
Hari pernikahan Arvan dan Zia sudah tinggal satu minggu lagi. Arvan dan Zia sudah sama sama mengambil libur. Arvan hanya diberikan libur sehari sebelumnya dan tiga hari sesudahnya. Sedangkan Zia diberi libur satu minggu yang ia gunakan tiga hari sebelumnya dan tiga hari sesudahnya.
Persiapan pernikahan sudah hampir selesai semua. Mereka sudah tidak boleh bertemu. Arvan sudah tak boleh kemana mana kecuali untuk bekerja. Begitu juga Zia hanya boleh pergi untuk kuliah saja.
Tidak dipungkiri ketegangan dan kepanikan menjelang nikah pun menghampiri Zia dan Arvan. Zia banyak menceritakan ketakutannya pada bundanya. Sementara Arvan iya coba netralisir sendiri ketegangan ketegangan itu. Dengan cara memfokuskan dirinya untuk bekerja serta menyibukan diri dengan hal-hal yang membuatnya lebih tenang dan bahagia.
Undangan sudah mulai disebar. Rumah mereka masing-masing juga sudah mulai ramai dengan segala persiapannya. Juga mulai ramai dengan kedatangan saudara-saudara dari jauh.
*
Tiga hari jelang pernikahan, Zia sudah mulai libur kuliah. Beberapa teman Zia yang sudah tahu Zia akan menikah. Mulai banyak yang berkunjung kerumah Zia hanya untuk main-main katanya sih mumpung Zia masih bebas. Kan nanti kalau udah bersuami mereka gak akan bisa bebas lagi main kerumahnya, tidur bareng, main bareng, makan bareng dan banyak kegiatan lainnya yang nanti pasti bakal tidak sebebas saat Zia masih lajang.
Malam ini Zia tidur bersama persepupuannya. Sebelum tidur mereka saling bercerita mengenang masa kecilnya dan kebersamaan kebersamaan mereka. Mereka juga melakukan foto-foto bersama. Hal yang sangat jarang mereka lakukan mengingat mereka tinggal berjauhan dan sibuk dengan urusan masing-masing.
"Ayo kita foto dulu. Buat dokumentasi foto sama adek waktu masih lajang." kata salah satu sepupu Zia.
"Bentar aku panggil Abang Rivan dulu buat fotoin." kata Syifa. Tidak butuh waktu lama Syifa kembali bersama Rivan.
"Kalian ini ganggu Abang tahu gak. Udah malam bukannya istirahat." omel Rivan dengan muka ngantuknya.
"Ya kami kan pengen foto-foto bang. Sebelum Zia nikah."
"Foto mah pas udah nikah juga bisa."
"Beda dong ceritanya. Yaudah si jangan ngomel mulu."
"Pantesan ya belum nikah, galak sih. Anak gadis orang pasti pada kabur."
"Yaudah bye. Abang gak mau fotoin kalian."
"Abaaaaangggg." panggil mereka bersamaan.
"Berisik!"
Zia berjalan menghampiri Abangnya.
"Abang tolong fotoin ya. Abang kan Abangnya aku yang paling ganteng, paling baik, paling segalanya deh. Mau ya ya ya."
"Yaudah sini kameranya."
__ADS_1
Lima orang wanita termasuk Zia langsung berpose dengan gaya andalan masing masing.
H-1 pernikahan di rumah Zia dan Arvan sedang mengadakan pengajian. Saat pengajian di rumah masing-masing selain mengaji bersama keluarga Zia dan Arvan memanggil ustadz tentu ustadz yang berbeda tapi topik bahasannya sama yaitu tentang pernikahan. Selesai acara pengajian ada do'a bersama. Setelah do'a bersama ada acara sungkeman Zia sungkem kepada Ayah, Bunda, Abang, Kakek dan Nenek. Meminta restu agar hajatnya esok hari dilancarkan. Ditempat yang berbeda Arvan juga sedang melakukan hal sama. Dalam acara sungkeman ini momen yang paling haru banjir air mata.
Acara baru selesai saat menjelang maghrib. Malam nya Zia dan keluarga dan Arvan dan keluarga datang ke hotel untuk benar-benar diistirahatkan dalam kamar hotel yang berbeda pastinya. Arvan sudah mulai menghafalkan kalimat untuk izab qobul sejak seminggu yang lalu. Tapi tetap saja walau sudah pasih saat latihan, nyatanya rasa gugupnya tidak hilang begitu saja.
Sudah pukul 22.00 Arvan tidur bersama Alvin di kamar hotel. Walau tak bisa tidur tapi iya terus berusaha memejamkan matanya karena sadar besok akad nikah dan resepsi pasti butuh tenaga yang ekstra.
Begitupun dengan Zia malam ini ia tidur bersama ayah bunda dan abangnya. Zia memaksakan tidur walau sebenarnya pikirannya masih tidak tenang dan matanya masih enggan terpejam.
Pukul 02.30 Zia sudah dibangunkan oleh bundanya. Mereka shalat tahajud bersama sama. Air mata menetes kembali saat ayah dan bundanya memberikan nasihat nasihat. Dan Rivan sang abang yang biasanya tidak pernah mengungkapkan kasih sayangnya melalui kata kata. Pagi ini sambil memeluk Zia erat Rivan seolah menumpahkan persasaannya, rasa sayangnya pada adiknya. Hingga air mata tak dapat dibendung dari keduanya. Zia dan Rivan memang termasuk kakak beradik lawan jenis yang terbilang akur dan tidak kaku. Rivan yang sangat menjaga adiknya juga Zia yang sesalu terbiasa bergantung pada Rivan. Rasanya tidak ingin dipisahkan. Walaupun sebenarnya tidak ada kata pisan bagi sepasang kakak beradik. Tapi dengan pernikahan Zia, mereka tidak dapat sering bertemu dan prioritas hidup juga pasti jadi berbeda. Begitu juga ketika Rivan yang menikah nantinya.
"Abang Adek udahan ya. Nanti gak lucu kan kalau pas acara matanya pada bengkak bengkak." kata bunda berusaha menyudahi keharuan karena jika terus begini iya yakin dirinya pun tak akan kuat dan mungkin saja nantinya Bunda yang akan menangis paling lama.
"Adek sebentar lagi harus make up. Sana ambil wudhu lagi. Biar air matanya terbasuh. Nanti kalau udah make up, adek susah ambil wudhu buat shalat subuh." kata Bunda.
"Iya bun."
Akad nikah diadakan pukul 07.00 akad, akad nikah dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun Zia yang ke 21.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan waktu sudah menunjukan pukul 06.45 yang artinya lima balas menit lagi ijab qobul akan dimulai. Arvan semakin tegang, namun sang ayah dengan setia menemaninya dan menenangkannya. Sementara Alvin mencoba menghibur dengan candaan candaannya yang receh. Jika Arvan boleh jujur, candaan Alvin itu tidak berpengaruh sama sekali senetulnya. Tapi tidak apa apa tetap Arvan hargai perjuangan adiknya itu untuk menghibur abangnya.
Acara akan segera dimulai Arvan sudah dipersilahkan menjabat tangan Pak Sa'id.
Sementara Zia di dalam kamar hanya bisa menyaksikan ketegangan di luar dari layar LCD yang kira kira berukuran 14 inc. Zia bukan main tegangnya tangannya dari tadi dingin dan terus saja menggenggam tangan Syifa dan Nisa sepupunya. Rasanya seperti mimpi tidak sampai hitungan jam statusnya akan segera berubah. Dari gadis yang selalu dilindungi oleh Ayah, Bunda dan Abangnya. Sebentar lagi statusnya berubah mendi seorang istri yang harus berbakti pada suami.
Akad nikah pun mulai dilafalkan.
Didalam kamar Zia memejamkan matanya karena tegang.
Sementara diluar itu di ballroom hotel Arvan juga tidak kalah tegang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rayna Fauzia Muzzafar binti Sa'id Muzzafar dengan mas kawin tersebut tunai." satu tarikan nafas Arvan berhasil melafalkan qobulnya dalam satu kali percobaan
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya pak penghulu
"SAH" kata kedua saksi secara bersamaan.
"Alhamdulillah " ucap para tamu undangan.
__ADS_1
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
Arvan menarik nafas lega. Zia di kamar belum mau membuka matanya. Tapi air matanya sudah menetes membasahi wajahnyanyang sudah terlapis make up. Zia lega, tapi tidak dipungkiri masih ada perasaan belum menyangka jika statusnya kini adalah seorang istri.
Bunda Nada yang berada disamping Rivan tak kuasa menahan air matanya. Iya genggam erat tangan Rivan. Rivan hanya menarik nafas lega. Pak Sa'id tersenyum kearah Arvan yang kini telah resmi menjadi menantunya.
Ibu Aliya pun tidak kuasa meneahan air matanya begitu juga Vina. Sementara Alvin, tersenyum lega dan mengacungkan dua jempol kearah abangnya. Pak Firman pun menghembuskan nafas lega.
Zia sudah mulai membuka matanya iya tak menyangka statusnya kini sudah berubah. Diusianya yang tepat hari ini 21 tahun ia sudah menjadi seorang istri.
Mbak MUA sedikit merapihkan make up Zia. Make up yang Zia kenakan tidak begitu tebal. Namun tampak begitu cantik dan pangling. Karena Zia yang belum pernah bermake up seperti ini.
Perhatian para tamu tertuju pada pintu sebelah kanan meja ijab qobul. Zia yang berjalan sambil diapit Syifa dan Nisa tampak cantik dan anggun. Dengan pandangan yang sedikit menunduk Zia berjalan menghampiri meja ijab qobul. Yang di sana sudah ada suami dan ayahnya. Sampai di dekat meja Arvan bangun lalu menarikan kursi untuk Zia duduk kemudian membantunya duduk. Mereka menandatangani surat surat yang dibawa pak penghulu.
Setelah itu Zia dan Arvan berdiri berhadapan. Zia masih saja menunduk.
"Gak mau lihat Abang? Padahal Abang berharap sudah bisa menatap wajah istri Abang" tanya Arvan pelan. Sayangnya perkataan Arvan masih terdengar oleh orang yang berada di dekatnya. Sehingga memancing orang-orang untuk tersenyum melihat tingkah pengantin baru ini.
Zia sedikit menegakan pandangannya malu malu dan pipi Zia pun memerah mendengar ucapan Arvan. Apa katanya? Istri.
Arvan menyentuh kening zia membatalkan wudhu nya. Kemudian memakaikan cincin nikah nya di tangan Zia. Ada kejadian yang menggelikan saat Arvan akan memasangkan cincin pada Zia. Zia yang diminta mengulurkan tangannya, ia segera mengulurkan tangannya, tapi saat Arvan hendak meraih tangannya, Zia jauh kan lagi tangannya. Terus malu malu seperti itu hingga para tamu pun terkekeh dan Arvan pun gemas sendiri.
"Adek jangan malu-malu gak apa apa udah sah." kata pak Sa'id.
Sementara pipi zia sudah semakin memerah lebih merah dari blush on yg iya pakai.
Saat Zia mengulurkan tangannya lagi Arvan segera memegangnya dan memakaikan cincinnya. Kemudian Zia dengan ragu ragu dan malu malu mengulurkan tangannya lalu mencium tangan Arvan dengan khidmat. Saat Zia hendak mengangkat kepalanya kameramen pun mulai usil.
"Sebentar sebentar belum keambil lagi foto nya." kata kameramen.
Makin lah memerah pipi Zia. Setelah itu Arvan pun meraih kepala Zia yang tertutup jilbab menyentuhnya lembut lalu dengan fasih melapalkan do'a. Setelah itu iya kecup kening istrinya dengan khidmat. Yang dibarengi dengan teriakan para tamu undangan.
Mereka sama sama berharap, momen ini hanya sekali dalam seumur hidup mereka.
Pernikahan bukanlah akhir. Pernikahan merupakan awal, bagi dua insan manusia untuk mengaruhi bahtera kehidupannya sendiri.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...