Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 13


__ADS_3

Arvan yang merasakan tangannya tertahan menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang. Melihat Zia yang berdiri di belakangnya.


"Ada apa?" tanya Arvan sambil menengok kearah Zia dan mensejajarkan badannya dengan Zia.


"Pelan-pelan jalannya kaki adek sakit." Kata Zia sambil menunduk. Ia malu mengeluh kakinya sakit pada Arvan. Karena sejak awal Arvan sudah bilang jangan pakai hak yang terlalu tinggi nanti sakit. Tapi kalau tidak keras kepala bukan Zia namanya.


Tanpa banyak bicara, Arvan langsung berjongkok di hadapan Zia.


"Abang mau apa?" tanya Zia yang dibuat terkejut dengan tindakan Arvan.


Arvan tidak menjawab. Arvan malah menyingkap sedikit bagian bawah gaun Zia dan menampakan kaki Zia yang terbalut kaos kaki. Arvan kaget karena ia baru tahu jika zia menggunakan sepatu setinggi ini. Sepertinya sepatu yang Zia pakai saat ini lebih dari 7cm.


"Kenapa harus pake sepatu setinggi ini sih kalau menyakitkan diri sendiri?" tanya Arvan selembut mungkin agar tidak nampak kesal. Padahal jujur saja Arvan sedikit kesal karena sarannya tidak diikuti. Arvan melepaskan sepatu tersebut kaki Zia. Kemudian kembali berdiri di samping Zia sambil menenteng sepatu Zia. 


"Kenapa harus setinggi ini kalau menyakiti diri sendiri?" tanya Arvan lagi karena pertanyaan yang tadi belum terjawab.


"Abang sadar diri dong, badan Abang itu terlalu tinggi. Kalau adek gak pakai sepatu begini gak akan tampak indah waktu di pelaminan tadi." kata Zia sambil menunjuk kearah pelaminan yang belum dibongkar.


Arvan tekekeh,  ternyata Arvan baru sadar jika tinggi Zia hanya di bawah bahunya. mungkin perbedaan tinggi mereka sekitar 25 sampai 30 cm. 


"Yasudah maaf deh kalau Abang salah karena terlalu tinggi. Adek tunggu sebentar ya. Duduk dulu sini." kata Arvan sambil menuntun Zia untuk duduk di slah satu kursi. Kemudian Arvan berjalan meninggalkan Zia. 


"Abang mau kemana? Kok ninggalin." rengek Zia pada Arvan yang sudah berjarak.


"Sebentar sayang." kata Arvan.


Tidak lama Arvan kembali sambil membawa sandal hotel.


"Pakai ini dulu ya sementara. Atau mau abang gendong?" Tawar Arvan


"Eh gak usah. Adek pakai ini aja." jawab Zia dengan gugup dan langsung mengambil sandal hotel dari tangan Arvan.


"Masih aja malu malu." kata Arvan pelan tapi masih bisa didengar oleh Zia.


"Makasih Abang." ucap Zia.


"Gak gratis yaa."


"Ma... Maksudnya?"


"Nanti aja di kamar." Zia kembali menghentikan langkahnya.


"Becanda. Udah yuk kita ke kamar. Istirahat gitu maksudnya. Gak usah tegang dong." kata Arvan.


Mereka kembali berjalan menuju kamar.  Tangan kanan Arvan menggandeng Zia, dan tangan kirinya menenteng sepatu milik Zia.


"Adek punya berapa sepatu dengan hak tinggi begini?" tanya Arvan membuka pembicaraan. Karena Zia mendadak diam sejak ucapan Arvan tadi.


"Eh itu, gak banyak kok."


"Syukur deh kalau gak banyak. Biar nanti abang juga gak repot bagikan ke orangnya."


"Kok dibagikan?"


"Karena Abang gak suka lihat Adek pake sepatu begini. Bahaya." kata Arvan.


"Yaudah biarin nanti kalau jalan sama abang, adek pake flat shoes aja. Biar pendek, biar orang kira abang itu bapak-bapak lagi momong anak." jawab Zia. Arvan tertawa mendengar ucapan Zia.

__ADS_1


Dari kejauhan sebenarnya Rivan memperhatikan interaksi mereka sejak tadi. Rivan hanya tersenyum dan bersyukur adiknya kini telah menjadi istri dari orang baik seperti Arvan, yang terlihat sangat menyayangi adiknya dan semoga selamanya akan terus seperti itu.


Setelah berada di kamar Zia langsung duduk di sofa. Dipakai berjalan dari ballroom ke kamar kakinya jadi semakin sakit. Zia juga langsung melepaskan kaos kakinya. Terlihat kakinya yang putih mulus kini memerah, Arvan yang melihatnya tidak banyak komentar, ia langsung saja mengambil satu baskom air hangat dari pantry.


"Ini direndam dulu kakinya pakai air hangat biar gak sakit lagi." kata Arvan sambil meletakan air hangatnya di depan kaki Zia.


"Eh I.. Iya terimakasih abang." Jawab Zia.


"Abang bersih-bersih duluan ya?" Kata Arvan pada Zia.


"Iya, Adek juga mau hapus make up dulu." jawab Zia.


Ketika Arvan keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat Zia ada di kamar.  Eh kemana istrinya itu? Tapi Arvan melihat pakaian nya sudah disiapkan di atas tempat tidur. Kaos oblong dan celana pendek,  itu pakaian yang biasa Arvan gunakan saat tidur.  Zia sudah tahu karena sebelumnya ia sudah bertanya pada Vina mengenai pakaian sehari-hari Arvan.


Arvan menunggu Zia sambil memainkan handphone nya.  Sudah 20 menit Zia baru kembali. Zia masuk dengan menggunakan gamis tidur. Zia berjalan menuju sisi lain tempat tidur.


"Adek darimana?" tanya Arvan saat Zia sudah duduk di atas tempat tidur.


"Itu tadi adek di kamar Vina bersih-bersih di sana. Adek juga minta tolong hapus makeup dan lepas baju. Karena susah buka baju sendiri." jawab Zia.


"Oh gitu. Yaudah yuk kita istirahat udah jam 02 ini." kata Arvan sambil mematikan lampu kamarnya.


"Bang?" panggil Zia sedikit gugup.


Arvan yang mengerti apa yang akan Zia tanyakan langsung berbicara tanpa menunggu zia mengucapkan pertanyaannya.


"Tidur ya.  Tenang Abang gak akan apa apakan adek malam ini.  Kita sama-sama capek sekarang." Jawab Arvan sebelum Zia mengajukan pertanyaannya.


Zia merasa sangat malu, karena belum bertanya tapi pertanyaannya sudah tertebak dan bisa dijawab oleh Arvan. Karena masih malu juga tidur seranjang. Zia tidur membelakangi Arvan.


Arvan merapatkan tubuhnya pada Zia melingkarkan tangannya di pinggang Zia. Jika ditanya apakah Arvan tidak canggung? Jawabannya sama Arvan juga canggung. Tapi kalau sama-sama canggung lalu siapa yang akan memulai? Zia? Kecil kemungkinan. Jadi ya Arvan yang harus bisa memulai dan menghilangkan sedikit demi sedikit kecanggungan diantara mereka.


Tidak ingin Arvan semakin berulah, Zia perlahan membalikan tubuhnya menghadap Arvan.  Zia sempat kaget karena kini badannya dan Arvan sudah sangat dekat. Tapi Arvan dengan tenangnya malah mengeratkan pelukannya sehingga tubuh mereka sekarang menempel.


Bayangkan saja ranjang ukuran king size itu, sekaranh hanya terpakai sebelahnya.  Jika saja ranjang itu seperti jungkat jungkit yang harus selalu seimbang mungkin mereka kini sudah terguling karena berat sebelah. 


Pukul 04.30 Zia baru terbangun dari tidurnya.  Ah karena lelahnya mereka sampai kesiangan. Posisi tidurnya masih sama seperti semalam Zia masih berada dalam pelukan Arvan. Sebelum bangun Zia lebih dahulu mengecek badannya di balik selimut.


"Huh aman." ucapnya pelan.


Zia mencoba bangun,  kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mandi sebelum shalat subuh, begitu memang kebiasaan Zia. 


"Abang Bangun, udah waktunya subuh. " kata Zia yang baru selesai mandi, sambil menepuk bahu Arvan yg terhalang selimut.


Tidak lama Arvan terbangun. 


"Pagi sayang."  katanya sambil tersenyum kemudian bangun dan menghampiri Zia.


"Abang mau apa?" kata Zia yang melihat Arvan sudah di dekatnya.


Tanpa aba-aba dan tanpa izin Zia, Arvan mencium pipi Zia. 


"Morning kiss sayang." katanya sambil berjalan ke kamar mandi.


"Abaaanggg aku udah wudhu." kata Zia kesal, karena artinya Zia harus wudhu lagi.


"Salah sendiri pagi pagi udah wangi menggoda Abang ya?" katanya sambil menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Zia kesal. Tapi anehnya Zia malah senyum-senyum sendiri. Ia pergi untuk menumpang wudhu di kamar yang lain. Tapi sebelumnya ia siapkan dulu baju untuk Arvan. 


Saat keluar dari kamar mandi Arvan tidak menggunakan apa apa hanya menggunakan handuk dipinggangnya. Zia yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya. Arvan hanya tersenyum kemudian memakai pakaian yang sudah Zia siapkan.  Kemudian menghampiri Zia untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Arvan tidak shalat di masjid karena ia sudah terlambat. Seperti biasa selesai shalat Zia mencium tangan Arvan dan Arvan mencium kening Zia. 


"Abang biasa apa kalau pagi? Biar adek siapkan. " tanya zia pelan


"Gak perlu sekarang. Abang mau adek diam di sini dulu sekarang." katanya sambil menatap Zia.


Arvan merapatkan duduknya pada Zia sambil menggenggam tangan.


"Adek sekarang istri abang. Walaupun baru sehari dan kita masih perlu banyak waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Tapi abang ingin kita untuk saling terbuka,  ada apapun dengan adek baik atau pun buruk jangan ragu ceritakan pada abang. Begitupun abang harus selalu bercerita pada adek.  Adek jangan sungkan sama abang jangan malu sama abang.  Tegur abang, ingatkan abang kalau nanti kedepannya abang salah arah dalam menakhodai bahtera rumah tangga kita ini." kata Arvan sambil menatap dalam mata Zia. 


Arvan mendekatkan wajahnya pada wajah Zia.  Diciumnya kening Zia  dengan lembut.  Kemudian iya cium mata Zia yang sedang menereskan air mata. 


Dreett Dreett  suara hp zia, pertanda ada panggilan masuk.


On the phone


Ayah : Assalamualaikum adek udah bangun kan?


Zia : wa'alaikumsalam udah ayah ada apa? 


Ayah : Ayah bunda dan abang mau pamit ini. Boleh kan adek sama Arvan keluar lamar dulu?


Zia : Sepagi ini yah?  Eh iya boleh adek sama abang Arvan keluar sekarang.


Ayah : Iya. Ayah sama abang kan harus kerja. Yaudah kita tunggu ya.  Assalamualaikum


Zia : Eh iya waalaikumsalam.


Selesai Zia mengangkat telepon, Zia berbicara pada Arvan yang sedang menatapnya.


"Abang, ayah bunda dan abang Rivan mau pamit. Kita keluar dulu yuk." kata Zia pada arvan


"Oh yaudah ayo." Arvan berdiri dari duduknya. 


Sementara Zia melepaskan dan melipat mukenanya setelah itu memakai bergo panjang yang menutup dadanya.


Ketika di luar ternyata bukan cuma keluarga Zia yang pamit tapi hampir semuanya. Karena mereka harus kembali ke rutinitas mereka. 


Setelah berpamitan dengan semuanya. Zia dan Arvan kembali ke kamar hotel. Zia merapihkan barang-barangnya dan Arvan karena siang ini, mereka juga akan pulang tapi belum tau pulang kemana. Arvan sih sudah menyiapkan rumah untuknya bersama Zia.  Tapi belum ia ceritakan karena rencananya akan jadi kejutan.  Dan rumah itupun belum ada isinya karena Arvan ingin Zia sendiri lah yang mengatur segala macam perabotan rumahnya. 


"Sayang kita mau pulang kemana?" tanya Arvan.


"A..a..aku terserah abang aja" kata Zia gugup merasakan ada yang memanas di pipinya.


"Kita tinggal dulu di rumah keluarga abang seminggu setelah itu dirumah ayah bunda seminggu gimana?" kata Arvan menawarkan.


"Boleh. Terus sisanya gimana?  Kalau gitu kan hanya untuk dua minggu kedepan." tanya Zia.


Arvan bingung mau jawab apa lagi. Tidak mungkin jika sekarang juga dia punya kejutan untuk Zia.


"Nanti abang cari kontrakan. Sebelum abang cari kredit rumah, gak apa apa kan? Kita mulai bersama sama dari nol ya. Gimana?" jawab Arvan entah inspirasi dari mana dia tiba tiba menjawab seperti itu.


***


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2