerudung lebar ini atau tidak. Ia tidak tau apa arti cinta sebenarnya. Apakah cinta itu suka? atau lebih dari sekedar suka?


__ADS_1


Nisa menuruti ajakannya. Semenjak gadis itu menjadi tetangganya ia cukup dekat. Banyak hal yang gadis itu ajarkan padanya. Sering mendapat ceramah singkat jika ia membuat kesalahan.



Sebuah restoran cepat saji menjadi pilihan Indra untuk makan siang dengan Nisa. Beberapa menu kesukaannya dan Nisa sudah pesan. Ia tinggal menunggu pesanan diatarkan pelayan.



Oke sekarang adalah waktunya. Indra mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari saku jas. Pria itu berlutut menatap dalam Nisa.



"Sa!" panggilnya gugup. Nisa bergeming, mencerna situasi. "Aku." Indra menarik napas. Mendadak ia berkeringat dingin. Orang-orang sekitar memperhatikannya. Ia menelan ludah lalu berdehem. "Sa aku ..." Nyaris saja Indra mengumpat. Kenapa menyatakan perasaan sesusah ini sih. Indra merasa dirinya adalah seorang pecundang.




"Maaf, Ndra. Aku gak bisa menikah dengan kamu." Dunia seakan runtuh bagi Indra mendengar ucapan itu. "Aku sudah dilamar sama laki-laki yang aku cintai seminggu yang lalu." Dan sekarang makin parah.



Indra menutup kontak kecil berwarna biru itu kembali dan manaruhnya ke tempat semula. Ia berdiri sempoyongan. Orang-orang menatapnya kasihan karna lamarannya ditolak.

__ADS_1



"Ndra. Maaf-



"Gak apa!" Pria itu memaksakan senyum meski hatinya berkebalikan. "Cinta gak bisa dipaksa, Sa. Aku ngerti!"



"Selama ini aku cuma anggap kamu sahabat. Aku sayang kamu, Ndra. Kamu baik."



Indra tak menanggapinya. Perhatian beralih pada pelayan dengan pesanan. "Makan, Sa! Habis ini kita pulang!" Gadis itu mengangguk saja. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karna telah menolak lamaran pria itu. Indra baik, tampan, kaya, salatnya juga rajin. Tapi Nisa tidak bisa menikah dengannya karna ilmu agama Indra masih berada di bawahnya. Nisa ingin dibimbing bukan membimbing.



"Sekali lagi aku minta maaf," ujar Nisa setelah makanan habis. "Aku doakan semoga kamu jodoh lebih baik dari aku."



Indra mengangguk. "Terima kasih doanya." Berusaha terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


***


__ADS_2