Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Antara Murit Dan Guru


__ADS_3

"Antara murit dan guru, tidak boleh ada hubungan yang rumit!" ujar Aska, dengan nada tegas.


"Huhhhhhhahhh!" semua siswa perempuan di dalam kelas segera mengeluh kecewa.


Para gadis hanya punya satu harapan, agar bersekolah di SMA NEVERLEND yang begitu mahal ini, selain mereka bisa bertambah pintar. Yaitu, bisa dekat dengan Pak Aska. Guru Matematika tampan, kaya raya dan sangat jenius.


"Apa bapak sudah punya pacar?" seorang siswi berperawakan bak model catwalk, bertanya pada Aska.


Wajah serius Aska yang dibingkai dengan kaca mata, langsung berubah ekspresi.


"Itu rahasia saya!" jawab Aska.


"Akhhhhhhhh, bapak!!!" lagi-lagi semua siswa perempuan di kelas itu mengeluh kesal karena jawaban Aska.


Aska melihat arloji di pergelangan tangan kanannya. "Kalau tak ada yang ditanyakan lagi, pelajaran hari ini cukup sampai di sini!". Aska mengitari seluruh ruangan kelas dengan kedua bola matanya yang tegas tapi sendu.


Dari rautnya, dia sangat ingin, jam pelajaran segera usai. Sebuah urusan keluarga sedang menantinya. Adiknya yang masih duduk di kelas Tiga SMU, dijodohkan oleh orang tua mereka.


Aska baru mendapat kabar tersebut dari pesan singkat yang dikirim oleh Pak Bowo, kepala rumah tangga di rumah ayahnya.


Karena di usir oleh ayahnya, Aska keluar dari rumah mewah keluarganya dua tahun yang lalu. Alasannya karena dia, tak mau dijodohkan dengan seseorang.


Dan hari ini, adiknya malah mau dijodohkan juga. Aska tak mungkin bisa tinggal diam.


Vero adiknya, hari ini tak masuk sekolah. Kata Pak Bowo, Vero harus menghadiri pertemuan kedua keluarga dengan calon tunanganya siang ini. Aska harus mencegah, perjodohan gila adiknya.


Bagaimana bisa lelaki berusia 17 tahun dijodohkan, untuk segera menikah.


Tettttttt


Tettttttt


Tettttttt


Akhirnya bel tanda pelajaran usai, berbunyi juga. Aska tak mengubris apa pun lagi, ia segera keluar dari kelas dan berlari ke arah kantor guru, untuk mengambil tasnya.


Cuaca hari ini begitu cerah, tetapi di dunia Aska sedang banyak petir dan gemuruh.


Dia cerdas sejak lahir, dan dia bukan lelaki yang mudah emosi. Tapi jika hari ini seseorang menyinggungnya, maka bisa dipastikan Aska akan langsung marah. Guru Matematika itu tak punya toleransi sama sekali, hari ini.


Apa yang dipikirkan oleh orang tuanya, sampai-sampai memaksa Vero untuk menikah di usia yang masih sangat belia.


Yang Aska tau, orang tuanya cukup berpikiran terbuka, dan tak pernah memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak mereka. Tetapi kenapa, ayahnya sangat keras, jika menyangkut perjodohan. Apa ada rahasia yang disembunyikan ayahnya darinya.


Sebelum menaiki motor metik merah cerahnya, Aska memeriksa ponsel pintarnya. Karena ada getaran khusus, yang menandakan bahwasanya ada pesan seseorang yang masuk ke dalam perangkat digital yang ia simpan di kantung celananya.


Ada dua pesan, satu dikirim oleh Pak Bowo dan yang satu dikirim oleh Ratih, pacar Aska.


Aska memandang ke arah lain sambil menghela nafas, dia sudah tau, apa kira-kira isi pesan dari Ratih untuknya.

__ADS_1


Aska enggan membuka pesan singkat dari Ratih, jadi Aska membuka pesan singkat dari Pak Bowo duluan.


Ternyata Pak Bowo meamberikan alamat lengkap, dimana Vero dan keluarga besar Harsono akan bertemu dengan Keluarga besar calon tunangan Vero.


"Aku hanya butuh waktu 15 menit untuk kesana, kalau nggak macet!" gumam Aska, sambil mematikan layar ponsel pintarnya.


Aska mengabaikan pesan singkat dari Ratih.


Bukannya Aska tak menghargai Ratih, tetapi Aska hanya belum punya jawaban atas desakan keluarga Ratih yang adalah keluarga santri.


Benar, Aska didesak ayah Ratih untuk pernikahan juga. Padahal baru tiga bulan Aska dan Ratih saling kenal, dan sebulan yang lalu mereka berdua memulai untuk pacaran.


Bagaikan geranat, jatuh di depan mukanya. Mereka bahkan belom pernah bergandengan tangan secara sengaja. Tetapi pihak keluarga Ratih meminta Aska untuk segera 'Menikahi' putri mereka.


"Apa menikah adalah hal yang sangat penting???" Aska mengerutu kesal di dalam helmnya, sebab dia sudah memacu motor metiknya menuju alamat yang dikirim oleh Pak Bowo.


.


.


.


.


Ratu Galuh sedang memandang keluar jendela, di sebuah ruangan VIP restoran megah.


Sebab tak ada satu, manusia pun yang ada di tempat itu.


Ratu Galuh menghela nafasnya dengan frustasi, jelas sekali jika dia tak menyukai sesuatu yang akan dia lakukan di ruang mewah restoran berkelas itu.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan restoran VIP itu terbuka, seorang pelayan lelaki muncul diikuti oleh Utari.


Ratu Galuh, memandang Utari dengan tatapan iba sejenak. Lalu Ratu Pantai Selatan itu merubah ekspresinya sebelum Utari menyadari.


"Kau mengenakan gaun semacam itu, untuk bertemu calon mertuamu?" tanya Ratu Galuh.


Pakaian yang dikenakan Utari memang terlalu seksi.


Crop top merah tanpa lengan, dipadu dengan rok sepan di atas lutut kotak-kotak bernuansa merah. Serta topi polisi berwarna merah juga, membuat Utari terlihat seperti bintang porno yang akan melakukan aksi di depan kamera.


"Ini gayaku, jika mereka tak suka! Apa boleh buat?" Utari menjawab dengan santai.


Tanpa aba-aba dan ijin dari Ratu Galuh, Utari langsung duduk di salah satu kursi yang membelakangi pintu masuk ruangan.

__ADS_1


"Aku lupa, kalau kau adalah manusia paing keras kepala di dunia ini!" Ratu Galuh hanya bisa pasrah.


"Mereka belum datang juga?!" Utari sudah mulai kesal.


"Mereka sudah datang kok, tenanglah sedikit!" Ratu Galuh menenangkan hati Utari.


Tok


Tok


Tok


Pintu kembali terbuka, pria pelayan tadi masuk lagi, di ikuti dengan beberapa orang.


Damar Sutras Harsono, pria 50 tahunan yang kelihatan masih gagah dan tampan. Penampilannya rapi, ia memakai jas berwarna biru dongker yang amat pas di tubuh tuanya.


Dania Harsono wanita 50 tahunan juga yang bisa dibilang awet muda. Cocok memgenakan gaun ungu muda bunga-bunga.


Serta Kurnia Harsono wanita tua di kursi roda, terlalu tua untuk ukuran manusia. Sebab usianya sudah 99 tahun.


Juan Vero Harsono, pria muda yang masih berusia 17 tahun. Masih terlalu manis, untuk dijadikan mainan senggang Utari.


"Silahkan masuk!" Ratu Galuh menyambut keluarga Harsono dengan sangat ramah.


Satu persatu, mereka duduk, dan Vero yang baru duduk di depan Utari segera terpesona dengan aura Utari. Aura yang biasanya membuat semua manusia takut pada gadis iblis itu.


"Kau tampan sekali Vero!" Ratu Galuh memuji Vero dengan tulus.


"Utari juga sangat cantik!" ujar nenek Kurnia yang duduk di kursi roda.


"Tentu saja! Adikku ini adalah wanita tercantik di alam semesta ini!" timpa Ratu Galuh.


"Bagaimana Vero?" Nenek Kurnia bertanya pada Vero yang masih terkesima dengan kecantikan Utari, yang memang tak ada tandingannya di dunia ini.


"Vero!!! Nenek memanggilmu, nak!" Dania segera menyentuh bahu putra keduanya, dengan lembut. Sebab Vero terdiam karena terlalu fokus memandangi Utari.


"Aku paling benci dipandangi, dengan tatapan seperti itu!" kata Utari pada Vero.


"Nggak!!! Aku nggak akan memandangmu dengan tatapan seperti ini lagi!" ujar Vero dengan nada gugup.


"Hahahhahahaaaaaa! Sepertinya mereka cocok!" Ratu Galuh, mencairkan suasana dingin yang diciptakan Utari.


"Bagaimana Vero, apa kau mau dijodohkan dengan Utari?" tanya Dania pada putranya.


"Akuuuuuuuuuu..."


Guprakkkkkkkkkkkk


"Aku nggak setuju!" teriak Aska, nafasnya masih kalang kabut karena dia berlari, dan sedikit memghajar beberapa staf restoran, agar dia bisa masuk ke ruangan VIP.

__ADS_1


__ADS_2