Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Aku Menghukummu


__ADS_3

"Aku menghukum-mu dengan keabadian dan sebuah tugas!


"Kau akan hidup sebagai Penjaga Alam Buana, Alam dimana para pendosa berada.


"Kau akan selamanya terikat dengan pohon ini!


"Akan kukabulkan satu permintaan-mu, jika pohon yang kau jaga ini, berbunga dan bunga-bunganya gugur dari pohonnya"


Manik mata bulat yang memerah karena cairan darah yang melumuri itu berkedip, pandangannya tertutup dengan semburat warna merah darah yang cerah. Dari posisi berbaringnya Utari bisa melihat, sebuah pohon tumbuh disampingnya dengan begitu cepat.


Tiba-tiba, tubuhnya yang melemah bisa menghirup udara segar lagi. Dia juga bisa merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, yang sempat hilang sejenak, karena dia sudah mati tadinya.


Seorang Putri Raja dengan pakaian kono lusuh yang penuh noda darah sedang terbaring di hamparan padang ilalang. Ia ditemani beberapa sisa-sisa tulang belulang keluarganya.


Akhirnya dia bisa membalas dendam keluarganya.


Tetapi, karena kekejaman dan juga ketamakannya akan balas dendamnya. Kanjeng Dyah Ayu Kencana Utari mendapatkan kutukan hidup abadi, menjaga perbatasan dunia manusia dan dunia goib.


Dia bukan manusia ataupun hantu, dia juga bukan malaikat, dia adalah Penjaga Alam Buana.


~♤~


Suara seseorang yang mengatakan kutukan itu masih terngiang-ngiang di telinga Utari, meski dia mendengar suara kupu-kupu itu sekitar 1000 tahun yang lalu. Tetapi Utari masih mengingat dengan jelas, kata demi kata, kutukan yang entah kenapa dia dapatkan.


Karena dia membunuh lebih dari 1000 manusia di masa lalu... "Sepertinya aku membunuh lebih dari itu," ujar Utari dengan wajah datarnya yang tetap menawan, bagaimana pun ekspresinya.


Karena dia dendam pada seseorang... "Kupikir dia bukan orang yang penting," Utari kembali bergumam.


Kini wajahnya yang datar sedikit merasa kesal. Bahwasannya 1000 tahun lebih, dia masih belum bisa membuat pohon di depannya berbunga.


"Berbunga?" Utari tertawa mengejek ke arah pohon besar yang tertancap sempurna di tengah-tengah rumah megahnya.


"Mungkin Dewa sialan itu menumbuhkan pohon ini dengan biji mandul!" Utari berubah kesal.


Sudah banyak cara ia lakukan untuk membuat pohon kutukannya berbunga. Karena menjadi Abadi bukanlah keinginanya. Dia ingin mati, hanya ingin mati.


"Ndoro Utari!" sebuah suara wanita paruh baya membuyarkan kekesalan Utari pada pohon kutukannya.


"Ada apa?" Utari masih kesal.

__ADS_1


Dia adalah perawan tua yang mudah kesal pada apa pun di dunia ini. Marah adalah sebuah kebiasaan Utari akhir-akhir ini. Gadis keturunan salah satu kerajaan di Jawa itu begitu frustasi menjalani hari-harinya.


"Ini ada surat dari Kanjeng Ratu Pantai Selatan!" kata Mbok Jumi, ia adalah salah satu pembantu Utari.


Utari mempunyai beberapa hantu yang setia dan tahan dengan peranginya, di rumahnya. Sebab tak ada manusia yang bisa bertahan hidup di alam yang ditempati oleh Utari.


Wanita bangsawan seperti dia mana tau cara merawat rumah. Utari bahkan tak tau cara merawat dirinya sendiri dengan benar.


"Kak Galuh masih saja kuno! Sekarang semua orang mengirim pesan lewat Whatshap, dia masih setia pake surat!" Utari mengerutu sambil menerima secarik kertas tua  berwarna coklat gelap, dari tangan Mbok Jumi.


Perlahan-lahan Utari membaca isi kertas tua yang semuanya berisi aksara sansekerta kuno, yang hanya bisa dibaca oleh Ilmuwan sejara Jawa.


"Menikah?!" Utari langsung tercengang, padahal dia baru membaca beberapa bait huruf-huruf sansekerta itu.


"Menikah?" Mbok Jumi pun ikut kaget, saat Utari mengatakan kata 'Menikah'.


'Ide gila apa lagi yang diusulkan Ratu Pantai Selatan??? Kanjeng Ndoro Utari harus menikahi seseorang??? Kayaknya kagak mungkin dahhhh!!!" batin Mbok Jumi, mana mungkin dia berani ngomong terang-terangan di depan Utari.


Milyaran makhluk hidup di Bumi ini hanya Ratu Pantai Selatan yang selalu peduli pada Utari. Meski ide-ide yang diberikan selalu nyeleneh dan tak masuk akal, Utari tetap menjalankan semua yang dikatakan Ratu penunggu laut penyuka warna hitau itu.


Selain karena rasa hormat yang tinggi, Utari juga sudah tak bisa menunggu untuk cepat mati.


"Dengan pria 18 tahun!!!" Utari semakin kaget, setelah membaca kalimat dibawahnya.


"Wahhhhhhh!!!" Utari tersenyum tak percaya. "Yakkk... Aku bukan pedddofil!!!".


Dari semua ide gila Kanjeng Ratu Pantai Selatan usulkan selama ini, ide menikahi bocah 18 tahun ini, yang paling gila.


BAGAIMANA MUNGKIN SEORANG WANITA BERUSIA 1017 TAHUN MENIKAH DENGAN SEORANG BOCAH LELAKI BERUSIA 18 TAHUN???


.


.


.


.


"Kupikir kakak sudah tak punya banyak pilihan lain! Coba saja!" suara wanita centil, tiba-tiba muncul dari kepulan asap hitam di sebelah Utari, yang masih berdiri membelakangi pohon kutukannya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang! Jangan muncul terlalu dekat denganku!!!" bentak Utari pada sosok perempuan cantik bergaun hitam seksi, yang baru saja muncul secara goib, tepat di sampingnya.


"Kau tau berapa harga gaun yang kukenakan ini?!" nada bicara Utari semakin melengking tinggi "Aku harus menunggu selama enam bulan! Untuk mendapatkannya!" wajah cantik Utari langsung berubah suram dengan aura kemarahan Dewa-nya.


Seketika gadis bergaun hitam, yang terlalu seksi itu segera menyingkir menjauhi Utari.


"Jangan membakarnya, dengan asap hitam sialanmu itu!" Utari membidikkan pandangannya ke arah Kanaya dengan begitu tajam.


Wanita cantik berwajah terlalu sempurna, yang memakai gaun hitam berpotongan rendah dan panjangnya hanya menutupi separuh pahanya itu biasa disebut Nyai Blorong, Siluman Ular, atau Kanaya nama aslinya.


"Padahal aku ini ular, darahku saja dinggin! Dasar Manusia Iblis pemarah!" gumam Kanaya di dalam hati.


"Aku bisa mendengar gerutuanmu, didalam hatimu!" ujar Utari.


Wanita Manusia Iblis itu berjalan melewati Kanaya, dan menghilang di udara, entah kemana.


"Jika saja kau tak lebih kuat dari aku! Aku pasti akan membunuhmu!" teriak Kanaya, kepada Utari yang telah pergi. "Bagaimana bisa, manusia biasa menjadi Penjaga Alam Iblis? Seberapa banyak dosa yang ia buat dihidupnya dulu?!" Kanaya melanjutkan ocehan kesalnya.


Kluntiangggg


Ponsel di genggaman Kanaya berbunyi, ia segera mengaktifkan layar sentuh ponsel pintarnya.


AKU DENGAR SEMUA!


JIKA KAU INGIN HIDUP, CEPAT TINGGALKAN RUMAHKU!


Kanaya mendapatkan pesan singkat dari Utari yang berisi ancaman. Kanaya menahan nafasnya karena ketakutan, ia tau betul jika Utari sangat kuat. Tetapi dia tak pernah menyangka jika Utari bisa mendengar dari dimensi lain.


Pasalnya, Wanita Iblis itu pasti sedang melakukan teleportasi ke istana Ratu Pantai Selatan.


"Iya Ndoro Ageng Kencana Utari, saya hanya mau mengumpulkan buku Arwah Jahat yang kabur dari Alam Baka," Kanaya menjawab pesan chat whatshap Utari dengan lisan saja, sebab Utari pasti masih bisa mendengarnya.


Rumah Utari adalah sebuah kantor pemerintahan tertinggi di Alam Lelembut. Rumah yang terletak di atas gunung, yang tak akan kau jumpai meski kau ingin. Sebab Rumah Utari Si Penjaga Alam Buana berada di antara Alam Lelembut dan Alam Manusia.


Semua data para lelembut atau Iblis, dan manusia-manusia yang mempunyai perjanjian dengan Iblis, semua ada di sana.


Tugas Utari adalah menjaga supaya perjanjian-perjanjian itu selalu ditaati antara kedua belah pihak. Menjaga supaya Siluman-Siluman tetap berada di tempatnya, agar tak mengganggu manusia.


Mungkin hal itu terdengar begitu mudah, tetapi menjaga Alam Buana selama 1000 tahun bukanlah pekerjaan yang bisa menjadi tumpuan ekonomi bagi Utari.

__ADS_1


Tidak ada yang membayarnya, jadi selama 1000 tahun Utari selalu bekerja keras, agar dia bisa mendapatkan uang seperti manusia pada umumnya.


__ADS_2