
Hidup Abadi, artinya bukan kau tak makan lalu kau tetap sehat.
Utari masih mempunyai manusia biasa pada umumnya, tetapi dia mempunyai anugrah meregenerasi sel-selnya dengan cepat. Ia juga tak bisa mati, meski jantung atau kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Meskipun begitu Utari masih butuh makan dan oksigen untuk memelihara tubuhnya supaya tetap setabil.
Utari bisa merasakan rasa sakit, perasaan apa pun seperti manusia biasa.
Tetapi hidup selama 1000 tahun, membuatnya menjadi sosok iblis yang sesungguhnya.
Karena dia tak bisa lupa akan kejahatan seseorang padanya. Dendam yang membara itu masih ia pendam di dalam hati terdalamnya.
.
.
.
.
"Kakak sudah gila?"
Utari sudah sampai di Istana Ratu Pantai Selatan yang berada di kedalaman laut lepas.
Istana megah yang dilapisi emas murni di setiap sisinya, yang pernah membuat Utari kalap. Gadis Iblis itu pernah mencuri satu pilar, di istana Ratu Pantai Selatan.
Tetapi setelah sampai di darat, pilar besar yang terbuat dari emas itu berubah menjadi batu. Alhasil, sampai sekarang Utari tak ingin mencuri apa pun lagi, dari siapa pun juga.
"Cobalah dulu!" suara lembut dengan intonasi kejawen yang kental, membuat Utari merasa bersalah, telah membentak sosok yang amat penting dalam hidupnya itu.
"Kak! Sepertinya aku terlalu tua untuk hal itu!" ujar Utari dengan gelagat manja.
"Kalau begitu, jangan pernah mengeluh! Tentang pohon kutukanmu yang tidak kunjung berbunga!" Ratu Pantai Selatan pasti sudah sangat kesal, karena setiap kali Utari berkunjung ke tempatnya. Utari hanya akan membicarakan tentang pohon kutukannya, yang masih kering seperti pohon yang telah mati.
Utari hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Jika dia tidak boleh berkeluh kesah tentang pohon kutukan kepada Ratu Galuh, lalu dengan siapa lagi dia bisa mengeluarkan unek-unek gilanya.
Siapa yang bisa diajak berbicara tentang pohon kutukan kering tanpa daun, yang masih berdiri tegak kokoh selama 1000 tahun, meski tak pernah disirami air atau pun di pupuk. Manusia biasa pasti akan menganggap siapa pun 'Sinting', jika membicarakan hal seperti itu.
"Ok fine! Tapi menikah...," Utari masih tak percaya dengan ide gila, satu-satunya makhluk yang sangat ia hormati itu. "Membayangkan menjadi istri seseorang saja, aku nggak pernah!" keluh Utari.
"Wahhhh, kau membuatku merinding Utari!" Ratu Pantai Selatan berdiri dari singasana megahnya.
__ADS_1
Ia menghampiri Utari dengan cara melayang terbang di udara, tanpa penopang.
"Setidaknya kau hidup selama 17 tahun sebagai manusia biasa! Masa kau tak pernah jatuh cinta dengan seorang pria pun?!" tanya Ratu Pantai Selatan.
Seperti yang diketahui oleh halayak ramai, Ratu Pantai Selatan alias Nyai Roro Kidul. Selalu memakai gaun tradisional berwarna hijau, dengan mahkota emas yang dihiasi bunga melati.
Utari terdiam sejenak, dia memikirkan beberapa momen masa lalunya yang tak akan pernah ia lupakan.
"Tidak pernah!" kata Utari, tetapi ekspresi di wajahnya tak bisa menipu siapa pun.
Dia pernah merasakan perasaan indah yang seperti bunga mekar di musim salju itu, terhadap seseorang. Tetapi perasaan cintanya terhadap seseorang itu, hanya sebuah angan-angan belaka.
"Berhentilah mengelaka! Dan bukalah hatimu lagi!" Ratu Pantai Selatan memberinya nasehat, mengiring Utari yang bergaun merah moderen, ke arah Pesanggrahan di mana Nyi Roro Kidul sering beristirahat.
"Aku sering membukanya, tapi aku hanya mendapatkan kekecewaan!" Utari mengeluh lagi.
Dia memang tidak bisa berbohong kepada Ratu Galuh, sebab Ratu Galuh tahu benar seperti apa jalan hidup Utari, ketika putri kerajaan itu masih menjadi manusia biasa.
"Ini!" Ratu Galuh memberikan sepucuk kartu nama.
Hal yang amat langka, biasanya Ratu Pantai Selatan itu tidak pernah menyentuh barang-barang modern. Tetapi demi Utari, Ratu Galuh mau capek-capek mencarikan jodoh, untuk wanita berusia 1017 tahun itu.
"Dia putra kedua di sebuah keluarga, di dalam kartu nama itu!" ujar Ratu Galuh.
"Semoga pohon kutukanmu segera berbunga, agar kau bisa meminta sebuah permintaan!" Ratu Galuh menepuk kedua bahu Utari yang sudah duduk manis di hadapannya.
Kedua Manusia setengah Iblis itu duduk berhadapan, di pinggiran gazebo megah dengan pemandangan terumbu karang yang amat luar biasa.
.
.
.
.
"Menikah?" Hiroshi, Maya dan Pak Jarwo serentak berteriak.
Para hantu-hantu yang ditugaskan oleh Utari menjaga rumah megahnya yang Goib, malah bergunjing ria di halaman belakang rumah Utari.
"Apa mungkin Ndoro Utari mau menikah?" tanya Pak Jarwo, pada rekan-rekan sependeritaanya, sebab melayani Utari bukan-lah sebuah perkara mudah.
__ADS_1
"Ndoro sangat benci manusia! Jadi Ndoro Utari nggak bakal mau menikah!" sahut Hiroshi si hantu Jepang yang sangat tampan.
Salah satu tugas Utari adalah mengurus perjanjian-perjanjian Goib, antar manusia dan lelembut jenis apa pun. Arwah-arwah manusia yang membuat perjanjian dengan iblis, akan dijadikan budak di Alam Buana, alam yang terletak diantara Alam Manusia dan Alam Baka.
"Mungkinkah 'Cinta' yang akan memekarkan bunga di pohon kutukan!" Maya si kuntilanak pemalu yang rambutnya sangat panjang.
"Cinta...Adalah sebuah keajaiban bagi umat manusia, dia datang bagai angin lembut dipagi hari.
"Menyejukkan hati, mengelitik asa..." Pak Jarwo mulai bersyair ria.
Pak Jarwo memang pria yang lembut dan penuh gairah akan cinta, sebab dia adalah Pengsiunan khasanova jaman Belanda. Puluhan wanita entah dari ras nusantara atau negri kincir angin, telah menjadi korban budak cinta Pak Jarwo di jamannya.
"Ndoro Utari tak akan menikah!" ujar Mbok Jumi dengan lantang dan percaya diri.
Jawabanya seolah adalah jawaban paling mutlak.
"Kenapa?" Maya si kunti pemalu sampai menyibakkan rambut brekelenya.
"Jika pun ada lelaki yang mau menikahi Ndoro Utari, apa mereka bisa bertahan dengan sifat Ndoro kita itu?" Mbok Jumi malah bertanya balik kepada kawan-kawannya.
Serempak, semua hantu di tempat itu, menggelengkan kepalanya.
Siapa yang akan bisa hidup dengan wanita seperti Utari. Selain gadis cantik itu bukan manusia, tetapi hatinya yang sekeras batu. Sangat tega dan tak punya perasaan sama sekali. Tak ada manusia, yang akan bisa bertahan hidup bersama Utari meski sehari saja.
.
.
.
.
"Jika ada yang tak kalian mengerti, bisa langsung tanya pada bapak!" kata Aska seorang Guru Matematika SMU NEVERLAND, sambil melihat ke arah dimana semua anak muritnya duduk untuk menerima penjelasan mata pelajaran darinya.
Seorang siswi dengan dandanan cukup tebal, langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Jika 5x dikali 8y adalah 120, maka berapa nomor WA bapak?" tanya Mutia dengan begitu lantang.
Lelaki dengan tubuh tegap, dengan wajah tampan serta otak brilian. Tak ada satu wanita-pun di dunia ini, yang bisa menolak kharisma Juan Aska Harsono.
Mendengar pertanyaan anak muritnya yang begitu rendom, Aska tampak sangat tenang. Ia tak tersipu, padahal jelas sekali jika gadis belia bernama Mutia, sedang menyatakan ketertarikan padanya secara terang-terangan.
"Kalian punya nomor layanan NEVERLAND, kalian bisa menghubungi saya dari nomor itu!" ucap Aska dengan wajah masih saja berseri-seri.
__ADS_1
"Saya sudah 1000 kali menelfon! Tapi mereka nggak bisa menghubungkan saya kepada bapak!" Mutia masih tak menyerah.
Wanita berdarah muda itu tampaknya tak ingin gagal, dia sudah memberanikan mental mudanya, untuk menembak gurunya di depan umum. Jadi kepalang, sekalian malu-maluin.