
Utari berdiri diam, padahal gadis iblis itu tak suka menyia-nyiakan waktu. Meski dia tau, waktu yang dia punya, tidak ada batasnya. Selama dia ingin gidup, maka dia akan tetap hidup.
Dari kecil Utari sudah belajar untuk tak menyia-nyiakan waktu. Utari sudah dididik dengan ketat dengan sangat disiplin. Ayahnya tak akan memberinya kelongaran, meski dia hanya anak kedua yang berjenis kelamin perempuan. Seseorang yang tak bisa menaiki tahta, atau bertanggung jawab atas kerajaan.
Karena didikan ayahnya itu, di usia 15 tahun, Utari sudah bisa menguasai ajian elemen es yang sulit dipelajari.
Tetapi Aska sudah menguncang hati Utari. Lelaki tampan itu sangat menggangu akal sehat Utari.
Selama 1000 tahun dia menanti kelahiran kembali, lelaki yang dibencinya itu. Tetapi, kenapa dia masih saja tergiur akan perasaan cintanya. Bukankah dirinya membenci leleki itu, tapi kenapa, setiap saat Utari selalu rindu akan sosok Salendra yang mencintainya dengan tulus.
Padahal Utari tahu, jika ketulusan cinta Salendra pada Utari kala itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Dendam karena lelaki itu membantaian keluarganya, waktu 1000 tahun yang amat panjang, ternyata masih saja tak bisa menghapus rasa cintanya pada Salendra.
"Jelas-jelas dia pembohong! Tapi kenapa aku masih saja mempercayai kebohongannya!" gumam Utari.
Utari selalu membayangkan, apa yang akan dia lakukan, jika lelaki itu lahir kembali dan bertemu dengannya.
Dia sudah memutuskan untuk membuat hidup Salendra menderita, dia harus membuat hidup lelaki penghianat itu, hanyalah berisi tentang penyesalan.
"Ndoro...Ndorooooo Utariiii!" Mbok Jumi buru-buru memasuki kamar mewah Utari.
"Ada apa?!" tanya Utari pada Mbok Jumi.
"Pohonnnn...!" Mbok Jumi masih mengatur nafasnya karena ia baru saja berlari dari lantai bawah menuju kamar Utari.
"Kenapa pohonnya?!" Utari membentak Mbok Jumi yang masih terbata karena mengatur nafas.
"Pohon kutukannya, berbunga!" akhirnya Mbok Jumi mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Apa, pohon sialan itu???" Utari sangat terkejut, sampai dia lupa jika dia adalah salah satu Dewi Penjaga yang mempunyai sihir tinggi.
Gadis berusia 1017 tahun yang masih terlihat seperti gadis 17 tahun itu, berlari kencang dengan sepatu hak tinggi yang dari siang ia kenakan.
Nafasnya sampai tersenggal, tetapi langsung tertahan karena keindahan bunga pohon kutukan yang baru mekar. Beberapa pucuk bunga di salah satu ranting, berkerlip seperti serbuk berlian menyelimutinya.
Warnanya ungu muda, dan beberapa pucuk mulai mekar di depan mata penghuni rumah Utari.
"Indah sekali!" Maya si kuntilanak pemalu, yang selalu menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. Bahkan tak segan mendongak karena siapa pun tak akan bisa bertahan, dengan pesona indah bunga pohon kutukan.
Utari yang sudah 1000 tahun menanti, pohon kutukannya berbunga. Berjalan terbata, untuk mendekati pohon kutukannya.
"Akhirnya kau berbunga juga!" ujar Utari dengan senyum yang tertahan.
360.000 hari lebih ia hidup di dunia, hanya hari ini dia merasa ingin hidup. 1000 tahun bukan waktu yang singkat, tapi tetap saja kurang bagi hati manusia.
__ADS_1
'Apa yang harus aku lakukan?' tanya Utari dalam hati.
Mata indahnya masih menatap tajam, ke arah bunga mekar di atas pohon kutukannya.
'Apa ajalku sudah dekat?
'Apa aku harus mati, sekarang!
'Aku tak boleh egois lagi! Aku memang harus mati!
'Akhirnya aku bisa mati!' batin Utari, kini gadis iblis itu tersenyum lebar.
Senyum yang amat manis dan begitu tulus, keindahan bunga di pohon kutukan saja kalah dengan manisnya senyum Utari. Sebab Hiroshi, Maya, Mbok Jumi dan Pak Bowo yang ada di sana, pandangan mereka teralihkan dari bunga pohon kutukan, ke senyum Utari yang sangat menawan.
"Kurasa Ndoro Utari dikutuk Dewa, karena mempunyai senyum yang terlalu manis!" ucap Pak Bowo yang sudah sangat terkesima dengan senyum indah Utari.
"Tidak! Aku dikutuk karena aku membunuh terlalu banyak orang yang tidak berdosa!" jawab Utari dengan nada lembut yang menghanyutkan.
Padahal Hiroshi, Mbok Jumi dan Maya, sudah pada mengerubungi Pak Bowo. Mereka semua berusaha menutup mulut ember bocor Pak Bowo.
Reaksi lembut Utari sangat tak biasa, biasanya gadis iblis cantik itu akan langsung murka jika ada seseorang menyinggung tentang kutukan yang ia dapat.
"Tapi kini aku bisa mati dengan tenang!" ucap Utari, yang sedang sangat bahagia.
Dia telah melupakan akan perasaan anehnya pada Aska. Ia harus mati, agar bisa reingkarnasi dan melupakan kisah kehidupannya yang begitu panjang dan kelam.
Beban akan dendam, rasa sakit, darah-darah yang bercucuran, teriakan pilu orang-orang yang pernah ia bantai. Selalu menghantui Utari di setiap harinya.
Dia hidup dengan rasa ingin mati, dan diampuni. Setelah 1000 tahun, akhirnya dia punya kesempatan.
"Dewa Agung, kenapa kau mempertemukan mereka kembali? Setelah sekian lama...,"
"Aku punya kuasa yang besar, tapi aku tak bisa melawan satu hal!"
"Apa itu?"
"Keteguhan hati manusia!"
"Keteguhan hati???"
"Hati di dalam jiwa manusia, bisa merubah segalanya! Bahkan sesuatu yang telah kutakdirkan untuk mereka!
"Mereka yang punya keinginan yang kuat, dan hati yang teguh...Pasti bisa merubah takdir hidup mereka!
"Seperti halnya Utari dan Salendra yang sudah terpisah karena ketamakkan.
__ADS_1
"Benang merah jodoh mereka terputus, saat salah satu dari mereka membuat kesalahan fatal.
"Tapi keteguhan hati Salendra yang merana selama ini, mengugahku!
"Dia ingin menebus kesalahannya pada Utari dimasa lalu!
"Bukankah aku harus memberi kesempatan untuk jiwa-jiwa yang punya keteguhan?!"
"Apa anda percaya, Salendra akan menebus kesalahannya pada Utari?"
"Tidak! Maka dari itu kita lihat saja.
"Seberapa teguh-kah Salendra?!"
"Bagaimana jika Salendra menyakiti Utari lagi??? Apa anda tak menaruh rasa kasian pada gadis muda itu?"
"Utari bukan gadis muda yang keras kepala seperti 1000 tahun yang lalu, lagi! Jangan cemas, Utari pasti bisa mengatasinya!"
Rumput liar bergoyang mengikuti arah mata angin berhembus. Udara dingin memyengat kulitnya, hingga giginya gemeratak. Tetapi langkah kakinya tetap tegas, dan sangat kokoh.
Aska kembali bermimpi, dia merasa berada di tubuh seseorang.
Lagi-lagi, Aska bertemu dengan Utari yang mengenakan pakaian kuno. Kali ini pakaian kuno yang Utari pakai sangat lusuh. Begitu sangat kotor dengan noda darah yang hampir menutupi tubuh gadis cantik itu.
Bau darah menyengat keras di hidung Aska. "Gila! Baunya nggak enak banget!" batin Aska.
Tetapi tubuhnya seolah tak merasakan bau apa pun, kakinya terus melangkah, meski rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.
Penglihatannya lurus hanya tertuju pada satu orang, meski mayat-mayat dengan luka sayatan pedang yang fatal, berserakan di sekitarnya.
Utari, gadis cantik itu berdiri dengan nafas terengah, tubuhnya yang sangat ramping mencari tumpuan. Karena semua mayat yang bergelimpangan di sana, pembunuhnya adalah gadis iblis dengan mata sendu yang penuh dendam itu.
Dia kelelahan, karena pada saat itu, Utari masihlah manusia biasa, yang tenaganya bisa habis kapan saja.
"Apa kau baru puas, dengan membunuhku?!" kata gadis cantik dengan noda cipratan darah, melumuri setiap area luar tubuhnya.
Aska ingin menghentikan tubuhnya, karena melihat Utari yang sudah tidak berdaya. Tetapi tubuhnya malah berlari ke arah Utari sambil mengayunkan pedang panjang yang tajam.
'Kenapa kau masih di sini??? Kenapa kau kembali lagi??? Pergilah yang jauh! Menjauhlah dariku Utari, aku mohon!! Karena aku bukanlah Salendra yang dulu lagi!'
Aska bisa mendengar perkataan Salendra di dalam hatinya.
"Suara siapa ini?" Aska hanya bisa melihat lurus kedepan. Memandang tajam ke arah Utari.
Siatttttttttt
__ADS_1
Salendra mengarahkan pedangnya ke arah Utari dengan sekuat tenaganya.