Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Setan


__ADS_3

"Setan! Kamu ini bukan manusia, kan?" tanya Aska pada Utari.


Mata mereka bertemu pandang, dan Aska kembali merasakan hantaman keras di dadanya. "Akhhhhhh!".


"Aku juga bisa menyembuhkan segala macam penyakit, apa kau sedang sakit parah!" Utari melanjutkan promosi jasanya, karena Aska terlihat sangat kesakitan.


"Nggak!" bentak Aska, sambil menahan rasa sakit di dadanya.


"Kau kelihatan kesakitan, lho!" Utari yang tadinya duduk di ranjang, kini sudah berada di dekat Aska yang sedang dalam posisi duduk terjengkang di lantai kamarnya.


"Boleh aku lihat?" tanya Utari, tangan gadis cantik itu mengelus dada Aska yang sakit.


Seketika juga, rasa sakit di dada Aska menghilang tanpa bekas.


"Tubuhmu baik-baik saja, kok!" tangan Utari masih meraba lembut dada Aska yang terbalut sehelai kemeja.


Wajahnya mendongak dan memandang ke arah mata Aska. Ternyata Aska tak diam saja, dia malah meraba wajah bagian samping kanan milik Utari.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aska, dengan tatapan sendu yang penuh kekhawatiran.


Utari terdiam, dia kembali mengingat sosok yang telah dia benci selama ribuan tahun, dia hidup di dunia.


Tangan Aska semakin dalam menyentuh tengkuk Utari.


"Syukurlah, jika kau baik-baik saja!" kata Aska.


Pandangan sendu penuh kebahagian itu, membuat Utari membeku.


Seolah tersihir, Utari hanya diam ketika Aska mendekatkan wajah tampannya ke arahnya.


Dengan tanpa basa-basi, Aska mengecup bibir Utari dengan beberapa kecupan panas yang memabukkan.


Entah karena haus akan belaian, atau Aska yang mempunyai sihir lebih tinggi dari Utari. Utari mengikuti setiap pergerakan panas Aska, menempatkan tubuh indahnya di atas pangkuan Aska, yang masih duduk selonjor di atas lantai kamar kosan sempitnya.


Kecupan-kecupan, sentuhan-sentuhan lembut yang memabukkan, menghipnotis keduanya.


Tok


Tok


Tok


"Bang! Bang Aska!" suara teriakan lelaki, membuyarkan rasa mabuk Aska dan Utari.


"Bangggg! Ini ada Mbak Ratih, nyariin Abang!" suara itu makin keras, membuat Aska dan Utari membelalakkan matanya.


Mereka berdua baru sadar, jika bibir mereka masih saling mengecup tanpa ampun.


"Akkkkkkk!" keduanya berteriak keras, dan saling mendorong sehinga keduanya terjungkal secara sejajar.


Tanpa sengaja, karena posisi mereka, Aska sekilas melihat canggcut merah berenda yang dikenakan Utari dibalik rok pendeknya.


"Bangsat!" Utari menendang dada Aska, sehingga Aska semakin tersungkur kelantai dan kepalanya terbentur keras.


"Aduhhhhh, sakit tau!" gerutu Aska.

__ADS_1


"Dasar manusia reingkarnasi mesum!" geutu Utari.


"BANG ASKA!!!" suara panggilan lantang seorang pria kembali terdengar.


"Kau yang mesum, dasar gadis iblis!" Aska juga balik mengerutu kepada Utari.


"Bang! Ada Mbak Ratih nihhh, nyariin abang!"


Aska baru sadar, ada orang yang memanggilnya dari luar.


"Iya! Bentar!" Aska langsung berdiri dari jatuhnya, dan berlari ke arah pintu.


Jegrekkkkkkk


Aska membuka pintu kamar kosannya, mendapati dua wajah manusia yang melongok kaget ke arahnya.


"Bang Aska habis makan apa?" tanya Heru, yang dari tadi memanggil-manggil Aska atas dasar suruhan Ratih.


Gadis syar,i di samping jauh Heru juga melongok heran. Kenapa bibir kekasih hatinya terdapat noda merah yang cemong-cemong.


"Lap bibirmu!" Utari menepuk bahu Aska, dan menyodorkan selembar tisu basah ke arah Aska.


"Siapa itu Mas!" Ratih seketika langsung bertanya.


Utari yang awalnya tak peduli akan keberadaan manusia-manusia di sekitarnya, segera melongok keluar pintu saat mendengar suara Ratih.


"Wahhhhhhh, Si Bangsat Gila itu mereingkarnasi kalian dalam waktu yang bersamaan?!" Utari kembali murka dan mengutuk makhluk yang telah mengutuknya. "Aku tak percaya!".


"Mas, jelasin! Siapa wanita ini?" tanya Ratih pada Aska.


Wajah imutnya yang cantik jelita sudah berkaca-kaca.


"Tega kamu Masssss!" Ratih menjerit kecewa karena ulah Aska.


"Bercinta dari Hongkong, baju kita ajaaaaa...!" ucapan Aska terhenti, karena tiba-tiba busana di tubuhnya berubah menjadi sehelai handuk yang melingkar di pinggang.


Sama halnya dengan Utari yang berdiri disampingnya, selembar handuk hanya menutupi kemolekan tubuh gadis cantik itu.


Aska tak bisa berkata-kata lagi, sebab apa pun penjelasan yang dia ajukan pada Ratih. Tak akan mempan mengobati rasa kesal dihati wanita lemah lembut itu.


"Kauuuuu!!!" Aska berteriak geram pada Utari.


"Kenapa?" Utari dengan sok bodoh bertanya pada Aska. Gadis Iblis itu juga telah merubah kembali busana yang Aska dan dirinya kenakan.


"Apa kau sangat mencintainya?" tanya Utari pada Aska.


"Bukan masalah itu, apa yang akan Ratih dan Heru pikirkan tentang diriku? Mereka akan berpikir aku lelaki mata keranjang!" Aska benar-benar kehabisan kesabaran.


"Dari dulu kau mata keranjang! Trima saja!" Utari malah menanggapi kemarahan Aska dengan santai.


"Jelaskan padanya, jika tak ada apa-apa di antara kita!" Aska meminta pada Utari dengan nada memaksa dan kasar.


"Kenapa harus aku? Kau bisa menjelaskannya sendiri!" Utari tak mau kalah dari Aska.


"Kauuu!!!" Aska mengangkat tangannya hendak menampar Utari, Utari hanya terdiam tanpa mengalihkan pandangannya pada Aska.

__ADS_1


"Sudahlah...," Aska menyerah, dia tak mungkin memukul seorang wanita. Meskipun wanita yang ada di hadapannya itu adalah iblis


"Baik, akan kuhapus ingatan Kirana tentang hal tadi! Tapi kau juga harus mengabulkan satu permintaanku nanti!" Utari segera pergi dari kamar Aska dengan cara berteleportasi.


Utari sudah tak tahan dengan perkataan Aska, yang begitu sangat membela dan mencintai Ratih. "Harusnya di masa lalu, kau jujur seperti ini! Jadi aku tak perlu kehilangan satu-satunya sahabatku!". gumam Utari.


Wanita Iblis berbaju merah,  terlalu mini sudah berada di sebuah gang. Dan dari arah berlawanan terlihat Ratih berlari sambil menangis tersedu-sedu.


Utari segera menghentikan Ratih yang berlari terburu-buru. "Tak terjadi apa-apa di kosan Aska, kau kesana dan pulang tanpa hasil, karena Aska tidak ada di tempat!" kata Utari pada Ratih yang berhenti dari larinya, karena sihir Utari.


Setelah mengatakan itu, Utari kembali berteleportasi ke rumahnya. Dia sangat lelah, karena perasaannya selalu naik turun ketika bertemu Aska.


.


.


.


.


MAS KAMU DIMANA?


MAS TADI SAYA KE KOSAN, TETAPI MAS ASKA TIDAK ADA DI RUMAH. BISAKAH MALAM INI MAS ASKA KE RUMAH, BAPAK INGIN MENANYAKAN TENTANG JAWABAN MAS ASKA.


Sebuah pesan singkat muncul di ponsel Aska, dia membelalakkan matanya lebar-lebar. Aska tak percaya Ratih mengirimi pesan singkat secepat itu.


"Ternyata gadis gila bernama Utari itu, benar-benar bukan manusia! Tapi kenapa Ayah mau menjodohkan putra tercintanya, dengan makhluk astral seperti Utari?"


"Apa jangan-jangan Ayah punya perjanjian goib! Utari itu pasti sejenis Jin!"


"Jika tidak mana mungkin semua ini terjadi?! Gadis gila itu pasti Hantu gila!"


Aska berbicara sendiri, karena dikamarnya hanya ada dia seorang diri.


"Tapi kalau Utari adalah Hantu, kenapa semua orang bisa melihatnya?" Aska bingung.


"Lebih baik aku mandi dan sholat, dengan sholat pasti pikiranku kembali jernih!"


Aska tak menunda waktu lagi, sebab Adzan Ashar sudah berkumandang nyaring, menyejukkan hati dan pikiran.


Aska tak pernah percaya dengan hal-hal goib. Tetapi mulai hari ini, Aska akan selalu memikirkan tentang kejadian siang ini bersama Utari.


.


.


.


.


Bergaya kolonial moderen, sebuah kamar dengan nuansa merah bata bercampur warna emas yang elegan. Dua pilar besar menancap tegak di tengah-tengah, dihiasi ornamen-ornamen bergaya viktoria.


Dinding sekeliling Merah bata yang berukir warna emas, bagaikan dinding kamar sang pengusa Eropa di abat pertengahan. Lampu kristal berdiameter satu setengah meter, dan setengah meter. Mengantung di tengah, dan setiap sudut kamar.


Lantai marmer, beralaskan karpet bulu singa dan harimau asli. Kasur King Size berseprai sutra india yang bernotif gahar namun berwarna-warni.

__ADS_1


Kelambu emas desain merek interior ternama, memgantung selaras dengan pilar besar.


Kamar mewah yang berdesain membulat, dengan kasut tidur diletakkan di tengah-tengahnya. Lukisan kolonial dengan nuansa darah mengelilingi, seakan pemiliknya teropsesi pada kekerasan.


__ADS_2