![Pengantin Dini [TAMAT]](https://asset.asean.biz.id/pengantin-dini--tamat-.webp)
" Arthur.."
" hmm.. Kenapa?? Apa kau ingin sesuatu??"
" tidak.. Apa kau lelah?? Mau aku ambilkan sesuatu untukmu?"
" tidak perlu, Naya. Para pelayan banyak disini. Jika aku ingin sesuatu, aku tak perlu menyuruhmu. Kau sedang hamil, kau harus lebih extra menjaga diri."
" hmm.. Baiklah." 😞
" kau kenapa?? Biasanya ibu-ibu hamil pada umumnya selalu meminta ini dan itu. Apa ya istilahnya, 🤔 Ngidam?? Ya, benar Ngidam. Apa kamu tidak ngidam??"
" apa-apaan kamu ini..😑 Aku tipe orang yg jika ingin sesuatu, ya akan ku ambil sendiri. Untuk apa merepotkan orang lain??"
" setidaknya hal itu yg menyenangkan bagi para suami. Ketika istrinya berkata, 'suamiku, aku ingin ini dan itu..' dan bla bla bla.. Dari beberapa saksi, keinginan para ibu hamil selalu aneh. Tapi aku tidak pernah mendapatkan permintaan seperti itu darimu."
" lalu kau mau aku berkata seperti itu??" 😒
" suamiku.. Aku ingin ini dan itu.." 😚
" ihhh!! Menggelikan!!" 😵 lanjutku dengan nada yg di lebih2 kan.
" iya juga, sih. Jadi beda kalau kau yg mengucapkan nya." 😆
" tapi rasanya bayi-ku sedang ingin sesuatu dari ayahnya." 🙁
" apa?? Cepat katakan!!" 😃
" dia ingin tanya, kenapa ayahnya berbohong bahwa akan ada peperangan beberapa waktu lagi." 😞
" Naya, aku.." 😨
" kenapa kau bohong padaku?? Tahukah kau, hal ini yg paling ku khawatirkan sejak aku menikah denganmu?? Dan sekarang aku bahkan tak bisa membantu apapun!!" 😫
" aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani, Naya. Aku mengangkat pedangku dan menantang raja Hogwarts saat itu dalam keadaan amarah."
" apa saat aku diculik Silvanna?? Mengapa kau terlalu gegabah menantang mereka??"
" ya.. Suami mana yg tahan jika istri nya di culik dan hendak di perkosa pria lain?? Aku tentu sangat marah saat itu, tidak peduli apapun. Baik sekarang atau nanti, perang itu tetap akan terjadi"
" aku khawatir padamu!!" 😫
Tanpa sadar air mataku mengalir deras hingga sulit untuk berbicara, Arthur memelukku agar aku lebih tenang. Namun tangisku justru malah semakin menjadi.
" kapan??" 😢
" apanya yg kapan?"
" perang itu.."
" jika aku mau, perang itu bisa terjadi esok atau lusa. Tapi ayah bilang, perang dengan emosi tak akan membuahkan hasil. Kita perlu strategi, belum lagi paman Khufra adalah lawan yg lumayan tangguh. Ia memiliki bala tentara yg lebih banyak, dan selalu merubah-rubah strategi dalam waktu cepat. Jadi perang itu telah ditetapkan akan terjadi akhir tahun ini."
" hmm.." 😞
" tunggu, apa kau sedang berfikir?? Apa istriku sekarang sudah mulai tertarik dengan peperangan??" 😄 ujar Arthur berusaha menghiburku.
" kau ini!!" 😩 aku memukul kecil dadanya dan mengusap air mataku yg tersisa.
__ADS_1
Terbesit di benakku ketika mendengar bahwa pasukan Arthur kalah jumlah saat ini dengan pasukan paman Khufra, dan strategi perang belum bisa di tentukan karena paman Khufra selalu mengubah strategi perang secara mendadak. Entah apa yg aku pikirkan, aku rasa.. Aku harus turun serta dalam hal ini.
" Arthur.."
" hmm, ya??"
" aku ingin kau mengumpulkan semua orang yg berperan penting dalam perang, besok pagi jam 9. Termasuk paduka raja, ibu ratu, ayah dan ibuku."
" apa kenapa??" 😳
" turuti saja, anggap saja aku sedang ngidam."
" tapi kenapa harus ada ayah dan ibumu??"
" itu saja permintaanku, dan kau masih mempersulit senuanya?? Kau ingin bayi mu sedih karena keinginan nya tidak dituruti??" 😟
" iya, iya.. Akan ku lakukan. 😑 Ibu hamil emang aneh-aneh permintaan nya."
Esok pagi pun tiba, sesuai permintaanku semua orang yg berperan penting turut hadir disana. Bahkan mereka kebingungan kenapa Arthur meminta mereka berkumpul di ruangan dimana hanya akan ada rapat tentang strategi perang disana. Arthur hanya pasrah dengan permintaan-permintaanku yg aneh. Maaf kan istrimu ini ya, sayang. 😁
" baiklah, semua sudah berkumpul disini. Maaf jika saya membuat anda semua terganggu. Sebenarnya saya disini ingin memberikan saran mengenai strategi perang yg akan terjadi akhir tahun ini."
Mendengar ucapanku, beberapa orang mulai tidak percaya dan berbicara satu sama lain. Yaa.. Selain aku adalah seorang perempuan yg tak pernah terjun langsung ke area peperangan, aku juga seorang anak kecil dari kalangan rakyat biasa. Tentu setiap orang tengah mengejek-ku saat ini.
" nona, mungkin anda tengah ngidam saat ini. Mohon dipertimbangkan, strategi perang ini tidak boleh diputuskan oleh sembarang orang." ujar seorang panglima perang disana..
" nak, jangan dengarkan ucapan ayahmu waktu itu. Tidak akan ada perang, kok. Ayo ikut ibu saja ke kamar, kita istirahat." 😰 ujar ibu yg masih panik dengan tingkahku.
" ibu, jangan membohongiku lagi. Aku sudah tau semuanya. Perang ini terjadi karena ulahku. Dan aku harus ikut membantu juga."
" apa kau tidak percaya padaku, Arthur??" 😞
" bukan begitu, Naya. Tapi ini.." 😟
" semuanya, kumohon dengarkan aku sebentar saja. Jika memang saranku ini membantu, kalian boleh menggunakan nya sebagai strategi. Tapi jika tidak, maka anggap saja ini omong kosongku belaka." ujarku.
Lalu semua orang pun mulai terdiam. Aku mengganggap itu sebagai persetujuan.
" baiklah, aku akan memulainya." ujarku dengan mengambil sebuah tongkat dengan tangan kecilku untuk menunjuk beberapa bagian peta di meja.
Ketika semua orang mulai memperhatikanku, baru aku berbicara.
" bukankah perang akan terjadi disini?? Bagi yg belum tau ini adalah kampung halamanku, benar kan ayah??" tanyaku seraya menatap ayah.
" i.. Iya, nak." jawab ayah sedikit gemetar.
" nah, jika perang terjadi disini tentu akan sangat mudah bagi kita mengatur strategi. Mengapa? Karena disini tempat kita, tempatku. Aku tau persis seperti apa keadaan disini, termasuk rakyat kita yg lain yg berada disana. Ada banyak tempat disana yg bisa dijadikan tempat persembunyian, yang bahkan tidak bisa disadari oleh siapapun."
" tapi nona.. Jika para pasukan bersembunyi di sana sebagian, maka jumlah kami akan semakin berkurang. Bukankah itu akan sia-sia saja??" tanya panglima perang.
" apa aku bilang kalian para pasukan yg akan bersembunyi disana??"
" lalu, siapa yg kau maksud??"
" aku butuh beberapa dari kalian untuk mengajari rakyat biasa. Bagaimana caranya untuk menyerang dengan tombak, panah, bambu, golok, dan parang. Ohh, ya jangan lupakan pisau dapur. Aku punya banyak stok di rumahku." 😄
" k.. Kau.. Ingin meminta para rakyat biasa untuk ikut berperang, nak? Kami tidak bisa apa-apa. Yang kami tau hanya berburu dan bertani." ujar ayah panik.
__ADS_1
" ayah, anggap saja kalian juga tengah memburu kali ini. Memburu mereka yg mau merebut negeri kita. Apa ayah mau diusir dari negeri ayah sendiri??"
Ayahku hanya terdiam. Begitupun dengan para panglima. Mungkin mereka tengah berpikir namun masih sedikit ragu dengan perkataanku.
" begini jelasnya.. Aku sudah tau bahwa lawan kita cukup sulit. Mereka selalu berganti strategi dengan cepat. Itu sebabnya aku memilih strategi markas bayangan, yaitu tempat persembunyian rahasia. Disana para rakyat akan bersembunyi tanpa memakai pakaian pasukan seperti kalian, itu akan membuat pasukan lawan hanya tau kita memiliki sedikit pasukan. Lalu biarkan para rakyat
Menyerang di saat2 terakhir. Karena itu tentu akan mengejutkan lawan, buat mereka terpojok hingga tak mampu merubah strategi. Terutama paman Khufra, Arthur??" panggilanku padanya membuatnya begitu kaget.
" ahh, iya??"
" kau bawa pamanmu agak jauh dari pasukan nya. Agar ia tidak bisa merubah strategi awal nya dia. Lalu setelah itu baru kau perintahkan rakyat yg lain untuk menyerang. Dengan cara itu para rakyat tak perlu takut untuk merasa di korbankan, karena mereka hanya perlu melawan pasukan yg tersisa dari lawan."
" baiklah." jawab Arthur dengan singkat.
Mendengar pimpinan mereka berkata demikian, setiap orang pun setuju dengan saranku.
" sekarang masalah yg utama adalah kurang nya pasukan. Untuk itu aku membutuhkan ayahku. Ayah??" 😁
" ahh, iya nak." 😰 ujar ayahku gemetar karena ditatap para panglima perang.
" aku tau ayah orang paling pemberani di dunia ini, aku jadi se berani saat ini berkat didikan ayah. Maukah ayah membantuku saat ini?" ujarku memelas.
" tentu.. Jika anak ku bisa se berani ini, kenapa ayah harus takut?" 😊
" baiklah, ayahku akan membantu kalian untuk mendapatkan para rakyat yg akan menjadi pasukan tambahan. Untuk selanjutnya kalian lebih paham apa yg harus dilakukan. Aku hanya seorang gadis kecil dari kampung. Sudah kubilang, jika saranku berguna kalian bisa memakainya atau menganggapnya sebagai omong kosong saja. Aku tidak keberatan."
" Naya, kau ada bakat dalam mengatur strategi perang." ujar paduka yg sejak tadi terdiam.
" tidak, paduka. Saya hanya ingin membantu Arthur. Dia sudah banyak menolong saya." 😄
" tidak, nak. Melihatmu, aku teringat pada ibu suri. Dulu, dia juga sama seperti dirimu saat ini. Berdiri dengan tegas dan mengatur strategi perang raja terdahulu."
" benarkah?? 😅 Aku memang terinspirasi dari beliau." ujarku.
Tak kusangka ucapanku itu membuat raut wajah paduka menjadi lebih muram. Entah apa yg terjadi, ibu ratu pun mengusap pundak paduka untuk menguatkan nya. Aku berusaha untuk kembali mencairkan suasana.
" baiklah, kalau begitu. Kalian yg berada disini boleh kembali menjalankan tugas masing-masing." ujarku.
Lalu mereka semua keluar, tersisa aku dan Arthur di ruangan itu.
" apa kau yakin strategi ini akan berhasil?" tanya Arthur padaku.
" tergatung kau percaya padaku atau tidak."
" aku tentu percaya pada strategi yg dibuat rakyat biasa, yg berhasil menjadi siswa Royal Emperor dengan nilai tes yg sempurna."
" nilaimu lebih baik dariku." 😆
" jujur, aku bahkan tidak terpikir strategi seperti itu."
" cobalah untuk menjadi rakyat biasa, mungkin kau akan menjadi jenius juga sepertiku." 😎
" yaa.. Yaa.. Istriku yang jenius."
" haha.." 😄
To Be Continue..
__ADS_1