
"1000 tahun?" Aska tertegun.
Siapa yang menyangka akan bertemu makhluk hidup berusia lebih dari 1000 tahun. Sementara makhluk hidup itu masih terlihat begitu segar dan muda.
Utari berhenti menua sejak usianya 17 tahun, tepatnya setelah dia bunuh diri di padang ilalang.
"1000 tahun?" Aska bertanya pada Utari dengan mimik sedih.
Harusnya Aska tak sedih, tetapi kenapa akhir-akhir ini dia mudah sedih.
"Jika kau ingin membunuhku, bantu aku menumbuhkan bunga di pohon sialan ini!" ucap Utari. "Karena hanya bunga-bunga di pohon ini, yang bisa membunuhku!" lanjut Utari.
Utari sama sekali tak takut mati, sebab dia merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia yang amat luas ini.
Dia hanya menunggu kematian, hari demi hari. Seolah hanya kematian yang bisa membebaskan dirinya dari kutukan.
Aska terdiam mematung, dirinya seolah terjatuh kedalam jurang yang dalam. Saat Utari bilang tentang kematian.
Tiba-tiba dia begitu sangat sedih, padahal harusnya dia bahagia jika Utari mati. Tidak ada yang akan mengganggu dirinya dan keluarganya lagi.
"Sudahlah... Jika pun kau ingin membantuku, aku jika tidak mau!" Utari menghela nafasnya panjang-panjang karena kesal pada Aska, yang tiba-tiba membalas ciumannya dengan ciuman panas yang sangat mengg@irahkan. "Berciuman denganmu, benar-benar tidak nyaman sekali bagiku!".
Siapa yang ingin berciuman dengan orang, yang pernah mengejar-ngejar dirinya untuk dibunuh. Bahkan seekor kucing akan takut dengan majikannya yang suka menyiksanya, apa lagi manusia.
"Apa kamu bilang?!" Aska marah pada Utari, tapi Guru Matematika itu sadar, jika dia tak punya hak untuk marah pada Utari.
Meski berciuman dengan Utari mempunyai sensasi memuaskan di hati Aska, Aska tak boleh merasa marah. Karena bagaimana pun, Aska dan Utari tidak mempunyai ikatan apa-apa. Bukan makhluk yang sejenis dan juga mereka tidak mempunyai takdir untuk bersama.
Utari sudah jengah berdebat dengan Azka, dia segera membawa Aska teleportasi lagi ke rumah mewah milik Aska. Aska masih merasa pusing dan mual, ketika setelah melakukan teleportasi.
Lelaki gagah itu bahkan jatuh tersungkur, karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Kali ini Utari membiarkan Aska terjatuh ke lantai, sebab Utari masih memiliki urusan lain bersama Vero.
Utari melangkahkan kakinya menuju pintu, ruang kerja Ayah Aska yang sudah kosong. Sementara Aska masih mencoba untuk bangkit, sambil memegangi kepalanya yang sangat pusing.
"Berani-beraninya kau memainkan lidahmu di dalam mulutku! Dasar bajingan mesum!" gerutu Utari kesal.
Hampir saja gadis iblis itu berharap, jika Aska adalah Salendra. Seberapa besar keinginan mereka untuk saling membunuh di masa lalu, namun mereka pernah menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.
Ciuman yang amat mengairahkan dari Aska, membuat Utari merasa dicintai lagi oleh Salendra. Tetapi kenyataannya lelaki yang mencium Utari adalah Aska.
Karena reingkarnasi, bukan berarti orang yang sama dan dilahirkan kembali.
__ADS_1
Salendra pasti telah menebus dosa-dosanya di kehidupan lampau, dihilangkan ingatannya dan dilahirkan kembali. Artinya meski Aska reinkarnasi Salendra, Aska bukanlah Salendra.
Utari segera membuka pintu ruang kerja ayah Aska yang sudah berada di hadapanya, gadis iblis itu tidak mau berlama-lama berada di rumah keluarga Harsono. Tepatnya Utari ingin sekali jauh-jauh dari Aska.
Jegrekkkkkk
Saat Utari membuka pintu ruang kerja Ayah Aska, pintu itu terbuka. Namun yang ada di depan pintu bukanlah lorong kosong yang menghubungkan setiap ruangan di rumah Aska.
Tetapi yang ada di hadapan Utari adalah kamar Vero.
Satu lagi anugerah yang diberikan Dewa kepada Utari. Utari dapat melewati dimensi mana pun, hanya dengan membuka pintu yang ada di dekatnya.
Utari segera menutup pintu, dan melangkah menelusuri kamar Vero.
Ruangan besar bergaya minimalis, dengan banyak peralatan elektronik rumahan berteknologi moderan di dalamnya. Satu set sofa berwarna abu-abu muda menyambut Utari, lalu hordeng-hordeng putih dihiasi garis-garis hitam abstrak tak beraturan. Dinding putih yang berpadu dengan warna abu-abu, serta ranjang dengan seprai klub bola favorit Vero yaitu Juventus.
"Ternyata dia benar-benar masih bocah ingusan!" ujar Utari.
Utari mendengar suara gemericik air di kamar mandi berhenti. Ternyata Vero baru selesai mandi.
Vero yang sudah selesai mandi langsung keluar tanpa mengerti jika di dalam kamarnya ada seorang gadis cantik yang menunggunya. Jadi PakBoy SMU NEVERLAND itu hanya mengenakan seutas handuk untuk menutupi area berbahayanya.
"Aku Utari, calon istrimu!" kata Utari tanpa basa-basi.
"Hehhhh?!" Vero sangat terkejut.
"Kamu Utari, yang dijodohkan denganku?!" Vero langsung berkata dengan bahasa formal, meninggalkan aksara gaul anak jakselnya yang kental.
"Iya!" Utari langsung mendekati Vero.
Vero hanya bisa terpaku, karena dirinya langsung terpesona pada kecantikan Utari yang diluar nalar manusia.
"Boleh aku menciummu?" tanya Utari.
Tanpa mendapat ijin dari Vero, Utari langsung nyosor duluan. Utari hanya ingin, lelaki lain bisa mengantikan Aska yang mirip Salendra. Karena Utari hampir tak sanggup menahan diri, saat Aska membalas ciumannya tadi.
Utari dengan aktif mengecup bibir muda Vero, Vero yang masih kaget hanya terpaku. Tetapi lama-lama, siapa yang bisa menolak manisnya ciuman dari wanita cantik.
Vero mulai mengimbangi kecupan-kecupan Utari padanya, kedua tangannya sampai berani menyusup di tengkuk dan pinggang Utari yang ramping.
~♡~
__ADS_1
Hanya ada satu hal yang ingin kubuang, yaitu ingatanku tentang dirimu, Salendra.
Aku mohon jangan pernah muncul lagi dihadapanku.
Matilah sebagai pria brengsek yang haus akan harta. Agar aku hanya bisa mengingat tengang dirimu seperti itu, selama hidupku.
Kencana Utari
~♡~
Gubrakkkkkkk
Pintu kamar Vero dibuka paksa oleh Aska, padahal tidak dikunci. Lelaki gagah itu, menerobos masuk saat Vero dan Utari masih berciuman.
Seakan tak mendengar suara pintu dibanting, Vero dan Utari masih saja melanjutkan aktifitas mesum mereka di hadapan Aska.
"Lepaskan adikku!" teriak Aska.
Tanpa peduli lagi nikmat-nikmatnya, Aska segera melerai ciuman antara adiknya dan Utari.
Usaha Aska membuahkan hasil, Aska berhasil memisahkan bibir Utari dari bibir muda adiknya. Tetapi, Vero yang merasakan nikmat dunia yang luar biasa, masih mupeng dan mencoba menarik tubuh Utari lagi.
Tetapi Aska mencegah Vero, dengan cara mendorong tubuh Vero. Vero yang mempunyai gerakan refleks yang bagus, segera memasang kuda-kuda agar tak jatuh.
Tetapi karena kuda-kuda di kakinya terlalu lebar, sehelai handuk yang dipakai Vero jatuh mengelayut ke lantai.
Huwahhhhhhhh
Hanya tersisa belalai gajah Vero yang sedang berdiri dengan pose tegang-tegangnya.
"Ukurannya lumayan!" kata Utari yang ikut memperhatikan belalai Vero.
"Tutup matamu!" entah kenapa Aska malah meraih kepala Utari dan menutup kedua mata indah gadis iblis itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa kau menutup mataku?!" Utari tentu saja marah.
"Jangan lihat!" Aska seperti menganggap Utari seorang gadis di bawah umur yang tidak boleh melihat belalai lelaki.
"Cepat pakai handukmu lagi, Vero!" perintah Aska, yang langsung dituruti oleh adiknya.
"Ini bukan pertama kalinya aku melihat alat reproduksi pria! Ingat usiaku sudah 1017 tahun! Aku bukan bocah!" Utari menampik tangan Aska, agar tak menghalangi pandanganya.
__ADS_1