Penawar Luka

Penawar Luka
Dadakan


__ADS_3

Hari itu juga pernikahan dadakan tersebut terjadi di dalam rumah besar milik orang tua Dilla. Indra merasa semua ini seperti mimpi, sebentar lagi ia tidak jomlo lagi. Penghulu datang setelah isya berserta dua orang saksi.


Tangan Indra menjabat tangan pria di hadapannya sesuai arahan penghulu. Setelah ijab terucap orang itu selaku wali, dengan mantap Indra melanjutkan qobulnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Fadilla Kanzia binti Farhan Arafan dengan mahar tersebut dibayar tunai."


"Gimana para saksi? Sah?" Penghulu menoleh ke arah saksi dua orang di sana.


"SAHH."


"Alhamdulillah, sekarang Mas Indra dan Mbak Dilla sudah sah menjadi suami istri secara agama." Penghulu tersenyum. Ia mengarahkan Dilla mencium punggung tangan suaminya dan Indra mencium kening istri.


Dengan ragu Dilla mencium punggung tangan Indra lalu mendapat balasan di kening. Mata Indra menatap mata istrinya, mencoba memahami apa yang dirasakan hatinya sekarang. Namun, ia tidak merasakan apa-apa dalam dadanya itu.


"Bawa semua pakaian sampahmu itu!" Nenek lampir berlipstik tebal itu berteriak lagi beberapa saat setelah penghulu dan saksi pergi. Indra mulai jengah mendengarnya. Benar-benar kampret sekali. Dilla yang dicaci, telinganya yang panas. Ia membantu istrinya mengemasi semua pakaian termasuk dalaman. Indra kaget sendiri melihat apa yang ada di genggamannya. Ia melihat wajah Dilla yang memerah, pria manis itu menyengir tanpa dosa. "Eh, maaf. Gak sengaja." Dengan cepat ia lempar benda di tangannya ke dalam koper. Namun benda itu malah nyangkut di kepala Mak lampir yang berkacak pinggang di sisi tempat tidur. Ternyata lemparannya tepat sasaran eh maksud Indra tidak tepat.


"Maaf tante, gak sengaja." Pria manis berpipi tirus berusaha menahan semburan tawa. Apalagi melihat wajah wanita itu merah padam. Dengan kesal yang terlihat kentara, mertuanya itu keluar dari ruangan tersebut setelah menjatuhkan benda yang nyangkut di kepalanya.

__ADS_1


"Hahaha ..." Indra tidak tahan lagi menahan tawanya setelah sosok mertuanya pergi.


***


Indra membawa Dilla kembali ke apartemennya setelah melalui banyak drama di rumah mertua. Pria manis tersebut menoleh pada perempuan di sisinya saat mereka berada di dalam lift. Memperhatikan raut wajah yang terlihat sedih itu. Ia mengusap punggung istrinya.


"Gak usah dipikirin apa yang terjadi selanjutnya! Apa pun masalah lo, Insyaa Allah gue akan ada buat lo!"


Perempuan berkerudung pashmina itu mendongak, menatap mata pria tinggi di sebelah kanannya. Di dalam netra itu ia melihat ketulusan di sana.


Senyum Indra terbit mendengar ucapan itu. Memberi efek samping pada hati Dilla. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa jatuh cinta pada seorang pria. Ia menyadari hal itu, karna debaran jantungnya yang tak biasa.


****


Pagi-pagi sekali setelah salat subuh berjamaah bersama sang istri. Indra membawa gadis itu ke rumah ibunya. Setiba di tempat tujuan Emak Era tentu saja kaget melihat anak satu-satunya membawa mantu.

__ADS_1


"Nemu di mana?" tanya wanita itu pada sang anak.


"Di jalan," balas Indra jujur yang mendapat tabokan di bahu oleh sang ibu.


"Mak lagi serius jangan bercanda. Bener-bener nih bocah, omongan orang tua kagak dijawab dengan bener," sembur Mak Era emosi.


"Indra serius, Mak ..." Wajah rupawan itu memelas sambil mengusap bahu. "Awal ketemu di halte kampus terus di angkot kemudian di jalan." Jawaban itu malah membuat Mak Era pusing.


"Terus, kalian beneran udah nikah?" tanya wanita itu melihat bolak-balik anak dan menantunya.


Indra mengangguk.


"Kok bisa? Mak kok gak diundang?" Ia menatap sedih anaknya. "Sungguh teganya teganya teganyadirimu , hoo pada Emakmu."


Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kok emaknya malah nyanyi. Pasti ini virus sinetron ikan terbang yang sering ditonton emaknya itu. Wah benar-benar berbahaya efeknya ternyata.

__ADS_1


__ADS_2