Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 3


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, setelah kejadian Arvan yang mengerem mendadak. Suasana mobil menjadi hening. Baik Arvan maupun Vina hanya sama-sama diam. Vina sibuk dengan ponselnya dan Arvan fokis memperhatikan jalanan dengan senyum tampak enggan lepas dari bibirnya.


"Abang mau lamar dia Vin." kata Arvan tiba tiba.


"HAH?" kata Vina yang sangat terkejut sampai ponselnya terjatuh, Vina langsung mengubah posisi duduknya menghadap kearah Arvan.


"Abang jangan sembarangan, jangan main main,  jangan gegabah. Abang baru beberapa kali ketemu jangan sampai itu cuma nafsu dan obsesi aja abang." kata Vina.


"Selama 2 minggu ini, semenjak pertama abang ketemu dia, abang selalu kepikiran Vin. Bahkan semenjak abang tahu dia, dia selalu abang sertakan dalam do'a abang. Abang gak diam aja." kata Arvan.


"Iya. Tapi sebagai perempuan pasti kaget kalau tiba-tiba abang datang terus mau ngelamar. Kalau abang tiba-tiba datang, emang Abang pikir Zia ingat kapan kalian ketemu?"


"Iya abang tahu. Sebelumnya abang beberapa kali istikharah. Dan belakangan ini abang sempat ragu. Abang berpikir mungkin dia sudah menikah, mungkin dia udah punya calon. Tapi dengar kata kamu tadi, abang yakin kalau abang punya peluang. Kamu bantu Abang ya."


Vina hanya bengong terkejut mendengar abangnya mengutarakan isi hatinya tentang seorang wanita padanya. 


"Tapi bang dari cerita Zia, yang aku tahu sepertinya masih ada ketakutan dia untuk kembali memulai. Rasa kecewa karena batal menikah, belum hilang di hatinya." jelas Vina.


"Abang faham. Tapi kalau belum dicoba siapa yang tahu? Kamu cukup dukung abang, do'akan abang. Biar sisanya nanti abang yang berusaha." kata Arvan meyakinkan.


"Ya kalau memang abang yakin. Aku sebagai adik mendukung dan mendo'akan apapun yang terbaik untuk abang. Terus abang bakal mulai darimana?" tanya Vina.


"Abang perlu lebih meyakinkan diri lagi sebelum melangkah. Setelah abang yakin seratus persen. Baru abang ceritakan niat baik abang ini pada ayah dan ibu." kata Arvan dengan tenang.


"Hm. Semoga Allah mudahkan jalannya. Aku juga senang sih kalau sampai Abang jadi sama Zia. Dan Zia jadi kakak ipar aku."


*


Setelah menceritakan isi hatinya pada sang adik. Sekarang Arvan merasa semakin yakin. Bahkan Arvan juga sudah bertanya sendiri pada Rivan. Untuk memastikan jika saat ini Zia sedang tidak menjadi pinangan siapapun. Jawaban Rivan semakin meyakinkan Arvan untuk melangkah.


Malam ini sepulang shalat berjama'ah di masjid. Arvan segera menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Arvan mencoba mengutarakan niat baiknya pada ayah dan ibunya.


"Jadi begitu,  mau kan ayah dan ibu melamarkan dia untuk abang?" tanya Arvan pada ayah dan ibunya.


"Tunggu siapa tadi namanya Zia? Adiknya Rivan? Rivan teman kuliah abang itu? Yang suka main ke rumah?" tanya ibu.


"Iya bu."


"Bukannya Rivan itu putranya pak Sa'id ya?" Tanya Ayah.


"Iya yah." jawab Arvan.


"Ya kalau ayah sih, gak masalah. Apalagi dia anaknya pak Sa'id yang ayah kenal dekat dengan beliau. Kalau ibu bagaimana?"


"Ibu juga ya terserah abang. Kalau abang memang udah yakin sama dia. Ibu sebagai orangtua kan cuma bisa mendukung."


"Alhamdulillah akhirnya abang aku mulai tertarik juga lamar anak orang dikira mah bakal datar terus kayak jalan tol." kata Alvin ngasal.


Semuanya tertawa kecuali Arvan yang melemparkan bantal sofa ke arah Alvin.


"Jadi abang rencananya kapan mau silaturrahim sekaligus menyampaikan niat baik abang ke keluarga mereka?" tanya Ayah.


"Kira-kira kapan ya yah? Kalau akhir pekan ini gimana?"


"Boleh. Lebih cepat lebih baik. Daripada nanti diserobot orang lain. Jadi hari minggu ya, mau jam berapa?"


"Kalau pagi gimana? Sekitar jam 9 atau jam 10. Ini kan kita tujuannya baru untuk silaturrahim. Jadi abang rasa gak perlu lama lama."


"Yaudah kalau gitu, nanti ayah hubungi pak Sa'id apa mereka bisa dihari dan waktu tersebut."


Selesai perbincangan serius keluarga Arvan, pak Firman memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Pak Firman menghubungi pak Sa'id.


On the phone


Pak Sa'id : Assalamualaikum pak Firman.

__ADS_1


Pak Firman : Waalaikumsalam pak Sa'id. Apa kabar pak Sa'id sekeluarga?  Lama tidak bertemu.


Pak Sa'id : Alhamdulillah baik. Bagaimana pak Firman sekeluarga?


Pak Firman : Kami sekeluarga pun Alhamdulillah baik. Begini pak Sa'id. Karena kebetulan kita sudah lama tidak bertemu. Kiranya boleh tidak ya, jika saya sekeluarga bersilaturahim ke rumah keluarga pak Sa'id hari minggu nanti?


Pak Sa'id : Tentu boleh sekali, kami terima dengan senang hati.


Pak Firman : Alhamdulillah. Insya Allah jika tidak ada perubahan hari minggu pagi kami kesana.


Pak Sa'id :  Iya silahkan pak Firman.


Pak Firman : Terimakasih banyak pak Sa'id. Mohon maaf saya mengganggu waktu istirahatnya. Yasudah kalau begitu saat ini hanya itu yang ingin disampaikan. Mungkin obrolannya bisa kita sambung hari minggu nanti. Assalamualaikum.


Pak Sa'id : Sama sama pak Firman. Begitu ya. Wa'alaikumsalam.


*


Tiba di hari minggu, waktu yang sudah ditentukan. Pak Firman sekeluarga sudah bersiap untuk pergi ke kediaman keluarga pak Sa'id.


Pukul 09.30 mereka sampai di kediaman keluarga pak Sa'id.


Keluarga pak Sa'id sudah mempersilakan mereka untuk masuk.


"Wah sudah lama sekali ya." kata pak Firman.


"Iya. Kita lebih sering bertemu di luar tanpa sengaja daripada berkunjung seperti ini." jawab pak Sa'id.


"Sebelumnya saya mohon maaf, apabila kedatangan kami ini merepotkan tuan rumah."


"Kami senang kedatangan pak Firman sekeluarga. Tapi sejujurnya kami sedikit bertanya-tanya."


"Jadi begini pak Sa'id. Sebetulnya kedatangan kami ke rumah keluarga pak Sa'id ini bisa dibilang membawa misi."


"Haha iya. Begini, beberapa waktu lalu. Putra sulung kami. Ini Arvan, bercerita kepada kami selaku orangtua. Dia menceritakan keinginannya. Bahwa dia ingin berkenalan dengan putri pak Sa'id."


"Putri saya?" tanya pak Sa'id dan nampak sekali raut terkejut dari wajah pak Sa'id dan bu Nada.


"Saya juga sempat terkejut saat mendengar penuturan Arvan. Saya tidak tahu, mereka pernah saling bertemu dimana. Dan pertemuan itu ternyata berkesan bagi putra kami. Sehingga sampailah kami ditahap ini."


"Jadi, sekiranya keluarga pak Sa'id menerima. Putra kami ingin mengenalkan putra kami dan mengenal putri bapak lebih jauh."


"Masyaa Allah. Pak Firman membawa misi baik yang sangat mengejutkan bagi kami." kata pak Sa'id.


"Kami tentu sangat menerima dengan tangan terbuka mengenai apapun tujuannya." lanjut pak Sa'id.


"Tapi untuk perihal saling mengenal. Kan ini yang punya maksud putranya pak Firman kepada putri saya ya. Mungkin lebih baik kami panggilkan putri kami terlebih dahulu. Sebentar ya."


"Bun, coba tolong panggilkan Zia nya." kata pak Sa'id.


Bunda Nada berandak ke kamar Zia yang ada di lantai 2 rumah mereka.


"Assalamualaikum. Dek..." panggil bunda sambil mengetuk pintu kamar Zia.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa bun?"


"Pake jilbabnya. Kita turun yuk ada tamunya ayah."


"Kan tamunya ayah kok adek yang turun? Oh buat minum ya? Sebentar bun."


"Tunggu dek. Bunda ajak adek turun bukan untuk suruh adek buat minum.  Biar adek gak kaget, sini bunda kasih tahu sekilas." kata bunda sambil menarik pelan Zia ke dalam kamarnya.


"Begini, tamunya ayah itu datang sekeluarga. Selain untuk silaturahim sama kita. Ternyata putra mereka juga punya tujuan lain. Katanya putra mereka pengen kenalan sama adek."


"Bun." rengek Zia.

__ADS_1


"Sayang. Jangan juga dijadikan beban. Sekarang kan kenalan dulu. Temui ya?"


"Terus nanti adek jawab apa? Adek terima?"


"Kalau adek belum bisa jawab adek boleh kok minta waktu."


Zia masih diam.


"Temui ya? Yuk cepat pake jilbab."


"Bun adek takut. Yang kemarin aja belum benar-benar bisa adek lupa bun."


"Dek, dengar bunda. Ini kan kenalan. Prosesnya masih panjang. Kalau nanti adek gak nyaman, yaudah. Ayah bunda gak maksa."


"Turun ya, hargai mereka yang datang jauh."


"Sama abang juga turunnya." kata Zia.


"Yaudah adek pake jilbab. Bunda panggil Abang."


Beberapa menit kemudian ketiga orang tersebut sudah sampai di ruang tamu.


"Loh Arvan?" tanya Rivan.


"Ada Vina juga?" kata Zia setelah menyalami bu Aliya.


"Duduk dek." kata Ayah.


Setelah dipanggilkan Zia. Keluarga pak Firman kembali mengutarakan maksud kedatangan mereka.


"Jadi gimana dek? Ayah bunda serahkan keputusannya sama adek." kata Ayah.


Zia masih diam.


"Boleh enggak kalau minta waktu beberapa hari buat menjawab?" tanya Zia pelan. Hampir semua yang ada di ruang tamu tersenyum kecuali Zia.


"Butuh waktu berapa hari?" tanya Arvan.


"Satu bulan boleh?" tanya Zia sambil menuduk.


"Dua minggu bagaimana?" tanya Alvin.


Zia diam. Kemudian tidak lama Zia mengangguk.


*


Setelah keluarga pak Firman pulang. Zia menjadi diam.


"Adek kenapa?" tanya Ayah.


Zia menggeleng.


"Dek, ayah tahu. Di hati adek masih takut kan? Ayah mungkin gak mengerti yang adek rasakan. Tapi begini, kalau adek terus terpaku sama yang lalu tandanya adek gak maju dong?"


"Sekarang daripada terus adek pikirkan dan jadi beban pikiran adek. Mending mengalir aja. Adek punya waktu dua minggu kan. Gunakan sebaik-baiknya. Adek berdo'a, istikharah. Karena Arvan juga sebelum memberanikan diri datang kesini. Dia juga modalnya istikharah dan do'a. Jadi bagusnya jawaban yang adek kasih juga barus berdasar istikharah jangan berdasar hawa nafsu."


"Bismillah nak. Ayah percaya anak ayah ini udah besar udah dewasa. Jadi Ayah juga percaya kalau adek gak akan sembarangan ambil keputusan."


Zia tidak menjawab, dirinya masih takut. Tapi perkataan ayah dan bundanya juga benar. Sampai kapan Zia akan dibayang-bayangi ketakutan kegagalan. Ketakutan tidak akan hilang kalau bukan diri kita sendiri yang melawan.


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2