
Panggilan telepon antara Arvam dan Zia masih berlangsung. Zia kentara sekali sangat malu dan salah tingkah. Bunda yang melihat itu sudah ingin menggoda putrinya. Tapi bunda masih cukup bisa menahan diri. Karena jika digoda Zia pasti akan semakin malu dan salah tingkah.
Arvan : Nah gitu dong. Kita belajar sama sama kan nanti kalau udah menikah kita gak akan ngobrol pake perantara. Ada apa? Katanya ada yang mau dibicarakan dengan abang?
Zia : Iya maaf. Itu abang tadi dari butik ada yang telpon, katanya bisa nggak besok kesana buat fitting. Pastiin sesuai enggak bajunya sama ukurannya. Begitu katanya.
Arvan : Oh gitu? Jam berapa?
Zia : Ya tergantung abang abang bisanya jam berapa?
Arvan : Jadi ngajak Abang nih? Mau sama Abang?
Zia : Dari butik minta sama Abang juga. Kalau Abang gak bisa, yaudah aku bisa pergi sendiri.
Arvan diam-diam bahagia, karena Zia sudah semakin lancar memanggilnya Abang.
Arvan : Bisa kok. Kamu gak ngampus?
Zia : Besok sih belum. Jadi gimana cepetan duh aku malu ini diliatin bunda. (Zia berbicara mengecilkan suaranya)
Arvan : Lucu banget sih calon istri aku.
Mendengar Arvan berbicara seperti itu saja pipi zia langsung memerah. Lemahkan Zia? Tapi yaudahlah namanya juga belum pernah pacaran dan jarang berkomumikasi sama lawan jenis pasti ya masih malu malu. Bunda yang melihat zia seperti itu pun yakin pasti anaknya itu sedang digoda.
Bunda : Jangan digoda anak bunda. Belum halal. Ini pipinya udah merah nih hahaha (bunda berbicara kedekat hp zia kemudian berjalan menaiki tangga)
Arvan hanya ikut tertawa
Zia semakin malu saja. Ingin rasanya langsung dimatikan saja, itu handphone miliknya. Tapi sayang Arvan belum memberikan jawaban apa apa.
Zia : Tau Ah terserah, aku matiin nih.
Arvan : Eh iya maaf maaf kok ngambek. Iya iya besok ba'da duhur Abang jemput, kita kesana.
Zia : Tapi bunda gak bisa antar besok.
Arvan : Yaudah tapi berdua aja berarti.
Zia : Yaudah berangkat sendiri sendiri aja berarti.
Arvan : Eh jangan begitu. Kamu telpon ibu atau Vina coba, siapa tau bisa antar. Zi udah dulu ya abang ada telepon dari ruangan. Assalamualaikum
Zia : Waalaikumsalam.
Setelah menghubungi Arvan, Zia pun menghubungi Vina.
On the phone.
Vina : Assalamualaikum Zi.
Zia : Waalaikumsalam. Vina lagi dimana? Besok sibuk gak?
Vina : Di rumah. Besok ya? Hm bentar aku cek agenda dulu.
Zia : Huh sok sibuk kamu.
Terdengar suara Vina tertawa di sebrang sana.
Vina : Kakak ipar, maaf nih. Biasanya aku ini memang pengangguran dan kaum santuy yang sejati. Tapi besok itu aku diminta antar kanjeng ratu. Besok ada apa emang?
Zia : Oh gitu ya.
Vina : Heem. Kanjeng ratu mau kondangan dan baginda raja nya lagi sibuk. Jadi aku sebagai princess yang kudu nemenin.
Zia : Iya Vina. Suka-suka kamu ajalah.
Vina : Kakak ipar yang baik emang. Oh iya besok ada apa emang?
Zia : Tadinya mau minta tolong temani aku sama abang kamu buat fitting ke butik. Nanti aku jajanin. Gitu, tadinya.
Vina : Kamu sama abang kan? Mana mungkin Abang bolehin pergi sendiri. Gak apa-apa Zi, Abang gak gigit kok.
__ADS_1
Zia : Bukan gitu Vina. Abang kamu mah baik. Aku percaya. Tapi aku malu kalau cuma berdua.
Vina : Latihan Zi.
Zia : Ih kamu. Nanti kamu rasain sendiri deh kalau udah punya calon.
Vina : Iya deh yang udah punya calon mah hahaha.
Zia : Ih Vinaaa. Yaudah Makasih Ya. Assalamualaikum.
Vina : Eh. Kakak ipar. Hallo hallo.
"Waalaikumsalam. Yee baru juga mau aku godain udah dimatiin aja." gerutu Vina pada handphonenya.
*
Pagi hari ini Zia hanya berdiam diri di kamar, sejak pulang KKN badannya jadi kurang Fit.
"Adek, udah enakan belum badannya?" kata Bunda yang baru saja memasuki kamar Zia.
"Lumayan bun."
"Siap siap sana. Biar nanti Arvan jemput adek udah siap." kata bunda mengingatkan
"Bun, adek gak mau bernagkat berdua aja sama Abang Arvan." rengek Zia pada sang bunda.
"Bunda temenin ya." pinta Zia.
"Gak bisa dek. Tahu sendiri kan nanti abis ashar di rumah tante kamu ada pengajian."
"Terus bunda biarin aja Adek pergi semobil sama laki-laki?"
"Sama aja kan kayak Adek kalau naik taksi online?"
"Bun..."
"Nanti bunda bilang sama Arvan jangan macem-macem. Adek juga duduknya harus dibelakang."
*
"Assalamualaikum." ucap Arvan.
"Wa'alaikumsalam." jawab Zia yang kebetulan membukakan pintu.
"Udah siap?"
Zia mengangguk.
"Bunda mana? Pamit bunda dulu."
Perjalanan sekitar 45 menit, mereka sampai di butik. Di dalam zia langsung di ajak mencoba gaunnya. Saat dipakai gaunnya nampak sangat cantik namun Arvan mulai sedikit mengoreksinya.
"Mbak ini bagian rok bawahnya gak terlalu ribet ya? Ini nanti takutnya Zia malah ribet gitu jalannya kan kasian." kata arvan.
"Ini emang gini modelnya mas. Tapi bisa sih nanti kita rubah lebih simple gitu ya jangan banyak layer." Jelas sang desaigner.
Zia tidak banyak protes. Karena kondisinya yang kurang fit menjadikan mood Zia tidak begitu bagus.
Kemudian desaigner yang membuat baju Arvan juga meminta agar Arvan mencoba bajunya. Baju arvan sangat pas tanpa koreksi. Karena memang ini sudah ketiga kalinya Arvan fitting.
Selesai hari ini mereka mencoba dua baju akad dan resepsi. Mereka sedang berbincang dengan desainer. Arvan melihat Zia pucat sekali. Ia langsung saja berpamitan untuk segera pulang agar Zia bisa beristirahat.
"Kenapa gak bilang kalau sakit?" tanya Arvan saat mereka sudah di dalam mobil. Zia diam saja.
"Apa yang sakit?" tanya Arvan lagi.
"Enggak ada, cuma pusing sama lemas aja. Ini mah biasa kalau lagi haid." jawab Zia.
"Kamu kecapean." kata Arvan.
"Nih minum dulu." sambil menyerahkan sebotol air mineral yang masih tersegel.
__ADS_1
"Makasih."
*
Waktu berjalan begitu cepat. Pernikahan Arvan dan Zia tinggal 2 minggu lagi. Sementara Zia sudah kembali disibukan dengan jadwal kuliahnya. Zia dan Arvan sudah mulai mengikuti pelatihan-pelatihan pranikah serta berbagai macam pemeriksaan.
Lelah? Iya memang tapi semoga bisa terbayar dengan lancarnya pesta pernikahan yang sesuai dengan harapan dan sekali seumur hidup. Aamiin.
Hari ini Zia dan Arvan berencana untuk mengambil undangan dan cincin nikah yang katanya sudah selesai. Arvan menjemput Zia di kampus. Kembali mereka harus pergi berdua lagi. Karena yang lain juga sudah disibukan dengan hal lain seperti catering dan gedung dan lainnya.
Hari ini cuacanya sangat terik. Saat selesai dari percetakan. Mereka pergi ke tempat memesan cincin nikah. Saat keluar dari tempat tersebut Zia yang berjalan berdampingan dengan Arvan, merasakan badannya tampak lemas dan pandangannya juga kabur. Tanpa berpikir lagi Zia langsung memegang lengan arvan dengan kencang. Zia takut pingsan. Arvan yang merasa tidak biasa dengan kelakuan zia itu langsung kaget dan menatap Zia
"Zi ada apa?" tanya arvan lembut sambil menghentikan jalannya.
"Maaf abang. Aku lemas pandangan aku juga tadi gelap. Takut pingsan jadi aku pegang." kata Zia masih memegangi lengan Arvan dan justru semakin erat.
"Kita duduk dulu." Arvan mengajak Zia duduk. Arvan juga melihat Zia pucat dan berkeringat. Ini kedua kalinya Zia sakit saat sedang pergi dengan Arvan.
Beruntunglah toko perhiasan tersebut ada di dalam mall jadi setidaknya Zia tidak harus kepanasan.
"Sudah makan?" tanya arvan halis
Zia hanya menggeleng
"Kenapa belum makan? Kita makan dulu ya?" kata arvan hendak mengajak Zia makan. Tapi lengan baju arvan di tahan Zia.
"Jangan. Aku lagi puasa, aku masih kuat kok." Jawab Zia lemas.
"Gak usah maksa. Kamu lagi sakit Zi. Maghrib masih lama. Kamu harus makan." Arvan dengan lembut.
Zia tampak berpikir. Ia melihat jam tangannya masih pukul 2 siang masih lama untuk maghrib. Tidak mungkin juga zia hanya duduk di sini menunggu maghrib karena lemasnya. Ini karena penyakit asam lambungnya yang kambuh tidak tahu situasi.
Setelah makan badannya masih lemas, tapi tidak selemas tadi. Namun tetap saja iya butuh pegangan.
Salahnya Zia, setiap kali iya puasa sunah iya tidak pernah sahur. Orang lain juga mungkin banyak yang sering tidak sahur saat puasa sunah. Tapi bedanya Zia punya riwayat asam lambung.
Padahal dia tau kegiatan hari ini akan sangat padat. Pukul 07 - 11 Zia kuliah. Setelah itu Zia pergi bersama Arvan ke dua tempat yang berbeda yang jaraknya lumayan jauh dan setelah itu pukul 15-17, Zia ada kuliah lagi. Tapi ya begitu keras kepalanya Zia sudah diingatkan pun kadang tidak nurut.
Sebenarnya selain puasa sunah Zia juga diet. Tujuannya untuk menjaga berat badannya agar saat pernikahan nanti tidak tampak menggemuk. Padahal apa yang ditakutkan Zia, berat badan saja sekarang masih 45 kg.
Setelah sampai di mobil Arvan mencari kotak obat dan memberikan vitamin pada Zia.
"Ini diminum dulu vitaminnya" kata Arvan sambil menyerahkan vitamin dan minumnya.
Zia hanya menurut meminum vitamin itu.
"Abang antarkan kamu pulang ya. gak usah ke kampus lagi ya." kata Arvan sambil menjalankan mobilnya.
Zia hanya mengangguk, memaksa kuliah juga Zia sadar diri badannya masih lemas.
Setelah mengantarkan Zia, Arvan kembali ke rumah sakit. Di ruangan Arvan langsung menggunakan jas kebesarannya dan melakukan visit.
Selesai visit saat kembali ke ruangan. Sudah ada Rivan di sana.
"Van, di rumah ada stok vitamin?" tanya Arvan pada Rivan.
"Kenapa?" tanya balik Rivan.
"Tolong ingatkan Zia biar rutin minum vitamin. Tadi hampir aja dia pingsan di mall karena belum makan sejak kemarin." kata Arvan
"Bandelnya kumat pasti dia puasa dan gak sahur." kata Rivan
"Sering begitu memang?"tanya Arvan
"Ya begitulah adik aku. Dia punya asam lambung juga." jawab Rivan.
Hikmahnya kejadian hari ini, Arvan jadi tahu kebiasaan buruk Zia. Dan tugas Arvan nanti untuk meluruskannya.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...