Penawar Luka

Penawar Luka
Sakit


__ADS_3

Dering dari benda yang berada dari saku jasnya, mengurungkan niat Indra membuka pintu mobil. Ia mengambil ponsel itu dan mengecek siapa yang menelepon dirinya sebelum menggeser tombol hijau di layar.


"Hallo, assalamu'alaikum." Keningnya berkerut samar, merasa heran. Setelah mendengar apa yang disampaikan orang di seberang. Raut wajahnya terlihat panik.


"Oke saya ke sana sekarang!" Ia menutup telepon setelah mengucap salam. Lalu buru-buru masuk ke mobil dan membawa kendaraan itu menuju sebuah rumah sakit.


***


"Masya Allah, cantiknya." Mak Era terkagum melihat menantunya yang tengah menguncir rambut di dalam kamar. Sedangkan orang yang bersangkutan sedikit kaget karena tiba-tiba saja ada mertuanya di ambang pintu. "Mantuku cakep banget ya Allah, kok bisa Indra dapet yang modelan gini?" monolog wanita setengah baya itu. Ia menghampiri Dilla yang duduk di depan cermin. "Ikut Emak ke Mall, yuk!" Ia mengusap bahu menantunya lembut sambil mengulas senyum. Perempuan muda yang wajahnya terlihat seperti remaja 17 tahunan itu mengangguk, tidak enak juga menolak ajakan dari Mak Era.


Dan di sinilah mereka sekarang, berbaur dengan keramaian Mall yang tidak jauh dari rumah. Sepanjang jalan wanita setengah baya dengan hijab segi empat motif itu sibuk berceloteh panjang lebar. Membicarakan ini dan itu. "Ayahnya Indra itu orangnya pantang menyerah banget. Sampai lama-lama Mak luluh dan menerima lamaran dia."

__ADS_1


Dilla hanya menjadi pendengar yang baik sambil mengiringi langkah Mak Era. Sekali-kali ia membalas dengan senyum dan tertawa ketika wanita itu menceritakan kelakuan absurd suaminya semasa hidup.


"Dan setelah dia membuat Emak benar-benar cinta banget sama dia ...."


Mak Era menghela napas dan mengusap sudut matanya yang berair. "Dia malah pergi ninggalin Mak sama Indra. Padahal Mak belum bilang kalau Mak udah menerima dan mencintainya. Selama dia hidup Mak nggak pernah balas semua ucapan cintanya pada Mak. Mak sering banget buat dia kecewa, tapi dia nggak pernah marahin Mak sekalipun."


Dua orang itu masuk ke sebuah restoran.


Mak Era yang melihat gelagat aneh menantunya itu menghentikan ceritanya. "Kamu kenapa, Nak?" Ia mengusap pelipis perempuan muda itu dengan tisu yang baru diambil dalam tas jinjingnya. "Sampe keringetan gini?" Wanita itu mengamati raut wajah Dilla yang berbeda. "Kelihatannya kamu nggak nyaman di sini! Ayo kita pulang!"


Sebelum membawa menantunya pergi, Mak Era membayar pesanan yang masih tersisa banyak. Wanita itu meminta pelayan untuk membungkus makananannya agar bisa dibawa pulang.

__ADS_1


Saat sampai di rumah keadaan Dilla belum membaik. Rasa takut yang berlebih membuatnya jatuh sakit. Mak Era yang khawatir langsung menghubungi Indra untuk mengabari pria itu keadaan istrinya.


Namun, panggilan WhatsApp-nya tidak diangkat oleh sang anak. Akhirnya wanita itu memilih meninggalkan pesan dan ternyata cuma centang satu.



Hey, anak Emak yang paling cakep. Istrimu sakit, cepat pulang!*



Hingga larut malam pesan itu tidak berbalas. Dan orang yang bersangkutan pun tidak menampakan batang hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2