Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Air Mata


__ADS_3

Air mata Ratih menetes tanpa henti, dia merasa sangat kecewa dengan kata-kata kasar Aska.


Lelaki yang dia percaya sebagai tumpuannya, nantinya. Malah memperlakukannya begitu kasar.


Apa benar Aska hanya ingin mempermainkannya saja dan tidak ingin menikahi dirinya. Seperti kata orang-orang di sekitarnya.


Aska yang tidak mempunyai latar belakang yang jelas, serta tingkah laku Aska yang dulunya sangat tercela. Mungkinkah Aska belajar agama Islam hanya untuk mendekatinya dan mempermainkannya.


Seperti lebah-lebah yang bertebaran di kebun bunga, menghisap madu sang bunga lalu meninggalkannya.


Harusnya Ratih merasa bersyukur karena dia bisa terlepas dari jerat kepura-puraan Aska. Tetapi kenapa dirinya sekarang sangat kecewa, dia kecewa karena Aska tak peduli lagi padanya.


Ratih tidak pernah seegois ini, gadis solehah itu tidak pernah mendambakan apa pun sampai sedalam ini, sampai-sampai merasa sakit hati karena kehilangan sesuatu itu.


Apakah ini yang dinamakan cinta, yang tidak harus dimiliki oleh manusia terhadap satu orang saja.


Kenapa dirinya sangat mencintai Aska, kenapa Aska terlihat tidak asing di matanya. Serasa dirinya pernah melewati sebuah masa bersama lelaki itu.


Sebuah kenyataan yang tidak pernah bisa dia ingat, membuatnya membeku dalam ketidaktahuan. Hanya ada rasa, tetapi tidak ada nyatanya.


Ratih merasa dirinya mengambang di awan, tidak bisa berpijak ataupun terbang jauh dari tempatnya.


Dia tidak bisa memaksa Aska untuk segera menikahinya, tetapi Ratih juga tidak bisa melepaskan Aska begitu saja.


Apa lagi tentang permintaan bapaknya, yang menyuruhnya untuk segera memutuskan Aska jika lelaki itu tidak mau segera menikahinya. Ratih tidak bisa melawan Ayah kandungnya hanya demi lelaki yang baru beberapa bulan dia temui, namun kenapa perasaannya sangat berat untuk kehilangan Aska.


Di dalam kamarnya, yang dia biarkan lampunya meredup, untuk mendukung suasana hatinya yang sedang kelam. Ratih hanya bisa menahan isak-tangisnya agar suara sedihnya tidak terdengar dari luar dan membuat ibunya mengkhawatirkannya secara berlebihan.


Ibu mana yang tidak akan khawatir, jika anak gadis satu-satunya menangis merintih sepanjang hari.


Ratih juga malu untuk mengatakan pada ibunya, jika dia menangis seperti itu hanya karena putus dari Aska.


'Saya harus ikhlas! Jika Mas Azka bukan takdir saya, saya tidak bisa memaksakan kehendak saya seperti ini!' Ratih meyakinkan dirinya sendiri di tengah-tengah tangisnya.


.


.


.


.


Tubuh Aska penuh dengan peluh, kaus oblong putih yang ia pakai pun sudah basah kuyup karena keringat mengucur deras dari sekujur pori-pori di tubuhnya.

__ADS_1


Tubuh gagah perkasa yang berotot besar dengan keadaan sehat walafiat milik Aska, entah kenapa bergetar hebat seperti orang yang kekurangan gizi.


Berlindung dibawah selimut dengan wajah pucat pasi. Pancaran sinar mata Aska yang biasa tegas dan berkarisma, sudah berubah sayu kelelahan.


Dua hari dua malam guru matematika itu, tidak tidur dan juga tidak makan, serta tidak berani keluar dari kamarnya. Sebab banyak sekali hantu yang mengikutinya.


Hantu-hantu sangat tertarik jika ada manusia yang bisa melihat mereka. Mereka akan mengikuti manusia yang dapat melihat makhluk halus, agar mereka mendapatkan bantuan dari manusia tersebut.


Alasan manusia yang mati menjadi hantu adalah karena mereka, masih mempunyai keinginan yang belum tersampaikan di dunia fana ini.


"Tolonggggg bantuuuuu sayaaaaa, masssss!" beberapa hantu merintih di dekat Aska, dan mengatakan kalimat ini berulang kali.


"Massss Askaaaaaa!" bahkan meraka tau nama Aska.


"Masssss!!! Banttuuu kami!"


Suara-suara permohonan dari banyak hantu itu membuat Aska tak bisa berpikir apa-apa. Telinganya hanya bisa mendengar suara rintih tangis hantu-hantu yang meminta tolong kepadanya.


"Utari! Tolong aku!" ucap Aska tanpa sengaja.


Sudah dua hari dua malam Aska berusaha untuk tidak menyebutkan nama gadis iblis itu. Tetapi siapa lagi yang akan dia minta tolong saat keadaannya seperti ini.


Aska terpaksa memanggil nama gadis iblis itu dan berharap Utari akan datang.


"Kau cukup keras kepala!"


"Utari!" seru Aska dengan penuh harapan, namun lelaki gagah itu masih belum mau membuka selimut dari tubuhnya.


"Buka selimutmu! Mereka semua sudah pergi, kok!" kata Utari.


"Kamu bohong!" Aska masih tak mau membuka selimut yang menutupi dirinya.


"Nggak percayaan banget dehhh!" Utari yang sudah kesal dengan tingkah kekanakan Aska, segera menarik selimut dari kepala Aska.


Namun Aska yang juga menarik selimutnya agar tetap menutupi dirinya, malah membuat Utari yang bobotnya lebih ringan darinya jatuh ke pangkuannya.


"Bodoh sekali, kamu!" Utari yang jatuh kepangkuan Aska, ingin segera berdiri.


"Tunggu!" ucap Aska, dengan wajah membeku namun memandang Utari dengan tatapan yang tajam.


"Apa?!" Utari malah ditarik lagi oleh Aska, sehingga tubuh mungil Utari meringkuk di atas pangkuan Aska.


"Mereka semua benar-benar pergi?" tanya Aska.

__ADS_1


"Iblis saja tidak mau berdiri di dekatku, apa lagi cuma hantu kacangan seperti mereka! Mereka akan pergi jika ada dariku!" kata Utari.


"Syukurlah!" Aska Akhirnya bisa menghela nafas lega.


Utari ingin berdiri lagi namun lagi-lagi Aska mencegahnya.


"Apa lagi?!" Utari mulai kesal kepada Azka.


"Kau yang membuatku bisa melihat hantu, kan?" tanya Aska pada Utari yang masih berada di pangkuannya.


"Kenapa emang?!" Utari sama sekali tidak takut dengan mimik wajah mengancam Aska.


"Pokoknya kembalikan aku seperti orang normal lagi!" pinta Aska dengan nada mengancam.


"Tidak bisa!" ucap Utari.


"Kenapa nggak bisa? Kamu pasti bohong, kan?!"


"Tidak ada anugerah Dewa yang bisa dicabut!" kata Utari.


Dari mimik wajah Utari, terlihat jelas bahwa Utari sepertinya tidak berbohong kepada Aska.


"Di film-film bisa kok!" kata Aska.


"Ya... Kalau gitu kamu main film aja sana!" kata Utari yang sudah berhasil berdiri tanpa gangguan Aska lagi.


"Terus gimana? Aku selamanya bisa melihat hantu?!"


"Nikmati saja! Banyak manusia yang ingin mempunyai kemampuan seperti itu. Harusnya kamu bersyukur bisa melihat hantu," Utari mengatakan hal ini dengan nada menggoda ke Aska.


"Bagaimana aku bisa menikmati?! Jika hantu yang kulihat semuanya mengerikan!!!" Aska terlihat benar-benar ketakutan.


Utari sangat senang, ternyata Salendra bereinkarnasi sebagai pria pengecut yang takut hantu. Jadi dia tidak perlu membuat dosa besar untuk mengerjai reinkarnasi musuh bebuyutannya itu.


"Sebenarnya tidak hanya menakutkan, sih!!! Ada beberapa hantu yang mempunyai kekuatan yang sangat menakjubkan, mereka bisa membunuhmu jika mereka mau!" Utari malah menghasut pikiran Aska untuk menambah rasa takut di hati pria gagah tersebut.


"Apa???" Aska langsung mendekik ketakutan dan mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar kosannya yang sempit.


Dia tidak ingin mati sia-sia diterkam hantu penasaran.


"Arwah yang mempunyai dendam yang sangat mendalam, biasanya akan memiliki kekuatan dari iblis!" ucap Utari. "Lalu menghindari para malaikat pencabut nyawa, yang bertugas mengurusi jiwa-jiwa mereka!" lanjut Utari.


"Malaikat pencabut nyawa?" tanya Aska, tubuh gagahnya kembali ke bergetar.

__ADS_1


Mendengar kata hantu saja dia sudah merinding ketakutan, apa lagi sekarang Utari malah membicarakan tentang malaikat pencabut nyawa.


"Jalan terakhir jika jiwa pendendam itu tidak bisa ditangkap juga! Maka jiwa itu akan menjadi milikku!" kata Utari dengan senyum yang haus akan darah." Dan menjadi bahan bakar api neraka!".


__ADS_2