
Saat hendak meninggalkan dapur dan pergi ke kamar, Zia berpapasan dengan Vina yang nampaknya sedang terburu-buru.
"Zi, temani aku yuk." ajak Vina.
"Kemana?" tanya Zia.
"Izinmart depan. Aku mau beli sesuatu mendesak nih." bujuk Vina sambil menarik tangan Zia.
"Eh sebentar aku izin dulu sama abang kamu." jawab Zia.
"Aduh yaudah sana jangan lama tapi." kata Vina.
Zia pergi ke kamarnya disana ada Arvan yang berjalan ke arah pintu kamar. Sepertinya Arvan sudah seleaai dan hendak keluar kamar.
"Bang adek mau minta izin ya, mau nemenin Vina ke izinmart depan, ada kebutuhan mendesak katanya boleh ya." Pinta Zia pada Arvan.
"Ini udah sore loh jam 5 bentar lagi maghrib." Jawab Arvan.
Vina yang ternyata mengikuti Zia akhirnya bersuara.
"Gak bisa bang ini bener bener harus sekarang banget kalau engga bisa hancur dunia persilatan." kata Vina asal.
"Lagian ke izinmart depan doang paling 10 menit boleh ya plis aku pinjem dulu istrinya ya ya ya. Yuk Zi." Paksa Vina pada Arvan sambil menarik Zia.
"Oke 15 menit harus sudah sampai dirumah. Kalau enggak abang hukum kalian." Tegas Arvan.
"Yaudahlah terserah Abang." jawab Vina
Mereka pergi menggunakan motor. Zia merasakan senang jalan sore menggunakan motor.
"Asik juga ya Vin jalan sore pake motor gini." kata Zia pada Vina.
"Emang kamu jarang naik motor?" Tanya Vina heran.
"Ya sering juga. Tapi maksudnya sore sore gini gitu, tenang rasanya apalagi ini di jalanan komplek sepi." Jawab Zia.
"Nanti minta deh sama abang, biar diajak jalan-jalan sore pake motor." kata Vina.
Mereka sampai di izinmart. Vina mencari apa yang ia butuhkan dan ternyata Vina hanya membeli pembalut dan coklat karena katanya hari ini vina datang bulan dan stok pembalutnya sudah benar-benar habis karena lupa belanja bulanan. Dan coklat untuk meningkatkan mood katanya, karena biasanya kalau datang bulan mood Vina selalu jelek. Sedangkan saat ini ia sedang banyak tugas yang harus dikerjakan.
Selesai dengan kegiatannya Vina dan Zia langsung pulang. Kurang dari 15 menit. Rupanya Arvan sudah berjaga di depan pintu, saat motor Vina memasuki halaman Arvan langsung menghampirinya.
"Apa yang dibeli?" tanya Arvan.
"Roti sama coklat." Jawab vina asal
"Apa apaan beli roti sama coklat aja pake bilang mendesak segala." kata arvan ngegas. Kemudian merebut belanjaan yang dibawa Vina. Saat membukanya Arvan kaget sendiri.
"Oh roti ini. Oke abang faham." Kata Arvan sambil menyerahkan belanjaannya pada Vina lagi. Sementara Vina dan Zia sama sama diam tidak menanggapi apa yang Arvan lakukan.
Mereka masuk ke dalam rumah dan bersiap siap shalat maghrib. Para lelaki shalat maghrib berjamaah di masjid. Dari maghrib sampai isya mereka berkegiatan sendiri sendiri.
Selesai shalat isya, sambil menunggu para lelaki pulang dari masjid. Zia membantu ibu untuk menyiapkan makan malam. Hubungan Zia dan Ibu jika dibilang sangat akrab ya tidak juga. Jujur saja Zia masih sering gugup. Takut apa yang Zia lakukan tidak sesuai dengan kebiasaan ibu. Tapi sejauh ini hubungan menantu dan mertua ini ya baik-baik saja.
Hidangan sudah siap. Kaum adam juga sudah pulang dari masjid. Mereka langsung saja makan malam bersama. Selesai makan malam Zia dan Vina langsung membereskan piring bekasnya dan mencucinya.
__ADS_1
Setelah mencuci piring Zia tidak langsung ke kamar. Ia memilih menemani Vina mengerjakan tugas di ruang keluarga. Di sana juga masih ada ibu dab ayah yang sedang mengobrol.
Pukul 22.00 Zia dan Vina sama sama masuk kamar. Tapi sebelumnya, mereka mengunci dulu semua pintu dan jendela. Saat sampai di kamar Zia melihat Arvan sedang membaca buku di sofa.
"Dari mana aja sayang ?" tanya Arvan saat Zia masuk kamar.
"Nemenin vina ngerjain tugas." Jawab Zia
Kemudian Zia masuk ke kamar mandi berganti pakaian menggunakan piyama tidurnya.
"Bang besok antar adek ke rumah bunda boleh?" pinta Zia sambil menghampiri Arvan yang sudah duduk di ranjang.
"Boleh mau apa emang? Kangen bunda?" Tebak arvan
"Kangen si pasti. Tapi bukan itu utamanya. Adek mau ambil laptop mau ngerjain tugas yang dikasih sebelum libur."Jawab Zia.
"Adek bisa pakai laptop abang." kata Arvan.
"Tapikan datanya ada di sana semua abang." Jawab Zia.
"Oke. Kapan emang adek mulai kuliah?" tanya Arvan.
"Lusa. Abang juga lusa udah mulai kerja lagi kan?" tanya Zia.
"Iya. Gak berasa sebentar banget liburnya. Yaudah besok sebelum ke rumah bunda kita jalan jalan dulu adek mau nggak? Sebelum masuk kuliah, dan sebelum abang mulai kerja lagi, kita jalan jalan berdua belum pernah kan." kata Arvan
"Boleh. Jalan jalan kemana?" tanya Zia.
"Kita cari rumah kontrakan." Kata Arvan.
"Senang banget kayaknya. Padahal kita bakal tinggal di kontrakan loh." kata Arvan.
"Ya enggak masalah." jawab Zia sambil tersenyum.
"Adek tidur duluan boleh?" tanya Zia sambil membaringkannya tubuhnya. Arvan menanggapinya dengan anggukan.
"Sini hadap Abang." pinta Arvan, lalu memeluk Zia.
Sebenarnya Arvan belum mau tidur, masih ada yang ingin ia lakukan bersama Zia yang kemarin sempat tertunda. Tapi melihat Zia yang sudah memejamkan mata, Arvan jadi tidak tega.
Pukul 03.00 Arvan terbangun lebih dulu. Kemudian membangunkan Zia untuk shalat tahajud. Arvan mengusap usap pipi zia.
"Dek... Adek sayang kita shalat tahajud yuk." kata Arvan halus.
Zia mulai mengerjapkan matanya dan bangun.
Melihat Zia yang sudah bangun Arvan pun bergegas ke kamar mandi. Zia menyiapkan pakaian untuk shalat Arvan. Setelah Arvan keluar kamar mandi, giliran Zia yang masuk ke kamar mandi.
Selesai shalat subuh zia pergi ke dapur membantu ibu untuk memasak. Dirumah ini sebenarnya ada asisten rumah tangga namun tak menginap ia akan datang pukul 07 dan pulang pukul 17.00.
Sedang asik memasak Zia merasa ada yang meniup telinganya, sekali dua kali ia abaikan. Zia sudah menduga siapa pelakunya. Merasa diabaikan, ulah Arvan pun semakin jadi ia memeluk zia dari belakang sambil menciumi kepalanya yang terhalang jilbab. Dirumah mertua, saat keluar kamar Zia memang harus menggunakan jilbab karena di rumah ini ada Alvin. Berbeda dengan Vina yang bebas berkeliaran walaupun hanya memakai celana pendek.
"Abang sana deh jangan ganggu. Sana sana ngapain kek." Usir Zia pada Arvan.
"Oh diusir nih abang. Oke gak apa-apa nanti abang hukum. Liat aja nanti." kata Arvan kemudian pergi. Tapi sebelum pergi iya cium dulu pipi istrinya itu. Tahukan setelah dicium suami apa yang terjadi pada pipi Zia.
__ADS_1
Setelah beres masak-memasak mereka sarapan bersama. Vina tampak sangat pucat.
"Vina kamu gak apa apa nak?" tanya ibu.
"Gak apa bu Vina lagi haid, semalam juga kurang tidur jadi gini." jawab Vina.
"Minum vitamin dulu Vina sebelum berangkat. Kamu ke kampus jam berapa nanti abang antar, abang juga mau keluar kebetulan." kata Arvan.
"Jam 07 bang. Abang mau kemana emang?" tanya Vina.
"Kerumah istri muda." jawab Arvan asal. Tapi becandaan Arvan tidak masuk pada Zia.
Uhuuk Zia yang sedang mengunyah pun seketika tersedak. Arvan yang melihat itupun langsung memberikan minum pada Zia.
"Abang becanda sayang." kata Arvan sambil memberikan minum pada Zia kemudian mengusap punggung Zia.
"Abang dijaga ucapannya." tegur Firman
"Iya abang becanda aja yah." kata Arvan pada Ayah.
"Becanda gak boleh gitu nak. Ingat ucapan adalah do'a." nasihat Ibu.
"Astagfirullah Iya maaf. Abang sama Zia mau ke rumah nya Bunda." jawab Arvan.
Pukul 07.00 Arvan, Zia dan Vina sudah siap berangkan sementara Alvin pergi sendiri karena berbeda arah. Setelah mengantar Vina, Arvan dan Zia pergi ke tujuan berikutnya yaitu rumah Bunda. Hanya ada suara shalawat di dalam mobil.
"Sayang abang becanda, serius deh Demi Allah cuma bercanda. Baru nikah dua hari, buka segel juga belum masa udah ada istei muda." kata Arvan mencoba memecah keheningan.
"Gak lucu." jawab Zia singkat.
"Iya maaf gak lagi deh becanda kayak begitu. Maafin abang yaa." kata Arvan.
"Hm" hanya itu yang terdengar dari mulut Zia.
Sampai di rumah bunda, Zia mencium tangan bunda. Rumahnya sudah sepi karena ayah dan abangnya sudah berangkat bekerja.
"Bun adek mau ambil laptop sama beberapa pakaian ya." kata Zia pada bundanya.
"Loh emang adek mulai kuliah kapan?" tanya bunda
"senin bun. 2 hari lagi. adek ke atas ya bun " jawab Zia.
"Oh iya sok aja. Eh iya dek adek sama Arvan mau lama nggak disini? Hari ini bunda ada acara jam 10." kata Bunda.
"Yah bunda baru juga nyampe udah di tanyain lama enggak. Enggak kangen emang sama adek?" kata zia sambil memeluk bundanya.
"Anak gadis bunda yang udah jadi istri orang masih aja manjanya. Ups masih gadis gak ya sekarang?" Kata bunda menggoda. Panas sudah pipi Zia. Tidak tahu saja bunda kalau Zia masih merahasiakan aset negaranya.
"Aku masih gadis lah bun" jawabnya dalam hati.
Sedangkan Arvan hanya menyimak sambil tersenyum.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...