Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 5


__ADS_3

...~Selamat Membaca~...


Hari ini hingga lima hari kedepan adalah jadwal UAS Zia. Jawaban sudah Zia berikan pada ayah dan bundanya. Pak Sa'id juga sudah memberitahu pada keluarga pak Firman dan Alhamdulillah keluarga pak Firman, terutama Arvan mau menunggu serta memberikan waktu untuk mereka saling mengenal terlebih dahulu.


Sesuai kesepakatan, satu bulan mereka waktu diberikan untuk Arvan dan Zia saling mengenal. Jika ditanya, apa satu bulan cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Karena pada dasarnya dalam kehidupan tidak ada batas akhir untuk saling mengenal.


"Assalamualaikum calon kakak ipar." tegur Vina saat melihat Zia sedang duduk sendiri di sekitaran parkiran.


"Wa'alaikumsalam. Apa sih Vina, gak usah ngeledek."


"Siapa yang ngeledeki sih? Oh iya lagi nunggu jemputan?" tanya Vina.


"Iya biasa."


"Bang Rivan atau Om Sa'id?"


"Tadi yang ngabarin sih Abang."


"Dikira gak ada yang jemput. Mau aku ajak bareng tadinya."


"Kamu dijemput siapa?"


"Aku dijemput sama calon suami orang."


"Eh belum ya maaf-maaf." ralat Vina.


Zia hanya geleng-geleng kepala. Vina memang senang sekali menggoda Zia semenjak Zia memutuskan untuk menerima ajakan saling mengenal dari Arvan. Asik mengobrol, mereka sampai tidak sadar jika Arvan sudah datang menjemput Vina.


"Assalamualaikum." kata Arvan yang baru saja menghampiri mereka.


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka bersamaan.


"Abang udah daritadi?" tanya Vina.


"Baru kok. Tapi kalian lagi ngobrol seru kayaknya. Jadi gak ada yang sadar abang datang."


"Rivan belum jemput?" tanya Arvan pada Zia.


"Belum." jawab Zia sambil menggeleng.


"Abang pertanyaannya basa-basi banget sih. Udah jelas belum ada bang Rivan di sini, masih ditanya. Kreatif dong cari topik lain." ejek Vina.


"Bukan gitu Vin. Soalnya Rivan udah berangkat lebih dulu dari abang. Tapi belum sampai kesini juga." kata Arvan sambil menggaruk tengkuknya yang dapat dipastikan ia lakukan itu karena gugup.


"Oh gitu." jawab Vina.


"Udah dihubungi belum Rivannya?" tanya Arvan pada Zia.


"Udah." jawab Zia.


"Terus gimana? Udah dimana?" tanya Arvan.


"Belum di jawab."


"Ekhem... Bang, Zia. Aku ke kamar mandi sebentar ya." kata Vina.


Sekarang antara Arvan dan Zia tidak ada sekat. Hanya ada jarak tempat yang ditinggalkan Vina. Tapi suasanya jadi hening. Arvan dan Zia sama-sama diam.


"Belum ada jawaban juga?" tanya Arvan membuka suara.


"Belum." kata Zia sambil melihat handphonenya.


"Aku antar aja ya. Ini udah mau maghrib loh." kata Arvan.


"Enggak usah." jawab Zia.


"Abang sama Vina kalau mau pulang, gak apa apa." kata Zia.


"Jadi abang panggilannya?" kata Arvan sambil tersenyum.


"Eh maaf." kata Zia gugup.


"Kenapa minta maaf? Gak apa apa enak kok didengarnya."


Zia langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah. Rasanya malu, gugup pokoknya sulit diartikan.


"Tegang banget sih." kata Vina yang baru datang dan kembali duduk di tengah Arvan dan Zia.


Drrrttt hp Zia bergetar, rupanya ada telepon masuk dari abangnya.


"Assalamualaikum. Abang dimana? Lama banget sih, kesal adek nunggu abang." omel Zia.


"Wa'alaikumsalam. Iya maaf adek tercinta. Tadi ke bengkel dulu, mobil ada yang gak enak. Ini sekarang abang udah di parkiran kampus adek kok."


"Ish. Aturan abang itu kasih kabar. Biar adek pulang sendiri aja."

__ADS_1


"Iya maaf. Lagian telatnya abang membawa berkah kan?"


"Maksudnya?"


"Ya jadi bisa ditemani Arvan. Bisa ngobrol, senengkan?"


"Abang apaan sih. Kesel deh kenapa sih abang itu senang banget gang..."


"Udah jangan ngomel terus. Cepat sini kita pulang."


"Yaudah iya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Rivan menyudahi panggilan.


"Gimana, Rivan udah dimana?"


"Udah sampai." jawab Zia sambil tengok kanan kiri mencari mobil Rivan.


"Yaudah kalau gitu pulang yuk. Udah mau maghrib." kata Vina.


"Iya ayo." kata Zia sambil mengangguk.


*


Tidak terasa satu bulan masa perkenalan sudah mereka lewati. Tidak banyak moment pertemuan antara Arvan dan Zia. Mereka hanya bertemu ketika memang tidak sengaja bertemu. Sisanya hanya sesekali komunikasi melalui chat. Dan seringnya saling bertanya melalui perantara yaitu orang tua.


Setelah masa perkenalan selama sebulan, kedua sepakat untuk melangkah maju. Sehingga munculah acara lamaran yang akan dilaksanakan seminggu lagi.


Hari ini Zia yang sedang libur setelah UAS, hanya sendirian di rumah. Ayah bundanya sedang pergi. Ketika Zia sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Zia dikejutkan dengan kedatangan ibu Aliya, orangtuanya Arvan.


"Assalamu'alaikum." sapa bu Aliya.


"Wa'alaikumsalam. Eh tante." kata Zia sambil menghampiri kemudian mencium tangan ibu Aliya.


"Ibu Zi, biasakan ya." katanya sambil tersenyum.


"Eh iya ibu. Maaf." kata Zia gugup sambil menunduk.


"Mari Bu, masuk dulu." kata Zia mempersilakan.


"Terimakasih."


"Sebentar ya bu Zia buatkan minum dulu." kata Zia kemudian bergegas pergi ke dapur.


Beberapa menit kemudian Zia datang dengan secangkir minuman dan camilan.


"Iya. Terimakasih ya."


Zia mengangguk sambil tersenyum.


"Bunda kamu gak ada di rumah ya?"


"Iya bu, lagi ada acara katanya."


"Begini Zi, ibu itu kesini mau ajak Zia ke butik. Kita cari pakaian buat acara hari sabtu nanti ya." kata ibu.


"Aduh ibu, Zia jadi merepotkan."


"Enggak dong. Ini kan ibu yang mau."


"Sekarang kamu siap-siap ya. Ibu tunggu." Zia pasrah dan ikut semua permintaan ibu.


"Zia permisi siap-siap dulu ya bu."


Perjalanan menuju butik lebih banyak diisi oleh ibu yang bercerita mengenai Arvan, mengenai keluarganya. Sampai di butik mereka langsung di sambut oleh karyawan di sana. Sepertinya butik ini langganan bu Aliya. Terbukti jika ibu sudah begitu hapal butik ini. Bahkan beberapa pekerjaan di butik ini seperti sudah mengenai ibu.


"Kita cari dress untuk acara lamaran mbak." kata bu Aliya.


"Oh di sebelah sini bu. Di sini koleksi terbaru kami cocok juga untuk acara lamaran." kata salah satu pekerja di butik.


Setelah mencari-cari pilihan Zia, jatuh kepada gamis yang simple tapi elegan,  gamis berwarna baby blue. Selain warna baby blue itu warna kesukaan Zia. Gaun yang Zia pilih juga simple, tapi cantik. Ternyata setelah dicoba gaunnya sangat pas dengan Zia. Tampak cantik membungkus tubuh mungil Zia.


"Masya Allah bagus Zi. Kamu cantik, anggun." kata bu Aliya.


"Terimakasih bu." kata Zia malu malu.


"Yasudah kita ambil yang ini aja ya?" kata ibu.


"Iya bu."


"Sekarang kita tinggal cari buat Arvan." kata ibu setelah keluar dari butik.


"Karena kamu pakainya gaun. Berarti buat Arvan kita carinya kemeja aja ya. Karena kalau batik rasanya kurang cocok. Kan yang Zia pakai gak ada unsur batiknya." kata ibu lagi.


"Atau gimana Zi? Kamu maunya bagaimana?"

__ADS_1


"Eh anu. Zia ikut ibu aja." kata Zia.


"Arvan sih pake gak bisa ikut segala. Padahal dari kemarin udah ibu bilang. Besok jangan kemana mana. Tapi ya gitu ada aja panggilan kerjaan, dari rumah sakit lah, dari distro lah. Kamu sabar ya nanti kalau Arvan sibuk."


Zia hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi bu Aliya. Habis mau jawab apa Zia malu.


*


Hari yang ditunggu kedua keluarga pun tiba. Menegangkan bagi Arvan. Bagaimana ya, walaupun sudah kesepakatan bersama untuk melanjutkan hubungan mereka menjadi lebuh terarah. Tapi tetap saja Arvan tegang, takut Zia berubah pikiran, takut Zia kembali ragu.


"Abang udah siap belum?" tanya bu Aliya sambil mengetuk kamar Arvan.


Arvan keluar kamar dengan gagah dan tampan menggunakan kemeja berwarna baby blue serasi dengan gaun yang Zia kenakan. 


Arvan hanya mengangguk.


"Gak usah tegang dong. Bismillah." kata ibu sambil mengelus bahu Arvan.


"Abang gugup bu, takut."


"Abang percaya kan rencana Allah itu yang terbaik?"


Arvan hanya mengangguk kemudian turun bersama sang ibu.


"Udah jangan tegang. Berpikir positif aja." kata Ayah sambil menepuk bahu Arvan.


*


Empat puluh lima menit, perjalanan keluarga Arvan sampai di kediaman keluarga Zia. Keluarga mereka disambut hangat oleh keluarga Zia.  Mereka dipersilahkan duduk di tempat yang sudah disediakan. 


Setelah semua keluarga berkumpul acara pun dimulai.  Namun belum ada Zia.  Arvan mengedarkan pandangannya tetapi tetap saja yang ia cari tidak ditemukan.


"Abang jangan-jangan abang ditolak ya? Soalnya sampe sekarang gadisnya abang belum muncul juga." kata Alvin seenaknya yang tanpa disadari membuat Arvan semakin gugup.


Bu Aliya yang melihat Arvan sangat tegang mengusap usap bahunya sambil berbisik.


"Tenang bang. Serahkan semuanya sama Allah." kata bu Aliya.


Acara dibuka dengan lantunan indah ayat suci Al-quran yang dibacakan oleh Rivan. Sekarang acara sudah sampai di acara puncaknya, pembawa acara yang tak lain adalah paman Zia menanyakan tujuan keluarga Arvan datang ke kediaman keluarga Zia.


Pak Firman ayah Arvan memberikan sambutan, yang tujuannya menjelaskan maksud kedatangan mereka.


Keluarga pak Sa'id menyambut baik kedatangangan keluarga pak Firman. Namun ia tak bisa memberikan jawaban. Pak Sa'id menyerahkan sepenuhnya pada putranya untuk menjawab. Pak Sa'id memanggil anak gadisnya, putri bungsunya.


Seoranh gadis cantik berperawakan mungil berbalut gamis syar'i berwarna baby blue dan kerudung panjang yang senada.  Ia diapit oleh kedua sepupunya, muncul dari lantai dua kemudian berjalan menuruni tangga dan duduk tepat di bangku kosong tepat di hadapan Arvan. 


Kedatangan gadis itu membuat Arvan terpana tanpa berkedip ia memandangi Zia.


"Astagfirullah, bang kedip bang.  Belum halal." celetuk Alvin sambil menepuk bahu Arvan. Arvan terkejut dan menanggapinya dengan salah tingkah.


Sementara Zia hanya tertunduk malu dan menjaga pandangannya karena sedari tadi sepertinya mata orang di sini terfokus kepadanya. Bukan Zia terlalu percaya diri tapi memang begitu faktanya.


"Baiklah sekarang putri saya yang bernama Rayna Fauzia muzzafar yang tadi dimaksud sudah ada di sini dihadapan kita. Adakah yang ingin keluarga pak Firman atau nak Arvan langsung tanyakan kepada putri kami?" tanya pak Sa'id.


Arvan langsung berdiri kemudian menarik nafas panjang, memfokuskan pandangannya pada Zia. Walaupun yang menjadi fokus pandangannya hanya menunduk, tidak membalas tatapan Arvan.


"Assalamualaikum wr. wb. Sebelumnya saya haturkan terimakasih kepada keluarga besar Bapak Sai'id yang sudah mau menerima kedatangan kami dengan sangat baik. Saya Muhammad Arvan Firmansyah datang kemari bermaksud untuk mengkhitbah anak bapak dan ibu yang saya ketahui bernama Rayna Fauzia Muzzafar binti Sa'id Muzzafar.  Seperti sebelumnya saya sempat utarakan niat baik saya. Saat ini, dihadapan keluarga besar semua, izinkan saya untuk kembali mengutarakan tujuan saya untuk bertanya kepada Rayna Fauzia Muzzafar, Setelah sebulan masa perkenalan kita. Bersediakah Zia nantinya mendampingi saya, menjadi makmum saya, senang bersama saya, sedih bersama saya, menerima segala kekurangan saya dan berjuang bersama saya menuju surganya Allah mengejar ridho Allah dalam sebuah ikatan suci yang dinamakan pernikahan untuk menyempurnakan separuh agama? Bersediakah Zia menerima khitbah saya dan menikah dengan saya?" Kata Arvan panjang lebar sambil fokus menatap Zia yang masih saja menunduk, tidak berani menegakan kepalanya.


Sementara Zia yang masih menunduk, tangannya menggenggam erat tangan sang bunda. Diam-diam air matanya menetes tanpa izin. Ketika mendengar kata-kata yang di ucapkan Arvan. Ada perasaan senang, ada juga perasaan sedih.


"Putri Ayah sudah dengar kan? Ada pemuda yang datang bersama keluarganya membawa niat baik untuk mengkhitbah putri ayah. Dari awal datang dan meminta izin pada ayah untuk mengenal kamu. Menghargai segala keputusan kamu. Dan sampai dititik ini adanya acara lamaran. Insya Allah dia pria yang baik. Bukan begitu pak Firman, nak Arvan?" tutur pak Sa'id sedikit memecah ketegangan. Mereka mengangguk.


"Jadi sekarang yang kami tunggu tinggal jawaban dari putri ayah. Jadi bagaimana jawabannya?"


Tidak selang berapa lama, Zia masih menggenggam erat tangan sang bunda. Tapi saat ini kepalanya Zia tegakan, pandangannya menatap lurus kearah seseorang dihadapannya.


"Assalamualaikum wr wb.  Bismillahirrahmanirrahim Saya Rayna Fauzia Muzzafar atas izin Allah atas restu kedua orang tua saya.." Zia berhenti sebentar menarik nafas dalam kemudian tangan nya tampak sedikit menyeka air mata di sudut matanya. Arvan yang mendengar ucapan Zia terjeda, kemudian melihat Zia menangis. Merasa semakin dibuat gugup.


"Saya... Saya..." Bunda tampak menggenggam erat tangan Zia kemudian mengelus punggung tangannya. Seakan menguatkan Zia, memberikan dukungan.


"Insya Allah saya bersedia menerima lamaran dari  Muhammad Arvan Firmansyah." Jawab Zia dengan jelas, walaupun tampak pelan ketika menyebut nama Arvan.


"Alhamdulillah." kata itu terucap dari bibir setiap orang yang hadir termasuk Arvan. Air mata Arvan pun tidak terasa menetes. Akhirnya, penantiannya, pencariannya berakhir di Zia.


Acara inti selesai, selanjutnya tinggal penentuan tanggal pernikahan. 


Perbincangan kali ini berjalan alot. Penentuan tanggal pernikahan ternyata tidak semudah itu. Karena harus menyesuaikan dengan seluruh anggota keluarga. Dengan segala macam pertimbangan akhirnya diputuskan pernikahan Zia dan Arvan akan dilaksanakan 3 bulan lagi.


Setelah penetuan tanggal, sekarang ini semuanya sedang menikmati hidangan yang tersedia.  Dan Zia ditarik oleh Vina untuk bergabung bersama keluarnya dan berkenalan dengan yang lainnya.  Sebaliknya Arvan sedang berada di tengah tengah keluarga Zia sama tujuannya untuk lebih saling mengenal.


Vina dengan penuh semangat mengenalkan Zia dengan keluarga besarnya. Walaupun Zia canggung, tapi Zia tetap membuka diri untuk berkenalan dengan keluarga besar Arvan. Begitu juga Arvan ia berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga Zia.


Karena pernikahan bukan hanya nyatukan dua individu. Melainkan mengawinkan dua keluarga.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2