Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 14


__ADS_3

Ternyata reaksi Zia di luar dugaan Arvan. Arvan kira Zia bakal menolak dan memilih tinggal sementara di rumah keluarganya. Tapi Zia justru tersenyum. Bukan senyuman terpaksa, melainkan senyum yang tulus.


"Begitu lebih baik." Jawab Zia.


"Tapi mungkin rumah kontrakan gak akan sebesar rumah Ayah Bunda. Dan kalau abang kredit rumah juga gak akan semewah rumah keluarga kita." Kata Arvan


"Kita cuma berdua abang, belum perlu juga rumah yang besar.  Kecuali kalau abang ingin kita tidur dalam kamar yang berbeda baru kita butuh banyak kamar." jawab Zia asal. Sambil masih tetap membereskan barang barangnya dengan Arvan.


"Berani goda abang ya sekarang." kata Arvan.


"Bukan menggoda. Benarkan? Abang mempermasalahkan kalau nanti rumahnya gak besar. Kalau nanti rumahnya gak mewah. Masalahnya apa kalau rumah kita nanti gak besar dan gak mewah? Ibarat pohon kita ini baru ditanam. Gak mungkinkan langsung berbuah. Ya kita nikmati aja. Biar nanti kita punya cerita."


"Yang penting kita gak lupa buat selalu berdo'a dan berusaha." kata Zia lagi. Arvan dibuat kagum dengan ucapan Zia. Tapi mana tega Arvan membuat istrinya susah. Dia ambil Zia dari kedua orangtuanya, masa iya setelah ia ambil, anak orang mau ia bawa susah. Arvan yang terbilang lelaki berego tinggi tentu tidak mau hal itu terjadi. Setidaknya Arvan harus bisa memperlakukan Zia sebagai mana Zia diperlakukan di keluarganya. Kalaupun Arvan belum mampu seperti seorang ayah yang memanjakan anak gadisnya. Setidaknya Arvan masih bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik semampunya dan tidak menyakitinya.


"Pinter banget sih jawabnya." kata Arvan sambil mengusap kepala Zia.


Pukul 10 Zia dan Arvan meninggalkan hotel menuju ke rumah ayah dan ibu mereka.  Di perjalanan hanya terdengar suara shalawat dari dvd yang ada di mobil.  Arvan yang merasa bosan dan lapar akhirnya memulai obrolan.


"Dek." Katanya sambil menoleh sedikit ke arah Zia.


"Iya." Jawab Zia sambil melihat ke arah Arvan.


"Abang lapar kita makan dulu ya. Adek mau makan apa? Dan dimana?" tanya arvan


"Adek terserah abang." Jawab zia


"Gak ada jawaban terserah. Bilang aja dimana." tanya Arvan lagi. Emang perempuan begitu ya? Adiknya, Istrinya kenapa kalau ditanya mau makan dimana jawabannya pasti terserah. Tapi nanti kalau dibawa ke satu tempat, bilangnya, "Ih kok kesini, aku kan lagi gak mau makan ini."


"Kalau adek jawab mau makan junkfood emang boleh?" jawab Zia.


"Enggak boleh." jawab Arvan.


"Yaudah mangkanya terserah Abang adek ikut. Adek belum terlalu lapar juga."


"Benernih?" tanya Arvan lagi. Zia mengangguk.


"Tapi jangan kayak Vina ya? Bilangnya terserah tapi pas dibawa ke satu tempat protes."


"Iya gak akan protes." jawab Zia.


"Bener ya."


Zia hanya diam tak menanggapi lagi ucapan Arvan. Berapa kali sih Zia harus menjawab.


"Sayang kok diam."  tegur Arvan dengan lembut.


Zia tidak bergeming, hanya saja bibirnya sudah dimanyun manyunkan menandakan ia sudah kesal.


"haha oke deh oke maafin abang. Yuk turun ini udah sampai di restauran seafood yang sering abang datengin." kata Arvan kemudian melepaskan seatbelt nya dan keluar dari mobilnya.


Zia mengekor Arvan turun dari mobil.  Tanpa ragu Arvan langsung menuntun tangan Zia dan masuk.


Arvan memesan beberapa menu yang menjadi favoritenya. Seperti, kepiting, lobster, udang. Arvan itu suka sekali seafood. Dia sering kalap ketika berhadapan dengan makhluk sedap penghuni laut itu.


Lihat saja sekarang di hadapan mereka sudah banyak menu yang tersaji.


"Abang suka banget seafood ya?"


"Heem. Adek bisa buat gak menu begini?" tanya Arvan pelan, takut Zia tersinggung. Zia tersenyum.


"Kalau enggak juga gak apa-apa, kita bisa beli." kata Arvan lagi. "Lagian makan seafood terlalu banyak juga gak baik. Kolesterol." sambung Arvan.


"Adek bisa kok. Tapi gak tau bakal seenak yang sekarang abang makan atau enggak." kata Zia.


"Serius bisa?"


"Iya Abang."


"Jadi makin sayang." kata Arvan mencium tangan Zia dengan bibir yang penuh bumbu.


"Jorok." tegur Zia. Arvan hanya cengengesan.

__ADS_1


Setelah makan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah.  Tadi mereka juga sedah memesan beberapa menu makanan untuk orang di rumah. 


Ketika sampai di rumah,  keadaan rumah sedang sepi.  Hanya ada Alvin yang kebetulan tak ada jam kuliah ia sedang bermain PS terbaru.


"Assalamualaikum Vin. Abang pulang gak denger emang?" tanya Arvan mengagetkan Alvin.


"wa'alaikumsalam eh abang sama kakak hehe maaf ini lagi seru. Vina kuliah,  Ayah kerja sama, Ibu lagi gak tahu kemana Alvin lupa." jawab Alvin sebelum ditanya karena ia tidak mau acara main PS nya terganggu.


"Wah PS baru Vin? Asik nih sini abang mau maen juga." Kata Arvan malah asik bermain PS bersama Alvin dan mengabaikan Zia.


"Oh iya sayang kamu istirahat aja, kamar Abang di lantai dua  yang di samping tangga." kata Arvan tanpa melihat Zia dan masih fokus dengan PS nya.


Sebelum ke kamar Zia lebih dulu menaruh makanan yang ia bawa ke kulkas. Sayangkan kalau basi, masalahnya seafood itu bukan tergolong makanan murah. Tidak mau bertanya pada Arvan iya mencari sendiri letak dapurnya.


Zia mendorong sendiri koper yang berisi barangnya dan Arvan. Arvan yang tidak sengaja melihat Zia kesusahan menaiki tangga sambil membawa koper besar, meninggalkan sejenak PS nya lalu membantu Zia.


"Kenapa gak minta tolong Abang kalau susah?" tanya arvan


Zia hanya diam.  Arvan mengangkat kopernya ke kamar.  Setelah itu ia kembali bermain PS bersama Alvin. 


Zia kesal pada Arvan, ini pertama kalinya Zia datang kerumah Arvan, eh gak pertama deng udah pernah sebelum menikah, saat sedang mengurus pernikahan. Tapi waktu itu juga Zia hanya diam di ruang tamu, tidak berkeliling mana tau Zia seluk beluk rumah ini.  Sekarang kondisi rumah sedang sepi dan Arvan malah mengabaikannya karena bermain PS. 


Zia memilih untuk membereskan barang barang mereka. Selesai membereskan barang.  Sudah masuk waktu dzuhur,  mau tak mau Zia harus memanggil Arvan untuk solat. Takutnya shalat juga dilupakan seperti Zia saat ini. 


"Abang Arvan,  Alvin udah dzuhur. Shalat dulu." kata Zia.


"Iya sebentar sayang." jawab Arvan tidak menoleh sama sekali.


Lihat udah di suruh pun masih jawab nanti.


"Iya kak sebentar." jawab Alvin sama seperti Arvan.


"Yah yah Vin... Ah jangan curang dong..." kata Arvan masih asik sendiri.


"Idih kalah mah kalah aja. Malah ngatain curang."


"Yaudah aku shalat sendiri ya bang." kata Zia sambil berjalan meninggalkan kakak beradik itu.


Setelah kalah Arvan langsung berlari ke kamarnya melihat Zia sudah siap dengan mukenanya untuk shalat sendiri.


Selesai shalat seperti biasa cium tangan dan cium kening. Setelah itu Arvan kembali ke bawah bermain PS bersama Alvin. Bertambah sudah kekesalan Zia. Zia memilih diam di kamar menghubungi ibu mertuanya, menannyakan keberadaannya dan memberitahu jika ia dan Arvan sudah di rumah dan ibu mertuanya itu tak perlu membeli makanan.


Pukul 16.00 Vina pulang dari kampus bersama ibu yang kata Alvin tidak tahu pergi kemana.  Melihat disitu ada Arvan, Vina langsung ke kamar Arvan dan membawa Zia ke kamarnya.  Mereka asik mengobrol rasa bosan Zia yang sejak tadi sendirian sedikit berkurang, tapi kekesalannya pada Arvan masih tetap.


Ibu yang melihat Arvan asik main PS sejak tadi pun mulai curiga jika anaknya itu mengabaikan istrinya.


"Abang, Zia mana bang?" tanya ibu Aliya.


"Ada di kamar bu." jawab arvan seperlunya.


"Lagi apa dia?  Dari tadi di kamar?" tanya ibu memancing.


"Gak tau bu Abang dari tadi disini habis shalat dzuhur dan ashat juga abang langsung turun." Jawab Arvan tanpa dosa.


Ibu mulai geram ternyata dugaannya benar. Kedua anak lelakinya memang begitu jika sudah bermain PS bisa melupakan segalanya.


"Allahu Arvan, Zia itu baru pertama kesini belum tau apa apa tentang rumah ini. Di rumah juga dari tadi sepi gak ada orang. Kamu malah biarin Zia sendiri gitu? Baru aja nikah sehari lihat PS baru, istri udah diabaikan. Inget kamu itu punya tanggung jawab lain sekarang Arvan." kata ibu menegur Arvan.


Deg kata kata ibunya tadi menyadarkannya. Bisa bisanya ia mengabaikan istrinya hanya karena PS. Tanpa kata arvan berlari ke kamar,  sayangnya Arvan tidak menemukan istrinya itu di kamar.


"Kamu juga Alvin. Udah dewasa masih aja senang main PS. Cari jodoh yang bener."


"Gak denger bu, Alvinnya lagi bobo hehe." jawab Alvin. Yang dibalas ibu dengan pukulan menggunakan bantal sofa.


Arvan tidak tau jika Vina sudah pulang. Ia turun untuk bertanya pada  Ibunya.


"Ibu liat gak Zia kemana? Di kamar gak ada?" tanya Arvan bingung


"Gak tau." Jawab ibu.


"Vina udah pulang?" tanya Arvan lagi

__ADS_1


"Lihat aja sendiri ke kamarnya." kata ibu tanpa menatap Arvan.


Arvan kembali ke atas untuk mengecek kamar Vina. Ia mencoba membuka pintu, pintunya terkunci berarti Vina sudah pulang.  Dan pasti istrinya itu sedang bersama Vina.


Tok tok tok


"Vina ini Abang. Buka pintunya Abang mau ambil istri abang." kata Arvan sambil mengetuk pintu.


"Bentar bang aku pinjam dulu lagian tadi juga Abang lagi asik main PS kenapa udahan sih kalah ya?" kata Vina tanpa membuka pintu.


"Vina buka dulu. PS hak menarik lagi sekarang bagi Abang." kata Arvan.


"Alah abang alasan." Jawab Vina.


"Vin ayolah buka dulu." Bujuk Arvan.


"Enggak. Diam ah ganggu aja."


Tapi akhirnya Vina membuka pintunya dan Arvan masuk. Benarkan istrinya ada disana bersama Vina. Arvan menghampiri Zia yang sedang duduk bersila di kasur Vina.


"Sini ikut Abang." katanya sambil menarik tangan Zia pelan. Zia hanya menurut tapi masih dalam mode diamnya.


"Ah mentang-mentang suami tadi aja diabaikan sekarang ditarik-tarik." celetuk Vina


Arvan tak menanggapi iya terus menuntun Zia hingga ke kamarnya. Mereka duduk di sofa kamar.


"Abang mau mandi? Bentar adek ambilkan anduknya" kata Zia menghindari Arvan. Tapi Arvan menahan pergelangan tangannya.


"Maafin abang." kata Arvan sambil menatapi Zia dan sedikit menarik tangannya agar Zia kembali terduduk.


"Untuk?" tanya Zia basa-basi.


"Hhh, mengabaikan kamu sejak sampai di rumah ini, karena lebih memilih bermain ps." Arvan menghembuskan napasnya sebelum menjawab.


"Oh. Ini udah mau maghrib. Abang mau mandi duluan atau aku duluan?" tanya Zia mengalihkan pertanyaan arvan. Sadar pertanyaannya belum di jawab Arvan dan dialihkan Arvan pun mulai jail untuk menggoda Zia.


"Kalau bersama gimana? Hemat waktu." jawab Arvan seenaknya.


"No." kata Zia cepat sambil berdiri tapi sayang kembali Arvan menarinya.


"Tolong jangan alihkan dulu.  Maafin abang, abang salah, abang tau adek baru pertama kesini. Tapi abang bukannya nemenin adek dampingin adek tapi malah asik sama PS abang. Maafin abang janji gak lagi." Kata Arvan serius


Zia menarik nafas


"Gak apa apa kok. Semoga gak ada lagi lah kejadian aku di abaikan karena hal lainnya lagi." Jawab Zia sambil menghembuskan napas pelan.


"Abang janji gak akan." kata arvan yakin


"Gak usah banyak janji. Sana cepat mandi." Perintah Zia pada Arvan.


"Kalau gitu abang usahakan. Gak jadi mandi bersama?" Kata arvan


"No." Kata Zia tegas.


"Yah okelah. " kata Arvan berjalan mengambil handuk di lemari dan menuju kamar mandi.


Zia menyiapkan pakaian Arvan. Setelah itu iya turun untuk bertemu ibu mertuanya, karena dari tadi belum bertemu. Zia melihat ibu mertuanya sedang di dapur.


"Eh Zi. Ada apa?" tanya ibu saat melihat Zia menghampirinya.


"Ibu lagi apa? Zia bantu ya." kata Zia menawarkan. 


"Gak usah ibu cuma sedang buat teh buat ayah aja kok. Arvan mana? " kata ibu lalu menanyakan Arvan.


"Abang Arvan lagi mandi bu." jawab Zia.


"Maafkan Arvan kalau tadi mengabaikan kamu ya. Anak lelaki ibu dua duanya memang begitu suka lupa waktu kalau main game. " kata ibu menjelaskan.


"Eh iya ibu gak apa apa kok hehe." kata Zia sambil nyengir.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2