Pengantin Dini [TAMAT]

Pengantin Dini [TAMAT]
#22 Epilog


__ADS_3

" Nayaa!!! Naya bangun!! Kau sudah berjanji padaku!!" 😭


Tangis Arthur pecah saat melihat tubuh istri nya tiba2 kaku dan sedingin es.


" nak.. Jangan pergi dulu, nak. Kau masih muda, jalanmu masih panjang. Biar ibu saja yg menggantikanmu, nak. Biar ibu yg pergi!!" 😭


Ibu Naya tak kuasa menatap putrinya yg bersimbah darah.


Bayi Naya menangis, melihat ibunya yg tak kunjung tersenyum menyambutnya. Setiap orang berduka, menyadari Naya sudah tiada.


" maaf, saya tidak bisa menyelamatkan nona Naya. Ini kesalahan saya." ujar bidan itu.


" ini salahku!! Aku membiarkan nya mempertahankan bayi ini!! Dia pasti mengalami banyak kesakitan tanpa aku ketahui, ini salahku!!" 😭 tangis Arthur.


" Naya.. Aku mohon, bangunlah!! Bagaimana denganku?? Kau mau meninggalkanku sendirian?? Kalau begitu ajak aku pergi bersamamu, Naya!!" 😭


" Arthur sadarlah!! Istrimu sudah tiada!!" ujar ibu ratu berusaha menenangkan putra nya yg tengah terluka parah.


Perlahan Arthur meraih bayi Naya yg sudah di bersihkan, menggendong nya dengan amatir. Dan membaringkan bayi itu di sisi istrinya yang sudah terbujur kaku.


" Nay, coba lihat bayi kita.. Ini bayi perempuan.. Mirip sekali denganmu. Ayo bangunlah!! Apa kau tidak ingin melihatnya??"


" kau sudah berjanji padaku.."


" kau akan tetap hidup.."


" jika aku berhasil memenangkan peperangan.."


" dan membunuh orang yg kau inginkan.."


" aku menepati janjiku dan pulang dengan selamat."


" menyaksikan bayi kita lahir."


" tapi kau.. Kenapa tidak menepati janjimu!!"


" bangunlah, Nay. Kumohon.."


Arthur menangis seraya memeluk putri dan istrinya. Berharap keajaiban akan datang padanya. Sedang bayi kecil itu masih terus menangis, seakan tau ibunya telah meninggalkan nya.


Namun keajaiban pun benar-benar terjadi, Naya yg sebelumnya terbujur kaku dan tubuhnya sedingin es tiba-tiba kembali menarik nafas. Itu membuat Arthur kaget hingga tak percaya.


" A.. Arthur.."


" Nay!! Naya!! Kau sadar?? Kau tak apa-apa?? Dokter!! Dokter!!" teriak Arthur melihat Naya kembali sadar.


" tak apa, sayang.. Kau baik-baik saja.. Aku disini bersamamu, tenanglah.." ujar Arthur seraya mencium dan mengelus kepala istrinya itu.


" A.. Arthur.. Aku.. Melihat surga."


" sudah, sudah.. Tak apa.. Kau sudah bersamaku sekarang, kau tidak akan kemana-mana lagi. Kau aman bersamaku." ujar Arthur.


Naya hanya terdiam dan memejam. Namun tetap menjaga nafasnya agar tetap stabil di sela-sela bidan yg tengah membersihan darahnya.


Arthur tak sanggup melihat darah istri nya yg menggenang di ranjang hingga ke lantai. Ia sempat melihat para bidan itu menjahit milik istrinya. Ia sempat berontak, namun itu sudah prosedurnya. Ia hanya bisa pasrah, melihat istrinya yg meringis kesakitan. Arthur berjanji, di kesempatan yg kedua ini. Ia akan menjaga istrinya sampai mati.


Beberapa hari kemudian..


" kau sudah punya nama untuk anak kita??"


" hmm.. Sudah." jawab Arthur pada Istrinya.


Aku bahagia, tuhan memberiku kehidupan yg kedua. Aku masih di beri kesempatan untuk bertemu kaluargaku, menghabiskan sisa hidupku bersama suami dan anak ku. Keluarga kecil kami.. Aku masih tak percaya bahwa aku bisa bertahan, sampai saat ini.


" kau akan memberi nama anak kita siapa??"


" Mathilda. Yaa.. Nama lengkapnya Mathilda Arya."


" Mathilda??" 😕


Tunggu.. Rasanya aku mengingat sesuatu. 🙁


" ibu.."


Ehh?? Ada seseorang disini?? 😕


" ibu, aku disini." ujar seorang anak perempuan menghampiriku.


" kau?? Siapa??"


" aku Mathilda.. Ibu pulanglah."


" maaf, tapi aku bukan ibumu. Apa kau tersesat?? Dimana ibumu? Ayo aku carikan untukmu." ujarku.


" kau ibuku, ayo ibu.. Pulanglah!!" anak itu terus menarik dan menyeretku.


" nak, aku bukan ibumu. Kapan aku melahirkanmu??"


" ibu!! Ayo pulang!!" 😡

__ADS_1


" ternyata itu benar anakku." ujarku pelan diiringi tawa.


" apa maksudmu?" tanya Arthur heran, kenapa aku tertawa.


" Mathilda, aku sudah bertemu dengan anak kita di surga."


" apa?? 😳 Tunggu, aku ingat.. Saat pertama kali kau sadar, kau bilang.. Kau melihat surga?"


" yaa.. Aku memang benar2 melihatnya. Dan ada anak kita disana."


" benarkah?? Seperti apa dia?"


" dia.. Cantik sekali.. ☺ Dia akan menjadi gadis yg sangat cantik."


" ohh, ya?? Aku yakin dia akan secantik dirimu."


" tapi dia juga agak mirip denganmu." 😅


" apa?? Yang benar?? Bagian mana yg mirip denganku??" 😃


" bagian marahnya, tatapan tajam nya, dan sikap dingin nya.." 😄


" benarkah?? Kenapa putri ku ini meniru sikap buruk ayahnya.." 😪


" itu tidak buruk, justru terlihat menggemaskan. Aku justru senang, dengan adanya sifat yg mirip dengan ayahnya. Itu akan membuat dia menjadi gadis yg tangguh, kuat dan tegar."


" terima kasih sudah memujiku." 😊


" aku memuji Mathilda!!" 😒


" aku ayahnya.." 😃


" dan aku ibunya." 😑


" baiklah.." 😒


" ohh, ya. Kenapa kau memilih nama Mathilda Arya??"


" Mathilda itu seperti seorang malaikat, bayi ini malaikat kecil kita. Bahkan sebelum ajalnya, nenek pernah bilang kepada kita. Jika anak kita adalah perempuan, maka dia akan menjadi keberuntungan bagi kita. Belum satu hari lahirpun, ia sudah membawa keberuntungan dengan mengembalikanmu ke dunia ini."


" yaa, kau benar. Anak ini menyeretku dengan gigihnya. Ia memaksaku untuk pulang dan terus memanggilku ibu. Aku terus bilang padanya, bahwa aku bukan ibunya. Namun ternyata dia benar2 anakku." 😅


" yaa.. Akhirnya aku memutuskan memberinya nama Mathilda."


" dan Arya??"


" itu nama kita. ARYA, ARthur dan naYA."


" jangan berlebihan menilai kejeniusanku." 😎


" sudahlah. 😒 Ohh, yaa Arthur. Bagaimana dengan lukamu??" 😟


" aku baik-baik saja. Luka nya sudah di perban. Akan membaik dalam beberapa hari."


" bagaimana kau bisa terluka separah ini??" 😢


" tentu saja karena pertarungan sengit antara kami berdua."


" k.. Kau.. Dan pamanmu?"


" yaa.." jawab Arthur dengan sedikit lesu.


" apa kau menyesal telah membunuh pamanmu?? Maafkan aku." 😢


" tidak, Naya. Seperti pesan nenek, ajal paman memang sudah di tanganmu."


" lalu kenapa kau selalu terlihat murung begitu. Katakan padaku ada apa??"


" paman sempat bilang sesuatu sebelum ia benar2 tiada."


" a.. Apa?? 😨 Dia bilang apa.."


" Terima kasih, Arhur.. Kau sudah menyelamatkan ku dari mereka.. Jangan lengah, mereka tidak akan menyerah.. Dengan membunuhku, aku tau.. Kau yang lebih pantas memimpin negeri ini. Bersiaplah.. Dan menangkan perang-perang yg selanjutnya.. Sampaikan maafku pada semuanya.. Maaf aku telah mengkhianati kalian.."


" begitu.." 😓 ujar Arthur.


" siapa yg paman maksud dengan mereka."


" tentu saja Raja Hogwarts."


" astaga.. 😟 Paman pasti menderita selama ini harus mengikuti perintah mereka."


" hanya karena ia sangat mencintai istrinya itu, dia bahkan rela mati." 😞 ujarnya.


" mengapa.. 😫 Mengapa aku malah memintamu membunuh paman waktu itu!! Ini salahku!!" 😢


" tidak, Nay.."


" jika saja aku tau lebih awal, jika saja paman mau bicara pada kita.." 😢

__ADS_1


" sudah.. Sudah.. Jika aku jadi paman, aku juga mungkin akan melakukan hal yg sama."


" apa?? Kau akan mengorbankan dirimu demi aku?? Mengkhianati keluargamu sendiri demi aku?? Tidakk!! Jika itu sampai terjadi, biar aku saja yg pergi." 😫


" kita harus tetap bersama, apapun kondisinya. Kau harus ingat satu hal ini. Mati di medan perang tidak menyakitkan sama sekali. Tapi jika kau pergi, aku pun akan mati secara perlahan. Dan itu pasti lebih menyakitkan."


Aku hanya terdiam mendengar kalimatnya itu, dan tersenyum padanya. Arthur kembali membalas senyumku dan mencium Mathilda, malaikat kecil kami.


" hari ini, di depan seluruh rakyat Land Of Dawn. Saya, Cecilion.. Raja Land Of Dawn menyatakan bahwa Arthur putraku, telah resmi menjadi Raja Land Of Dawn. Mulai saat ini, detik ini. Raja kalian adalah Raja Arthur yang terhormat."


" Hidup Raja Arthur!!"


" Hidup Raja Arthur!!"


" Hidup Raja Arthur!!"


Aku menangis seraya menggendong Mathilda kecil kami. Melihat suamiku tercinta, bocah yg baru berusia 15 tahun dipasangkan sebuah makhota dan jubah. Di serahkan kepadanya sebuah pedang kuasa dan segala tanggung jawabnya.


Tangis haru kembali berderai di mata semua orang kala akupun di nobatkan sebagai ratu pertama. Arthur tersenyum bangga menyaksikan istrinya begitu bahagia hingga meneteskan air mata.


" dihadapan kalian semua, aku bersumpah!! Aku tidak akan memiliki istri lebih dari satu, dan istriku satu-satu nya itu hanya boleh Naya saja. Tolong kalian pegang sumpahku ini."


Kalimatnya sendiri berhasil menggema di telinga Arthur. Ia menatap dalam istri dan malaikat kecilnya.


" aku berjanji, akan menepati sumpahku sampai mati.." bisiknya pada Naya.


Naya yang termenung pun sedikit bingung dengan sumpah apa yg dimaksud oleh Arthur.


" kau bersumpah apa, Arthur??" 🙁


" ehh.. Itu.. Aku bersumpah hanya akan menikah dengan gadis yg aku sukai saja. Yaa, begitu." 😰


" ohh.." 😒


" Lalu kenapa Arthur sampai berani bersumpah di hadapan semua orang bahwa dia hanya ingin memiliki satu istri saja?? Dan itu harus kau tidak boleh yg lain!!" gertak Silvanna.


Ohh, ya.. Aku baru ingat. ☺ Ternyata dia berbohong saat itu padaku. Bahwa dia hanya akan menikahi wanita yg dia cintai saja.


" aku yakin hanya aku yg kau cintai di dunia ini, aku tidak khawatir akan ada yg merebut posisiku." ujarku. 😌


" ada orang lain.."


" orang lain?? Siapa!!" 😡


" seorang gadis??"


" ya.." ☺


" apa dia.. Cantik??"


" sangat cantik.." 😃


" siapa wanita itu!!" 😡


" Mathilda Arya." 😄


" itu kan putri kita.." 😑


" haha.. Memangnya aku tidak boleh mencintai putriku sendiri??" 😄


Naya hanya cemberut menanggapi omongan suaminya itu.


-


-


Hari berganti minggu, bulan dan tahun. Land Of Dawn semakin maju dengan Arthur sebagai pemimpin mereka. Peperangan demi peperangan dilalui untuk memperluas kekuasaan dan mengusir para penjajah.


Tak lupa, Arthur mencium istri dan Mathilda kesayangan nya sebelum ia maju ke medan perang. Karena hanya dengan itu, dia bisa menang. Nenek benar.. Mathilda adalah kunci keberhasilan Arthur. Oleh karena nya, sesulit apapun keadaan mereka. Naya tak akan meninggalkan Arthur sendirian.


" masih dengan Hogwarts?"


" yaa, mereka masih belum menyerah. Aku akan membalaskan kematian pamanku dan segala penderitaan nya. Do'akan aku." ujar Arthur seraya mencium kening Naya dan menggendong putrinya sebentar.


" lindungi ayah ya, sayang." ujar Arthur mencium putrinya.


" pergilah.. Habisi mereka semua.."


" Aku mencintai kalian."


" kau harus ingat satu hal ini. Mati di medan perang tidak menyakitkan sama sekali. Tapi jika kau pergi, aku pun akan mati secara perlahan. Dan itu pasti lebih menyakitkan."


The End.


Entah ini di sebut Happy Ending atau tidak, menggantung atau tidak.  😅 Saya harap para reader suka.. Berharap bisa menulis cerita yg lebih baik lagi, mohon dukungan nya!! 😊🙏


Terima kasih atas kesetiaan nya membaca hingga titik akhir ini..


Sampai jumpa di page-page berikutnya!! 👋👋

__ADS_1


By : AyuBae


__ADS_2