
Indra menepikan BMW seri 8-nya di depan sebuah bengkel. Setelah turun dari mobil, ia disambut oleh Yogi. Pemilik bengkel langganannya.
"Ada masalah apa dengan mobil lo?" tanya pria muda sebaya dengan Indra itu.
Indra yang selalu kelihatan rapi dengan jas kerja melekat di tubuh kekarnya, mendekati Yogi. "Kaca sampingnya pecah," ujarnya seraya menunjuk ke arah mobil berwarna putih tak jauh darinya.
Yogi melirik mobil itu sekilas kemudian menatap pria manis di depannya. "Gue akan suruh Baron menggantinya."
"Lama gak?"
"Kayaknya sih," jawab Yogi setengah ragu. "Paling selesainya dua jam lagi." Pagi itu cukup banyak kendaraan yang akan mereka perbaiki.
"Pulang dari kantor gue ambil!" Berpas-pasan dengan itu, kendaran berwarna biru telur asin lewat. Indra melirik jam di tangan, tidak ada waktu untuk menunggu taksi atau kendaraan lainnya. Tidak ada pilihan selain menaiki kendaraan yang disebut dengan angkot oleh kebanyakan orang itu.
...----------------...
"Pak? Mmm ... bayarnya boleh besok aja gak, Pak?" Indra mengedarkan padangan keluar saat mendengar kata ragu-ragu dari seorang gadis yang baru saja turun dari angkot yang ia tumpangi.
__ADS_1
"Gimana sih, Mbak! Masa bayarnya besok!" Pria tua di depan mengomelinya. *Kasian sekali*, pikir Indra. Gadis itu sepertinya tidak punya uang sepeser pun. Ia memakluminya, sebab gadis berkerudung pashmina hitam itu sepertinya seorang Mahasiswi di bangunan tinggi tak jauh dari sini. Belum bekerja dari mana ia mendapatkan uang? Dari orang tua? Rasanya ia tidak yakin.
"Biar saya yang bayar, Pak!" Dengan hati yang selembut kapas, tentu saja Indra tak tega. Pria manis itu menyodorkan uang sepuluh ribu-an pada pak sopir di depan sehingga omelannya terhadap gadis malang itu terhenti. Setidaknya begitu pandangan Indra terhadap gadis tersebut.
"Nanti saya ganti uangnya ya, Kak!"
Apa? Ganti? Indra yakin gadis itu tidak enak terhadapnya. Dengan senyum sinis ia menatap gadis berkerudung itu. "Gak usah! Gue orang kaya, kok!" Bukan maksud Indra ingin pamer walaupun ya, ia orang kaya. Pria itu hanya tidak ingin gadis malang ini merasa berhutang budi.
Angkot bergerak memberikan jarak pada bangunan tinggi untuk seseorang menimba ilmu. Indra memperhatikan gadis tadi mulai berjalan ke arah bangunan itu. Tunggu ... Sepertinya ia mengingat sesuatu. Bukankah tempat itu adalah saksi saat kaca mobilnya dipecahkan seseorang? Dan gadis itu ... Bisa saja kan Indra meminta bantuannya untuk mencari sang pelaku?
Jenius. Indra memuji otaknya sendiri. Ya, tidak salahnya kan ia meminta bantuan gadis tadi? Lihat saja nanti, ia akan menangkap sang pelaku dan memberinya pelajaran.
Beberapa menit kemudian, angkot melewati sebuab halte yang terletak di seberang gedung kantor Indra. Segera pria itu turun setelah angkot berhenti. Sepatu pantofel hitam mengkilapnya menjejak jalanan saat ia membayar.
__ADS_1
Pria itu dengan rambut yang masih tersisir rapi, menyeberang jalan ketika lampu merah menyala. Alas kakinya mengetuk aspal yang tak kalah hitamnya dengan benda itu. Orang-orang sekitar memperhatikannya. Ada menyapa walau ia mengabaikannya. Indra tidak mengenal siapa pun diantara mereka buat apa juga ia menghiraukannya.
...----------------...
Beberapa hari setelah kejadian itu, Indra dengan penuh tekad memberhentikan mobil BMW seri 8 yang sudah diperbaiki di sebuah area kampus. Orang-orang melirik penasaran kala kakinya melangkah melewati koridor.
Wajah manis itu membuat orang betah memandangnya lama-lama, khusus para mahasiswi kampus. Tidak masalah. Indra sudah terbiasa. Masalahnya sekarang ke mana ia harus mencari gadis malang itu? Dan sang pelaku?
Indra bingung. Tidak mungkin kan ia mengelilingi kampus ini? Sampai kiamat pun pasti tidak akan ketemu. Ya kecuali dengan kehendak Tuhannya, Allah Swt.
Satu-satu cara bagi Indra kini adalah berdoa. Karna kalau ia bertanya pun percuma, ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang gadis malang itu. Siapa namanya? Di mana tinggalnya? Apa jurusannya? Indra saja tidak mengenalnya bagaimana caranya ia bertanya tentang keberadaan gadis itu?
Dan doanya terkabulkan sebegitu cepatnya. Gadis yang ia cari ada di depannya dengan seorang pemuda. Indra memicingkan mata dengan kening berkerut. Sepertinya ia pernah melihat pemuda itu di ... Indra mencoba mengingat, memutar kejadian yang telah lalu.
*Bukankah dia*? Indra melirik gadis di samping pemuda itu. Memperhatikan setiap detail sosok itu. Tepat. Allah mengabulkan kedua doanya. Orang yang ia cari tepat di depan mata.
***
__ADS_1