![Pengantin Dini [TAMAT]](https://asset.asean.biz.id/pengantin-dini--tamat-.webp)
Bulan-bulan berlalu, para panglima perang sudah mengumpulkan dan melatih pasukan bayangan. Yaitu para rakyat biasa yg menjadi relawan. Tak disangka ada begitu banyak rakyat biasa yg rela mengorbankan nyawa nya untuk negeri ini. Semoga perang yg akan terjadi sebulan lagi ini tak banyak menumpahkan darah. 😟
Sebenarnya akan lebih baik perang ini tak terjadi, agar tak ada siapapun yg harus terluka. Terutama Arthur, aku masih belum tenang dengan dia yg akan berlawanan langsung dengan paman nya sendiri. Dia yg akan memimpin pasukan, berada di barisan paling depan. Bocah itu.. 😢
" Naya, kita sudah tiba." ujar Arthur.
Yaa.. Kami tengah mengunjungi ibu suri di kediaman nya, Kota Crystal. Sejak beliau tau kedua anaknya akan berperang, kesehatan nya menjadi benar2 menurun. Itulah yg menyebabkan hati paduka tidak tenang akhir-akhir ini. Di usianya yg senja, dan beban yang beliau derita. Paduka takut hidup ibunya benar-benar sudah tak lama lagi.
" nenek.." ujar Arthur saat masuk ke kamar ibu suri.
" A.. Arthur.." ujar ibu suri terbata-bata.
Ternyata sudah separah ini keadaan nya. 😢 Mengapa sosok yg begitu baik harus menjadi sosok yg paling menderita??
" saya kemari membawa, Naya. Ayah bilang nenek ingin bertemu calon cicit nenek, ya?" ujar Arthur berusaha menghibur neneknya.
" Na.. Ya.. Kemarilah." ujar ibu suri.
Aku benar-benar tak tega mendengarnya yg sudah kesulitan untuk berbicara.
" iya nenek, saya disini. Lihatlah perut saya, sudah sebesar ini. Nenek akan segera punya cicit, nenek harus cepat sembuh." ujarku.
" nenek senang.. Hubungan kalian.. Baik-baik.. Saja.. Tapi nenek kecewa, anak-anak nenek.. Tidak demikian.."
" percayalah nenek, semua akan baik-baik saja. Nenek jangan khawatir." ujar Arthur menenangkan.
" kemarin.. Lion dan Carmilla kesini.. Sekarang giliran kalian.. Nenek hanya ingin berpesan, jangan pernah kalian berpisah.. Karena anak yg dikandung Naya.. Adalah masa depan kalian.. Jika ia laki-laki, ia.. Akan meneruskan tahta mu, Arthur.. Jika dia perempuan, dia akan menjadi jimat bagimu.. Kau akan selalu memenangkan setiap pertempuran.. Jika anak itu selalu ada bersamamu.."
" nenek, kumohon jangan katakan ini.." 😢 ujar Arthur.
Aku tidak pernah melihat Arthur menangis, tapi dia ternyata bisa menangis. Dan itu terbukti saat ini..
" aku bisa melihat masa depanmu, Arthur.."
" nenek, kami disini masih membutuhkanmu." ujar Arthur masih terisak.
" nenek merindukan kakekmu.."
" jika memang begitu, maafkan aku. Sebagai cucumu, aku tak cukup mampu membahagiakanmu." 😢
" aku selalu menyayangimu Arthur, lebih dari apapun.." ujar ibu suri.
Arthur berlari begitu saja keluar kamar ibu suri, hendak menyembunyikan tangisnya. Ia tak ingin menyaksikan neneknya pergi di hadapan nya. Padahal ini adalah saat-saat terakhir ibu suri.
" Arthur!!" teriak ku.
" Naya, biarkan saja.. Dia memang begitu.. Tidak ingin terlihat lemah.. Tapi kau kuat, nenek tau itu.."
Aku hanya mengangguk dan duduk di samping ibu suri. Namun tak lama terdengar kegaduhan di luar kamar ibu suri.
" kenapa kau kemari??!!" teriak Arthur yg terdengar olehku.
" aku kemari atas perintah ibuku." jawab seseorang.
" kau sudah tidak berhak memanggilnya ibu!! Kau sudah tidak berhak menginjakkan kakimu disini!!" teriak Arthur lagi.
Ibu suri yg mendengar hal itu lekas memintaku untuk membuka kan pintu kamarnya.
" Arthur, biarkan dia masuk.. Nenek yg meminta dia untuk datang.." ujar ibu suri.
Ternyata itu paman Khufra. Dengan berat hati Arthur pergi meninggalkan nenek nya bersama paman jahatnya itu. Paman Khufra pun memasuki kamar ibu suri dan duduk di sampingnya. Ibu suri memintaku mengambilkan minuman nya, dan aku turun ke bawah.
Aku melihat keganjilan di mata paman Khufra, membuatku sangat tidak tenang. Mendengar bahwa dia pernah membunuh ayahnya sendiri yaitu raja terdahulu, dengan sadisnya. Karenanya setelah menyimpan minuman ibu suri, aku bersembunyi di salah satu jendela kamarnya yg sedikit terbuka. Hingga aku bisa melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
" nak, ibu tau.. Kau sebenarnya tidak menginginkan kekacauan ini.."
" tidak, bu. Ini memang kemauanku."
" masih sempat, nak. Hentikanlah.. Demi ibumu.. Bukan kah kau tak punya dendam pada ibumu ini, nak?" ujar ibu suri, kulihat air mata keibuan nya mengalir membuat hatiku teriris.
" ibu dan ayah tak pernah menyayangiku, kalian hanya menyayangi Cecilion." ujar paman Khufra.
__ADS_1
Kalimatnya memang tak terdengar keras, namun tetap menyakitkan.
" nak, kami menyayangimu.." ujar ibu suri sraya menggenggam tangan paman Khufra.
Aku baru sadar bahwa tangan paman Khufra yg satunya lagi tengah menggenggam sesuatu, dan itu tersembunyi di belakangnya.
" aku akan mengambilkan air untukmu." ujar paman seraya melepaskan genggaman ibu suri dan berjalan menghampiri meja tempatku menyimpan gelas tadi.
Kulihat paman cukup lama berdiri disana. Tunggu.. 😳 Apa dia.. Dia menuangkan sesuatu pada minuman ibu suri!! Apa itu racun?? Bagaimana ini?? Apa yg harus ku perbuat?? 😱
" ibu minumlah, agar ibu lebih tenang." ujar paman Khufra.
Tidakk!! Ibu suri langsung meminum nya!! 😱 Arthur?? Kemana dia disaat seperti ini??
" ibu.. Aku tidak ingin melakukan ini sebenarnya. Tapi, keberadaan ibu benar-benar membuatku kesulitan." ujar paman Khufra.
" ibu tau kau menambahkan racun ke dalam minuman ini.."
Apa??!! 😳 Jadi ibu suri tau bahwa minuman itu beracun?? Lalu kenapa beliau masih meminumnya??
" nak, ibumu ini selalu menyayangimu. Jika kepergian ibu bisa membuatmu menghentikan semua ini, maka ibu akan pergi." ujar ibu ratu.
Saat itu aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku lagi. Kenapa aku harus menyaksikan semua ini?? 😫
" maafkan aku ibu, aku tidak bisa." ujar paman Khufra seraya meninggalkan ibu suri sendirian dengan racun yg mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
Aku yg benar2 panik saat itu segera berlari menghampiri ibu suri. Berharap masih ada secerca harapan, agar beliau masih bisa di selamatkan.
" Arthur!! Arthur!!" teriak ku sambil tetap berlari menghampiri ibu suri yg mulai sulit bernafas.
" Na.. Ya.." ucap ibu suri dengan serak dan terputus-putus.
" nenek harus bertahan!! Arthur akan segera kembali!! Kita harus mengeluarkan racun itu dari.."
" tidak.. Bisa.. Ini.. Racun yang sama.. Saat.. Khufra.. Membunuh.. Ayahnya.."
" apa??!! 😳 Nenek.. Kau pasti kuat, aku percaya itu.." ðŸ˜
" Na.. Ya.."
Ibu suri menghembuskan nafas terakhirnya setelah kalimat itu terucap dari bibirnya. Aku benar2 masih tidak percaya, ibu suri meninggal di hadapanku sendiri. Dan itu akibat anaknya sendiri, darah dagingnya. Aku terduduk lemah disamping ibu suri, menatapnya yg sudah tak merasa sakit lagi. Ibu suri telah pergi..
" Naya!! Aku mendengarmu berteriak, ada apa??" Arthur baru tiba.
" nenek.."
" ada apa dengan nenek, dia baik-baik saja kan?? Dia hanya tertidur kan??" ujar Arthur seraya terus menggoyangkan tubuh neneknya yg sedingin es.
" nenek!! Nenek!! Sudah cukup tidurnya, ayo bangun!!" ujar Arthur.
Melihatnya, air mataku benar2 tak terbendung lagi. Arthur seakan tak merelakan neneknya untuk pergi. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir. Arthur menyaksikan kematian kakeknya, dan aku menyaksikan kematian nenek nya. Dibunuh, oleh orang yang sama.
" Arthur, jangan menjadi lemah karena kepergian nenek." ujarku padanya setelah ibu suri dimakamkan.
Arthur hanya terdiam. Kepergian ibu suri memberikan tekanan besar bagi keluarga kerajaan, karena jasanya yg tak mungkin bisa terbalaskan.
Namun kesedihan ini tak mungkin terus berlarut. Waktu terus berjalan, dan perang akan segera terjadi.
Aku harus berusaha mengobarkan semangat Arthur kembali.
" Arthur.."
" iya.."
" beberapa minggu lagi aku akan melahirkan.."
" aku sudah memikirkan hal itu. Apapun yg terjadi, kau harus bertahan. Aku rela kehilangan bayi kita, tapi kau.. Aku tidak bisa." ujarnya lemah.
" Arthur, berjanjilah satu hal padaku."
" apa??"
__ADS_1
" kau harus memenangkan peperangan ini.."
" aku bahkan ragu apa aku akan pergi ke medan perang atau tidak."
" lalu kau akan mengorbankan semua pasukan yg sudah susah payah kau latih selama ini??"
" tidak." 😞
" kau akan membiarkan pamanmu itu membunuh paduka raja??"
" tidak."
" lalu kenapa kau malah diam saja disini?? Meratapi kematian ibu suri yg dibunuh oleh pamanmu sendiri??!!"
" apa??!! 😳 Apa kau bilang??"
" yaa! Sedang kau menyaksikan kematian kakekmu, akupun menyaksikan kematian nenekmu."
" ba.. Bagaimana kau tau??" 😳
" aku melihat paman Khufra menuangkan racun ke gelasnya nenek."
" kenapa kau tidak bilang padaku??!! Aku akan mencegah nenek meminumnya!!" 😡
" percuma, nenek sendiri sudah tau bahwa itu beracun. Tapi beliau tetap meminumnya. Saat aku teriak memanggilmu pun bahkan kau entah dimana!! Tadinya aku berharap nenek bisa diselamatkan. Namun ternyata tidak."
" jadi.. Jadi ini salahku??" 😳
" apa maksudmu??"
" andai aku datang, mungkin nenek bisa terselamatkan!!" ðŸ˜
" itu bukan salahmu.." 😟
" kalau aku datang lebih cepat, aku bisa mendengar suaranya sekali lagi.."
" tidak Arthur.." 😟
" kalau saja aku.." ðŸ˜
" sudah, sudah.. Ini bukan salahmu." ujarku segera memeluknya.
Aku tau Arthur merasa ia yg paling bersalah disini, ia begitu rapuh rupanya. Tapi dia tidak boleh serapuh ini, untuk saat ini. Dia harus kuat, dia harus ganas dalam perang beberapa minggu lagi.
" kau tetap harus maju ke medan perang Arthur."
" jangan memaksaku, Naya." 😓
" kau harus, ini wasiat dari ibu suri."
" apa maksudmu?? Apa nenek.." 😨
" yaa.. Sebelum ajalnya, nenek sempat berpesan padaku."
" apa.. Apa yg nenek katakan??" 😟
" ajal putranya, ada di tanganku."
" apa maksudnya.." 😞
" ia sudah rela jika anak nya terbunuh di medan perang. Dan aku yakin anak yg nenek maksud adalah paman Khufra."
" tapi kenapa nenek bilang ajalnya ada di tanganmu?"
" mungkin beliau hanya ingin paman Khufra terbunuh atas kehendakku. Mungkin begitu."
Mendengar ucapanku Arthur hanya terdiam.
" aku hanya akan hidup, jika kau berhasil memenangkan perang itu. Dan membunuh paman Khufra."
" Jika kau kalah dan gagal membunuh paman Khufra, aku akan pergi. Jagalah bayi kita baik-baik."
__ADS_1
" Arthur.. Bunuh dia untukku."
To Be Continue..