Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 8


__ADS_3

Setelah empat jam perjalanan yang melelahkan sampailah mereka di tempat KKN. Semuanya sedang sibuk merapikan barang masing-masing.Karena di rumah kontrakan wanita hanya ada 3 kamar. Jadi satu kamar berisi 3 orang. Zia sekamar bersama Vina dan Aya.


Beres-beres kamar masing masing dan beres-beres rumah sudah terselesaikan. Sekarang waktunya shalat duhur. Setelah duhur mereka semuanya berkunjung ke rumah pak kades untuk mendiskusikan acara pembukaan atau perkenalan bersama masyarakat yang rencananya akan diadakan besok malam. Mereka semua selesai berdiskusi pukul 4 sore setelah itu mereka kembali ke rumah untuk beristirahat. Di desa ini sangat susah sekali mendapatkan jaringan internet. Hanya di bagian-bagian tertentu saja yang memiliki jaringan yang lumayan stabil. Jadi mereka semua agak kesulitan untuk menghubungi keluarga ataupun menggunakan ponselnya untuk keburutuhan yang lain.


Esoknya sejak pukul 07.00 Zia dan kawan kawan sudah sibuk berbaur dengan masyarakat dan mempersiapkan untuk acara nanti malam. Acara pembukaan, perkenalan sekaligus pengenalan program selama KKN.


Rencananya acara akan diadakan di balai desa. Acaranya sederhana hanya dibuka dengan pembacaan ayat suci alquran, sambutan dari kepala desa dan tokoh masyarakat, kemudian sambutan ketua pelaksana dan termasuk pengenalan program serta pengenalan masing masing mahasiswa KKN.


Acara pembukaan malam ini, berjalan lancar. Besok mereka tinggal memulai program. Berhubung di desa ini hanya terdapat 4 rt jadi mereka yang tidak kebagian mendata di rt akan ditugaskan untuk membantu mengajar di SD. Pembagiannya 4 orang mendata, 9 orang mengajar di SD dan 2 orang lainnya piket atau jaga. Zia, Vina dan Aya termasuk mahasiswa yang mendapatkan tugas untuk mengajar di sekolah bersama teman lainnya. Zia dan yg lainnya sudah berada di SD Zia dipercaya untuk memegang murid murid kelas 1. Latar belakang Zia yg dari fakultas psikologi membuatnya agak susah untuk mengajar, namun zia cukup mudah untuk bisa memahi murid-muridnya itu sehingga proses belajar mengajar pun menjadi lebih mudah.


Selesai mengajar di SD Zia dan kawan-kawan kembali ke rumah untuk acara makan bersama. Disinilah fungsinya petugas piket, menyiapkan makanan, yang piket itu bergantian dua orang setiap harinya.


Setelah makan Zia langsung melaksanakan shalat dhuhur. Barulah mereka bisa beristirahat hingga ashar. karena di desa ini ada sebuah madrasah diniah yang dimulai setelah ashar, jadi beberapa orang mahasiswa diminta membantu Zia, Vina dan Akbar diminta untuk ikut mengajar sementara yang lain mengerjakan program yang lain. Dan malamnya mereka mengadakan rapat evaluasi selama satu hari itu.


Menyatukan beberapa kepala memang sulit hingga saat rapat evaluasi ada saja perdebatan perdebatan.


Begitulah kegiatan mereka sehari harinya. Melelahkan memang tapi itulah tanggung jawab mereka dalam pendidikannya agar tahu bahwa hidup dimasyarakat itu tak mudah, bekerja tim itu tak mudah.


Hingga satu minggu berhasil mereka lalui. Setiap hari jumat di desa tersebut memiliki kegiatan rutin yaitu jumat bersih. Masyarakat akan meliburkan diri dari pekerjaan untuk melakukan kegiatan bersih bersih desa. Ibu ibu bertugas menyapu jalan desa, membersihkan rumput rumput dan sampah yang berserakan pinggir jalan. Sedangkan bapak bapak bergotong royong membersihkan saluran irigasi.


Program demi program pun dijalankan dengan semaksimal mungkin. Salah satu program yang mereka rencanakan adalah penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan gratis. Namun tampaknya dana mereka tidak cukup untuk menyewa dokter atau lembaga pengobatan dan melakukan pengobatan secara gratis. Zia dan Vina memutuskan untuk mencoba meminta tolong terhadap abang-abangnya. Lumayan kan memanfaatkan abang-abang mereka yang seorang dokter.


On the phone


Rivan : Assalamualaikum dek. Akhirnya ngehubungin abang. Sibuk banget ya sampe seminggu susah dihubungin.


Zia : Waalaikumsala. Bukan gitu bang tapi di desa betul betul susah sinyal. Abang, adek mau minta tolong boleh?


Rivan : Minta tolong apa?


Zia : Begini bang, adek sama yang lainnya ada program buat adain pengobatan gratis, tapi anggaran biaya yang kami punya kayaknya gak akan cukup kalau harus sewa dokter atau lembaga pengobatan. Nah adek mau minta tolong sama abang, kira kira abang ada nggak koneksi lembaga pengobatan yang bisa adain pengobatan gratis?


Rivan : Oh gitu. Koneksi ya kirain adek mau suruh abang kesana hehe.


Zia : Boleh juga kalau abang mau.


Rivan : maunya abang sendiri atau sama Arvan?


Hanya digoda begitu saja pipi zia sudah memerah. Ngomong-ngomong tentang Arvan, Zia jadi kepikiran. Apa kabar ya dia? Apa dia kesibukan sendiri mengurusi persiapan pernikahan mereka? Sementara Zia selama KKN belum sekalipun menghubungi Arvan.


Rivan : Hallo adek dek adek Assalamualaikum. Kok diem aja. Deeeekk


Zia : Eh iya Abang


Rivan : Dih melamun. Rindu ya? Haha


Zia : Ih Abang ayo dong serius dulu.

__ADS_1


Rivan : Haha salting yaa.


zia : Abaaaaangg!


Rivan : Iya iya santai dong. Nanti abang dan Arvan coba carikan deh. Vina juga pasti sedang menghubungi Arvan ya?


Zia : Kok abang tau?


Rivan : Abang dan Arvan sedang dalam satu ruangan adek.


Zia : Oh. Jadi gimana bang bisa? Harus bisa yaa please.


Rivan : Bentar abang coba ngobrol dulu dengan Arvan. Begini deh kalian teleponnya pake 1 hp aja jangan dua gini abang sama Arvan jadi berisik sahut-sahutan jawabnya


Zia : Oh oke abang.


Tuttt tutt tutt sambungan hp zia terputus entah karena sinyal yang hilang atau pulsa yang habis. Jadi sekarang hanya Vina yg menelepon Arvan kemudian iya loudspeaker.


Arvan dan Rivan sedang berbicara berdua, mengabaikan Vina dan Zia. Sampai beberapa menit kemudian suara Arvan kembali terdengar menyapa mereka untuk memberikan jawaban.


Arvan : Kalian coba buat proposal dulu tujuannya ke lembaga X. Biasanya lembaga itu sering adain pengobatan gratis nah siapa tau bisa diajak kerja sama. Kalian buat aja dulu, terus nanti kirim deh lewat email ke Abang. Nanti Abang yang kasih ke mereka. Nah tapi mereka itu suka minta difasilitasi mobil pick up buat bawa obat obatannya karena pastikan banyak banget. Tapi Insya Allah mobil itu nanti abang usahain. Jadi gitu aja kalian buat proposal dulu. Insya allah bisa. Kalau gak bisa nanti Abang sama Rivan atur waktu biar kita yang kesana atau kita carikan lembaga lain.


Vina : oke deh bang kalau gitu. Malam ini kita buat proposal terus besok kita usahain kirim ke abang. Abang ada contohnya enggak?


Arvan : Ada-ada. Nanti Abang kirim ya.


Vina : Oke Abang. Makasih yaa.


Vina : Oke siap abang. Oh iya bang kata Zia persiapan pernikahan gimana?


Zia yang mendengar itu jadi kaget. Padahal Zia tidak berkata apa apa. Apalagi bertanya tentang persiapan pernikahan.


Arvan : Kok jadi kamu yang nanya? Kenapa enggak calon istri Abang sendiri yang nanya.


Kan Arvan jadi iseng. Pipi zia sekarang memerah lagi deh.


Vina : Abang bilang aja kalau kangen dan pengen ngobrol. Gak usah ngarep ditanya.


Arvan : Nah. Itu tau. Adek abang pintar deh.


Vina : Idih. Nih Zi kamu ngomong deh sama Abang Arvan rindu kayaknya dia. Aku tutup kuping kok.


Vina menyerahkan hpnya secara paksa pada Zia. Zia yang ragu-ragu tapi menerima juga handphone dari tangan Vina.


Arvan : Hallo kok diam? Baik baik aja kan?


Zia : Iya. Baik.

__ADS_1


Arvan : Kok gugup banget kayaknya. Gak akan nanya gimana Abang ngurus persiapan pernikahan sendirian?


Zia diam saja. Arvan tahu Zia masih malu-malu.


Arvan : Yaudah Abang ceritain aja ya. Kemarin Abang udah fitting baju lagi. Punya Abang udah hampir beres. Punya kamu juga katanya sama. Tapi harus dicoba dulu. Cincin nikah juga, kemarin orangnya udah ngabarin. Tapi Abang bilang nanti aja tunggu kamu pulang. Catering itu udah diambil alih sama ibu dan bunda karena Abang gak sanggup. Nanti kalau ada menu yang kamu gak setuju masih bisa diubah kok katanya. Souvenir juga udah dipesan. Gitu sih.


Zia : Makasih yaa.


Mendengar Zia berterimakasih, membuat bibir Arvan mengembangkan senyumnya.


Arvan : Untuk apa?


Zia : Udah ikhlas urus sendirian.


Arvan : Ya kan ini persiapan pernikahan Abang juga.


Zia : Iya udah pokoknya makasih.


Arvan : Iya sama sama.


Zia : Mmm Bang, udah dulu ya.


Arvan : Kenapa?


Zia : Udah lama. Gak enak sama yang lain.


Arvan : Oh gitu. Yaudah baik-baik ya. Assalamualaikum.


Zia : waalaikum salam.


Selesai menelepon Vina langsung menanyai Zia.


"Loh Kok cepet Zi?" tanya Vina.


"Ngapain emang lama lama? Pulsa kamu habis nanti. Udah ah yuk kita buat proposal." kata zia mengalihkan pembicaraan.


Zia dan Vina hanya berdiam diri di kamar untuk membuat proposal. Mereka juga sudah izin kepada yang lain jika hari ini mereka fokus membuat proposal.


Setelah proposal dikirim tidak perlu waktu lama 3 hari berikutnya tepat di hari ke 15 program pengobatan gratis bisa berjalan. Antusias warga terhadap program ini sangat baik buktinya lebih dari 200 warga datang melebihi target tentunya.


Tidak bisa dipungkiri suksesnya program pengobatan gratis ini. Karena campur tangan Arvan dan Rivan di dalamnya. Karena yakin jika tidak memakai nama Arvan dan Rivan, pasti mereka tidak akan semudah itu untuk mendapatkan kerjasama bersama lembaga pengobatan.


Hari kehari berlalu, tersisa satu minggu lagi mereka KKN. Besok mereka akan mengadakan program penyuluhan atau promosi kesehatan tentang PHBS. Di Sekolah, mereka akan mengadakan program mencuci tangan dan gosok gigi yang benar. Serta mereka juga membuat kegiatan pembuatan 20 tong sampah organik dan anorganik yang akan di sebar di 20 titik.


Seminggu terakhir ini Zia tampak tidak begitu fokus dengan program KKN. Zia merasa fokus terbagi dengan persiapan pernikahannya. Bagaimana tidak Zia merasa tidak enak hati dengan Arvan dan keluarga besar mereka. Karena Zia sama sekali tidak banyak membantu. Tapi beruntung, semuanya bisa memaklumi. Malah Arvan sendiri yang sering berkata pada Zia, kalau Zia lebih baik fokus duli dengan KKN nya. Jangan memikirkan persiapan pernikahan dulu. Karena kata Arvan pikiran yang terbagi dua, mudah memicu terjadinya stress. Bila stress sudah melanda biasanya akan berpengaruh pada daya tahan tubuh. Kan bahaya kalau sampai Zia sakit saat jauh dari keluarga. Begitu kata dokter Arvan.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2