Penjaga Alam Buana

Penjaga Alam Buana
Mata Warok


__ADS_3

"Jadi kau adalah...!" Warok dengan wajah penuh rambut, menatap lekat ke arah mata Aska.


Mata Warok yang seluruhnya berwarna hitam legam, bersemburat merah seperti api neraka yang berkobar. Wajah berbulunya tersenyum yang tak dapat dilihat, karena bulu-bulu di wajahnya terlalu tebal dan menutupi seluruh ekspresinya.


"Kauuuuuuu!!!" kata Siluman Warok, setelah melihat beberapa masa lalu Aska sebagai Salendra.


Seolah menemukan sebuah jawaban akan pertanyaan, siluman itu sedikit terkejut namun sesuatu telah mengganggu keterkejutannya.


Gubrakkkkkkkkk


Asap putih mengepul, memenuhi ruangan kosan sempit Aska. Kontak mata antara Aska dan Siluman Warok juga terputus.


Aska yang belum sepenuhnya sadar karena halusinasi dari Siluman Warok, hanya berdiri di tempatnya tanpa berkata-kata.


Sosok cantik berbaju kemeja putih, dengan celana gombrong merah yang sangat stylish. Berdiri tak jauh dari Aska.


"Apa tadi itu?" Aska bertanya pada dirinya sendiri.


"Siluman penghuni kos-kosan! Siapa lagi kalau bukan Siluman Warok!" jawab Utari atas pertanyaan Aska. "Ternyata kau! Siluman Warok yang suka mengunjungi kos-kosan yang hanya dihuni oleh pria saja!" gerutu Utari pada Siluman Warok, yang sudah tidak berada di area kamar kost Aska yang sempit.


"Uhukkkkkk... Uhukkkkkk... Uhukkkkkk!" Aska terbatuk.


Sebab asap putih yang mengepul di dalam kamarnya, bukanlah asap gaib yang tidak mempunyai rasa atau pun bau. Tetapi asap putih yang mengepul di dalam kamarnya adalah butiran reruntuhan tembok kos-kosannya yang sudah hancur lebur.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Aska pada Utari, sambil menutup mulut dan hidungnya dengan kedua telapak tangannya.


Utari menoleh kepada Azka yang berada di sampingnya lalu menjawab pertanyaan Aska. " Aku sedang bekerja! Kau pikir aku seseorang yang suka bermain seperti dirimu?".


"Kenapa kau melubangi dinding kos-kosanku?!" Aska ingin marah tapi dia tidak mungkin marah pada iblis, bisa-bisa yang akan berlubang selanjutnya adalah kepalanya.


"Ini bencana alam!" ujar Utari dengan mimik wajah yang santai sekali.


"Apaaaa??? Bencana alam???" Aska menggeleng tak percaya.


Tak ada angin tak ada hujan, tidak ada apa-apa yang terjadi. Tetapi kosannya porak poranda karena bencana alam. "Memangnya siapa yang akan percaya?" tanya Aska.


"Semua orang!" kata Utari. "Sial dia berhasil kabur lagi!" ucap Utari kesal.


Gadis iblis itu berjalan lurus ke arah reruntuhan kamar Aska yang sudah berlubang. Aska tentu saja mengikuti langkah Utari, dia tak mau ada hantu lain yang mengganggunya.


Tampaknya semua hantu takut kepada Utari yang begitu buruk temperamennya.


"Akhhhhhhhh, enakkkk Josssss! Terusss sayang sedikit lagi keluar gue!"

__ADS_1


Aska terdiam karena suara lelaki yang begitu merdu dan penuh g@irah itu adalah teman satu kosannya yaitu Joseph.


"Kita keluar sama-sama sayanggggg! Tunggu akuuuu!" suara lengguhan Joseph,  disahut oleh suara laki-laki lain.


Aska pun segera menoleh ke samping Di mana biasanya Joseph meletakkan ranjang tidurnya.


"Astaga kalian!!!" teriak Aska, lelaki gagah itu tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia lihat.


"Doni!!! Joseph!!! Kalian G@y???" teriak Aska.


Doni dan Joseph yang sedang melakukan ritu@l mant@p-mant@p, segera menoleh ke arah Aska yang berteriak keras.


Seketika dua lelaki normal itu sadar, apa yang baru saja mereka lakukan berdua.


"Wuaaaaaaa menyingkir dariku setannnnn!!!" Doni yang telanj@ng bulat segera berlari menuruni ranjang milik Joseph.


"Bangsatttttt elu apa in gue???" Joseph juga tidak kalah terkejutnya dengan Doni.


"Aska!!! Kita nggak mungkin...! Aku cowok normal! Pacar aku tiga!" Si Doni palyboy kampus penyandang gelar yang ditinggalkan Azka dikampusnya, tentu saja mengelak telah bers€tubuh dengan seorang laki-laki tulen.


Apa lagi Joseph juga adalah teman satu gang Doni. Mereka tahu, jika mereka berdua sama-sama normal. Tetapi kenapa mereka berdua bisa melakukan hal menjijikan itu, di siang hari bolong.


"Enggak! Ini nggak bener!" Joseph yang mempunyai perawakan gagah tinggi berotot, menangis merintih sambil merengkuh tubuhnya yang sudah ternoda.


"Lupakan kalau kalian sudah b€rcint@!" ucap Utari sambil menjentikkan jarinya ke arah keduanya.


"Elu juga tel@njang setan!" Joseph juga berhenti menangis.


"Nahhh ini dinding kok bolong???" tanya Doni pada Aska.


"Nggak tau!" Aska segera menjawab pertanyaan Doni sambil menggelengkan kepalanya pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Woyyy jangan injek s€mp@k gue bangsat!" Joseph membentak Aska yang ternyata berdiri di atas s€mp@k berwarna hitam pekat dengan garis-garis putih menghiasi.


.


.


.


.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aska pada Utari.

__ADS_1


Mereka berdua sudah berpindah tempat di halaman kos-kosan, yang sekarang sudah penuh dengan warga sekitar yang ingin menyaksikan bencana alam abal-abal yang diakibatkan oleh ulah Utari.


"Siluman Warok tadi adalah salah satu Pendosa Tingkat Tiga!" jawab Utari.


"Pendosa Tingkat Tiga???" Aska tentu saja, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Utari.


"Pokoknya dia harus kutangkap! Karena menyesatkan manusia tanpa seijin Neraka!" kata Utari.


"Ijin Neraka???"


"Dia menyesatkan manusia untuk keuntungannya sendiri, bukan untuk keuntungan Neraka!" jelas Utari.


"Hehhhhh?!" Aska benar-benar tidak bisa mencerna kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Utari.


"Pokoknya aku harus menangkapnya, karena dia menjatuhkan harga diri iblis neraka!" kata Utari.


"Menjatuhkan harga diri Iblis Neraka???" Aska tersenyum, karena merasa hal itu cukup lucu.


"Kau lihat sendiri, tadi! Siluman Warok itu bisa membuat temanmu yang sama-sama lelaki b€rcint@ dengan tanpa rasa malu!" kata Utari.


"Ohhhh... Kaum G@y sudah umum di negara kita, kau masih saja sensitif dan rasis!" kata Aska.


"B€rcint@ dengan sesama jenis adalah dosa besar yang tak dapat diampuni! Manusia tak akan melakukan hal itu, jika para Siluman Warok tak ada yang membangkang dan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri!" jelas Utari dengan nada kemarahan. "Menjijikan! Sebenarnya aku tak mau berurusan dengan Siluman gila itu! Tapi dia sudah menjadi terlalu kuat bagi Pasukan Iblis!".


Sebenarnya Aska masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Utari, namun melihat kemarahan Utari karena iblis menjijikan tadi membuat Aska tak mau bertanya lebih lanjut tentang 'Dosa Besar' yang dimaksud oleh Utari.


Seperti kehendak Utari, kos-kosan yang dihuni oleh Aska rusak karena bencana alam yang tidak diketahui jenis dan juga sifatnya.


"Sebaiknya kau tinggal di rumah orang tuamu!" usul Utari.


Sedikit banyak Utari masih mengkhawatirkan Aska, yang baru saja mendapatkan penglihatan goib. Bagaimana jika Aska bertemu dengan arwah pendendam, yang bisa membunuh manusia.


Maka harapannya untuk membuat pohon kutukannya berbunga, tak akan pernah kesampaian.


"Nggak! Aku nggak akan kembali kepada orang tuaku, yang telah membuangku!" kata Aska.


"Kau masih saja keras kepala seperti dulu!" ujar Utari. "Kau hanya punya dua pilihan, agar tidak diganggu oleh hantu-hantu! Tinggal di rumah orang tuamu atau tinggal di rumahku,".


Dua pilihan yang tidak ingin dipilih oleh Aska. Kenapa Utari membuatnya memilih dua tempat yang ingin dia hindari seumur hidupnya.


"Cepat pilih! Aku punya banyak pekerjaan dan tidak bisa langsung datang ketika kau menyebut Namaku!" kata Utari.


"Jadi selama aku tidak menyebut namamu, kau tidak akan muncul di dekatku?" tanya Aska.

__ADS_1


"Tidak,"


"Aku akan tinggal di rumahmu saja, untuk sementara waktu!" kata Aska tanpa rasa ragu sedikit pun.


__ADS_2