
Selesai akad nikah Arvan dan Zia menjalankan prosesi adat sunda. Prosesi selesai pukul 10. Setelah itu baru Zia dan Arvan mulai bersalaman dengan para tamu undangan yang sudah hadir dan berakhir pada pukul 12.00 atau saat adzan dzuhur. Arvan pergi shalat di masjid bersama para laki-laki. Sementara itu Zia cukup shalat duhur di kamar hotel saja. Karena Zia harus kembali di dandani.
Setelah shalat duhur Zia segera berganti pakaian dan di make up lagi untuk resepsi ke 1 siang ini dari pukul 14.00 - 16.00. Saat Zia sedang di make up Arvan mengetuk pintu kamar lalu masuk setelah diizinkan. Tidak lama setelah Arvan masuk, mbak make up mengatakan jika proses make up nya sudah selesai. Tidak butuh waktu lama memang karena make up yang digunakan tipis tipis saja. Zia hanya tinggal menggunakan kerudungnya.
Arvan menghampiri Zia dan duduk di sampingnya. Zia memutar duduknya jadi menghadap Arvan.
"Udah makan?" tanya Arvan
"Udah." jawab Zia.
"Kata Bunda belum."
"Udah makan, tapi bukan makan nasi. Tadi makan buah. Abang udah makan?" Tanya balik Zia.
"Kenapa gak makan nasi? Acara nya nanti lama loh cape pasti." kata Arvan sambil menatap Zia.
"Tadi pagi ba'da subuh aku udah makan kok. Insya Allah gak akan kenapa-napa." jawab Zia sambil tersenyum menatap Arvan.
"Abang udah makan belum? Belum ya?" tanya Zia.
"Udah kok tadi setelah shalat duhur bareng ayah sama Rivan." jawab Arvan.
Saat mereka sedang ngobrol, pintu kamar diketuk lagi oleh bunda.
"Adek siap-siap lagi ya kita pakaikan jilbabnya." kata bunda
"Iya bun" kata zia.
"Arvan bunda pinjem dulu ya adeknya." kata Bunda pada Arvan.
"Iya bun Arvan permisi dulu mau ganti baju juga." kata Arvan pamit dari kamar pengantinnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 14.00 Zia sudah keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju pelaminan untuk resepsi sesi satu dengan menggandeng tangan arvan zia nampak cantik dengan gaun panjang berwarna peace dan silver serta kerudung panjang menutup dada dengan warna senada. Arvan pun tampak gagah dengan jas silver dan kemeja peace didalamnya.
Sampai di pelaminan Zia dan Arvan beserta keluarga langsung menyalami para tamu undangan.
Banyak sekali tamu undangan yang datang. Zia bahkan sudah merasakan pegal di kakinya yang disebabkan oleh sepatu berhak 7 cm tersebut. Memang tidak terlalu tinggi, tapi jika digunakan untuk berdiri berjam jam percayalah sepatu ini sangat menyiksa. Awalnya Arvan melarang Zia untuk menggunakan sepatu tersebut. Tapi dengan segala bujuk rayu, termasuk dengan alasan untuk mengimbangi tinggi Arvan. Zia dan Arvan memang memiliki perbedaan tinggi badan yang cukup menonjol. Jika berdiri bersisian tanpa sepatu hak tinggi, tinggi Zia hanya dibawah bahu Arvan. Memakai sepatu dengan hak 7 cm pun tidak begitu terlihat pengaruhnya. Karena tetap saja Zia itu kecil dibandingkan dengan badan Arvan.
*
Resepsi sesi ke dua akan dimulai pukul 20.00. Saat Zia masih menggunakan mukena dan duduk diatas sajadahnya setelah shalat ashat. Pintu kamar pengantinnya diketuk, Zia berjalan membuka pintu karena tadi pintunya sengaja ia kunci.
"Kenapa dikunci?" tanya Arvan, sosok yang mengetuk pintu tadi. Arvan masuk ke kamar dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
"Kan tadi abis mandi dulu. Jadi dikunci aja." jawab zia. Arvan mengangguk paham.
"Abang udah shalat?" tanya Zia.
"Udah. Ini baru pulang dari masjid." jawab Arvan yang dibalas anggukan oleh Zia.
"Adek makan ya. Nih Abang bawain mumpung waktunya masih banyak. Ini bukan penawaran, jadi gak ada penolakan" kata Arvan tegas. Sejak masa perkenalan Arvan sudah diberitahu memang jika Zia ini sering lupa makan. Bahkan bukan hanya sekali Arvan mengerahui Zia sakit karena telat makan.
__ADS_1
Jika suami sudah bertitah, maka mau tak mau istri harus menurut kan? Zia juga begitu, akhirnya ia makan walau hanya sedikit.
"Sedikit banget? Gak enak?"
"Udah cukup. Tadi udah makan buah juga." jawab Zia.
"Satu lagi nih, aaa." kata Arvan sambil menyendokan nasi dan membawanya ke depan mulut Zia. Zia yang masih malu malu, jadi semakin malu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arvan. Dengan paksaan Arvan, beberapa suap nasi berhasil masuk lagi ke mulut Zia.
"Udah bang. Kenyang. Gak lucu kalau nanti perut adek begah pas resepsi." kata Zia. Arvan membalas dengan senyum. Jujur Arvan senang ketika mendengar Zia memanggil dirinya adek. Bagi Arvan itu manis.
Setelah makan mereka berdua sama sama diam. Hanya ada suara jarum jam yang menghiasi pendengaran.
Arvan memejamkan matanya tapi ia tidak tidur. Sedangkan Zia kembali duduk di atas sajadahnya sambil membaca Al-quran melanjutkan kegiatannya yang tadi. Bukan mencari perhatian Arvan, hanya Zia bingung harus melakukan kegiatan apa sambil menunggu shalat maghrib. Bermain handphone? Zia saja lupa handphonenya ada dimana.
Arvan diam-diam memperhatikan Zia. Ia merasa bersyukur memiliki istri yang rajin beribadah. Ia juga berharap jika rumah tangga yang baru dimulai beberapa jam ini bisa mengundang keberkahan. Dan bisa menjadi ladang kebaikan bagi keduanya.
Suara adzan maghrib perkumandang. Arvan yang tadi hanya memejamkan mata ternyata jadi tidur sungguhan.
"Abang..." panggil Zia sambil menepuk pelan lengan Arvan.
"Bang, bangun udah maghrib." panggilan kedua Arvan belum juga bangun. Jika panggilan ketiga tidak bangun juga terpaksa Zia harus menerapkan cara Zia membangunkan Rivan, yaitu dengan menyipratkan air.
Beruntung saat panggilan ketiga, Arvan mulai membuka mata.
"Abang ketiduran ya?" katanya. Zia mengangguk.
"Udah shalat maghrib?" tanya Arvan. Zia menggeleng.
"Abang gak ke masjid?" Zia bertanya ketika Arvan sedang mengenakan sarung.
"Enggak dulu, Abang pengen merasakan kenikmatan jadi imam shlat buat istri." kata Arvan dengan lembut
Pipi Zia itu selalu saja seperti iritasi, ketika mendengar ucapan manis Arvan pipinya pasti langsung merah. Zia yang malu, langsung mengalihkan dengan menggelar satu sajadah lagi. Arvan hanya tersenyum melihat tingkah Zia yang masih gugup dan malu malu. Sangat menghibur bagi Arvan. Ia jadi kecanduan untuk berkata manis dan membuat pipi Zia memerah. Manis, jadi pengen gigit.
Selesai shalat Zia mencium tangan Arvan. Tapi tak sampai bersentuhan karena tangan Zia dibalut mukena dan Zia menciumnya di atas mukena.
Pintu kamar kembali diketuk, rupanya Zia harus sudah mulai besiap siap lagi. Arvan masih terduduk sambil membaca Al-quran. Dan Zia sudah berada di depan meja rias lagi bersama MUA.
Adzan Isya sudah berkumandang. Arvan menghentikan ngajinya, ia melihat kearah Zia yang sedang di make up kemudian menghampirinya.
"Udah selesai belum?" tanya Arvan.
"Sebentar lagi bang ini tinggal lipstik." jawab MUA.
"Bisa gak mbak shalat dulu baru pake lipstik?" Tanya Arvan.
"Oh iya boleh. Kalau gitu saya permisi dulu." Pamit MUA.
Zia memakai kembali mukenanya, agak sulit sebetulnya. Takut make upnya jadi terhapus karena menempel pada mukena.
Selesai shalat berjamaah Zia kembali mencium tangan Arvan. Kali ini Zia benar benar mencium tangan Arvan tanpa penghalang, tanpa takut wudhunya batal. Diciumnya dengan khidmat tangan Arvan. Hingga tidak terasa air mata sudah menetes membasahi tangan Arvan.
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Arvan lalu ia mengangkat wajah Zia agar dapat menatapnya. Zia tidak menjawab, ia hanya menunduk dan mencoba menahan air matanya.
"Kenapa menangis? Jika air mata kamu ini air mata kebahagiaan maka abang ucapkan terimakasih. Tapi jika air mata ini air mata kesedihan maafkan abang dan abang akan berusaha agar tidak pernah melihatnya menetes lagi." Kata Arvan sambil menatap Zia dan menyeka air matanya. Setelahnya iya kecup dahi Zia lama. Entah kenapa air mata zia pun kembali menetes.
"Hei sayang kenapa keluar lagi? Jangan menangis. Memang abang ini lebih suka kamu gak bermake up, tapi bukan begini cara kamu menghapusnya." kata Arvan sambil menangkup pipi Zia. Pipi zia sudah memerah karena panggilan sayang dari Arvan tadi. Lemah memang Zia ini dengn kata kata manis Arvan.
"Lucunya kalau udah merah merah begini." Arvan mencium pipi Zia. Air mata Zia menetes lagi di pipinya yang masih memerah. Arvan pun kembali menyeka air mata Zia kemudian membawa Zia kedalam pelukannya.
Zia memejamkan matanya dalam pelukan Arvan terdengar suara detak jantung Arvan sangat tenang dan teratur. Satu kata, Nyaman. Mendengar dekat jantung Arvan rasanya Zia sangat nyaman dan tenang.
'Kenapa detakannya beda dengannya, kenapa jantungnya selalu berdetak lebih cepat saat bersama Arvan dan ia masih saja gugup. Tapi kenapa suaminya malah setenang ini?' kata Zia dalam pikirannya
Saat keduanya sedang tenang dalam posisi berpelukan, pintu kamar yang tak terkunci terbuka.
"Astagfirullah. Maaf a..a..aku cuma mau bilang kata ibu, abang cepat besiap dan Zia juga bersiap." kata Vina tergagap.
Zia langsung menegakan duduknya.
"Adek aku tersayang Mayra Alvina Firmansyah. Lain kali masuk itu ketuk pintu ucap salam dulu. Untung abang sama Zia gak lagi ngapangapain." kata Arvan.
"Emang abang mau ngapain?" tanya Vina.
"Ya terserah abang udah halal ini." jawab Arvan seenaknya. Padahal Vina yang Arvan jahili, kenapa jadi pipi zia yang memerah lagi.
"Ihh ganjen, udah abang sana siap siap. Zia juga harus siap siap." kata Vina mengusir Arvan.
Mau tidak mau Arvan harus pergi kekamar yang lain untuk bersiap siap. Zia juga dirapihkan kembali make up nya kemudian memakai gaun dan jilbabnya.
Pukul 20.00 semuanya sudah siap. Zia bejalan pelan menuju pelaminan dengan menggandeng tangan Arvan. Sepatunya yang tinggi dan gaunnya yang panjang dan lumayan berat memang menjadikan Zia selalu butuh pegangan saat berjalan. Untung saja badan Arvan lebih dari kuat buat Zia jadikan pegangan.
Sudah tengah malam. Tapi tamu belum semuanya pulang. Hingga pukul 01.00 saat tamu sudah pulang semua keluarga Arvan dan Zia, satu persatu mulai meninggalkan ballroom menuju kamarnya masing masing.
Sedangkan Zia yang hampir 5 jam selalu berdiri dan hanya sesekali duduk dan itupun hanya untuk minum merasa sangat lelah. Kini Zia masih terduduk di kursi pelaminannya yang indah tapi hanya sebentar ia duduki. Zia merasa pegal dan sakit di kakinya mungkin efek terlalu banyak berdiri dan menggunakan high heels.
"Kalian belum masuk? Masuk sana istirahat pasti cape kan?" kata ibu Aliya saat melihat Arvan dan Zia masih sama sama terduduk.
"Iya bu sebentar." kata Arvan.
Ibu Aliya pun meninggalkan mereka.
"Dek yuk kita istirahat." kata Arvan mengajak Zia sambil berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Zia.
Zia pun menerima uluran tangan Arvan lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Arvan. Zia berjalan sedikit di belakang Arvan tapi tangan mereka masih bertautan. Tiba tiba Zia berhenti. Arvan yang merasa tangannya tertahan pun menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang.
"Kenapa?"
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1
Klarifikasi : Kalau yang aku tahu dan yang aku pelajari, bersentuhan antara suami istri itu tetap membatalkan wudhu. Apabila ada pembaca yang mempercayai jika hal itu tidak membatalkan wudhu, tidak masalah. Kita saling menghargai saja ya. Karena yang kita percayai pasti baik menurut kita dan yang orang lain melajari itu juga baik buat diri mereka. Jadi hal yang sama sama baik tidak perlu lagi didebatkan bukan?