
"Ternyata Tuhan tak sepenuhnya baik padamu!" gumam Utari.
Menyadari bahwa Azka terlahir tanpa benang takdir, membuat Utari sedikit merasa senang. Ternyata Tuhan tidak hanya menghukum dirinya. Tetapi Tuhan juga telah menghukum orang yang mendesaknya, melakukan kejahatan yang sangat luar biasa di masa lalunya.
"Apa yang sedang direncanakan Tuhan untukmu?!" Utari masih bergumam sendiri dengan senyuman yang sangat manis.
Melihat Utari tersenyum seperti itu, Aska benar-benar tidak bisa memperhatikan hal lain. Termasuk Ratih yang sedang berbicara di depannya.
"Sebaiknya kita putus," Ratih bicara lagi pada Aska.
Anak gadis satu-satunya Haji Rojak itu, sebenarnya sangat enggan memutuskan hubungan pacarannya dengan Aska. Tetapi melihat Aska yang akhir-akhir ini mengabaikannya, membuat Ratih memutuskan sebuah keputusan yang dia tahu akan dia sesali nantinya.
"Hehhhh, apa dek Ratih?!" Aska sedikit terkejut, tetapi entah kenapa hatinya terasa biasa saja saat Ratih Mengatakan kata 'putus'.
"Kita putus aja Mas! Sebab berpacaran itu hanya menimbulkan dosa dan saya tidak berani menanggung dosa sebesar ini!" jelas Ratih, gadis cantik itu masih berharap Aska akan menikahinya secepatnya.
Bukannya memandang ke arah Ratih yang sedang bersedih karena dirinya, Aska malah memandang ke arah Utari yang tersenyum tak percaya ke arahnya.
"Ku pikir kau wanita yang paling polos sedunia! Tapi ternyata kau sangat jago merayu lelaki!" Utari mengomentari tindakan yang dilakukan oleh Ratih yang sedang memancing Aska, agar Aska mau menikahi Gadis itu secepatnya. "Trikmu lumayan juga!" lanjut Utari.
'Meskipun aku harus dibakar di neraka 1000 tahun, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bersama dengan bahagia!' batin Utari.
"Kita tidak melakukan apa-apa, bagaimana kita bisa dosa?!" tanya Aska.
"Pacaran bisa menimbulkan fitnah, mas!" kata Ratih, air matanya sudah berlinangan membasahi wajah ayunya.
"Bagi manusia... Agama itu hanya sebuah tameng, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan!" ucap Utari yang hanya bisa didengar oleh Aska saja.
Aska yang merasa tidak bisa fokus dengan Ratih, segera mengangkat tangannya meletakkan jari manisnya di bibirnya. Menyuruh agar Utari diam dan tidak ikut campur lagi dengan urusannya bersama Ratih.
"Jika memang apa yang dikatakan oleh semua agama itu nyata?! Apakah makhluk sepertiku, bisa berkeliaran bebas di dunia ini tanpa rasa takut?" Utari juga ingin memprovokasi Aska.
"Jika memang Mas Aska tidak ingin menikahi saya, sebaiknya Mas Aska melepaskan saya!" kata Ratih, perkataannya timbul tenggelam karena dia sudah terisak.
"Kita bisa melangsungkan pesta pernikahan bersama! Jika kau ingin menikahi Ratih!" kata Utari yang malah sibuk memperhatikan nail art di kukunya.
"Berhentilah bicara, dan pergi yang jauh dari hidupku!" Aska yang sudah kesal membentak Utari.
__ADS_1
Tetapi karena Ratih merasa hanya ada dirinya dan Aska di area itu, Ratih salah paham jika yang dibentak oleh Aska adalah dirinya.
"Apa? Mas Aska???" Ratih tak percaya jika Aska tega membentaknya sekasar itu.
Apakah permintaan untuk menikahinya, adalah sebuah penghinaan bagi Aska.
"Dekkkkkk Ratih... Mas Aska nggak mbentak kamu, dekkkk!" teriak Aska.
Namun kata-kata pembelaan dari mulut Aska, tidak dihiraukan lagi oleh Ratih yang sudah terlanjur sangat kecewa pada guru matematika itu.
"Baik, kalau begitu saya pergi dari sini! Dan saya tak akan mengganggu Mas Aska lagi!" Ratih yang sudah menahan kekecewaan di dalam hatinya, segera berlari pergi menjauh dari Aska.
"Dekkkkk Ratih!!! Dengerin Mas Aska bentar Dekkk!!!" tidak mungkin Aska tidak mengejar kekasih hatinya yang sedang salah paham kepadanya.
"Jangan kejar dia! Karena kita punya sedikit urusan!" kata Utari pada Aska.
"Minggir!!!" bentak Aska pada Utari. Ia segera menyingkirkan tubuh Utari yang menghadangnya, untuk mencoba mengejar Ratih.
"Tumbuhkan semua bunga di pohon kutukanku! Lalu akan kubiarkan kau dan penghianat itu hidup bahagia!" kata Utari.
Aska membeku, tidak bisa bergerak karena terpengaruh mantra yang sebelumnya telah dipasang oleh Utari.
"Lepaskan aku!" Aska kembali berteriak kepada Utari.
"Satu-satunya manusia yang tidak ingin ketemui lagi... Adalah dirimu! Aku juga tidak ingin berada di sekitarmu!" Utari tersenyum kecut karena takdirnya dengan Salendra ternyata belum berakhir. "Kau boleh tidak setuju, tetapi aku adalah orang yang sangat mengerikan ketika marah!" ujar Utari.
Meskipun Utari harus menahan semua amarah di dalam dirinya, tetapi Utari tidak bisa melepaskan Salendra begitu saja. Karena lelaki ini adalah satu-satunya kunci agar dia bisa mati.
Alhasil Utari memberikan satu kelebihan goib kepada Aska.
Utari mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aska, yang masih membeku di tempatnya. Karena lelaki itu tidak bisa bergerak karena mantra yang diucapkan oleh Utari sebelumnya. Lalu dengan sangat lembut Utari meniup kedua mata Aska.
Aska tak mungkin tak mengedipkan matanya, saat angin lembut dari mulut Utari berhembus ke arah.
"Karena kau menyuruhku pergi! Aku akan pergi!!! Bayyyyy!" dengan senyuman yang sangat bahagia Utari meninggalkan Aska sendirian di sana.
Tampaknya kelebihan gaib yang diberikan oleh Utari, kepada Aska bukanlah sebuah hadiah yang akan membuat Aska bahagia.
__ADS_1
.
.
Setelah Utari pergi dari hadapan Aska, Aska baru bisa menggerakkan lagi tubuhnya.
"Keparat!!! Astagfirullah aku tidak boleh mengumpat lagi mulai sekarang!" Aska memperingatkan mulutnya sendiri. Sebab Ratih tidak suka jika ada orang yang mengumpat, jadi selama ini pasca berusaha untuk tidak berkata-kata kasar.
Namun siapa yang bisa bertahan tak mengumpat, jika berhadapan dengan ulah jail Utari.
Aska segera menggerakkan langkah kakinya, untuk mengejar Ratih yang pastinya belum jauh dari sana.
"Dek Ratih!" Aska memanggil Ratih, padahal sosok gadis lemah lembut itu tidak ditangkap sedikitpun oleh netra Aska.
Namun tiba-tiba Aska menghentikan langkahnya, karena dia merasakan ada yang meminta tolong kepadanya. Meski suara wanita yang meminta tolong itu sangat lirih, tetapi telinga Aska yang peka segera menangkap rintihan menyedihkan wanita itu.
"Mas tolong saya massss!" suara wanita dengan nada menyedihkan itu semakin jelas, menggema di telinga Aska.
Aska biasanya sangat mementingkan Ratih, apa pun yang Ratih katakan, bak perintah bagi Aska. Tapi entah kenapa saat ini, Aska merasa perhatiannya pada Ratih mudah sekali teralihkan.
Seperi sekarang 'suara minta tolong' dari seseorang yang pastinya tak ia kenal saja, bisa membuat Aska lupa. Jika dia harus menenangkan hati Ratih yang tengah salah faham terhadapnya.
"Massss ganteng...! Tolongggg sayaaaa massss!" suara wanita bernada merintih yang memilukan itu terus terdengar di telinga Aska. "Masss saya di selokan ini lho masssss!".
Aska menahan nafasnya dan tidak berani bergerak sedikit pun. Hati kecilnya sudah merasa, bahwa siapa pun yang mengeluarkan suara rintihan yang mengenaskan itu bukanlah manusia.
Tubuh Aska memang gagah perkasa, namun dia tidak bisa sedikit saja berurusan dengan hal-hal semacam hantu dengan wajah mengerikan. Aska hanya menyukai hal-hal yang indah saja.
"Massss tolong massss....placeeeeee massss!" tubuh tinggi berotot Aska tiba-tiba bergetar.
'Kenapa aku bisa mendengar suara hantu selokan itu?' batin Aska yang sudah ketakutan.
'Enggak... Aku kan nggak bisa lihat hantu! mana mungkin bisa dengar suaranya. Pasti dia orang...!' Aska mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Dengan penuh rasa ketakutan Azka akhirnya menoleh ke belakang, di mana asal suara wanita yang sangat menyedihkan itu berasal.
"Massssss!" wanita itu berkata dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Akkkkkkkkk!!!"