
Pilihan yang amat sulit bagi Bunga, karena dia baru saja tau. Jika lelaki yang dia cintai saat ini adalah Hendra, pemuda desa polos yang sangat memuja dia.
Hendra si sopir dunggu yang naif, lelaki kampung itu baru bekerja pada Bunga sekitar enam bulan yang lalu.
"Boleh aku tau siapa pria yang saat ini aku cintai?!" tanya Bunga pada Utari.
Sebab ada banyak pria yang sekarang sedang dekat dengan Bunga. Bunga berharap, lelaki yang saat ini dia cintai bukanlah Hendra.
"Dwi Hendra, usia 24 tahun, zodiak-nya pisces!" kata Utari.
Bunga hanya bisa menangis, bagaimana bisa dia menumbalkan pria tak berdosa seperti Hendra. Tetapi jika tidak...maka dirinya akan hidup dengan tubuh cacat seumur hidupnya. Bagaimana dia akan hidup jika dirinya cacat.
Meski sekarang dia kaya, tetapi jika dia cacat dan jelek maka Bunga akan kehilangan pekerjaannya sebagai artis nomor satu di Indonesia.
"Waktumu tak banyak lagi!" ucap Utari.
10 hari, adalah waktu yang dibutuhkan manusia untuk sedikit membayar dosanya pada tumbalnya. Utari yang mengusulkan tengang waktu 10 hari untuk para manusia. Karena siapa pun yang sudah menandatangani perjanjian dengannya, tidak akan bisa kabur dari Utari.
Utari ingin jika para kliennya menumbalkan orang lain, maka mereka bisa sedikit menebus dosa. Dan jika mereka meninggalkan diri mereka sendiri, mereka punya waktu bersenang-senang di dunia sebelum mereka mati dan terkurung selamanya di Alam Buana.
"Aku....Menumbalkan...," Bunga masih bingung, pilihan yang harus dia pilih saat ini, adalah pilihan terberat yang pernah pilih sepanjang hidupnya.
"Hendra," kata Bunga masih ragu.
"Baiklah!" Utari membuka buku kutukannya dan nama Dwi Hendra langsung tertulis dengan api neraka di kertas perjanjian milik Bunga. "Sampai jumpa dua tahun lagi!" lanjut Utari.
Utari hanya bisa tersenyum kecut, sembari berjalan meninggalkan Bunga yang masih menangisi keputusannya sendiri.
.
.
~UTARI~
1000 tahun lebih aku menjelajahi dunia, bertemu dengan banyak jenis manusia.
Tetapi aku paling benci pada manusia yang serakah.
Manusia serakah, mereka tak akan mau berkorban demi dirinya sendiri, apa lagi orang lain.
Mereka hanya memikirkan tentang keuntungan untuk diri mereka sendiri, tanpa peduli kerugian yang diderita orang lain karena ulah mereka.
Orang-orang seperti mereka harusnya tak dibiarkan hidup terlalu lama di dunia. Tetapi orang-orang serakah biasanya berumur panjang, entah kenapa. Mungkin karena insting bertahan hidup yang mereka miliki melebihi kecoak, hewan terkebal di dunia.
Aku sudah muak dengan dunia ini...
__ADS_1
Ditambah pria bajingan itu malah berreingkarnasi, dan hanya dia yang bisa menumbuhkan bunga di pohon kutukanku.
Ternyata Tuhan benar-benar sangat membenciku.
.
.
.
.
Teduh, indah dan bersahaja, suasana di depan Mushola Jami yang di cat dengan nuansa hijau. Tanaman bunga berbagai macam jenis tertanam rapi di setiap sudut pekarangan mushola bersejarah, dimana Aska pertama kali mengenal Ratih.
Aska memutuskan tak memakan buburnya yang sudah dia beli. Ia memilih langsung pergi menemui Ratih. Alhasil Aska ke Mushola sebelum Ratih.
Aska melihat sekeliling, dia jadi mengingat bagaimana ia pertama kali bertemu Ratih.
Bertemu di Mushola bukan berarti Aska adalah pria soleh sejak lahir. Aska bukan anak penurut, dan baik, meski jenius.
Dirinya dulunya adalah jagoan kampus, dan pemimpin sebuah genk motor saat SMU. Mabuk, berjudi dan dunia malam yang kelam adalah tempat Aska berlari ketika kesepian.
Tetapi kini dia bisa bangga karena, dengan bertemunya Aska dengan Ratih. Lelaki itu tau akan agama, dan Aska juga belajar dengan keras untuk mendalami agama Islam. Agama yang dulu hanya menjadi isian di salah satu kolom KTPnya.
Aska mabuk, dan tidur di Mushola. Tak ada yang berani membangunkan pria setengah gila itu, hanya Ratih yang berani.
Dia akan bicara pada Ratih secara pelan-pelan, dan menjelaskan sedetail mungkin alasan dirinya menolak permintaan Ayah Ratih untuk cepat menikahi gadis pujaan hatinya itu.
"Mas Aska sudah di sini!" suara lemah lembut nan indah Ratih, seketika menyita seluruh perhatian Aska.
"Iya, Dek Ratih! Ada yang mau mas omongin juga ke kamu!" ucap Aska dengan wajah berseri-seri.
"Apa ya mas?" tanya Ratih.
"Nanti sore Mas akan ke rumah Dek Ratih! Tapi Dek Ratih harus dengar dulu jawaban Mas, soal pertanyaan bapak!" kata Aska.
Ratih diam, matanya yang sayu dan begitu teduh, memandang Aska dengan penuh harapan.
"Maaf Dek! Mas Aska tidak bisa memenuhi permintaan bapak, untuk secepatnya menikahi Dek Ratih!" ucap Aska dengan hati-hati sekali, dia tak mau menyakiti hati Ratih.
Terlihat jelas raut wajah ayu yang kalem milik Ratih, menyiratkan kekecewaan yang amat mendalam. Harapannya untuk menikah dengan Aska, ternyata hanya angan-angan belaka.
"Mas belum siap! Keluarga mas, sedang dalam masalah besar! Jadi mas harus fokus pada keluarga mas dulu, untuk saat ini!" lanjut Aska.
Ratih menundukkan wajah cantiknya, untuk menyembunyikan matannya yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maafkan mas, ya dek!" kata Aska.
Ratih hanya diam, menahan isakan dihatinya.
Plok...Plok...Plok
Aska mendengar suara tepuk tangan dari arah pagar Mushola.
"Kalian drama sekali!" ucap Utari.
Pertemuan Utari dengan Bunga klien goibnya, ternyata berada di dekat kompleks yang ditinggali oleh Aska dan Ratih. Utari tak langsung pulang, wanita iblis itu berencana untuk menemui Aska terlebih dahulu.
'Sehari satu ciuman, mungkin itu akan lama. Tapi aku harus rutin mencium musuhku demi agar, aku cepat mati' Utari.
Perhatian Aska pada Ratih langsung buyar ketika melihat Utari. Tetapi kali ini, Aska akan mengabaikan Utari.
"Apa keputusan Mas Aska sudah bulat?" tanya Ratih pada Aska.
Aska malah mencoba mengusir Utari dan tak memperhatikan Ratih lagi.
"Mas!" Ratih meninggikan suaranya, karena Aska terlihat tak memperhatikannya.
"Apa yang...!" Ratih berbalik dan melihat ke arah pandangan Aska tertuju.
"Enggak ada Dek! Tadi Dek Ratih bilang apa yaaa?!" Aska memegang bahu Ratih, agar Ratih tak berbalik lalu menemukan Utari.
"Ada apa sih, Mas!" Ratih kekeh ingin tau, apa yang membuat Aska teralihkan perhatiannya.
Aska tak bisa mengunci pergerakan Ratih, karena baru kali ini juga Aska menyentuh bahu Ratih.
"Tidak ada apa-apa," Ratih ternyata tak bisa melihat Utari.
"Hehhhhh!!!" Aska terkejut karena Ratih tak bisa melihat Utari yang sedang berdiri tegak di belakang gadis soleha itu. "Emang nggak ada apa-apa kok, dek!" Aska segera memutupi semua kebohongannya.
Tetapi Aska tak bisa tenang, karena Utari berjalan perlahan ke arahnya. Sementara Ratih masih di hadapannya.
"Mas, kalau mas menolak menikah sekarang! Bapak minta, supaya saya memutuskan hubungan pacaran kita!" kata Ratih.
"Meski kalian lahir bersamaan, tetapi ternyata kalian tak jodoh!" Utari mengomentari hubungan pacaran antara Ratih dan Aska.
Apa pun yang dikatakan Utari hanya bisa didengar oleh Aska, dan sosok Utari saat ini, hanya bisa dilihat oleh Aska juga.
"Pergiiii kau!!!" Aska hanya mengerakkan bibirnya ke arah Utari, tanpa mengeluarkan suaranya.
"Jangan memaksakan kehendak! Kau ditakdirkan...!" Utari terdiam, karena saat melihat tangan Aska. Lelaki itu tak punya benang apa pun.
__ADS_1
Hantu saja masih punya benang takdir, dan Aska yang merupakan manusia yang masih hidup, bahkan tak punya benang takdir sehelai pun. Bagaimana mungkin Aska bisa bertahan hidup sampai sekarang, jika lelaki gagah itu tak punya benang takdir di tangannya.