![Pengantin Dini [TAMAT]](https://asset.asean.biz.id/pengantin-dini--tamat-.webp)
" Na.. Ya.."
" ajal putraku.. Ada ditanganmu.."
Kata-kata itu tak hentinya menggema di telingaku. Membuat semangatku berkobar, aku yakin Arthur akan memenangkan perang ini berdasarkan strategi yg aku buat. Tapi tak bisa ku pungkiri, rasa cemas itu tetap ada. Berharap Arthur jangan terluka sedikitpun. 😟
Arthur mau perang nih!! 😍
...
...
Hari ini.. Suamiku akan mempertaruhkan nyawa nya demi negeri ini. Tak terbayang apa yg akan ia lalui, berapa banyak darah yg akan tertumpah. Berharap jiwa nya tak akan getir melihat banyaknya mayat pasukan yg berkorban. 😢
" sayang.." Arthur memasuki kamarku dengan baju besi nya.
" harusnya kau jangan menemuiku sebelum pergi." 😣
" lihat aku dulu.." ujarnya.
Terpaksa aku berbalik. Dengan perut yg sudah hampir tak sanggup ku topang lagi, aku menatapnya.
" do'akan aku, ya." ujar Arthur seraya mencium keningku.
Dilanjutkan dengan mencium bayi kami yang akan segera lahir.
" do'akan ayah ya, sayang." ungkapnya.
" jangan sampai terluka." 😢
" jika kau mengantarku sampai depan."
" hmm.. Baiklah." 😓
" awas jika kau tidak sampai menepati janjimu."
" janjiku yg mana?" 🙁
" bahkan kau tak ingat, bagaimana kau akan menepatinya?" 😑
" jika aku memenangkan perang ini, dan membunuh paman Khufra. Kau akan tetap hidup bersama bayi kita."
" hmm, ya." 😞
" walau tanpa ada aku di sisimu."
" apa maksudmu aku harus hidup tanpamu??"
" jika aku berhasil menang dan membunuh paman Khufra namun aku sendiri tetap mati, kau harus.."
" tidakk!! Itu tidak akan terjadi!! Kau akan pulang dengan selamat, itu pasti. Bagaimanapun juga kau harus pulang dan menyaksikan kelahiran bayi kita." 😭 ujarku dengan berderai air mata.
" jangan begitu, tidak ada yg tau siapa yg akan hidup dan mati di sana. Yang pasti do'akan yg terbaik untukku dan jaga dirimu baik-baik."
" kau juga.." 😢
" baiklah, aku pergi sekarang."
" Arthur.."
" hmm??"
" aku mencintaimu.." 😟
" aku juga mencintaimu." ☺ ujar Arthur seraya menciumku lagi.
Ia pun pergi dengan kudanya, yg pernah kami tunggangi berdua di hari pertama setelah kami menikah. Aku masih mengingat hari itu..
" aaaaaaaaahh!!! Arthur!! Bawa pergi makhluk ini!!" 😫
" ini kuda.. 😑 Bukan kah kau bilang kuda itu sangat lucu?? Coba kau lihat sekali lagi, ini lucu bukan??"
" tidaaakkk!! Tidak lucu sama sekali!! Kuda yang ini besar sekali.." 😫
" ini memang ukuran asli kuda, kau tau dari mana kalau kuda itu kecil."
" boneka-boneka kuda selalu terlihat lucu, dan aku pernah melihat mereka di kebun binatang."
__ADS_1
" yang kau lihat mungkin kembaranmu." 😑
" kembaranku? Siapa??" 🙁
" keledai.." 😑
Aku tertawa mengingat kenangan itu. Sembari mengusap air mataku yang jatuh karena kini suamiku bukan tengah berlatih bersama kudanya, tapi perang yg sesungguhnya.
" nak, jangan membuat dirimu semakin tertekan. Nanti kesehatanmu semakin memburuk." ujar ibu.
Yaa.. Ayah dan ibuku tinggal bersamaku sejak saat aku tau akan ada perang yg terjadi. Aku merasa lebih nyaman jika kedua orang tuaku yg menjaga dan merawatku.
Aku pun di tuntun ibu untuk beristirahat ke kamarku. Namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yg mengalir deras dari bawah ************ ku. Air itu tak bisa ku tahan hingga mengalir begitu saja dan membuat kaki dan lantai yg kupijak basah. Aku mengira itu air kencing, padahal aku sama sekali sedang tak ingin buang air kecil. Tapi tak lama setelah itu perutku tiba2 terasa sakit, sangat sakit..
" ibu.. Ibu!! Perutku sakit!!" 😖
" nak!! Nak!! Kau kenapa?? Bagian mana yang sakit?? Astaga apa ini yg menggenang di bawah kakimu??" 😱
" aku tidak tau, itu keluar begitu saja.. Perutku sakit sekali, bu." 😖
" apa mungkin, kau akan melahirkan nak?? Ketubanmu sudah pecah, dan airnya sudah mengalir. Ayo cepat kita harus ke kamarmu!!"
" mana mungkin?? Dokter bilang tinggal 1-2 minggu lagi.."
" prediksi dokter tak selalu benar, nak. Ayo kita ke kamar dulu, biar ibu panggilkan dokter."
Aku di bopong oleh beberapa orang untuk naik ke kamarku. Aneh sekali, rasa sakit itu terkadang datang dan pergi. Namun aku merasa memang benar2 seperti akan ada yg keluar dari bawah sana.
" bagaimana dok??" tanya ibu ratu.
" Naya akan melahirkan, tapi bukan sekarang. Mungkin beberapa jam lagi, ini masih pembukaan pertama."
" kapan tepatnya saya akan melahirkan, dok??" tanyaku.
" sore ini." jawabnya.
Aku sedikit panik. Disisi lain aku ingin Arthur turut hadir disini saat nanti bayi kami lahir. Tapi disisi lain ia tengah berperang, dan aku tak tau pasti kapan dan dengan keadaan apa ia akan pulang. 😢
Jika aku memberitahunya, bukan kah itu akan merusak konsentrasi nya??
" ibu, jangaann!! Aku takut Arthur khawatir." 😫
" tidak, Naya. Dia harus tau.. Biar dia semakin cepat memenangkan perang dan kembali kesini."
" aakkhh!!" 😖
Aku hanya terdiam merasakan sakit yg kembali kurasakan di perutku. Aku tidak tau akan se sakit ini melahirkan seorang anak. Aku patut menyayangi ibuku, dia juga melalui hal seperti ini untuk melahirkanku.
Di medan perang..
Arthur tengah bersiap bersama pasukan nya. Ia berada di barisan paling depan dengan berani, bersama ayahnya. Namun pasukan paman nya itu tak kunjung datang.
" pangeran Arthur!! Ada pesan!!" teriak seseorang.
" ada apa?" tanya Arthur.
" nona Naya, istri anda. Akan melahirkan."
" a.. Apa??!!! 😳 Bukankah masih ada 1-2 minggu lagi??"
" saya tidak tahu, hanya itu pesan nya."
" siapa yg mengirim pesan??"
" ibu ratu. Oh, ya. Beliau berharap pangeran bisa cepat pulang setelah peperangan ini."
" baiklah, kau boleh pergi." ujar Arthur.
Arthur kembali termenung. Bingung dengan situasi yg rumit ini. Istrinya tengah melahirkan, bayi pertama mereka. Proses yang amat beresiko bisa merenggut nyawa istri atau bayinya.
Namun di sisi lain, ia sudah melihat pasukan paman nya sudah bersiap di depan sana. Itu artinya perang akan segera dimulai, dan dia tidak bisa menghindar. Hal yg Arthur takutkan adalah ketika ia tidak bisa bertemu cintanya lagi. Entah ia yg mati, atau Naya yg tak sanggup bertahan.
Disini mereka berdua tengah sama-sama berjuang melawan maut.
Arthur memejamkan matanya sejenak, mengingat pesan istri tercintanya.. Mungkin itu akan jadi pesan terakhir yg harus ia penuhi bagaimanapun juga.
" aku hanya akan hidup, jika kau berhasil memenangkan perang itu. Dan membunuh paman Khufra."
__ADS_1
" Jika kau kalah dan gagal membunuh paman Khufra, aku akan pergi. Jagalah bayi kita baik-baik."
" Arthur.. Bunuh dia untukku."
Kalimat itu berhasil menggema di telinga nya, membuatnya bisa mengangkat pedangnya dan berteriak..
" SERAAAAANNGG..!!!" 😠
Semua pasukan maju tanpa ragu, menyodorkan nyawanya pada musuh. Dengan jumlah yang begitu banyak beberapa pasukan kalah di pertempuran pertama. Namun tekad Arthur tetaplah kuat.. Ia berpisah dengan paduka dan mengejar orang yg nyawa nya di inginkan oleh Naya, Paman Khufra.
Paman nya itu tak terlihat getir sedikitpun di kejar oleh seorang bocah yg tengah marah. Tapi Arthur tetap bersikeras memojokkan paman nya itu agar mereka bisa bertarung hanya berdua saja di tempat yg lebih jauh dari pasukan. Itu strategi Naya.. Barulah Arthur akan mengeluarkan serangan kejutan dari markas bayangan yg sudah disiapkan sebelum perang itu terjadi.
Sementara di kamar Naya..
" Naya, bertahanlah.." 😢
Ku dengar sayup suara2 orang yg tengah menangis dan menggenggam tanganku. Rasa sakit ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Ingin hancur rasanya seluruh tulangku. Aku diambang kesadaran, namun bayiku masih belum ingin keluar.
" ayolah, nak. Ibu ingin segera melihatmu. Keluarlah nak.. Ibumu ini sudah tidak sanggup lagi." bisik batinku.
Namun tetap saja pandanganku malah semakin kabur, nafasku semakin berat.. Dan perlahan aku melihat orang-orang di sekitarku mulai menangisiku.
" Apa aku akan mati??" pikirku.
Lalu tak lama aku mendengar suara yg lebih keras, suara orang berlari diluar sana. Gaduh sekali..
Samar-samar aku melihat seseorang dengan baju besi dan darah yg bercucuran dimana-mana. Aku mengenali suamiku itu..
" A.. Arthur.." ujarku dengan besusah payah.
Suaraku seakan tak bisa keluar, hanya menyangkut di kerongkongan. Badanku sudah mati rasa, namun aku harus tetap bertahan. Setidaknya hingga bayiku benar2 keluar.
" kepala bayi nya sudah terlihat!! Ayo Naya, saya yakin kamu bisa." ujar bidan yg mengurus kelahiranku.
Mendengar itu aku semakin bersemangat. Aku mengerahkan sisa tenagaku dan mendorong bayiku agar keluar.
" aku.. Sudah.. Tak kuat lagi.." ujarku terengah.
" Nay, aku disini. Menyaksikan lahirnya bayi kita. Aku tau kau kuat Nay!! Lihat!! Kau lihat pedangku ini?? Ini adalah darah orang yg kau ingin aku membunuhnya." 😢 ujar Arthur dengan darah yg masih mengalir dari tubuhnya.
" k.. Kau.. Berhasil membunuhnya?"
" yaa!! Sekarang kau harus selamat, kau harus kuat!! Aku sudah memenangkan perang dan membunuhnya untukmu. Jadi bertahanlah!!"
" aaakkhhhh!!!"
Aku memekik keras mendorong bayiku agar segera keluar. Sayup-sayup ku dengar suara tangis seorang bayi. Dan sorak bahagia orang-orang di sekitarku.
Namun beberapa detik kemudian cahaya putih menyilaukanku, membuatku seakan tertidur lelap dan semua rasa sakitku hilang. Cahaya itu telah membawaku terbang.
Saat aku tersadar, aku berada di sebuah tempat yang sangat indah. Aku belum pernah tau ada tempat yg seperti ini.
" apa ini surga? Apa aku.. Sudah mati??" pikirku.
Aku berjalan cukup lama di tempat itu dengan penuh kebingungan. Kenapa aku sendirian di tempat ini?? Kemana semua orang??
" ibu.."
Ehh?? Ada seseorang disini?? 😕
" ibu, aku disini." ujar seorang anak perempuan menghampiriku.
" kau?? Siapa??"
" aku Mathilda.. Ibu pulanglah."
" maaf, tapi aku bukan ibumu. Apa kau tersesat?? Dimana ibumu? Ayo aku carikan untukmu." ujarku.
" kau ibuku, ayo ibu.. Pulanglah!!" anak itu terus menarik dan menyeretku.
" nak, aku bukan ibumu. Kapan aku melahirkanmu??"
" ibu!! Ayo pulang!!" 😡
Kenapa bocah ini ngotot sekali.. 😑 Tatapan nya dan gaya marahnya ini mengingatkanku pada seseorang.. 🙁
To Be Continue...
__ADS_1