Penawar Luka

Penawar Luka
Gosip


__ADS_3

Di ruang tamu Mak Era tampak mencerocos panjang lebar hingga membuat kepala Indra berdengung. Pria manis itu memilih pergi ke dapur, kesal mendengar wanita itu malah membuka aibnya di depan Dilla. Saat ia kembali pun ternyata ceritanya belum berakhir.


"Kok mau sih sama anak Emak yang gosong ini?"


Indra menyemburkan air yang baru diminumnya mendengar pertanyaan itu. "Kulit Indra sawo matang ya, Mak! Mana ada gosong!" protesnya tidak terima.


"Tapi kan kamu dulu gosong! Main panas-panasan mulu! Bandel emak bilangin!" Mak Era tidak mau kalah, menatap sengit anaknya.


Wanita setengah baya itu menatap Dilla kembali sambil mengulas senyum. "Mak seneng dapet mantu cantik kayak kamu!"


Dilla hanya membalas dengan senyum canggung. Dari tadi ia hanya diam mendengarkan wanita itu bercerita setelah emosinya reda. Indra sudah menjelaskan semuanya bahwa mereka menikah dadakan dan Dilla diusir dari rumah oleh orang tuanya karna memilih menikah dengan lelaki pilihan gadis itu sendiri. Mak Era langsung memeluk menantunya setelah mendengar penjelasan anak satu-satunya itu. Ia berkata orang tua Dilla pasti akan rugi telah mengusir anaknya sendiri. Ia berjanji akan memaki dua orang itu kalau bertemu.


Mak Era melirik anaknya yang duduk di sofa tunggal ruang tamu, tengah memainkan ponsel. Ia menabok lengan sosok manis itu sambil berkata, "Udah siang ini! Beliin istrimu sarapan sama Mamang Mamang depan rumah!" omelnya.

__ADS_1


Indra berdiri malas-malasan, melangkah dengan pelan setelah memasukan ponsel ke saku celana. Di depan saat menutup gerbang, ia malah bertemu dengan sosok berkerudung lebar. Wanita itu menyapanya dan ia balas seadanya saja. Sudah lama Indra tidak bertemu sosok itu sejak kejadian beberapa bulan yang lalu setelah lamarannya ditolak. Ia melanjutkan langkah menuju sebuah gerobak yang dikerumuni ibu-ibu komplek perumahannya.


"Serius Bu dia udah cerai sama suaminya?" Sudah rutinitas sehari-hari para ibu-ibu bergosip ria tanpa tahu tempat. Indra mengabaikan itu, memesan tiga bungkus ketoprak pada Mamang di sana. Ia duduk di bangku bulat yang disediakan, menunggu pesanan.


"Iya, Bu. Saya tanya langsung sama ibunya sendiri," balas si Biang penyebar gosip dengan wajah dibuat semeyakinkan mungkin.


"Kok bisa?" tanya ibu bertubuh kurus, di tangannya ada sekantung sayur kangkung, bawang dan ikan tongkol. "Kan nikahnya baru-baru ini, ya?"


***


Indra terjaga saat samar-samar mendengar suara tangisan dari seseorang. Ia mengumpulkan nyawa sejenak sebelum mencerna keadaan. Ternyata suara itu berasal dari perempuan yang tidur di sebelahnya.


Lelaki manis dengan kaus biru itu sempat tertegun melihat Dilla menangis dengan kedua mata tertutup. Titik-titik peluh bersarang di dahi perempuan yang masih menggunakan tutup kepalanya tersebut.

__ADS_1


"Hei!" Pria berkulit sawo matang menepuk pipi perempuan yang terjerat dalam mimpi buruknya. Merasa hal itu tidak berhasil untuk membangunkan, ia menggoyangkan tubuh sosok kurus itu.


Masih tidak berhasil. Kening terhias peluh tampak mengerut, seperti ketakutan.


"Hei, Dilla, bangun!" Indra berusaha lebih keras untuk membuat perempuan berkulit putih terlepas dari mimpi buruk. "Ila," panggilnya lembut, tanpa sengaja memenggal nama Dilla, yang terkesan sebagai panggilan spesial terhadap pasangan. "Jangan takut! Ada Allah dan gue yang akan lindungin, lo!" Reflek Indra menggenggam tangan Dilla, setelah berbisik lirih di telinga perempuan itu.


Ternyata genggaman Indra dibalas. Terengah-engah Dilla terbangun dari tidurnya, terisak pilu. Tanpa aba-aba menggapai dan melingkarkan kedua tangan pada tubuh Indra.


Indra tergagap menerima pelukan dari perempuan itu. Namun, tanpa ragu membalasnya. "Udah! Lo tenang! Dengan gue lo aman!" Ia mengusap punggung Dilla, menenangkan.


"A-aku, takut." Lelehan air masih menguncur di kedua pipi. "Aku takut!"


Indra melepaskan pelukan itu beralih menghapus air mata sang istri dan menatap matanya dalam-dalam. "Gak akan gue biarkan apa yang lo takutkan itu terjadi di hari yang akan datang! Lo harus percaya sama gue!"

__ADS_1


__ADS_2