Penawar Luka

Penawar Luka
8


__ADS_3

"Napa lo?" Fiko yang melihat Indra termenung di ruangannya bertanya dengan alis tertaut. Pintu ia buka lebih lebar lagi untuk masuk, lalu berdiri di sisi teman sekaligus bos-nya itu.



Terdengar jelas helaan napas berat dari pria manis itu. Fiko berpikir apa mungkin pria ini terkena penyakit asma hingga melamun begini. Cepat-cepat ia menggeleng demi menepis pikiran ngawurnya.



"Gue gak pa-pa," balas Indra tidak bersemangat. Ia berdiri, berjalan dengan lesu ke pintu. Fiko mengikutinya sampai pakiran kantor.



"Gue antar lo pulang!" Fiko merebut jas Indra yang tersampir di lengan pria itu. Ia merogoh saku jas, mencari kunci mobil. Tidak akan ia biarkan orang ini pulang sendiri. Entah apa yang terjadi nanti jika Indra menyetir mobil dengan keadaan kacau begini.



Indra menurut saja, menolak pun percuma. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di samping kursi kemudi. Termenung lagi. Mobil bergerak meninggalkan pakiran kantor yang sepi. Indra menoleh ke arah Fiko seraya berujar pelan, "Antar gue apartement aja." Temannya itu mengangguk.



Sekilas Indra melihat bayangan seseorang lewat kaca spion di bangku belakang. Ia melebar mata, memastikan jika ia tidak salah lihat. Kepala menengok kebelakang. "Elo?" Ia kaget saat Tito tiba-tiba sudah berada di bangku belakang. "Kapan masuk mobilnya?" Keningnya berkerut dengan ekspresi bingung.



"Sejak lo bengong beberapa saat yang lalu," balas Tito. Pria dengan tampak sangar itu menatap Indra serius. "Lo kenapa,sih?" tanyanya.



"Gak pa-pa."



Tito mendengkus. "Kalo gak pa-pa, kenapa dari tadi bengong terus kaya orang kena ambeyen," ucapnya asal. Fiko di depan susah payah menahan tawa. *Emang apa hubungan bengong dengam ambeyen*? pikirnya.



Indra diam saja. Kalo biasanya ia akan memukul mulut Tito yang asal ngomong. Enak saja pria tampan sepertinya dikatakan kena ambeyen. *Amit-amit*.


***


"Ndra lo kenapa woy?" Fiko dan Tito berkali-kali melayangkan pertanyaan yang sama. Jika tadi Indra masih membalas. Berbeda dengan sekarang yang tidak mendapat tanggapan apapun. Pria itu tidak bergeming. Mereka berdua menyerah. Fiko menelpon Dino untuk segera ke apartement Indra. Sedangkan Tito menelpon Ridho dan menyampaikan keadaan Indra sekarang pada pria yang membawanya berhijrah itu.

__ADS_1



Jarum jam berdetak. Indra mengingat kembali kejadiaan siang tadi. Ia terlalu percaya diri bahwa Nisa juga menyukainya. Memalukan memang pria setampan dirinya ditolak di depan umum. Apa lagi tatapan kasian itu. Ia penasaran siapa orang yang sudah mendahuluinya melamar Nisa. Apakah si Heru itu? Bisa-bisanya Nisa menyukai orang bertampang biasa seperti itu. Meski ya emang soleh sih?



Dino datang bertanya hal sama seperti Fiko dan Tito disusul dengan Ridho setengah jam kemudian. Dan dengan pria itu ia menceritakan semuanya. Menangis tidak seperti biasanya. Pria itu datang dengan baju basah membuatnya terharu. Ah sesayang itukah Ridho padanya. Dari dulu emang lebih dekat dengan Ridho dari pada teman-temannya yang lain.


****


Waktu berlalu kian cepat. Indra berusaha untuk menjadi dirinya seperti biasa walau hatinya masih perih. Kendaraan roda empatnya melaju ditengah gelapnya malam. Memecah keheningan. Hari ini ia lembur lagi. Menyibukan diri adalah ampuh agar cepat move on. Lagu nasyid Mohamed Tarek menemaninya. Ikut melantunkan lirik di bagian lagu yang ia hafal.



"Astaghfirullah-



Indra mengerem mobil saat tiba-tiba seseorang melintas. Hampir saja ia menabraknya.




"Mbak?" Seorang gadis berkerudung biru menunduk syok. "Hati-hati dong," bentaknya. Lalu mulutnya terbungkam melihat bahu gadis itu bergetar. "Eh Mbak?" Ia tergagap. Apa mungkin ia sudab keterlaluan hingga membuat orang aneh ini menangis?



Sepasang kakinya melangkah mendekati gadis itu. Baru saja ia beranjak gadis itu tiba-tiba berteriak.



"Jangan mendekat!"



Langkah Indra terhenti. Sepertinya gadis itu takut padanya. "Eh i-iya Mbak!" *Aneh banget*.



"Mbak gak pa-pa?"

__ADS_1



Tak ada jawaban. Hanya isak tangis yang ia dengar. "Rumahnya di mana, Mbak? Biar saya antar! Gak baik cewek sendirian di sini!"



"Enggak!" Indra berjengit mendengar jeritan itu sambil menutup kedua telinga. *Buset dah. Nih orang kenapa ngomongnya teriak-teriak mulu? Bisa budek gue lama-lama*?



"Aku gak mau pulang ke rumah itu!" Gadis itu mengangkat wajahnya. Mata Indra membulat melihat wajah yang sempat ditemuinya setahun yang lalu. Gadis ini? Indra lupa namanya.



"Lo?" Indra melangkah cepat mendekatinya tanpa menghiraukan jeritannya. "Kenapa bisa begini?" tanyanya saat melihat memar di wajah gadis itu. Luka di sudut bibir. *Ya Allah siapa yang tega ngelakuin ini*?"


Hatinya ngilu melihatnya.


"Kalo lo gak mau jawab! Gak apa! Sekarang lo ikut gue ke kantor polisi!"



"Enggak! Aku gak mau!" Dengan oktaf suara yang sama lagi. *Fix gue udah budek*. Indra mengusap-usap telinganya yang berdenging. "Yaudah kalo gak mau. Lo ikut gue!" Indra bicara selembut mungkin. "Tenang aja gue orang baik kok," ujarnya lagi sambil mengulas senyum tipis.



"BTW. Lo gak ingat gue?" Melihat tidak ada respon ia memilih bertanya. "Gak ingat ya?" Ia menggaruk kepala yang tak gatal. "Oke. Kenalin gue Indra! Orang paling tampan sedunia!" Tanpa mengulurkan tangan. Gadis di depannya menahan senyum. "Eh lo senyum," ucapnya dengan tangan menujuk gadis itu. "Sekarang percaya kan kalo gue orang baik?"



"Lagian lo masih punya utang sama gue! Lo masih ingat kan?"



"Aku dibawa kemana?" tanya gadis itu pelan tidak berteriak seperti tadi.



"Ke apertement gue!" Melihat raut wajah gadis itu Indra menambahkan. "Tenang aja gue gak tinggal di sana kok!"


*****

__ADS_1


__ADS_2