
...~Selamat Membaca~...
Tepat seminggu, setelah keluarga Arvan bertemu keluarga Zia.
Tidak disengaja hari ini Rivan yang sedang mengantarkan Zia ke kampus bertemu dengan Arvan, yang juga mengantar Vina. Ini pertemuan pertama Zia dan Arvan yang betul betul mereka sudah saling tahu. Pertemuan sebelumnya kan hanya sebatas Arvan yang diam-diam memperhatikan.
"Dek lihat deh sebelah kiri, itu mobilnya Arvan. Cie ketemu cie." kata Rivan sambil nyengir menggoda Zia.
Zia menatap tajam abangnya yang sangat senang menggodanya. Tapi tidak bisa dipungkiri jika saat ini Zia gugup. Jantungnya seperti sedang berpesta di dalam sana.
"Cie ketemu. Gak usah salting dong. Cie mukanya merah."
"Abang ih." kata Zia sambil memukuli lengan Rivan."
"Hahaha biasa aja dong salting banget. Panggil sana, sapa." kata Rivan.
"Abang apa sih. Dia pasti cuma nganter Vina." jawab Zia.
"Lah ya emang iya nganter Vina. Kalau enggak nganter Vina ngapain Arvan ke kampus? Mau ketemu adek? Mau banget emang disamperin?"
"Abang ish." kata Zia semakin kesal dan semakin brutal memukuli Rivan. Tapi serius pukulan Zia ini berasa gak berasa bagi Rivan.
"Duh adek abang horor banget kalau lagi malu malu dan salah tingkah." Zia semakin kesal.
"Abang sekali lagi bilang begitu, kita musuhan!" ucap Zia.
"Haha iya udah maaf. Udah masuk sana, nanti adek telat."
Eh. Tapi tunggu dek itu kok mobilnya gak pergi-pergi ya jangan jangan bener lagi nunggu adek keluar. Udah gak sabar kali Arvan denger jawaban adek." kata Rivan mulai lagi menggoda adiknya.
"Abaangg ih bikin kesel aja. Udah ah adek masuk. Nanti sore kalau bisa tolong jemput ya, kalau enggak bisa, abang kasih kabar biar adek gak nunggu. Assalamualaikum." kata Zia lalu mencium tangan Rivan.
"Tuh kan nunggu abang jemput aja adek gak sabaran kan. Terus gimana Arvan nunggu jawaban adek ya? Haha." kata Rivan asal.
"Bodo Ah. Assalamualaikum." pamit Zia.
Saat hendak keluar dari mobil zia terburu buru karena malu dan kesal dengan godaan abangnya. Kepala Zia terbentur cukup keras ke bagian atas pintu mobil.
"Aww. Aduh abang sakit." rengek Zia dengan suara yang cukup keras sambil mengusap kepala yang baru saja berciuman dengan bagian atap pintu mobil.
Rivan yang berada di kursi kemudi dan Arvan yang berada dibalik kursi kemudi mobil sebelahnya sama-sama kaget. Arvan spontan membuka pintu dan turun dari mobil.
"Astagfirullah. Adek ini kenapa? Mangkanya hati-hati."kata Rivan sedikit panik sambil mengusap kepala Zia yang baru saja terbentur.
"Jangan ngomel, sakit." rengek Zia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya maaf. Yaudah jangan nangis juga. Pusing enggak?" tanya Rivan sambil terus mengelus kepala Zia.
Tidak ada yang sadar jika saat ini Arvan sudah berdiri di samping mobil Rivan.
"Assalamualaikum. Ada apa?" tanya Arvan sambil sedikit membungkuk agar bisa melihat ke dalam mobil melalui pintu yang memang terbuka.
"Wa'alaikumsalam. Ini tadi kepala Zia kejedug atap mobil." kata Rivan.
"Kamu gak apa apa?" tanya Arvan pada Zia sambil menatapnya. Zia menggeleng.
"Ar jangan ditatap begitu belum mahram." peringat Rivan ketika Arvan menatap Zia dengan lekat.
"Eh." tanya Arvan sambil mengalihkan pandangannya.
"Idih geli banget sih sama-sama salting." ledek Rivan.
"Abaaang Rivan." kata Zia kesal pada Rivan wajahnya kini sudah memerah.
Sementara Rivan hanya terkekeh.
"Abang adek masuk ya. Assalamualaikum." pamit Zia pada Rivan kemudian segera pergi meninggalkan Rivan dan Arvan karena tak ingin digoda lagi oleh Rivan.
Arvan yang melihat itu pun tanpa disadari senyumnya sudah melekat di bibirnya.
"Dih Ar, kamu kenapa senyum-senyum begitu merinding aku." kata Rivan menegur Arvan.
"Adik mu lucu kalau lagi malu-malu." kata Arvan.
"Oh iya dong kan dia ngikut abangnya. Jadi ya lucu, menggemaskan." kata Rivan.
"Idih. Percaya diri sekali. Geli aku dengarnya Van." jawab Arvan. Rivan hanya tertawa.
"Oh iya. Ada bocoran jawaban gak Van?" tanya Arvan pada Rivan.
"Sabar. Adek aku itu punya ketakutan yang besar karena pengalamannya beberapa bulan lalu. Jadi gak semudah itu dia memberi jawaban karena pasti dia masih terbayang kejadian sebelumnya." jelas Rivan. Arvan mengangguk faham.
"Yaudahlah ayo mending kita kerja. Eh iya tolong tutup pintu mobil aku dong Ar. Hehe." kata Rivan dengan cengiran nya.
__ADS_1
*
Tidak ada yang berbeda Zia menjalani aktivitasnya seperti biasa begitupun dengan Arvan dan Rivan.
Setelah pertemuan tadi. Pertemuan secara langsung dan sangat disadari rasanya ada hal yang membuat Zia terkesan. Entah karena apa, yang jelas pertemuan tadi berhasil membuat Zia salah tingkah dan malu tidak jelas.
Aktivitas hari ini, Zia pulang lebih sore dari biasanya karena hari ini jadwal kajian liqo nya bersama kawan-kawannya. Sehingga jadwal pulangnya kali ini agak telat, selepas shalat maghrib Zia baru sampai di rumah.
Saat di rumah Zia tak melihat ayah bundanya, mungkin ayah masih di masjid dan bunda mushala pikirnya. Karena ya memang biasanya setiap maghrib sampai isya, ayah akan pergi ke masjid. Sedangkan bundanya lebih menghabiskan waktu untuk tadarusan di musola.
*
Sudah hampir dua pekan setelah kedatangan keluarga Arvan. Tetapi belum ada Zia memberikan jawaban. Masih dua hari lagi memang. Tapi Arvan merasa sedikit cemas dan ada rasa pesimis. Arvan selalu bertanya pada Rivan tentang Zia. Tapi Rivan pun tidak pernah memberikan bocoran apapun. Lebih seringnya Rivan menjawab 'Itu sepenuhnya hak Zia, Ar. Meski aku abangnya tapi kalau terus dikorek-korek takutnya Zia malah tertekan dan malah merasa ditekan untuk menjawab. Sabar, biar dia benar-benar yakin dengan jawabannya. Insya Allah kalau emang jodoh pasti dipermudah kok.' begitu kurang lebih yang sering Rivan ucapkan.
Siang ini Rivan dan Arvan sedang berada di kantin rumah sakit untuk makan siang.
"Van, udah hampir dua minggu. Kira-kira seperti apa ya jawabnnya?" tanya Arvan.
"Pertanyaan yang sama setiap hari yang aku dengar dari mulut kamu Ar. Jangan terlalu berharap tapi jangan pesimis juga. Serahkan aja sama Allah. Sekarang usaha kamu tinggal melalui do'a. Biar tangan Allah yang bekerja." jawab Rivan dengan pembawaan yang santai.
"Aku baru kali ini loh lihat kamu sekhawatir dan setidak percaya diri ini? Haha."
"Dih malah ngejek. Lihat nanti kalau kamu lagi nunggu jawaban juga."
"Haha iya iya. Aku bantu do'a deh semoga penantian kamu berakhir bahagia." kata Rivan yang diaminkan Arvan.
*
Sedangkan di kampus tepatnya di perpustakaan Zia tak sengaja bertemu Vina. Mereka mengobrol tentang kegiatan mereka yang sebentar lagi akan UAS kemudian sekitar sebulan setelah itu mereka harus menjalankan kegiatan KKN diawal semester 6 nya.
"Gimana Zi udah siap banget UAS, liburan terus KKN?"
"Ya gimana lagi harus siap kan?"
"Iya bener harus siap." kata Vina.
"Oh iya, gimana Zi?"
"Gimana apa?"
"Udah punya jawaban buat abang aku?"
"Eh." muka Zia langsung menegang.
"Kayaknya seru ya kalau pas KKN nanti kita satu kelompok. Apalagi nih misal, abang aku udah kamu terima. Pasti nanti aku cerita banyak tentang abang." kata Vina.
"Semoga ya." jawab Zia.
"Aamiin."
*
"Dek udah hampir dua pekan loh ini. Gimana adek udah ada jawaban untuk Arvan dan keluarganya?" tanya ayah dengan lembut. Karena ayah tahu bayangan masalalu itu tidak mudah dilupakan bagi Zia.
"Nanti ya yah bahasnya di rumah aja. hehe." jawab Zia mengalihkan pembicaraan karena sekarang posisinya Zia sedang dalam perjalanan pulang dari kampus bersama ayahnya.
Zia sebenarnya sudah punya jawaban dan sudah cukup yakin dengan jawabannya. Tapi Zia masih malu untuk mengutarakan jawabannya apalagi saat ini sedang di dalam mobil, terus hanya ayahnya yang mendengar. Nanti jika bunda dan abang nya bertanya, Zia harus menjawabnya lagi. Ah malu lah Zia harus mengatakan jawabannya berkali kali. Sebaiknya nanti saja di rumah saat semuanya berkumpul.
Selepas shalat isya seperti biasanya, Zia dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Menikmati momen kumpul keluarga kecil mereka. Zia duduk di samping Rivan menyandarkan kepalanya di bahu Rivan yang sandarable sekali. Pokonya Zia itu suka sampai ketiduran kalau sudah bersandar di pundak Rivan hehe.
"Bagi dong buah naganya. Sendirian aja makannya, pelit banget sih." kata Rivan sambil mengguyangkan pundaknya yang dijadikan sandaran oleh Zia.
"Ya ini. Aaaa." kata Zia sambil menyodorkan sepotong buah naga ke mulut Rivan.
"Dek gimana tadi ayah tanya pas di mobil katanya jawabnya nanti di rumah. Ayah bukan mendesak adek, tapi tidak baik juga menggantungkan niat baik orang terlalu lama. Mereka pasti di sana bertanya-tanya." kata ayah lembut.
Zia yang sedang mengunyah pun sedikit kaget ternyata ayahnya ingat dengan janjinya. Zia menegakan duduknya menyimpan piring buahnya di atas meja kemudian mengambil minum terlebih dahulu.
Saat ini semua mata tertuju pada Zia, tapi dengan santainya Zia malah pindah duduk yang tadinya di samping Rivan menjadi nyempil di tengah tengah ayah bundanya.
Biasanya Rivan akan meledek, mentang mentang bertubuh mungil, gak sopan nyempil-nyempil. Tapi saat ini Rivan memilih untuk tidak usil dan membiarkan saja tingkah adiknya itu.
Zia menarik nafas dalam mungkin untuk menengkan hatinya.
"Kenapa sih pada lihat adek begitu?" tanya Zia ketika sudah duduk diantara ayah bundanya. Tapi tidak ada tanggapan dari mereka.
"Ih jangan liat Adek begitu." rengeknya. Ayah bunda terkekeh.
"Ya jawab cepat." kata Rivan sambil memakan buah naga yang tadi ditinggalkan Zia begitu saja.
"Ih abang buah adek."
"Yaudah jawab dulu nanti abang sisakan sepotong."
__ADS_1
"Gak mau ih abang jangan dimakan."
"Minta dek pelit banget."
"Enggak nanti abis."
"Masih banyak juga di dapur."
"Gak mau Abang, itu adek yang kupas, adek yang potong. Abang yang abisin, enak aja."
"Abang, adek. Ribut terus diam." tegur ayah.
Zia dan Rivan langsung diam.
"Jadi gimana dek?"
Zia diam saja.
"Ayah tanya loh. Kok malah diam?" tanya bunda.
"Kan tadi adek disuruh diam sama ayah."
"Masyaa Allah anak ayah yang paling cantik ini bisa aja. Yaudah sekarang adek boleh bicara tapi gak boleh ribut sama abang." kata ayah sambil mengusap rambut Zia.
"Jadi gini ayah bunda dan abang." kata Zia.
"Ih abang dengarkan adek gak mau bicara dua kali." kata Zia pada Rivan yang masih asik makan buah sambil mengganti channel televisi.
"Abang!" tegur bunda.
"Oke nih abang fokus." jawab Rivan.
"Senin besok adek UAS. Adek juga udah niat kok kasih jawaban sebelum UAS. Supaya saat UAS nanti, Adek sudah enggak berhutang jawaban dan gak punya beban pikiran lain selain materi ujian." katanya dengan serius.
"Jadi apa jawaban adek?" tanya Ayah.
"Iya apa jawabannya? Arvan kalau di rumah sakit tiap hari, tiap bertemu abang pasti selalu bertanya. Kasian kadang abang, tapi sabar sih dia tunggu adik kecil abang ini jawab." kata Rivan sambil melihat kearah Zia.
Ayah dan bunda hanya senyum-senyum.
"Abang ih" kata Zia.
"Jadi gimana dek?" tanya bunda sambil mengelus lembut kepala Zia.
"Ayah bunda boleh gak adek tanya?" tanya Zia
"Tanya aja dek. Bunda jawab kalau bisa." jawab bunda
"Ini setelah adek jawab besoknya gak langsung lamaran kayak waktu itu kan?" tanya Zia.
"Keluarga pak Firman sih bilangnya jika keputusan adek siap menerima mereka akan datang lagi ke rumah kita bersama keluarganya yg lain untuk lamaran secara resmi dan mengenalkan adek ke keluarganya yang lain." jawab ayah menjelaskan
"Tapi adek belum siap kalau lamaran yah. Boleh gak kalau adek minta waktu buat proses saling mengenal dulu? Biar kalau ada sesuatu lagi, kalau belum sampai di tahap
lamaran kan jadinya bukan batal nikah lagi." kata Zia.
Semuanya diam. Ternyata memang batalnya rencana pernikahan Zia waktu itu benar-benar membekas.
"Adek butuh waktu berapa lama?"
"Adek gak tahu yah. Adek takut kalau langsung lamaran, nanti ada kendala lagi batal lagi. Nanti adek jadinya gagal nikah dua kali. Jadi omongan orang lagi." jawab Zia.
"Ayah sih gak masalah. Tapi kan tetap harus ada kepastian berapa lama. Ingat dek waktu buat proses perkenalan itu gak boleh terlalu lama loh. Kalau lama-lama, apa bedanya sama pacaran?"
"Kalau adek belum yakin jangan dulu jawab terburu-buru yakinkan aja dulu hati adek." kata Rivan.
"Bukan begitu." jawab Zia.
"Jadi gimana dek?" tanya bunda.
"Adek terima ajakannya buat kenalan. Adek gak mau nutup diri. Adek terima. Tapi adek minta waktu buat kenalan dulu itu aja."
"Yaudah. Nanti coba ayah sampaikan sejelas-jelasnya ke keluarga pak Firman. Tapi adek juga harus pikirkan berapa lama waktunya. Biar keluarga pak Firman gak merasa diberi harapan kosong." kata Ayah.
Zia mengangguk.
Mengambil keputusan dengan terburu-buru memang tidak baik. Tapi bukan berarti mengulur waktu terlalu lama itu baik.
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1