
Drama pagi yang sering terjadi, kini terulangi. Mama dan Papa sudah duduk di meja makan, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak mempedulikan Dilla yang merasa asing.
Tidak ada sapaan, bahkan tanpa melirik. Dilla, gadis yang kini memakai gamis berwarna cokelat muda dengan pashmina hitam menutupi dada itu menghela napas, miris.
Gadis berusia hampir 22 tahun itu menelan sarapannya dengan susah payah. Menahan air mata agar tidak tumpah. Lekas ia ambil gelas berisi air putih, meminumnya untuk mendorong makanan hingga lewat ke tenggorokkan.
"Aku pamit! Assalamu'alaikum." Saat ingin meraih tangan Mama hanya kibasan tangan yang didapat, apalagi Papa yang seperti tidak menganggap kehadirannya. Dilla menunduk, semakin sedih. Kenapa ia harus memiliki orang tua seperti mereka?
"*Tidak apa Dilla, ini bukan pertama kalinya*."
Fadilla Kanzia sudah sering mengalami hal seperti ini. Diabaikan orang tua, tak pernah dianggap. Sekalipun ia dianggap hanya untuk memberi luka di tubuhnya, bahkan tak jarang di hati.
Pagi itu cukup cerah, harum embun tercium. Dilla, dengan hati mendung keluar dari rumah. Mentari tersenyum menghibur laranya, namun tak mampu membuat bibir itu tertarik walaupun sedikit.
__ADS_1
Kaki yang dilapisi sepatu putih sederhana menjejak halaman bangunan yang disebut dengan rumah, melewati pagar.
Seperti biasa, Dilla menunggu angkot lewat di depan pagar tinggi rumahnya. Walaupun Mama melarang, ia tak peduli. Apa salahnya berangkat menggunakan transportasi umum?
Beberapa menit gadis itu menunggu, kendaraan yang ditunggu lewat. Ia melambaikan tangan kanan. Masuk ke angkot setelah kendaraan tersebut berhenti. Ransel yang tergantung di punggung mungilnya ia pindahkan ke depan untuk berjaga-jaga kalau saja kejadian tak diinginkan terjadi.
Setengah perjalanan menuju kampus, seorang pria berjas rapi menyetop angkot yang Dilla tumpangi. Duduk di sisinya. Sekilas pria itu melempar senyum. Dilla ikut tersenyum sambil memalingkan wajah. Meski senyum itu bukan untuknya, tetapi mampu menghibur hatinya.
Akan Dilla ingat wajah itu baik-baik. Pria berwajah manis dengan alis tebal melengkung rapi di atas netra. Pipi sedikit tirus, kulit sawo matang, dan tinggi badan yang ia perkirakan sekitar 170 ke atas. Dua puluh senti meter lebih tinggi darinya.
Gadis itu menatap sopir angkot tak enak. "Pak? Mmm bayarnya boleh besok aja gak, Pak?" tanyanya ragu-ragu.
Tentu saja sopir itu mendengkus, kesal. "Gimana sih, Mbak! Masa bayarnya besok," dumelnya.
__ADS_1
"Pak, biar saya aja yang bayar!" Omelan laki-laki tua itu terhenti saat pria muda di belakangnya menyodorkan uang sepuluh ribuan. Dilla yang tidak enak lekas berujar," Nanti saya ganti uangnya ya, Kak."
Pria manis itu meliriknya yang berada di luar angkot. "Gak usah! Gue orang kaya kok."
"Hah!" Dilla terperangah mendengarnya. Mulutnya menganga tak percaya mendengar kalimat tersebut. Sementara angkot bergerak memberi jarak. Bisa-bisanya ia sempat menganggumi pria itu tadi. Kini kekaguman itu harus ia telan mentah-mentah. *Amit-amit*.
...----------------...
"Pagi, Dilla ..."
Aryo menyapanya dengan cengiran lebar saat ia berada di lorong kampus. Laki-laki muda itu mengekor di belakang. Membuat Dilla risih diperhatikan banyak orang. Terutama mahasiswi.
Seperti yang dikatakannya, Aryo memang populer di kampus ini. Bukan hanya wajah yang memikat, tetapi ia juga aktif diberbagai organisasi.
"Jangan ngikutin, bisa?" Dilla menghentikan langkah, membalik badan.
__ADS_1
"Siapa yang ngikutin?" Aryo melewatinya. "Ih Ge er." Langkah pemuda itu mejauh. Sedangkan Dilla hanya mampu menghela napas sebelum berjalan ke arah kelasnya.