Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 9


__ADS_3

Seminggu terakhir lokasi KKN, mereka sedang sibuk membuat video dari kegiatan kegiatan yang mereka lakukan yang berhasil di dokumentasikan. Video tersebut nantinya akan ditampilkan saat acara penutupan nanti. Tapi di minggu terakhir ini Zia justru tidak fokus. Pikirannya sudah mulai bercabang antara program KKN dan persiapan pernikahan.


"Zi, kenapa sih kayaknya gak fokus banget?" tanya Vina saat mereka sedang berdua di kamar. Vina tahu Zia banyak pikiran karena terkadang ketika diberi tugas Zia mendadak lambat, tidak seperti biasanya. Vina juga tahu kalau selama KKN, Zia juga sering kali dihubungi oleh pihak keluarga untuk persiapan pernikahan.


"Huh pusing Vin. Pikiran aku itu kayak kepecah. Di sini masih harus banyak yang diurus. Sementara di sana juga, kadang dari butik, dari toko perhiasan pada nelpon kapan mau fitting. Biar cepat selesai harus fitting dulu. Takutnya ada ukuran yang kurang sesuai dan segala macamnya."


"Sabar ya. Pengorbanan buat hari bahagia kalian."


"Iya. Untung juga abang kamu baik Vin, ngerti. Selalu bilang gak usah dipikirkan, fokus aja dulu sama kegiatan di sana, gitu. Ya aku jadi agak lega lah."


"Baik kan abang aku. Gak salahkan terima abang aku jadi calon suami."


"Yeuh kamu adeknya, kayak gimanapun abangnya pasti kamu bela."


"Eh jangan salah. Aku ini orangnya objektif loh Zi. Mau abang atau siapapun orang terdekat aku. Kalau dia salah ya aku gak belalah."


"Masa?"


"BODO!" jawab Vina ngegas.


*


Hari ini hari terakhir mereka di desa ini mereka sibuk mempersiapkan persiapan untuk penutupan nanti malam. Kegiatan malam ini lebih meriah dari pembukaan karena anak anak sekolah dasar di desa ini akan menampilkan sebuah pertunjukan drama.  Sementara anak SMP akan menampilka nasyid.  Serta akan ada pemutaran video yang berisi kegiatan kegiatan selama sebulan penuh dan ada sedikit tanggapan atau pesan dan kesan beberapa warga terhadap program program yang dilakukan mahasiswa KKN. 


Anak-anak di sini juga sangat antusias terhadap mahasiswa KKN. Sejak awal kedatangan hingga hari ini penutupan mereka sangat antusias sekali untuk membantu mahasiswa KKN.


Acara malam ini ditutup dengan penutaran video. Saat pemutaran video diiringi dengan lagu perpisahan beberapa anak sekolah dasar yang sempat mereka ajar, ada beberapa yang menghampiri mereka, memeluk mereka dan menangis. Tidak mau kalau kakak-kakak KKN yang mengajar mereka cepat pulang.


"Kakak kenapa sebentar disinya?" tanya Nindy sambil memeluk Zia. Anak kelas satu SD ini memang terkesan manja dan cukup dekat dengan Zia selama sebulan ini.


"Kakak kan udah satu bulan di sini.  Nanti insya allah kalau allah izinkan kita pasti ketemu lagi kok.  Jangan sedih ya,  kalian harus rajin belajar. Oke." Kata Zia dengan lembut agar jawabannya tidak terlalu mengecewakan bagi Nindy anak kecil yang saat ini masih betah memeluknya.


"Kakak aku nanti pasti rindu kakak-kakak rindu kak Vina yang cerewet tapi suka ajari bahasa inggris. Rindu abang Akbar yang galak tapi suka becanda. Rindu kakak Zia yang cantik suka ajarin ngaji.  Rindu Kakak Nitya yang bawel kaya mama Alfi.  Rindu kakak Aya yang suaranya bagus dan suka ajarin nyanyi.  Rindu ledekin abang Yusup yang suka main gitar." celoteh Alfi sambil terisak, bocah lelaki kelas satu SD ini memang sangat dekan dengan mahasiswa KKN. Setiap hari bahkan selalu ada di rumah tempat KKN. Sianak ceria ini juga memiliki hati yang lembut dan mellow. Lihat saja dia menangis paling terisak saat ini.


"Sama kakak Wilma gak akan rindu?" tanya Wilma menggoda Alfi karena dirinya tidak disebutkan oleh Alfi.


"Huaaa Alfi sayang kakak Wilma juga. Kakak-kakak jangan pulang." kata Alfi sambil menangis dan memeluk Wilma.


"Ah cengeng." ledek Yusuf sambil mengacak rambut Alfi.


"Biarin. Abang Yusuf sana pacaran aja sama kakak Zia." katanya sambil menarik kedalam lagi cairan dari hidung nya.


"Alfi kak Zia sama bang Yusuf itu gak pacaran loh.  Abang Yusuf pacarnya ada di Bandung.  Kalau kakak Zia katanya mau pacaran sama Alfi aja boleh?" kata Akbar berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu sedih.


"Tapi Alfi belum besar.  Kakak Zia udah besar, emang kakak Zia mau tunggu alfi sampai nanti Alfi besar terus punya rumah yang gede. Dan Alfi gak mau pacaran. Kata mamanya Alfi yang galak. Alfi gak boleh pacaran. Nanti kakak Zia menikah aja sama Alfi kalau Alfi udah besar ya." celoteh Alfi. Yang disambut tawa oleh mereka semua.


"Wah kakak Zia keburu tua dong kalau gitu." kata Zia pura pura kesel dan sedih.


"Kakak Zia jangan sedih. Kalau udah tua juga kakak Zia tetep cantik kok." katanya sambil mengusap air mata dan menghampiri Zia. Membuat Nindy yang ada di samping Zia merengut.


Vina asik merekam kejadian tersebut, sejak tadi Alfi yang mengira Zia pacaran dengan Yusuf. Kemudian Alfi yang mengakatan Zia cantik dan Alfi yang mengajak Zia menikah.


Sementara yang lain masih saja tertawa menertawakan Zia dan Alfi. 


Malam ini Zia dan kawan kawan tidak tidur, karena harus membereskan bekas acara semalam. Kemudian harus membereskan barang-barang mereka karena bus dari kampus besok akan datang pukul  09.00.


"Huh aku ngantuk banget serius deh." keluh Vina saat sedang memasukan pakaian kedalam koper.


"Aku udah selesai. Aku istirahat duluan ya." kata Aya yang sudah selesai beberes.


"Kok cepat?" tanya Zia.


"Iya kan aku udah nyicil beberes dari kemarin-kemarin."


"Wuu curang kamu Aya." protes Vina.


"Biarin yey. Udah ah aku mau bobo cantik dulu. Mumpung masih jam 2 lumayan kan bobo sampe subuh. Babay. Semangat beberes kawan-kawanku." kata Aya sambil tarik selimut dan memejamkan matanya.


"Kamu gak ngantuk Zi? Gak capek?" tanya Vina.

__ADS_1


"Jangan ditanya Vin. Gak lihat nih mata aku udah kayak zombie. Tapi ya mau gimana, daripada nanti gak selesai-selesai yang ada kita ditinggal."


"Tinggal kita minta jemput aja sama Abang." kata Vina.


"Iya dikira Abang kamu itu pengangguran kali."


"Haha ya gak gitu. Tapi pasti dia mau mau aja kalau harus jemput calon istri."


"Stt Vin." kata Zia meletakan telunjuk di bibirnya sambil melihat ke arah Aya, takut Aya mendengar. Zia memang belum banyak cerita jika ia akan menikah. Biarkan saja nanti undangan yang berbicara.


*


Paginya sebelum mereka pulang mereka menyempatkan untuk foto bersama di halaman balai desa bersama kades dan para tokoh masyarakat. 


Pukul 09.00 bus yang bertugas menjemput mereka sudah datang.  Mereka masing-masing naik ke bus. Di perjalanan hampir semuanya memanfaatkan waktu untuk tidur. Tapi tidak begitu dengan Vina. Ia sedang asik dengan handphonenya. Hingga sebuah notifikasi dari Arvan yang menanyakan dirinya sudah sampai mana membuat keusilan Vina muncul,  Vina teringat video semalam. Ia mengirimkan video anak kecil yang jika sudah besar nanti akan melamar Zia pada Arvan. 


On the chat


Vina


'Lihat bang Abang punya saingan. Dia juga ingin melamar Zia, kalau dia sudah besar katanya 😜'


Arvan yang baru masuk ruangan sedikit kaget melihat video kiriman Vina.  Hampir saja ia emosi.  Tapi dia malah tertawa setelah memutar videonya.


Arvan


'Untung aja udah Abang lamar duluan 😂'


Tak ada interaksi lagi setelah itu Vina yang memang sudah lelah memilih tertidur dan Arvan kembali dengan pekerjaannya. 


Pukul 14.00 mereka baru saja tiba di kampus. Zia sudah meminta tolong Rivan untuk menjemput.  Dan vina dia dijemput oleh alvin.


Zia yang semalam tak tidur dan hanya tidur di bus, ditambah sedang datang bulan hari pertama. Rasanya sudah lemas sekali tidak enak badan.  Saat turun dari bus dan melihat Rivan zia langsung berjalan kearah Rivan dan memeluknya. Bukan sekedar rindu. Tapi Zia rasa ia perlu menopangkan tubuhnya agar tidak oleng. Vina pun begitu berjalan kearah alvin dan memeluknya. Kalau Vina, ini memang benar karena rindu berat. Rivan memasukan barang Zia ke bagasi sementara Zia sudah duduk dijok depan dan tampak sangat lemas dan sedikit pucat.


"Adek baik baik aja kan?" tanya Rivan meyakinkan.


"Gak apa kok bang cuma lemes aja semalam adek gak tidur ditambah lagi adek lagi datang bulan." jawab Zia menjelaskan. 


Sampai di rumah Rivan yang tak tega membangunkan Zia, langsung saja mengangkatnya dan menidurkannya di kamar.


"Abang adek kenapa kok diangkat gitu?" tanya bunda saat melihat Rivan menggendong Zia.


"Gak apa bun cuma abang kasian aja.  Kayaknya kecapean banget,  gak tega banguninnya." jawab Rivan. Bunda mengangguk paham.


"Yaudah bun abang ke kerja lagi ya. Assalamualaikum." pamit rivan sambil mencium tangan bunda.


Sorennya Zia sudah bangun. Walaupun masih tampak lemas dan pucat. Saat ini zia sedang memakan salad buah yang iya buat sendiri.


"Assalamualaikum." suara salam terdengar dari arah pintu. Ini pasti Ayahnya yang baru pulang.


"Waalaikumsalam." Jawab Zia dan Bunda dari ruang makan.


"Wah adek udah pulang.  Sehat kan? Kok pucat?" tanya Ayah sambil mencium rambut Zia.


"Alhamdulillah sehat kok yah. Adek cuma capek aja." jawab Zia sambil tersenyum pada Ayahnya.


"Ayah mau minum dulu atau bersih-bersih dulu?" tanya Bunda.


"Bersih-bersih dulu deh bun." Jawab Ayah.


"Yaudah nanti bunda bawain teh hangatnya ke kamar." Kata bunda.


Ayah berjalan menuju ke kamar. Ditengah menikmati salad buah yang tak habis habis. Hp zia berbunyi menandakan ada panggilan masuk ternyata panggilan tersebut dari butik tempat ia membuat gaun pernikahannya. Zia sempat kesal, dalam hatinya 'Bisa gak sih aku istirahat sebentar jangan dulu diteror dengan urusan ini dan itu.'


On the phone


Butik : Assalamualaikum dengan mbak Zia?


Zia : wa'alaikumsalam. Iya mbak saya sendiri.

__ADS_1


Butik : Begini mbak ini gaunnya sudah 70% kira kira bisa nggak kalau besok mbak sama masnya kesini fitting yang pertama.  Dilihat sesuai enggak dengan yang diinginkan. Soalnya mbak belum fitting sama sekali. Sama mas nya juga sekalian ya mbak.


Zia menghela napas.


Zia : Alhamdulillah sudah hampir beres ya mbak?  Baik nanti saya coba tanyakan dulu ya mbak semoga beliau juga bisa.


Butik : Oh iya baik mbak. Terimakasih. Assalamualaikum.


Zia : Sama-sama mbak. Wa'alaikumsalam.


Setelah menerima telepon dari butik Zia mencoba menghubungi Arvan.  Eh tapi Zia berpikir lagi malu, kalau ia yang menghubungi Arvan lebih dulu. Lebih baik Zia telpon abangnya saja lah.


On the phone


Rivan : Hallo Assalamualaikum dek ada apa?


Zia : waalaikumsalam. Abang lagi sama abang Arvan gak? 


Rivan : Enggak dek. Arvan lagi visit.  Ada apa emang?


Zia : Boleh adek titip pesan?


Belum menjawab rivan melihat arvan masuk. 


Rivan : eh ini Arvan ada dek, baru datang.   Sebentar. (Rivan menyerahkan Hpnya pada arvan.  Lalu kembali duduk di mejanya.)


Arvan : Hallo Assalamualaikum.


Zia : wa'alaikumsalam.


Arvan : Kalau ada perlu sama abang kenapa gak langsung telpon abang?  Abang matikan ya. Kamu coba telepon abang,  bukannya kita harus belajar membiasakan untuk berkomunikasi dengan baik? (arvan berbicara dengan lembut)


Zia : Iya maaf.


Arvan memang sudah berkali-kali bilang pada Zia kalau ada perlu langsung saja hubungi Arvan. Tapi Zia selalu saja melalui perantara. Sebetulnya bagus juga maksud Zia, mungkin agar mereka tidak terlalu sering berkomumikasi langsung. Tap Arvan rasa untuk diskusi masalah pernikahan tidak enak jika mereka berbicara melalui perantara.


Arvan : Yasudah Assalamualaikum.


Zia : Waalaikumsalam.


Arvan menyerahkan hp Rivan.


"Sebentar ya tadi kata Zia mau ada yang diomongin." kata Rivan


"Iya aku suruh telpon langsung ke aku.  Belajarlah membiasakan kalau nanti sudah menikah emang bakal lewat perantara terus?" Jawab Arvan tenang.


"Haha masih malu malu dia Ar.  Maafkan ya hehe." kata Rivan.


"Gakbapa apa. Justru terlihat dia sangat menjaga untuk tidak berkomunikasi berlebih dengan yang bukan muhrimnya." Jawab arvan


Tidak lama Hp Arvan pun berbunyi.  Tidak salah telepon dari Zia lah yang masuk.


"Calon istri." kata Arvan pada Rivan.


"Sombong."


On the phone


Arvan : Assalamualaikum


Zia : Wa'alaikumsalam


Arvan : Nah gitu dong. Kita belajar sama sama kan nanti kalau udah menikah kita gak akan ngobrol pake perantara terus.  Ada apa? Katanya ada yang mau dibicarakan dengan abang?


Di sebrang sana Zia meresa salah tingkah. Entah kenapa, tapi berkomumikasi intens seperti ini selalu saja membuat Zia malu dan salah tingkah.


***


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2