![Pengantin Dini [TAMAT]](https://asset.asean.biz.id/pengantin-dini--tamat-.webp)
" Malam ini temui aku di taman ini, di kursi sebelah sana.." bisik Arthur saat aku tengah enak menyantap makanan.
" mau apa?? Kenapa harus malam-malam??" π
" jam 8. Jika sampai telat kubunuh kau."
" isshh!!" π€
Hari itu kami lalui dengan kebersamaan yg hangat. Seakan lupa akan bencana yg tengah menanti, keluarga kerajaan begitu menikmati waktu kekeluargaan. Tentu saja momen seperti ini jarang diketahui rakyat biasa sepertiku. Aku tak merasa di asingkan atau di kucilkan sebagai rakyat biasa. Aku bahkan lupa bahwa yg tengah bersamaku ini adalah penguasa negeri ini. Tak perlu menunggu lama, waktu malam pun tiba. Aku memenuhi keinginan Arthur dan diam2 menemuinya di taman belakang. Menggunakan mantel yg super tebal rupanya belum bisa membuatku hangat.
" ada apa??" ujarku saat aku tiba dan melihat Arthur hanya berdiri tegak disana.
" kau.. Apa kau benar2 siap untuk ini??"
" apa?? Pernikahan??" π
" ya, itu."
" yang kau lihat bagaimana?? Bukankah walaupun aku tak siap kau akan tetap menyeretku??" π
" jadi sampai saat ini, kau masih.."
" ya, aku masih membencimu. Walau kita sudah berteman. Kau merenggut semuanya, masa kecilku dan masa indah sekolahku."
" yaa, kau benar."
Astaga, aku lupa!! Kenapa aku bicara sembarangan begitu!! π« Sudah jelas siapa yg masa kecilnya di renggut, siapa yg masa indah sekolahnya hilang. Aku hanya sebuah bintik kecil yg ia angkat derajatnya, masa kecil dan masa indah sekolah yg ku korbankan bukan apa2 nya. Jika dibanding dengan apa yg telah ia lalui. π¨
" maaf.. Aku tidak bermaksud.." π°
" tidak apa-apa. Lagipula masa itu juga tidak akan kembali. Yg sudah terjadi ya biarlah. Aku juga yg menginginkan diriku jadi seperti yg sekarang."
" boleh aku tanya sesuatu.." π¨
" hmm.."
__ADS_1
" kenapa kau mau melakukan hal itu?? Meninggalkan semua yg biasanya orang lain lakukan di usianya, dan malah ingin menjadi dirimu yg sekarang??" π
" karena aku gagal.."
" gagal??"
" yaa, aku gagal melindungi keluargaku. Aku gagal melindungi kakek-ku, karena aku hanya seorang anak kecil yg tidak bisa apa-apa."
" kau memang anak kecil, anak kecil memang harusnya tidak bisa melakukan apa-apa kan?? Kita hanya bertindak sesuai apa yg kita pikirkan."
" tidak, kita bisa lebih dari hanya anak kecil. Kita bisa melampaui mereka, orang dewasa. Agar mereka tak menginjak kita, tak merasa mereka paling benar dari kita. Hingga membunuh ayah sendiri pun, dia anggap itu benar."
" apa kau tengah membicarakan pamanmu??" π
" aku tak pernah punya paman seperti itu.."
" ya sudah, lupakan.. Yang penting misi mu kali ini untuk melindungi ayahmu bukan??" π ujarku berusaha menghiburnya.
" bukan misi, tapi kewajiban. Misi ku bukan itu.."
" merebut kembali apa yg seharusnya jadi milikku, milik kakek-ku. Dan aku tak akan merasa puas sampai yg ia miliki hilang tuntas. Jika aku sampai membunuhnya, itu bonus dari misiku."
" membunuh?? Kau?? Pernah membunuh??" π³
" kau sudah tau semuanya dari ibu suri, bukan?? Membunuh nya mungkin akan agak sulit.. Tapi jika pedangku belum terlumuri darahnya, ku anggap arwah kakek-ku masih belum tenang disana."
" Arthur, apa kau yakin ini yg di inginkan kakek-mu??" ujarku. Arthur hanya terdiam.
" ada yg bilang.. Se buas-buasnya singa, ia tak akan pernah memakan anaknya sendiri. Sejahat apapun pamanmu itu, kakek-mu pasti masih menganggap dia anaknya sendiri. Yang ia sayangi dan ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Apa yg akan kakek-mu rasakan disana jika beliau tau cucunya sendiri membunuh anaknya??"
" lalu menurutmu, apa yg harus kulakukan??"
" tuntaskan misimu, tanpa harus mengotori tanganmu dengan membunuh orang lain." π
Arthur kembali terdiam, entah apa yg ia pikirkan hingga ia tertunduk begitu lama. Bocah 12 tahun ini memikul beban dan dilema yg begitu berat. Pundak kecilnya mulai lemas ditempa dan di asah agar bisa setajam dan sekuat saat ini. Tapi, apa yg bisa kulakukan saat ini??
__ADS_1
" aku akan selalu ada untukmu, jika kau ingin cerita. Apapun itu, aku akan mendengarkan nya.." ujarku.
" kau bohong, kau baru saja bilang bahwa kau membenciku. Kau tak ingin menikah denganku." π
" apa aku pernah bilang tak ingin menikah denganmu?? Aku hanya bilang tak siap saja, mungkin minggu depan aku sudah siap. π Lagipula pernikahan hanya sebuah syarat saja kan?? Apa aku harus menjadi istrimu untuk bisa disampingmu??"
" tidak.." π
" menikah atau tidak, kita tetap teman kan??" π
" yaa.." βΊ
Kami mengobrol hingga larut malam, dan memutuskan untuk kembali karena suhu mulai membeku kan badan. Aku merasa semakin jauh mengenalnya. Arthur berbeda dengan saat pertama kali aku melihatnya. Saat aku di bully hanya karena digendong olehnya, ahh konyol sekali!! π Apa yg akan Silvanna lakukan setelah ia tahu aku akan menjadi istri sah nya Arthur.. π
Detik demi detik, berganti menit dan jam. Waktu berputar seiring mentari yang terus bergilir bersama sang rembulan. Langit yg luas membiru, dihiasi awan yg putih bersih. Menandakan hari yg baik, hari yg cerah. Di hari-hari berikutnya, hari dimana aku akan menikah. Hari ini, bersama gaun putih yg terpasang di badan mungilku. Riasan pengantin di wajah polosku. Aku akan berjalan diatas karpet merah betabur bunga-bunga. Menemuinya yg tengah menanti diujung sana bersama sang pendeta, yang akan menyatukan kami menjadi sepasang suami istri.
Ku lihat ibu dan ayah mengangis haru di sisi sampingku. Ibu suri yg tersenyum penuh makna, dan tatapan hangat dari seorang raja dan ratu pada calon menantunya. Perlahan aku berjalan, menyeret gaunku yg terlalu besar untuk ku kenakan. Tapi ya inilah namanya gaun pengantin, yg akan kupakai hanya sekali untuk seumur hidupku. Mungkin.. π
" saudara Arthur, apa kau bersedia??" ujar pak pendeta pada Arthur. Jujur.. Karena gugup melihat Arthur dengan setelan jas pengantin nya, aku hanya mendengar kalimat itu saja.
" ya, saya bersedia." ujarnya dengan mantap.
" nona Naya, apa kau bersedia??"
" saya.." π° kenapa tiba-tiba aku merasa dilema?? Ayolah, ini bukan waktunya!! π« Aku tak bisa mempermalukan keluarga kerajaan disini. Arthur, dia tiba-tiba menggenggam tanganku. Kuat sekali.. Aku menoleh ke arahnya, ia hanya tersenyum. Senyumnya begitu menyakitkan, tatapan nya mengatakn bahwa ia tak sanggup sendirian. Baiklah.. π
" ya, saya bersedia.." π jawabku ditengah ketegangan semua orang di belakangku.
" baiklah, sekarang kalian sudah menjadi sepasang suami istri yg sah. Kau boleh mencium pasanganmu." ujar pak pendeta kemudian.
Ehh, mencium?? Apa diperbolehkan?? π³ bukankah itu untuk orang dewasa? anak-anak tidak boleh kan?? Arthur, kenapa dia tidak kaget sedikitpun!!π« Apa dia sudah tau ini akan terjadi?? Ehh!! Ehh!! Ehh!! Kenapa dia mendekat? π³ Apa dia yakin akan menciumku di depan semua orang?? π« Tidak!! Tidak!! Aku tidak boleh menciumnya, aku sudah bersumpah. Ciuman pertamaku hanya saat usiaku sudah 20th nanti!! Ahhhh!! Arthur sudah semakin dekat!! π«Arthur, jangaaan!! ππ
" jangan mengira aku akan mencium bibirmu kali ini, ini ciuman sahabat.." bisiknya setelah ia mengecup pipiku. Setelah itu semua bersorak dan memberikan tepuk tangan yg meriah.
To Be Continue..
__ADS_1