
"Bagaimana kau bisa tahu tentang Utari?" Damar tentu saja kebingungan, karena Aska yang belum pernah bertemu dengan Utari, sudah mengetahui identitas Utari yang bukan manusia biasa.
"Ayah pasti tidak ingat, apa yang terjadi tadi siang?!" Aska berkata dengan emosi yang dia tahan.
Damar menggertakkan giginya untuk menahan emosinya juga.
"Kau ingat tentang kejadian tadi siang?" Damar malah balik bertanya pada putranya.
"Tentu saja aku masih ingat! Gadis iblis itu mencekikku dan mendorong tubuhku sampai menghantam dinding. Bagaimana mungkin aku tidak mengingat perlakuan sekasar itu?!" kata Aska.
"Bagaimana mungkin kau masih ingat, tentang kejadian siang tadi?!" Damar segera mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang di ponselnya.
"Kau tidak perlu menelpon siluman ular itu, aku yang akan membereskan putramu ini!" suara seorang wanita tiba-tiba menggema di ruangan kantor Damar, yang hanya berisikan dua orang lelaki.
Utari muncul dengan gaun yang lebih sopan, meski potongan panjangnya masih tak menutupi dengkul mulusnya.
Di antara kaget dan juga perasaan aneh yang sedang menguasai Aska. Aska hanya bisa memandangi Utari dengan tatapan kebingungan.
"Ratu Kanaya sudah berjanji kepada saya, jika dia tidak akan pernah membunuh kedua Putra saya! Tolong Dewi Penjaga mengampuni kedua nyawa putra saya ini!" Damar langsung bersujud di depan Utari.
"Aku tidak akan membunuhnya! Karena dia masih ada gunanya untukku!" ucap Utari yang mengarahkan pandangannya kepada Azka secara intens.
Aska yang sedang memandang Utari dengan tajam juga membuat Damar semakin ketakutan.
"Jangan menatap Dewi Penjaga dengan tatapan seperti itu!" Damar yang dikenal sangat tegas pada siapa pun, terlihat sungguh tak berdaya di depan Utari. "Maafkan kelancangan putra saya, Dewi!".
"Aku akan memakluminya, tapi akan kupinjam anak ini sebentar! Aku harus memastikan sesuatu!" kata Utari, yang langsung menyelimutkan asap putih di tubuhnya dan di tubuh Aska. Karena Utari ingin mengajak Azka ke rumahnya, dengan cara berteleportasi.
Aska yang baru pertama kali melakukan teleportasi, merasakan pusing yang amat sangat di kepalanya. Sampai-sampai tubuhnya oleng saat sudah sampai di rumah Utari, untung Utari dengan sikap menopang tubuh Aska.
Meski tubuh Aska jauh lebih besar dari tubuh Utari, Utari bisa dengan mudah menopang tubuh kekar Aska.
"Trimakasih!" ucap Aska tulus. Tetapi detik berikutnya Dia merasa ingin menarik ucapan terima kasihnya kepada Utari yang telah menolongnya. Karena dia hampir terjatuh juga, karena ulah Utari yang tiba-tiba membawanya melakukan teleportasi.
Tapi sebelum Aska mengatakan apa pun lagi, Utari sudah membungkam mulut Aska dengan bibirnya.
"Emmmmmm!" Aska tentu saja kaget, ia langsung memegangi kedua bahu Utari untuk melepas ciuman Utari yang mendadak sekali.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aska yang berhasil mendorong Utari menjauh darinya, meski hanya beberapa senti saja.
"Menciummu!" kata Utari sangat santai.
"Hehhhhhh, kau gila?!" Aska yang biasanya, bisa menolak dengan mudah wanita-wanita yang mengodanya. Kini kebingungan karena hati dan pikirannya berjalan tidak selaras.
__ADS_1
Entah kekuatan Aska yang melemah atau Utari yang memang terlalu kuat untuk Aska. Dengan mudah Utari membuat Aska menundukkan kepalanya, dan ia segera kembali menciumnya.
Satu kecupan.
Kedua mata Aska masih melotot, karena meski mendapatkan peringatan terlebih dahulu dari Utari, dia tetap terkejut.
Llllumatan kedua.
Aska berusaha untuk menjauhkan tubuh Utari dari tubuhnya, tetapi kekuatan Utari bukanlah tandingan Aska.
Lllllumatan ketiga.
Aska mulai menyerah untuk bergerak, dia memutuskan untuk diam saja sampai Utari melepaskannya.
Luuumatan keempat.
Hati Aska goyah, detak jantungnya meningkat secara signifikan.
Lummmatan kelima.
Entah kenapa, Aska mulai menikmati kecupan-kecupan lembut yang diberikan oleh Utari di bibirnya.
Luuuuumatan keenam.
Utari dan Aska sama-sama memejamkan mata mereka, sampai Aska menekan tubuh Utari ke arah tubuhnya dengan paksa. Ciuman lembutnya, membuas secara gila-gilaan.
Utari sadar, siapa pun yang sekarang menciumi bibirnya dengan gila, bukanlah Aska, tetapi Salendra.
Utari segera mendorong tubuh Aska menjauhinya. "Brengsek!!!" teriak Utari.
Aska terkejut lagi, dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Aska merasa bahwa ada orang lain yang menghuni tubuhnya, yang hanya bereaksi kepada Utari.
"Itu bukan aku!" ucap Aska.
Mata Utari sampai berkaca-kaca, karena dia tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya.
Dia ingin sekali membunuh sosok Aska yang merupakan reinkarnasi Salendra. Tetapi dia juga membutuhkan lelaki itu untuk membuat pohon kutukannya berbunga.
Utari yang masih menahan emosi di dalam dirinya, mengalihkan pandangannya dari Aska, ke arah pohon kutukan yang berdiri tegak di sampingnya.
Benar saja bunga-bunga mulai mekar memenuhi ranting yang sama, dengan bunga yang tumbuh beberapa jam yang lalu.
"Pohon apa ini?" tanya Aska.
__ADS_1
Baru pertama kali Aska melihat pohon kutukan milik Utari, tetapi dia merasa begitu sedih. Bahkan, tanpa sadar Aska menitikan air mata dari pipinya.
"Kenapa kau menangis?!" tanya Utari pada Aska.
"Enggak, aku hanya kelilipan!" kilah Aska.
Lelaki gagah yang tidak punya rasa takut seperti Aska, tentu saja sangat gengsi.
Meski baru saja dia mendapatkan pelecehan s€ksual dari Utari, hal semacam itu tidak bisa dia dapuk menjadi alasan, atas air matanya yang menitik tiba-tiba.
"Jadi benar! Pohon sialan ini hanga berbunga, setelah aku berciuman denganmu," kata Utari dengan nada lemah yang putus asa.
"Apa kau bilang??? Pohon ini berbunga, hanya setelah kau dan aku berciuman???" Aska makin terkejut mendengar pernyataan Utari barusan. "Memangnya ada pohon semacam itu?!" Aska tentu saja tidak mempercayai, tentang pohon yang berbunga hanya ketika sepasang manusia berciuman saja.
"Jangan-jangan...," Utari menerka di dalam hatinya, tanpa mempedulikan Aska sedikitpun.
"Apa?" tanya Aska binggung, sebab Utari tiba-tiba memandang ke arahnya.
"Pohon ini adalah milikku, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu! Artinya pohon ini akan berbunga jika aku mencium manusia!" Utari masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Sementara Aska tiba-tiba merasakan sebuah benda tumpul yang menusuk di dalam dadanya.
"Aku harus mencoba berciuman dengan pria lain!" ujar Utari. "Aku tak bisa berciuman lagi dengan manusia ini!" Utari tiba-tiba marah dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aska.
"Kau pikir aku juga suka, berciuman denganmu?" Aska mencoba menahan gejolak di hatinya yang semakin membara.
Hatinya tidak pernah berdebar seintens ini, meskipun berada di dekat Ratih. Apa dia sudah jatuh cinta pada wanita iblis itu, tanpa sepengetahuanya sendiri.
'Tidak!!! Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan wanita iblis ini!' teriak Aska dalam hati.
"Adikmu!" Utari tiba-tiba ingat tentang calon suaminya yang masih bocah.
"Kenapa dengan adikku?!" Aska segera menyahut perkataan Utari.
"Kelihatannya adikmu lebih bisa diajak kerja sama, dari pada kamu!" kata Utari. "Mari kembali ke rumah ayahmu!" Utari medekati Aska.
"Jangan sentuh adikku!" kata Aska.
"Dia sudah jadi milikku! Kau tak bisa mencegahku!" jawab Utari dengan senyuman menyeringai.
Gadis iblis itu sedang berharap, semoga saja Adik Azka dapat menumbuhkan bunga di pohon kutukannya. Jadi dia bisa menyiksa reinkarnasi Salendra, sembari bersenang-senang.
"Jika kau menyentuh rambut Vero sehelai saja... Aku akan membunuhmu!" ancam Aska.
__ADS_1
"Kau yakin bisa membunuhku?" tanya Utari. "Selama 1000 tahun aku hanya ingin mati! Tapi aku tak bisa mati!".