Penawar Luka

Penawar Luka
9


__ADS_3

"Sudah sampai ayo turun!" Indra menoleh ke sisi saat mobil berhenti di basement apartemen. "Eh tidur," gumamnya.


"Hey!" Indra hendak membangunkan gadis yang tertidur di mobilnya itu. Namun urung mendengar deru napas lelah si pemilik pashmina biru. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Ia melepas sabuk pengaman lalu turun dari kendaraannya.


"Maaf aku menyentuhmu lagi," bisiknya. Kemudian menumpukan berat badan si pashmina biru ke dua lengannya. "Ringan banget nih anak orang." Si pria manis masih saja sempat berkomentar sembari membawa gadis itu ke lantai 7 bangunan ini menggunakan lift.


Tatapan ingin tahu orang-orang yang berada dalam lift membuat ia ingin cepat keluar dari tempat ini. Apalagi keadaan gadis yang ia bawa sangat mengenaskan. Muka dipenuhi lebam, sudut bibir robek. Duh kenapa juga ia membawa si kurus boncel ini ke sini? Rusak sudah imagenya sebagai orang tampan yang paling baik.


Orang-orang akan berpikir ia adalah pria tampan yang sangat kejam. Setidaknya begitu yang ia lihat di mata mereka.


Pintu lift terbuka. Si pria manis mengucap syukur dalam hati. Segera ia keluar dari tempat tersebut. Berjalan cepat menuju apartementnya berada.


***


Bunyi air berisik di kamar mandi mengusik tidur Dilla. Matanya menyipit silau saat menangkap cahaya lampu.

__ADS_1


"Di mana ini," gumamnya. Merasa tempat ini asing baginya, ia berdiri panik.


"Eh lo udah bangun?"


Dilla menoleh ke asal suara orang yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Seorang pria tampan dengan celana santai panjang dan kaos hitam polos. Satu tangan si pria memegang handuk di usapkan ke rambutnya yang basah.


Dilla pucat pasi. Dirinya dipenuhi ketakutan. Pria ini tidak berbuat macam-macam dengannya kan?


Menyadari sesuatu si pria lekas berujar, "Mikirin apaan lo?"


Dilla mundur saat si pria melangkah mendekatinya. Ia semakin ketakutan. "Jangan mendekat!" teriaknya.


"Gue cuma mau ke luar dari kamar ini! Gak baik kita berduaan di kamar! Bagaimana kalo setan lewat?"


Pintu dibuka. "Apa yang lo pikir tentang gue itu gak bener. Walaupun gue bukan orang sholeh tapi gini-gini gue juga takut sama dosa." Pintu ia tutup agak keras.

__ADS_1


Dilla mematung.


Beberapa detik kemudian pintu ia buka lagi. "Kalo laper lo tinggal masak! Bahan-bahannya ada di kulkas. Oke itu aja! Gue pulang dulu!" Pria itu hendak menutup pintu kamar kembali tapi urung mendengar kalimat si boncel kurus.


"Aku aku gak bisa masak," ujar Dilla pelan sambil menunduk.


Rahang si pria manis tampan jatuh. Mulut menganga. Apa? Seharusnya rata-rata cewek bisa masak kan? Apalagi kalau mereka dari kalangan bawah?


Terpaksa ia memberikan salah satu ponselnya pada si gadis pashmina. "Pesan grabfood bisa kan? Gue pinjamin ponsel sama lo. Sandinya Indra si tampan."


Kemudian ia merogoh saku celana mengambil dompet. Ia keluarkan uang kertas seratusan lima lembar dari sana. "Nih uangnya!" sembari menyodorkan kertas itu. "Ya udah gue pulang dulu." Pintu di tutup kembali. Kali ini diiringi salam.


"Wa'alaikumussalam," gumam Dilla. Ia masih membeku di tempatnya. Sementara si pria tadi langsung meninggalkan apartement dengan membawa handuk di tangan.


Ponsel di tangan Dilla bergetar tanda pesan masuk.

__ADS_1


Oh ya gue lupa. Kalo lo mau keluar apartement sandinya 140197. Kalo mau obatin luka obatnya di laci nakas. Kalo mau sholat isya wudhunya dekat mushola kecil arah ruang tamu.


Dilla mengulas senyum tipis membaca pesan itu. Ternyata pria tadi tidak seburuk yang ia pikirkan. Walau ketus jika bicara padanya.


__ADS_2