
Setelah selesai urusan di rumah Bunda, Arvan mengajak Zia jalan-jalan. Sesuai rencana awal, Arvan tidak memberitahu Zia akan pergi kemana. Zia tahunya hari ini mereka akan mencari rumah kontrakan.
"Dek... " panggil Arvan.
"Hm" Jawab Zia. Ingatkan Arvan kalau Zia masih kesal karena becandaan Arvan yang menurut Zia tidak lucu sama sekali.
"Sayang... " Panggil Arvan lagi.
"Hm" Jawab Zia lagi.
"Perasaan abang gak abis nikah sama nisa sabyan deh. Tapi kenapa dari tadi hmmm hmmm terus." Kata Arvan mencoba mencairkan suasana
"Udah dong jangan ngambek. Abang minta maaf. Gak enak jalan-jalan juga kalau didiamin terus gini sih." Kata Arvan akhirnya menyuarakan keluhannya.
"Sayang..." panggil Arvan.
"Sayang... " panggil Arvan.
"Sayaaaanggg." kata Arvan sambil menangkup pipi Zia.
Zia belum sadar jika mobil Arvan sudah berhenti di depan pekarangan sebuah rumah berwarna putih, berlantai 2 dengan ukuran yang cukup besar.
"Apa sih Abang udah ah. Lagian siapa suruh pagi-pagi becandaannya bikin rusak mood orang." kata Zia menyuarakan kekesalannya.
"Iya abang salah mangkanya abang minta maaf. Maaf yaa. Tolong dimaafkan yaa." Kata Arvan memelas.
"Ini dimana? Rumah siapa?" tanya Zia setelah sadar dengan sekelilingnya.
"Maafin abang dulu baru Abang kasih tau semuanya." Kekeh Arvan
"Iya udah iya tapi jangan becanda gitu lagi gak lucu." kata Zia sambil manyun.
"Oke siap gak akan Abang ulang lagi Ny. Arvan." kata Arvan.
"Apa sih." jawab Zia dengan pipi yang sudah memerah, mendengar kalimat Arvan barusan. Arvan masih terus menetap Zia menikmati muka lucu Zia saat sedang blushing karena malu.
"Jadi ini rumah siapa? Jangan bilang ini rumah orang yang tadi pagi abang maksud ya? Atau sebenarnya sebelum nikah sama adek abang udah ada istri ya? Ngaku deh. Kalau iya, Abang tega banget sih. Bohongin adek, bohongin keluarga. Kalau sampe dugaan adek benar, adek gak mauvlagi sama Ab... " Kata Zia dengan nada suara yang berapi-api.
Pletak.. Arvan menyentil dahi Zia.
"Sakit..."
"Istighfar sayang, bicaranya jangan ngaco. Emang adek mau abang begitu?" Zia menjawab dengan menggeleng.
"Udah ayo kita turun dulu nanti abang jelaskan semuanya di dalam." Kata Arvan sambil membuka pintu mobil.
Zia mengikuti Arvan turun dari mobil, Arvan menggandeng tangan Zia untuk masuk ke dalam, gandeng menggandeng saat berjalan sepertinya saat ini menjadi wajib bagi Arvan.
Saat sudah berada di depan pintu Arvan merogok saku celananya mencari sesuatu. Tapi sepertinya Arvan tidak mendapatkan apa-apa.
"Keertinggalan di mobil. Adek tunggu disini." kata Arvan.
Mereka sekarang sudah berada di teras sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Rumah ini dua lantai, dari luar tampaknya rumah ini bergaya minimalis cat luarnya dominan berwarna putih. Halamannya yang cukup luas itu diberi rumput hijau yang menggelar seperti permadani dan ada hiasan batu alam serta ada pohon pohon kecil yang tak berbunga. Ada juga area car sport yang diperkirakan masuk sekitar 3 mobil.
Setelah Arvan mendapatkan kuncinya, Arvan membawa Zia masuk. Rumah berlantai 2 ini cukup luas. Pertama kali yang Zia lihat dari pintu utama adalah ruangan yang luar dan tanpa sekat. Di lantai 1 terdapat 2 Kamar tidur serta dapur, ruang cuci dan kamar mandi. Dalamnya rumah ini, masih kosong sekali. Tapi di bagian dapurnya sudah terpasang kitchen set berwarna putih kombinasi hitam. Sekilas saja Zia tahu jika ini kitchen set kaleng-kaleng. Jangan lupakan juga, di rumah ini sudah ada kulkas besar 2 pintu, ada juga tempat tidur ukuran king size.
"Abang ini rumah siapa? Kenapa kosong? Ini juga barangnya mewah semua. Kalau mau ngontrak disini mending jangan deh bang. Karena pasti mahal, selain itu kita juga PR banget buat beli barangnya. Ngontrak mah yang biasa aja. Sisa uangnya kita tabung biar bisa beli rumah sendiri nanti." kata Zia.
__ADS_1
"Abang mau jelasin semuanya. Tapi kira-kira Abang dapet apa kalau udah jelasin semuanya?" tanya Arvan.
"Pamrih amat." ketus Zia.
"Hahaha Oke sini duduk dulu. Abang jelasin." Arvan menuntun zia untuk duduk di tempat tidur yang masih terbungkus plastik. Arvan menyerahkan sertifikat rumah yang sedari tadi ia gulung dan disimpan di kantong bagian dalam jaketnya.
"Apa ini?" tanya Zia bingung.
"kertas." jawab Arvan asal.
"Ini sertifikat rumah siapa abang?" tanya Zia.
"Bukalah sayang dan Iqra." kata Arvan.
"Kok rumahnya atas nama Muhammad Arvan Firmansyah?" kata Zia belum mengerti.
Arvan hanya menatap gemas istri tercintanya itu. Masa belum mengerti juga.
"Tunggu, Muhammad Arvan Firmansyah. Abang kan?" Tanya Zia lagi.
"Bukan." jawab arvan seenaknya
"Abang serius. Ini rumah Abang? Katanya Abang belum punya rumah dan baru mau mulai nyicil rumah." jawab Zia yang belum sepenuhnya mengerti.
"Rumah kita sayang. Ini rumah kita, rumah yang bakal kita tempati bareng-bareng sama anak-anak kita juga nanti." Jelas Arvan.
"Hah Apa? Ini? Rumah kita?" tanya Zia sambil menatap Arvan.
Arvan membuang nafas dan mengangguk.
"Iya sayang rumah kita. Abang siapkan ini untuk kita. Sejak adek jawab terima lamaran Abang dan bersedia menikah sama Abang. Saat itu Abang mulai renovasi rumah ini." jawab Arvan sekali lagi.
"Iya karena rumah ini abang beli setahun lalu. Bentuknya bangunan, dan setelah kita lamaran abang mulai renovasi. Tadinya mau setelah menikah renovasinya, biar sesuai selera adek. Tapi kalau rumah masih renovasi, nanti kita berdua numpang tinggal dimana? Jadi yaudah Abang renov aja sebelum nikah. Sengaja abang buat simple desainnya. Semoga adek suka ya."
Mendengar itu semua, Zia langsung memeluk Arvan. Air mata Zia juga langsung jatuh begitu saja. Suaminya sudah mempersiapkan semuanya. Arvan yang melihat itu langsung menangkup pipi Zia dan menyeka air matanya.
"Sayang kok malah nangis. Kamu nggak suka ya?" Tanya Arvan.
Zia mendongak menatap Arvan. Lalu memeluk Arvan lebih erat.
"Apa sih. Adek suka banget malah. Terimakasih sayanh." kata Zia pelan dan langsung membelamkan wajahnya di dada Arvan.
"Apa tadi? Sekali lagi?" Zia menggeleng. Arvan tersenyum dan membalas pelukan Zia lebih erat.
"Sama-sama sayang. Mau lihat-lihat lagi enggak? Oh iya, Abang gak niat bohong ya karena bilang belum punya rumah. Abanh sengaja biar kejutan." kata Arvan.
"Mau banget lihat-lihat lagi. Apalagi kita belum ke atas. Tapi ini udah siang. Bentar lagi abang jum'atan. Kalau gak cepet pulang nanti gak keburu." kata Zia masih nyaman dalam pelukan Arvan.
"Yaudah besok kita kesini lagi sekalian kita pikirkan mau desain seperti apa, terus kita cari perabotan yang sesuai, biar bisa cepat ditempati." kata Arvan. Zia hanya mengangguk dalam pelukan Arvan.
"Yaudah yuk pulang."
Akhirnya mereka kembali pulang kerumah ayah dan ibu.
Malam hari di dalam kamar mereka duduk di atas ranjang menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Mereka sedang membahas tentang rumah. Rencananya besok mereka akan membeli perabotan rumahnya. Rumah itu sudah Arvan beli setahun yang lalu dari uang tabungannya selama bekerja. Lokasinya sengaja tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatnya bertugas, hanya sekitar 15 - 20 menit.
"Abang, berarti semua orang udah tau tentang rumah Abang itu?" tanya Zia.
__ADS_1
"Rumah kita sayang." ralat Arvan.
"Gimana bisa, adek gak ikut andil apa apa kok, itu 100% dari uang Abang." jawab Zia.
"Ya karena sekarang adek istri abang. Jadi apapun yang abang punya semuanya punya adek juga sayang." kata Arvan.
Zia menyandarkan kepalanya di dada Arvan.
"Makasih banyak Abang. Berarti adek orang terakhir yang tau?" tanya Zia.
"Iya" jawab Arvan.
"Jahat banget sih." kata Zia.
"Tapi senengkan? Gimana tadi perasaannya?" tanya Arvan penasaran.
"Bingung aja adek tuh. Kemarin pas Abang bilang kita bakal kontrak rumah adek kira betulan. Mangkanya pas tadi itu kaya bingung sendiri antara percaya sama enggak. Kalau Abang udah siapkan rumah buat kita." Kata Zia.
"Abang juga gak nyangka adek gak nolak waktu abang bilang kita tinggal di kontrakan dulu. Abang pikir adak bakal nolak dan bakal ngajak abang buat tinggal di rumah ayah bunda dulu. Tapi ternyata enggak dan adek malah nerima ajakan abang buat tinggal dikontrakan."
"Tapi tunggu, adek beneran gak tahu kan? Buka pura-pura gak tahu?" tanya Arvan.
"Ya beneran lah. Mana ada pura-pura. Adek bukan aktris gak bisa pura-pura nangis." jawab Zia.
" Abang, tutup matanya dulu deh." kata Zia.
Arvan pun bingung, pikirannya sudah melanglang buana. apa yang akan dilakukan istrinya? Tapi demi kenyamanan bersama, daripada nanti ada kejadian ngambek lagi sudah lah arvan ikuti saja mau Zia. Arvan memejamkan matanya kemudian ia rasakan Zia sudah menjauhkan diri dari dadanya.
Pertama kalinya setelah 2 hari menikah Zia mencium Arvan terlebih dahulu dengan inisiatif nya sendiri. Saat Zia hendak menjauhkan badannya Arvan menahan badan Zia dengan tangannya. Ia menunjuk pipi sebelahnya, Zia yang merasa badannya tidak akan di lepas jika belum memenuhi keinginan Arvan, akhirnya memenuhi keinginan Arvan untuk mencium pipi sebelahnya.
Lalu setelah mencium pipi yang satunya arvan masih tetap menahan tubuh zia. Di dekatkan wajahnya ke wajah zia. Zia menegang. Arvan masih membiarkan posisinya seperti itu hingga beberapa detik.
'Ya allah apa yang harus aku lakukan, ya allah aku harus gimana ya allah.' dalam hati Zia.
Tok tok tok...
Terdengar suara pintu diketuk. Refleks Zia pun mendorong tubuh Arvan. Kemudian membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Aduh siapa lagi itu malam-malam begini. Ganggu aja." kata Arvan. Arvan pergi membuka pintu , ternyata Alvin yang mengetuk.
"Ada apa?" tanya arvan ngegas
"Santai dong bang emang udah tidur? Dipanggil ayah tuh di bawah. Ada yang mau diobrolin katanya." kata Alvin sambil berlalu.
"Gak bisa besok?" tanya Arvan.
"Negonya sama Ayah lah jangan sama Alvin. Alvin mah cuma disuruh manggil abang aja."
Arvan melihat Zia sudah membaringkan tubuhnya membelakangi posisi Arvan. Entah karena malu atau karena belum siap.
"Dek abang ke bawah dulu ya." pamit Arvan pada Zia. Zia hanya mengangguk. Arvan pergi ke bawah menemui ayahnya, ternyata ayahnya menanyakan bagaimana perkembangan rumahnya dan berbincang tentang ini dan itu.
Hingga pukul 1 dini hari Arvan baru masuk ke kamar. Zia sudah tertidur lelap posisinya membelakangi Arvan, tidak ingin mengganggu Zia yang sudah lelap. Arvan juga tertidur di belakang Zia merapatkan tubuhnya dengan Zia, memeluk pinggang Zia dan mencium kepalanya yang membuat zia sedikit terusik dan sedikit bergerak.
'Sabar Arvan tahan.' kata Arvan pada dirinya sendiri.
***
__ADS_1
To be continued...
See you next part...