Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Keceplosan


__ADS_3

"Aku juga pernah bilang-kan, pohon ini pernah gagal berbunga?!" kata Ratu Galuh.


"Aku lupa!" Utari mematung tak berdaya, dia begitu sangat bersemangat karena pohon kutukannya akhirnya berbunga juga.


Tetapi Bagaimana jika pohon kutukannya gagal berbunga, seperti apa yang pernah diceritakan oleh Nyai Roro Kidul kepadanya dahulu.


"Pohon ini berbunga, bukan karena pemiliknya ingin dia berbunga! Pasti ada satu alasan yang membuat pohon ini berbunga!" Ratu Galuh berlagak berpikir, padahal dia sudah tau apa yang membuat pohon kutukan Utari berbunga.


"Apa yang membuatnya berbunga?" tanya Utari pada pohon kutukannya yang masih berdiri tegak, sama persis seperti 1000 tahun yang lalu.


"Sebelum kita pergi ke restoran untuk bertemu keluarga Hartono. Apakah pohon ini sudah berbunga?" tanya Nyi Roro Kidul pada Utari, yang masih bingung mencari sebab pohon kutukannya berbunga.


"Belum!!! Sebelum pergi aku melihatnya dan dia belum berbunga!" kata Utari setelah mengingat-ingat kejadian kemarin. "Setelah Kakak membawaku ke istana Kakak, aku pergi ke tempat Macan Bodas! Setelah itu aku mengunjungi lelaki itu lagi!" jelas Utari sambil mengingat-ingat lagi.


"Lelaki itu??? Maksut kamu pria yang sangat mirip dengan Salendra kemarin?!" Ratu Galuh masih saja berpura-pura tidak mengerti apa-apa.


"Iya... Aku datang untuk membuat perjanjian gaib dengannya. Tapi kelihatannya dia terlahir sebagai manusia yang cukup tangguh!" Utari sedikit malu, sebab dia pernah berbicara kepada Ratu Galuh. Jika dia akan membunuh Sarendra begitu Salendra dilahirkan kembali.


"Apa yang kalian lakukan, saat kalian berdua bertemu?!" tanya Ratu Galuh.


Utari menyebabkan rambut sebelah kanannya, karena dia gugup. Dia tidak mungkin berkata jujur, jika dia berciuman dengan Aska di kontrakannya.


"Kami hanya berbicara biasa!" Utari mulai salah tingkah, dan Ratu Galuh menatap Utari dengan pandangan tidak mempercayai.


"Emmmmm... Aku sedikit mengancamnya sih!" Utari masih saja berbohong.


"Kau yakin kalian tak melakukan hal lain?!" Ratu Galuh mengoda Utari.


"Memang apa yang bisa kita lakukan? Kita saling membunuh dikehidupan lampau! Nasib baik aku tidak meruntuhkan bangunan kosan sempitnya!" Utari menjelaskan dan semakin gugup saja, sebab ingatannya hanya terpaku saat Aska tiba-tiba berubah menjadi sosok Salendra.


"Kosan sempit, yaaaa?!" Ratu Galuh masih betah mengoda Utari yang wajahnya sudah merah padam. "Anak jaman sekarang, suka kos-kosan yang sempit! Mereka banyak membuat tragedi di area semacam itu!".


"Usiaku lebih dari 1000 tahun, muda dari mana?!" Utari masih mencoba mengelak.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apa yang kau lakukan di kosan sempit, bersama pria yang mirip Salendra itu! Tapi kurasa!!!Apa yang kau lakukan dengan pemuda itu, ada kaitanya dengan bunga-bunga yang mekar di pohon kutukanmu ini!" Ratu Galuh menyimpulkan dengan impulsif.


1000 tahun, tak mungkin Utari tidak pernah berciuman dengan pria sama sekali.


"Aku harus menciumnya berapa kali, agar pohonnya penuh?!" Utari langsung lemas.


Dia tidak bisa membayangkan  harus mencium lelaki yang sangat mirip dengan musuh bebuyutannya, berkali-kali dengan hot.


"Kalian berciuman???" Ratu Galuh keheranan.


Padahal Ratu Pantai Selatan itu sudah menebak, akan terjadi huru-hara setelah Utari bertemu dengan reinkarnasi Salendra. Tetapi mereka malah berciuman, padahal di kehidupan lampau mereka hanya memikirkan tentang cara membunuh, satu sama lain.


"Akhhhhhh!" Utari baru sadar, kalau dia tak sengaja keceplosan. Berciuman dengan seseorang yang mirip Salendra adalah aib yang sangat memalukan, baginya.


"Bagaimana bisa kalian langsung berciuman, padahal kalian baru pertama bertemu?!" Ratu Galuh sama sekali tidak menyangka, jika mereka berdua melakukan hal sejauh itu.


"Aku tak tau!!!" Utari sangat frustasi dan mengacak-acak rambutnya yang panjang dan indah.


Ratu Galuh hanya bisa memandang nanar ke arah Utari, sedikit banyak Ratu Pantai Selatan itu tahu apa yang Utari tidak tahu tentang Salendra.


Lelaki itu, bukan sepenuhnya musuh Utari.


Megah dan mewah, kesan pertama yang akan kau dapat jika melihat halaman depan rumah keluarga Harsono. Mereka menguasai bisnis kontruksi di segala bidang. Mempunyai puluhan bangunan gedung apartemen dan juga pabrik-pabrik produksi semen dan beton.


Aska yang sudah dua tahun tak pernah menginjakkan kaki ke rumah itu segera disambut oleh Pak Bowo. Pak Bowo ini bukan hanya seorang pelayan biasa di rumah keluarga besar Aska. Tetapi Pak Bowo mempunyai posisi sebagai kepala rumah tangga. Seseorang yang bertanggung jawab untuk mengatur seluruh aktivitas ekonomi ataupun sosial, di dalam rumah konglomerat.


"Tuan muda sebaiknya tinggal di sini lagi!" Pak Bowo memulai pembicaraan, setelah mereka melepas rindu masing-masing dengan berpelukan.


"Aku hanya ingin bertemu Ayah sebentar, Pak!" kata Aska.


"Beliau ada di ruang kerjanya! Apa anda akan langsung ke sana?!" tanya Pak Bowo.


"Saya akan langsung kekantor Ayah, Pak Bowo bisa melanjutkan pekerjaan bapak!" ucap Aska dengan senyuman yang manis.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda! Jangan segan-segan menghubungi saya jika anda perlu bantuan apa pun. Saya pasti akan melakukan perintah anda!" Pak Bowo memang begitu sangat menyayangi Aska, sebab dirinya sudah bekerja di rumah keluarga Harsono semenjak Aska masih kecil.


"Trimakasih pak, Saya akan selalu menghubungi bapak!"


Setelah berbasa-basi dengan Pak Bowo, Aska segera berjalan menuju lantai dua di mana ruang kerja ayahnya berada.


Aska sama sekali tak merasakan keraguan apa pun, dia langsung membuka pintu ruang kerja ayahnya, setelah ia mengetuk pintu kayu jati besar, yang penuh ukiran burung garuda itu.


"Akhirnya kau datang juga!" ucap Ayah Aska, sepertinya lelaki setengah baya yang masih sangat gagah itu sedang menunggu Aska mengunjunginya. "Kau butuh sesuatu? Katakan!" lanjut Ayah Aska.


Sebagai seorang ayah, ia dengan senang hati menawarkan bantuan kepada putra pertamanya yang sangat dia diandalkan dahulunya.


"Utari! Gadis yang akan ayah jodohkan dengan Vero! Bukankah dia gadis yang akan ayah jodohkan denganku dua tahun lalu?!" Aska langsung meninggikan suaranya di depan ayahnya.


Damar hanya bisa terdiam, karena apa yang ditanyakan oleh Azka barusan adalah suatu kebenaran. Gadis yang akan dia coba jodohkan dengan putranya Aska dua tahun yang lalu, adalah gadis yang sama yang akan dia jodohkan dengan Vero putranya yang masih 17 tahun.


"Apa Ayah sudah gila?!" Aska semakin meninggikan suaranya, karena kediaman ayahnya.


Dengan berlagak diam seperti itu, Aska bisa tahu bahwa Utari benar-benar gadis yang akan ayahnya jodohkan dengannya dua tahun lalu.


"Jaga bicaramu, Aska!!! Bagaimanapun aku ini masih ayahmu!" Damar juga meninggikan suaranya.


Tak ada satu orang pun Ayah, yang mau dibentak oleh anaknya meskipun dia bersalah.


"Ayah mana yang tega menumbalkan putra-putra demi keserakahan?!" Bukannya menurunkan nada suaranya,  Aska meninggikan lagi suaranya, sebab amarah di dalam dirinya semakin membesar.


"Apa yang kau maksut, Aska?" Damar tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari mulut putra pertamanya.


"Utari... Gadis itu! Dia bukan manusia, kan?!" Aska semakin dikuasai oleh amarah.


Dia begitu sangat marah karena adiknya dijodohkan dengan Utari, yang sosoknya entah terbuat dari apa.


Tetapi saat Aska mengatakan dengan lantang bahwa Utari bukan manusia, hatinya terasa seperti dicambuk dengan keras.

__ADS_1


Kenapa hatinya ingin menampik fakta, bahwa Utari bukanlah manusia.


__ADS_2