
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Satu tahun setelah kejadian itu tidak sekalipun Indra menghubungi gadis yang bernama Dilla itu. Entahlah mungkin ia sudah lupa dengan ucapannya kala itu atau mungkin sengaja melupakan sesuatu yang tidak penting.
Di hari minggu seperti biasa Indra melakukan aktivitas lari pagi keliling komplek. Celana tranning dengan kaos putih polos melekat di tubuhnya yang basah oleh keringat. Dengan napas tersengal-sengal ia berhenti di depan rumah. Pria manis itu sempat melirik rumah tetangga sebelum masuk ke rumah. Itu kontrakan yang dihuni oleh Nisa dan ibunya.
Indra bersiul-siul seperti kebiasaannya sambil berjalan menuju dapur mencari air untuk minum. Ia ambil gelas di atas rak sebelum mengambil air di dispenser tak jauh dari sana. Gelas ia bawa ke meja makan yang ada di dapur. Lekas ia duduk sebelum meminum air yang terasa hambar itu setelah baca bismillah. Karna apapun yang kita lakukan kalo itu baik dan diawali bismillah maka hal tersebut akan bernilai ibadah, dapat pahala. Sayang kan kalo pahalanya dilewatkan.
Di rumah lumayan besar itu memang tidak ada seorang pun ART. Pekerjaan rumah dilakukan Mak Era dan dirinya kalo ada waktu luang. Bahkan memasak sekalipun Indra sudah ahli. Ya kalo lagi malas ia tinggal membeli.
"Ndra Mak mau bicara!" Mak Era yang muncul dari ruang tamu duduk di sisi Indra.
Indra mengerutkan kening melihat ibunya yang tampak serius. "Bicara apa Mak?" tanyanya. Pria manis itu masih sempat-sempatnya bersendawa hingga Mak Era menepuk bahunya agak keras. Ia meringis mengusap bahunya sambil menggumamkan maaf pada Sang ibu.
__ADS_1
"Umur kamu 'kan sudah dua lima. Mak harap tahun ini kamu segera menikah," ujar wanita setengah baya itu sambil menarik napas. "Kamu anak Emak satu-satunya. Jujur Emak kesepian di rumah ini sendiri saat kamu ke kantor. Kalo kamu nikah ada mantu Mak yang nemenin."
Indra terdiam, menatap Sang ibu iba. Ayahnya sudah meninggal semenjak ia berumur 4 tahun. Wanita itu membesarkannya seorang diri dan menjanda hingga kini. Sungguh besar pengorbanannya.
"Dua lima 'kan masih muda banget, Mak," balasnya. Lalu terkekeh melihat raut wajah Sang ibu yang lebih menakutkan dari Mak lampir. "Eh iya Mak. Iya!"
"Dengan siapa kamu menikah?" tanyak Mak Era.
Geplakan di kepala ia dapatkan dari Sang ibu. Pria manis itu mengusap kepalanya yang terasa cenat-cenut.
"Kamu aja gak punya pacar dengan siapa pula kamu menikah?"
__ADS_1
"Ya jelas aku gak punya pacar Mak. Kata Ridho pacaran itu haram. Mana mau aku," ujar Indra. Air di gelas tadi sudah tandas. "Apalagi pacaran sama cewek-cewek aneh di kantor yang suka pamerin paha. Di kira aku cowok apaan," dumelnya berapi-api. Kesal dengan para wanita di kantor yang sengaja menggodanya.
Mak Era tersenyum, tidak menyangka anaknya menjauhi larangan Allah yang satu ini. "Lalu kamu menikah dengan siapa?" tanyanya lagi.
Indra membalas senyum Sang ibu. Alis tebalnya ia naikan. "Dengan tetangga, Mak," jawabnya.
Mak Era tampak kaget mendengar penuturannya. "Dengan Nisa?"
Dengan mantap Indra mengangguk. "Aku menyukai Nisa sejak dulu Mak." Pria itu tampak berpikir sejenak. "Cinta juga mungkin," ucapnya sedikit ragu.
"Yaudah seterah kamu aja! Yang penting Mak segera punya mantu."
__ADS_1
****